
Melani
***
“Akhirnya aku
tau dimana alamat rumah Angga!” teriakku di ruang tamu, dengan gembiranya.
Aku senang
hari ini aku akan pergi ke rumahnya Angga, aku jadi tidak sabar untuk pergi dan
melihatnya sedang latihan, pasti sangat keren. Hari ini aku bawa hadiah apa yaa
untuk ibunya Angga, bagaimana jika buah? Em…tidak, apa yaa.
“Nona 1 jam
lagi kita akan berangkat ke rumahnya Angga, kita akan ke sana sesuai alamat
yang di berikan Angga kepada nona,” ujar Jeni.
Waktuku
tinggal satu jam lagi sebelum berangkat ke rumah Angga, tapi aku masih sibuk
memikirkan sesuatu yang akan kubawa ke rumah Angga. Tidak, lebih tepatnya aku
ingin memberi sesuatu ke ibunya.
“Jeni,
menurutmu apa yang harus aku bawa untuk ibunya Angga?” tanyaku ke Jeni dengan
serius.
Aku mencoba
bertanya kepada Jeni, karena Jeni terkadang memberi saran yang bagus kepadaku
saat aku sudah mulai bingung. Hadiah yang cocok untuk seorang ibu, kira-kira
apa yaa, apa yang ibu rumah tangga suka.
“Kalau untuk
seorang ibu yang mengurus rumah, biasanya sesuatu yang sederhana,” jawab Jeni
dengan tenang.
Sesuatu yang
sederhana, apa yang sesuatu yang sederhana. Ucapan selamat? Kue manis mungil?
Pelukan dari calon mantu? Tidak, tidak. Aku malah jadi tambah bingung karena
memikirkan hadiah yang sederhana untuk ibunya Angga.
“Apa kamu tau
sesuatu yang sederhana?” tanyaku lagi.
Jeni yang
menyarankan untuk memberi hadiah yang sederhana, karena aku bingung hadiah apa,
jadi aku bertanya lagi kepada Jeni. Aku pikir karena Jeni yang menyarankan ini,
jadi Jeni tau hadiah sederhana untuk ibunya Angga.
“Apa yaa? Aku
juga bingung hadiahnya apa,” jawab Jeni, dengan tenang.
Dia ini, dia
yang menyarankan hadiah sederhana, tapi saat aku tanya kepadanya, dia sendiri
tidak tau hadiah apa yang sederhana, dan dapat di terima oleh ibunya Angga. Mungkin
makanan cukup sederhana, banyak sekali penjual makanan keluarga di pinggir
jalan.
“Hadeuh, kau
ini. Tapi aku punya ide, aku berfikir untuk memberi makanan keluarga kepadanya,
bagaimana?” saranku.
Aku berfikir
makanan sederhana, karena menurutku itu adalah hadiah yang sangat sederhana,
dan juga bisa dimakan untuk anggota keluarga lainnya. Aku memberi saranku
kepada Jeni tentang makanan keluarga, makanan keluarga kebanyakan adalah kue.
“Makanan
keluarga ya? Aku rasa itu cukup bagus, jadi nona akan membeli makanan keluarga,
tapi di mana?” tanya Jeni.
Tempat paling
enak yang menjual makanan seperti itu aku tau, karena dulu saat kecil aku
pernah pergi bersama ibu ke toko itu dan membeli salah satu makanan di sana.
Saat aku mencobanya makanan di sana benar-benar sangat lezat.
“Tenang saja,
aku tau di mana tempat yang menjual itu. Dan lagi, rasanya sangat lezat.
Mungkin jika kamu mencoba rasanya, kamu akan ketagihan,” kataku, sambil
menunjukan jari telunjuk.
Aku sudah
memutuskan untuk membeli makanan untuk ibunya Angga bahkan juga untuk
keluarganya. Jadi sekarang lebih baik kita berangkat, karena kita akan mampir
ke toko makanan yang sering aku kunjungi bersama ibuku, walaupun saat itu aku
masih sangat kecil, tapi aku mengingat tempatnya dan juga rasanya.
“Jeni siapkan
kendaraan sekarang, kita akan pergi ke toko makanan itu, jadi aku mau segera
siapkan. Aku mau mempersiapkan diri terlebih dahulu.”
“Baik nona,”
jawab Jeni, sambil menundukkan kepala.
Aku langsung
pergi ke kamar untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat, karena aku akan
bertemu dengan ibunya Angga, bahkan mungkin dengan seluruh anggota keluarganya.
Karena sekarang adalah hari Sabtu, pasti yang lain sedang ada di rumah. Tapi
ayahku masih sibuk dengan pekerjaannya, aku juga merindukan ayah.
Tangan ku
segera membuka lemari dan melihat baju apa yang akan aku kenakan, tapi aku
sedikit bingung untuk memilih baju, karena aku nanti hanya menonton nya
latihan. Aku melihat baju-bajuku, memilih yang cocok untuk di kenakan.
Mungkin baju
yang simple dan tidak perlu formal, aku mengambil kaos lengan pendek dan jaket
panjang. Karena sekarang sore menjelang malam, pasti akan dingin nanti malam,
jadi aku menggunakan kaos lengan pendek dan juga jaket yang sedikit tebal.
Oiya celana
yang bagus apa yaa? Aku mencari celana di bagian rak-rak celana, karena bagian
atas sudah santai, jadi bagian bawah harus santai juga. Kalau trening mungkin
cocok, baiklah aku akan memilih trening untuk celana nya. Em…sip sudah selesai.
Aku segera
__ADS_1
menghampiri Jeni, untuk menanyakan apakah semuanya sudah siap atau belum. Dan
juga aku bertanya tentang makanan yang akan aku bawa nanti, hari ini aku
berniat membawa bekal makan dengan isi lobster. Karena ini adalah makanan
kesukaan Angga, jadi aku membawa nya.
Mencari
kesana-sini tapi aku belum melihat Jeni, dia ada di mana yaa? Kalau begitu aku
mencoba mencarinya di dapur, mungkin dia ada disana. Saat aku pergi ke dapur,
ternyata dugaanku benar dia sedang ada disini. Jeni sedang menyiapkan bekal
makananku.
“Jeni, apa
semua sudah siap?” tanyaku.
“Sudah nona,
kita siap untuk berangkat.”
Baiklah,
lebih baik sekarang aku berangkatnya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu
dengan ibunya Angga, aku sudah lama sekali tidak melihatnya. Terakhir saat aku
bermain bersama Angga di bak pasir, apa dia masih ingat dengan wajahku yaa?
Kalau Angga mungkin sudah lupa, karena dia tidak terkejut sama sekali akan
kehadiranku.
Pasti ibunya
berbeda, pasti ibu Angga masih mengingatku. Aku sangat mengharapkan itu, yaitu
bisa dekat dengan keluarga Angga, dan bermain terus bersama Angga. Karena Angga
adalah Rajaku dan aku adalah Ratunya.
Aku dan Jeni
segera berangkat dengan menggunakan mobil.
Toko
Makanan
Aku sudah
lama tidak ke sini, jadi ingat dengan ibu. Kenangan dengan ibu salah satunya
adalah ia selalu membawaku ke sini. Pada saat itu aku benar-benar masih sangat
kecil, tapi aku tidak lupa sama sekali dengan tempat ini.
“Jadi ini
tempat yang nona maksud?” Jeni yang melihat toko makanan tersebut.
“Iya, aku
dulu sering ke sini bersama ibuku, rasanya jadi mengingat masa lalu.”
Melihat toko
ini masih beroperasi membuatku cukup senang, karena makanan/kue di sini adalah
yang terbaik menurutku. Aku akan memilih yang sangat enak untuk ibunya Angga, termasuk
untuk keluarga lainnya.
“Baiklah, ayuk
kita masuk Jeni.”
“Baiklah
nona.”
Saat aku
masuk ke dalam, ternyata dalamnya sudah semakin bagus sejak aku terakhir kali
beda. Saat aku melihat-lihat dalamnya, tiba-tiba ada seseorang yang menyeru
kepada aku dan Jeni.
“Selamat
datang di toko kami, mau pesan apa?” kata pelayan toko.
Ternyata itu
adalah suara dari pelayan toko, suara itu adalah suara seorang perempuan. Namun
saat aku lebih memperhatikan lagi, aku terkejut dengan sosok perempuan itu. Aku
seperti pernah melihat perempuan itu seolah-olah pernah mengenalnya, padahal
umurnya jauh lebih tua dari pada ku.
“Em…kamu,
kamu anaknya nona Meliana, kamu Melani, bukan?” tanya pelayan toko yang
terlihat terkejut.
Dia kenal
dengan ibuku?! Bagaimana bisa dia mengenal sosok mendiang ibuku. Dan aku juga
seperti pernah melihat pelayan toko ini, wajahnya seperti tidak asing.
Jangan-jangan dia ini, apa benar ini dia?
“Kau kenal
dengan ibuku?” tanyaku.
“Iyaa aku
sangat mengenalnya, beliau selalu datang ke sini untuk membeli makanan. Dan
beliau selalu mengajak nona bersamanya, apa nona lupa dengan wajah saya?” kata
pelayan toko.
“Ka–kau Ibu
Nada?” tanyaku dengan terkejut.
Apa benar dia
ibu Nada? Aku benar-benar lupa wajahnya, karena saat itu aku masih sangat
kecil. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan penjual toko ini, tapi wajahnya
seperti tidak asing di penglihatanku, apa benar dia ini ibu Nada?
“Jadi nona
masih ingat dengan saya, saya senang mendengarnya.”
Ternyata
benar dia ibu Nada, tak kusangka aku akan bertemu dengan nya. Aku kira yang
menjaga toko ini adalah orang lain, apa ibu Nada masih yang menjaga toko ini?
Jika iyaa, dia benar-benar hebat. Masih sanggup melakukannya sendiri.
“Aku senang
bisa bertemu dengan Ibu Nada, aku mengira toko ini sudah ada yang menjaganya.
Tapi tidak, Ibu memang sangat semangat.”
“Saya jadi
teringat dengan wajah ibu nona, dia selalu datang membeli makanan disini dengan
membawa nona. Karena ibu Meliana selalu membeli makanan disini, toko ini
menjadi ramai pelanggan, ibu nona benar-benar banyak sekali kenalan, jadi saya
terbantu.”
“Syukurlah
__ADS_1
kalau begitu,” kataku.
“Oiya nona,
ada apa datang ke sini? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya ibu Nada.
“Aku ingin
membeli kue, karena toko ini menjual berbagai makanan dan sering ke sini dulu,
jadi aku datang ke sini lagi.”
Rasanya
seperti nostalgia dengan ibu, sudah lama saat ibu meninggal. Saat itu aku masih
kecil, aku hanya bingung dan tidak tau dengan keadaan ibu, aku baru
menyadarinya ketika aku sudah mulai beranjak sekolah dasar. Dan salah satu
paling yang aku ingat kenangan dengan ibu adalah sering datang ke toko ini
untuk membeli makanan, dan rasa makanan di toko ini kurasa lebih enak dari pada
tempat yang lain.
“Nona bisa
ikut saya, karena saya baru saja berhasil membuat kue paling enak dari yang
lain, saya senang berhasil membuat kue yang rasanya mengalahkan rasa kue buatan
saya yang pernah ada.”
Kue paling
enak disini yaa, aku tak sabar melihatnya. Kurasa dengan kata “yang paling
enak” itu akan cukup bagus untuk hadiah yang akan kubawa, karena tidak enak
jika datang ke rumah seseorang tapi tidak membawa apa-apa, apalagi rumah Angga.
Ibu Nada
menuntunku ke arah tempat kue, karena bagian makanan biasa dengan kue di
pisahkan. Tempat ini menjadi lebih bagus daripada waktu itu, tempatnya menjadi
sangat nyaman bila di kunjungi.
“Nona, ini
kue yang saya baru selesai membuatnya,” katanya, sambil menunjukan kuenya.
Aku melihat
kue yang ditunjukkan ibu Nada kepadaku, ketika aku melihatnya aku terkejut.
Karena kue ini lumayan besar, mungkin tinggi kue ini bisa dari perut sampai ke
kepalaku. Hati kecilku berkata ini adalah hadiah yang sangat bagus.
“Hua, besar
sekali,” aku yang terkejut.
“Jika nona
ingin mencicipinya, saya masih ada sisa saat pembuatan.”
“Benarkah?”
aku yang penasaran dengan rasanya.
Kemudian ibu
Nada mengambilkan sisanya dan memberikan kepadaku untuk mencicipi rasa kuenya. Ketika
aku memakan kue ini, rasanya seperti sesuatu yang baru di mulutku, rasa yang
sungguh enak, bahkan rasa yang paling enak yang pernah aku makan.
“Ini
benar-benar enak ibu Nada, kalau begitu aku ambil yang ini,” kataku, dengan
wajah tersenyum dan menunjuk ke arah kue itu.
“Benarkan,
baiklah kalau begitu akan saya siapkan kuenya.”
Ibu Nada
segera menyiapkan kuenya dan menaruhnya ke dalam kotak. Tadi itu rasa kue yang
paling enak yang pernah aku makan, aku yakin ibunya Angga akan suka dengan kue
ini, mungkin bahkan Angga juga akan sangat suka dengan kuenya.
“Nona, ini
kue nya sudah saya rapikan, nona bisa langsung ambil saja,” kata ibu Nada.
“Berapa
harganya?” tanyaku yang ingin membayar.
“Tidak usah,
ambil saja. Anggap saja ini hadiah dari saya untuk nona,” kata ibu Nada dengan senang
hati.
Tidak usah
bayar? Serius nih? Aku merasa tidak enak jika tidak membayarnya, karena kue ini
adalah kue yang khusus untuk di jual. Jika aku hanya mengambilnya, maka tidak
ada sebuah balasan dari usahanya, yang berhasil membuat kue terenak yang pernah
dia buat.
“Apa ibu
yakin? Ini kan kue yang untuk dijual, aku merasa tidak enak jika tidak membayar
kuenya.”
“Nona tidak
perlu khawatir, justru saya sangat senang bila memberi kue ini ke nona, karena
ibu nona adalah salah satu orang yang sangat membantu perkembangan pada toko
ini,” ujar ibu Nada.
Aku tau itu,
tapi apa benar ibu Nada ingin memberi kue ini kepadaku, aku benar-benar tidak
enak dengannya. Tapi, dia berkata merasa sangat senang bila memberinya
kepadaku, jadi apa aku harus ambil saja kue ini?
“Kumohon
terimalah kue ini dari saya, nona Melani,” lanjut katanya.
“Baiklah aku
terima kue ini, aku sangat berterima kasih atas pemberian ibu, sekali lagi
terima kasih,” kataku, dengan rasa sangat terima kasih.
Aku tidak
bisa menghindar saat ibu Nada memohon untuk aku menerima kue ini, aku hanya
bisa berterima kasih kepadanya. Aku sangat senang dengan pemberiannya, walaupun
di dalam hati ku merasa tidak enak karena tidak membayar.
Setelah itu
aku pamit kepada ibu Nada, karena aku harus segera menuju ke rumah Angga. Dan
mengucapkan terima kasih kembali sebelum pergi, ibu Nada adalah orang yang
sangat baik kepadaku. Aku tidak akan lupa pemberian nya.
Terima kasih
Ibu Nada.
__ADS_1
***