Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 27


__ADS_3

Melani


***


“Akhirnya aku


tau dimana alamat rumah Angga!” teriakku di ruang tamu, dengan gembiranya.


Aku senang


hari ini aku akan pergi ke rumahnya Angga, aku jadi tidak sabar untuk pergi dan


melihatnya sedang latihan, pasti sangat keren. Hari ini aku bawa hadiah apa yaa


untuk ibunya Angga, bagaimana jika buah? Em…tidak, apa yaa.


“Nona 1 jam


lagi kita akan berangkat ke rumahnya Angga, kita akan ke sana sesuai alamat


yang di berikan Angga kepada nona,” ujar Jeni.


Waktuku


tinggal satu jam lagi sebelum berangkat ke rumah Angga, tapi aku masih sibuk


memikirkan sesuatu yang akan kubawa ke rumah Angga. Tidak, lebih tepatnya aku


ingin memberi sesuatu ke ibunya.


“Jeni,


menurutmu apa yang harus aku bawa untuk ibunya Angga?” tanyaku ke Jeni dengan


serius.


Aku mencoba


bertanya kepada Jeni, karena Jeni terkadang memberi saran yang bagus kepadaku


saat aku sudah mulai bingung. Hadiah yang cocok untuk seorang ibu, kira-kira


apa yaa, apa yang ibu rumah tangga suka.


“Kalau untuk


seorang ibu yang mengurus rumah, biasanya sesuatu yang sederhana,” jawab Jeni


dengan tenang.


Sesuatu yang


sederhana, apa yang sesuatu yang sederhana. Ucapan selamat? Kue manis mungil?


Pelukan dari calon mantu? Tidak, tidak. Aku malah jadi tambah bingung karena


memikirkan hadiah yang sederhana untuk ibunya Angga.


“Apa kamu tau


sesuatu yang sederhana?” tanyaku lagi.


Jeni yang


menyarankan untuk memberi hadiah yang sederhana, karena aku bingung hadiah apa,


jadi aku bertanya lagi kepada Jeni. Aku pikir karena Jeni yang menyarankan ini,


jadi Jeni tau hadiah sederhana untuk ibunya Angga.


“Apa yaa? Aku


juga bingung hadiahnya apa,” jawab Jeni, dengan tenang.


Dia ini, dia


yang menyarankan hadiah sederhana, tapi saat aku tanya kepadanya, dia sendiri


tidak tau hadiah apa yang sederhana, dan dapat di terima oleh ibunya Angga. Mungkin


makanan cukup sederhana, banyak sekali penjual makanan keluarga di pinggir


jalan.


“Hadeuh, kau


ini. Tapi aku punya ide, aku berfikir untuk memberi makanan keluarga kepadanya,


bagaimana?” saranku.


Aku berfikir


makanan sederhana, karena menurutku itu adalah hadiah yang sangat sederhana,


dan juga bisa dimakan untuk anggota keluarga lainnya. Aku memberi saranku


kepada Jeni tentang makanan keluarga, makanan keluarga kebanyakan adalah kue.


“Makanan


keluarga ya? Aku rasa itu cukup bagus, jadi nona akan membeli makanan keluarga,


tapi di mana?” tanya Jeni.


Tempat paling


enak yang menjual makanan seperti itu aku tau, karena dulu saat kecil aku


pernah pergi bersama ibu ke toko itu dan membeli salah satu makanan di sana.


Saat aku mencobanya makanan di sana benar-benar sangat lezat.


“Tenang saja,


aku tau di mana tempat yang menjual itu. Dan lagi, rasanya sangat lezat.


Mungkin jika kamu mencoba rasanya, kamu akan ketagihan,” kataku, sambil


menunjukan jari telunjuk.


Aku sudah


memutuskan untuk membeli makanan untuk ibunya Angga bahkan juga untuk


keluarganya. Jadi sekarang lebih baik kita berangkat, karena kita akan mampir


ke toko makanan yang sering aku kunjungi bersama ibuku, walaupun saat itu aku


masih sangat kecil, tapi aku mengingat tempatnya dan juga rasanya.


“Jeni siapkan


kendaraan sekarang, kita akan pergi ke toko makanan itu, jadi aku mau segera


siapkan. Aku mau mempersiapkan diri terlebih dahulu.”


“Baik nona,”


jawab Jeni, sambil menundukkan kepala.


Aku langsung


pergi ke kamar untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat, karena aku akan


bertemu dengan ibunya Angga, bahkan mungkin dengan seluruh anggota keluarganya.


Karena sekarang adalah hari Sabtu, pasti yang lain sedang ada di rumah. Tapi


ayahku masih sibuk dengan pekerjaannya, aku juga merindukan ayah.


Tangan ku


segera membuka lemari dan melihat baju apa yang akan aku kenakan, tapi aku


sedikit bingung untuk memilih baju, karena aku nanti hanya menonton nya


latihan. Aku melihat baju-bajuku, memilih yang cocok untuk di kenakan.


Mungkin baju


yang simple dan tidak perlu formal, aku mengambil kaos lengan pendek dan jaket


panjang. Karena sekarang sore menjelang malam, pasti akan dingin nanti malam,


jadi aku menggunakan kaos lengan pendek dan juga jaket yang sedikit tebal.


Oiya celana


yang bagus apa yaa? Aku mencari celana di bagian rak-rak celana, karena bagian


atas sudah santai, jadi bagian bawah harus santai juga. Kalau trening mungkin


cocok, baiklah aku akan memilih trening untuk celana nya. Em…sip sudah selesai.


Aku segera

__ADS_1


menghampiri Jeni, untuk menanyakan apakah semuanya sudah siap atau belum. Dan


juga aku bertanya tentang makanan yang akan aku bawa nanti, hari ini aku


berniat membawa bekal makan dengan isi lobster. Karena ini adalah makanan


kesukaan Angga, jadi aku membawa nya.


Mencari


kesana-sini tapi aku belum melihat Jeni, dia ada di mana yaa? Kalau begitu aku


mencoba mencarinya di dapur, mungkin dia ada disana. Saat aku pergi ke dapur,


ternyata dugaanku benar dia sedang ada disini. Jeni sedang menyiapkan bekal


makananku.


“Jeni, apa


semua sudah siap?” tanyaku.


“Sudah nona,


kita siap untuk berangkat.”


Baiklah,


lebih baik sekarang aku berangkatnya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu


dengan ibunya Angga, aku sudah lama sekali tidak melihatnya. Terakhir saat aku


bermain bersama Angga di bak pasir, apa dia masih ingat dengan wajahku yaa?


Kalau Angga mungkin sudah lupa, karena dia tidak terkejut sama sekali akan


kehadiranku.


Pasti ibunya


berbeda, pasti ibu Angga masih mengingatku. Aku sangat mengharapkan itu, yaitu


bisa dekat dengan keluarga Angga, dan bermain terus bersama Angga. Karena Angga


adalah Rajaku dan aku adalah Ratunya.


Aku dan Jeni


segera berangkat dengan menggunakan mobil.


Toko


Makanan


Aku sudah


lama tidak ke sini, jadi ingat dengan ibu. Kenangan dengan ibu salah satunya


adalah ia selalu membawaku ke sini. Pada saat itu aku benar-benar masih sangat


kecil, tapi aku tidak lupa sama sekali dengan tempat ini.


“Jadi ini


tempat yang nona maksud?” Jeni yang melihat toko makanan tersebut.


“Iya, aku


dulu sering ke sini bersama ibuku, rasanya jadi mengingat masa lalu.”


Melihat toko


ini masih beroperasi membuatku cukup senang, karena makanan/kue di sini adalah


yang terbaik menurutku. Aku akan memilih yang sangat enak untuk ibunya Angga, termasuk


untuk keluarga lainnya.


“Baiklah, ayuk


kita masuk Jeni.”


“Baiklah


nona.”


Saat aku


masuk ke dalam, ternyata dalamnya sudah semakin bagus sejak aku terakhir kali


beda. Saat aku melihat-lihat dalamnya, tiba-tiba ada seseorang yang menyeru


kepada aku dan Jeni.


“Selamat


datang di toko kami, mau pesan apa?” kata pelayan toko.


Ternyata itu


adalah suara dari pelayan toko, suara itu adalah suara seorang perempuan. Namun


saat aku lebih memperhatikan lagi, aku terkejut dengan sosok perempuan itu. Aku


seperti pernah melihat perempuan itu seolah-olah pernah mengenalnya, padahal


umurnya jauh lebih tua dari pada ku.


“Em…kamu,


kamu anaknya nona Meliana, kamu Melani, bukan?” tanya pelayan toko yang


terlihat terkejut.


Dia kenal


dengan ibuku?! Bagaimana bisa dia mengenal sosok mendiang ibuku. Dan aku juga


seperti pernah melihat pelayan toko ini, wajahnya seperti tidak asing.


Jangan-jangan dia ini, apa benar ini dia?


“Kau kenal


dengan ibuku?” tanyaku.


“Iyaa aku


sangat mengenalnya, beliau selalu datang ke sini untuk membeli makanan. Dan


beliau selalu mengajak nona bersamanya, apa nona lupa dengan wajah saya?” kata


pelayan toko.


“Ka–kau Ibu


Nada?” tanyaku dengan terkejut.


Apa benar dia


ibu Nada? Aku benar-benar lupa wajahnya, karena saat itu aku masih sangat


kecil. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan penjual toko ini, tapi wajahnya


seperti tidak asing di penglihatanku, apa benar dia ini ibu Nada?


“Jadi nona


masih ingat dengan saya, saya senang mendengarnya.”


Ternyata


benar dia ibu Nada, tak kusangka aku akan bertemu dengan nya. Aku kira yang


menjaga toko ini adalah orang lain, apa ibu Nada masih yang menjaga toko ini?


Jika iyaa, dia benar-benar hebat. Masih sanggup melakukannya sendiri.


“Aku senang


bisa bertemu dengan Ibu Nada, aku mengira toko ini sudah ada yang menjaganya.


Tapi tidak, Ibu memang sangat semangat.”


“Saya jadi


teringat dengan wajah ibu nona, dia selalu datang membeli makanan disini dengan


membawa nona. Karena ibu Meliana selalu membeli makanan disini, toko ini


menjadi ramai pelanggan, ibu nona benar-benar banyak sekali kenalan, jadi saya


terbantu.”


“Syukurlah

__ADS_1


kalau begitu,” kataku.


“Oiya nona,


ada apa datang ke sini? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya ibu Nada.


“Aku ingin


membeli kue, karena toko ini menjual berbagai makanan dan sering ke sini dulu,


jadi aku datang ke sini lagi.”


Rasanya


seperti nostalgia dengan ibu, sudah lama saat ibu meninggal. Saat itu aku masih


kecil, aku hanya bingung dan tidak tau dengan keadaan ibu, aku baru


menyadarinya ketika aku sudah mulai beranjak sekolah dasar. Dan salah satu


paling yang aku ingat kenangan dengan ibu adalah sering datang ke toko ini


untuk membeli makanan, dan rasa makanan di toko ini kurasa lebih enak dari pada


tempat yang lain.


“Nona bisa


ikut saya, karena saya baru saja berhasil membuat kue paling enak dari yang


lain, saya senang berhasil membuat kue yang rasanya mengalahkan rasa kue buatan


saya yang pernah ada.”


Kue paling


enak disini yaa, aku tak sabar melihatnya. Kurasa dengan kata “yang paling


enak” itu akan cukup bagus untuk hadiah yang akan kubawa, karena tidak enak


jika datang ke rumah seseorang tapi tidak membawa apa-apa, apalagi rumah Angga.


Ibu Nada


menuntunku ke arah tempat kue, karena bagian makanan biasa dengan kue di


pisahkan. Tempat ini menjadi lebih bagus daripada waktu itu, tempatnya menjadi


sangat nyaman bila di kunjungi.


“Nona, ini


kue yang saya baru selesai membuatnya,” katanya, sambil menunjukan kuenya.


Aku melihat


kue yang ditunjukkan ibu Nada kepadaku, ketika aku melihatnya aku terkejut.


Karena kue ini lumayan besar, mungkin tinggi kue ini bisa dari perut sampai ke


kepalaku. Hati kecilku berkata ini adalah hadiah yang sangat bagus.


“Hua, besar


sekali,” aku yang terkejut.


“Jika nona


ingin mencicipinya, saya masih ada sisa saat pembuatan.”


“Benarkah?”


aku yang penasaran dengan rasanya.


Kemudian ibu


Nada mengambilkan sisanya dan memberikan kepadaku untuk mencicipi rasa kuenya. Ketika


aku memakan kue ini, rasanya seperti sesuatu yang baru di mulutku, rasa yang


sungguh enak, bahkan rasa yang paling enak yang pernah aku makan.


“Ini


benar-benar enak ibu Nada, kalau begitu aku ambil yang ini,” kataku, dengan


wajah tersenyum dan menunjuk ke arah kue itu.


“Benarkan,


baiklah kalau begitu akan saya siapkan kuenya.”


Ibu Nada


segera menyiapkan kuenya dan menaruhnya ke dalam kotak. Tadi itu rasa kue yang


paling enak yang pernah aku makan, aku yakin ibunya Angga akan suka dengan kue


ini, mungkin bahkan Angga juga akan sangat suka dengan kuenya.


“Nona, ini


kue nya sudah saya rapikan, nona bisa langsung ambil saja,” kata ibu Nada.


“Berapa


harganya?” tanyaku yang ingin membayar.


“Tidak usah,


ambil saja. Anggap saja ini hadiah dari saya untuk nona,” kata ibu Nada dengan senang


hati.


Tidak usah


bayar? Serius nih? Aku merasa tidak enak jika tidak membayarnya, karena kue ini


adalah kue yang khusus untuk di jual. Jika aku hanya mengambilnya, maka tidak


ada sebuah balasan dari usahanya, yang berhasil membuat kue terenak yang pernah


dia buat.


“Apa ibu


yakin? Ini kan kue yang untuk dijual, aku merasa tidak enak jika tidak membayar


kuenya.”


“Nona tidak


perlu khawatir, justru saya sangat senang bila memberi kue ini ke nona, karena


ibu nona adalah salah satu orang yang sangat membantu perkembangan pada toko


ini,” ujar ibu Nada.


Aku tau itu,


tapi apa benar ibu Nada ingin memberi kue ini kepadaku, aku benar-benar tidak


enak dengannya. Tapi, dia berkata merasa sangat senang bila memberinya


kepadaku, jadi apa aku harus ambil saja kue ini?


“Kumohon


terimalah kue ini dari saya, nona Melani,” lanjut katanya.


“Baiklah aku


terima kue ini, aku sangat berterima kasih atas pemberian ibu, sekali lagi


terima kasih,” kataku, dengan rasa sangat terima kasih.


Aku tidak


bisa menghindar saat ibu Nada memohon untuk aku menerima kue ini, aku hanya


bisa berterima kasih kepadanya. Aku sangat senang dengan pemberiannya, walaupun


di dalam hati ku merasa tidak enak karena tidak membayar.


Setelah itu


aku pamit kepada ibu Nada, karena aku harus segera menuju ke rumah Angga. Dan


mengucapkan terima kasih kembali sebelum pergi, ibu Nada adalah orang yang


sangat baik kepadaku. Aku tidak akan lupa pemberian nya.


Terima kasih


Ibu Nada.

__ADS_1


***


__ADS_2