
Melani
***
Malam ini membosankan sekali, aku hanya berbaring dan melamun.
Besok tidak ada tugas sama sekali, jadi malam ini bebas. Tapi tetap saja
membosankan jika cuman berbaring, hmm aku sangat bosan. Enaknya ngapain yaa?
“Nona makan malam sudah siap,” ujar Jeni.
“Iyaa, aku nanti kesana.”
Jeni lalu menundukkan kepala nya dan pergi.
Makan malam yaa? Yang aku ingat hanya makan siang saja. Karena
makan siang adalah waktu paling indah dalam hidupku, aku bisa makan berdua
dengan Angga saat jam istirahat. Apalagi tadi uhh, makan berdua dengan bekal
makan siang Angga. Jangan terlalu banyak di pikirkan nanti aku malah diabetes
lagi.
Aku bangun dari posisi tiduran menjadi duduk di atas kasur.
Aku melirik ke arah cermin besar di kamarku, aku menghampiri
cermin itu dan bercermin, melihat wajahku yang terlihat senang karena
memikirkan jam istirahat tadi siang di sekolah. Baiklah besok harus makan siang
menggunakan bekal ku, aku harus makan siang bersama Angga dengan bekal makan
siangku.
Malam ini ngapain yaa? Ahh aku tau. Malam ini enaknya kita
bersantai di alun-alun saja, aku akan ajak Jeni untuk menemani ku disana, jika
ayah ada di rumah aku akan pergi dengannya, ayah kapan pulang nya yaa? Aku
rindu.
Dan lagi makan malam sudah di siapkan lebih baik aku ke sana, aku
pun pergi ke ruang makan untuk makan malam.
Aku berjalan menuju meja makan dan saat sampai disana aku melihat
hidangan seafood yang lezat, karena melihat seafood aku jadi teringat sesuatu
saat aku pertama kali masuk sekolah di Garuda Abadi. Angga yang lupa bawa bekal
makan siangnya lalu makan bersama menggunakan bekal ku, bekal makan siangku
saat itu adalah seafood lobsters.
Aku masih ingat ekspresi wajahnya saat makan seafood, lucunya. Aku
memikirkan itu sambil senyum-senyum sendiri sampai di lihat oleh Jeni dan
pelayan lainnya, mungkin dari sudut pandang Jeni aku seperti orang gila yang
cengar cengir sendiri.
“Nona? Nona kenapa?” tanya Jeni.
“Tidak apa-apa,” jawabku dengan senyum Bahagia.
“Makanan sudah siap nona, silahkan.”
“Baiklah.”
Ini kesempatan ku bilang kepada Jeni untuk menemaniku ke alun-alun,
di rumah mulu terkadang membosankan.
“Jeni malam ini aku ingin pergi ke alun-alun kota, nanti temani
aku kesana yaa,” ujarku.
“Baik nona, tumben sekali nona ingin pergi ke alun-alun,” Jeni
yang penasaran.
“Aku hanya ingin bersantai saja, tidak ada yang lain,”
“Baiklah saya mengerti, setelah makan malam selesai saya akan
siapkan kendaraan untuk anda.”
Aku ingin sekali mengajak Angga pergi bersama ke alun-alun, tapi
aku takut mengganggu waktu malam Angga, aku tidak tau apakah jadwal Angga malam
ini kosong atau tidak. Jika tidak, ingin sekali aku mengajaknya. Sudahlah lebih
__ADS_1
baik aku pergi sendiri dan menikmati suasana malam hari ini.
Akhirnya makan malam selesai
juga. Baik, sekarang aku harus siap-siap untuk pergi santai ke alun-alun.
“Jeni siapkan kendaraan sekarang.”
“Baik nona.”
***
Usai aku makan malam dan juga mandi, aku siap-siap untuk pergi ke
alun-alun bersama Safira. Dan aku mendapat izin dari ayah untuk membawa
motornya, mungkin nanti saat pulang aku akan ajak Safira pulang bersama.
Terdengar romantis.
“Aku berangkat!” teriakku kepada orang rumah.
“Yaa, hati – hati!” sahut ayahku.
Melihat motor ayah membuat aku berfikir, apa motor ini sudah di
isi bensin? Akupun memeriksa tangki motornya karena parameter bensin di motor
ayah sudah rusak. Saat aku buka tangki bensin motor ternyata tinggal sedikit
mungkin cukup untuk berangkat saja. Dasar ayah kenapa tidak di isi. Akupun
kembali ke dalam dan bilang kepada ayah.
“Ayah bensin motor sudah tinggal sedikit lagi habis,” ujarku yang
melihat ayah sedang menonton TV.
“Kalau begitu sekalian isi full yaa,” ujar ayah dengan tidak
menghadapku.
Hadeuh ayah…apa mungkin ayah mengizinkanku karena bensin motor
habis, agar sekalian di isikan oleh ku, beginilah jika punya ayah yang curang,
terpaksa aku yang akan mengisi bensin motor karena aku yang terakhir memakai
motor.
Baiklah aku nanti saat berangkat mampir terlebih dahulu ke pom
bensin. Kalau begitu aku berangkat sekarang, aku takut Safira menunggu lama
untuk berangkat.
Sudah lama aku tidak mengendarai motor saat malam hari, suasana
dingin sejuk dan tenang. Mengendarai motor pada malam hari merupakan suatu yang
membuat otakku terasa relax, tapi tarikan motor ini sudah mulai berat, wajar
saja motor ini sudah lama.
Di depan aku melihat ada pom bensin, jadi aku mampir kesana
terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju alun-alun, akupun belok
ke pom bensin untuk mengisi bensin. Safira gimana yaa? Dia sudah sampai atau
belum yaa?
Safira
***
Alun – Alun
Dimana bocah tengik itu? Aku sudah
sampai di jalan raya seberang alun-alun, kita sudah janjian disini tetapi aku
duluan yang sampai. Kalau begitu, jadi sekarang aku yang harus menunggu nya, benar-benar
menyebalkan sekali.
Aku kira dia sudah sampai jadi aku buru-buru
ke sini karena aku tidak enak membuat dia menunggu, tapi pada kenyataan nya
adalah sebaliknya, aku yang harus menunggu nya. Aku belum punya kontak hp nya
untuk menghubungi nya. Dasar bocah komodo.
Kalau begitu aku jalan-jalan sebentar deh
dari pada menunggu bocah itu. Aku tidak sangka malam hari ini akan rame sampai seramai
ini, aku pikir karena ini bukan malam weekend jadi hanya sedikit orang yang
__ADS_1
datang.
Melihat keluarga bersama menikmati malam
harinya di alun-alun kota membuatku iri, aku ingin sekali seperti itu bersama
keluargaku pergi bersama ke alun-alun untuk bersantai, pasti sangat menyenangkan.
Tiba-tiba suara hp ku berbunyi. Aku pun
segera membuka nya.
“Sayang, apa kamu menikmati suasana
alun-alun?” Telepon dari ibuku.
“Iyaa, aku sangat suka suasana nya,”
jawabku dari telepon.
“Lalu bagaimana teman mu apa dia
sudah datang?”
“Belum, dia belum datang.”
Aku melihat tanda-tanda keberadaan nya
saja tidak, bagaimana aku bisa bilang dia sudah datang.
“Kalau begitu selamat menunggu teman
mu itu yang terlambat,” ejek ibuku dengan emot senyum.
Dasar ibu, apa dia sengaja meledek ku
seperti itu, Aku memang senang bila di hubungi oleh ibuku. Aku merasa kesepian
ku terselimuti dengan kehadiran ibu walaupun hanya berupa telepon, itu pun
sudah cukup bagi ku.
Aku memutuskan Kembali ke tempat
perjanjian kita untuk mengecek apakah dia sudah sampai belum, dan ternyata
bocah tengik itu belum sampai. Gabut sekali menunggu nya, jangan sampai karena
menunggu aku mengantuk dan tidur di jalan.
“Teman mu itu perempuan atau laki-laki?”
telepon dari ibuku.
“Dia laki-laki,” jawabku.
“Apa mungkin dia itu pacarmu? Kalau
begitu kenalkan sama ibu dong, ibu ingin bertemu dengannya,” katanya dengan
menggunakan emot senyum manis.
“Ibu ini…dia bukan pacarku, dia hanya
temanku saja, ibu juga tidak perlu bertemu dengan anak komodo satu ini.”
“Anak komodo?”
“Iyaa…aku memanggilnya seperti itu
karena dia lama sekali, aku sudah menunggu nya dari tadi.”
“Kamu so sweet sekali,” dengan
emot senyum.
“Ibu….”
“Iyaa-iyaa maaf,” dengan emot
senyum dan tawa.
“Kalau begitu selamat menikmati malam
di alun-alun,” kata ibuku lalu menutup telepon nya.
Ibu ini selalu saja dalam keadaan
seperti ini masih saja meledek ku, padahal dia jelas-jelas adalah hanya teman
ku yang baru saja kenal di sekolah dan langsung secara mendadak mengajakku
jalan-jalan di alun-alun kota.
“Safira!!!” suara teriakan dari arah
belakangku.
Aku menoleh dan berbalik arah mengarah ke
__ADS_1
belakangku dan melihat ternyata itu si anak komodo, akhirnya datang juga dia,
jika tidak akan ku tinggal pulang.