Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 7


__ADS_3

Melani


***


Malam ini membosankan sekali, aku hanya berbaring dan melamun.


Besok tidak ada tugas sama sekali, jadi malam ini bebas. Tapi tetap saja


membosankan jika cuman berbaring, hmm aku sangat bosan. Enaknya ngapain yaa?


“Nona makan malam sudah siap,” ujar Jeni.


“Iyaa, aku nanti kesana.”


Jeni lalu menundukkan kepala nya dan pergi.


Makan malam yaa? Yang aku ingat hanya makan siang saja. Karena


makan siang adalah waktu paling indah dalam hidupku, aku bisa makan berdua


dengan Angga saat jam istirahat. Apalagi tadi uhh, makan berdua dengan bekal


makan siang Angga. Jangan terlalu banyak di pikirkan nanti aku malah diabetes


lagi.


Aku bangun dari posisi tiduran menjadi duduk di atas kasur.


Aku melirik ke arah cermin besar di kamarku, aku menghampiri


cermin itu dan bercermin, melihat wajahku yang terlihat senang karena


memikirkan jam istirahat tadi siang di sekolah. Baiklah besok harus makan siang


menggunakan bekal ku, aku harus makan siang bersama Angga dengan bekal makan


siangku.


Malam ini ngapain yaa? Ahh aku tau. Malam ini enaknya kita


bersantai di alun-alun saja, aku akan ajak Jeni untuk menemani ku disana, jika


ayah ada di rumah aku akan pergi dengannya, ayah kapan pulang nya yaa? Aku


rindu.


Dan lagi makan malam sudah di siapkan lebih baik aku ke sana, aku


pun pergi ke ruang makan untuk makan malam.


Aku berjalan menuju meja makan dan saat sampai disana aku melihat


hidangan seafood yang lezat, karena melihat seafood aku jadi teringat sesuatu


saat aku pertama kali masuk sekolah di Garuda Abadi. Angga yang lupa bawa bekal


makan siangnya lalu makan bersama menggunakan bekal ku, bekal makan siangku


saat itu adalah seafood lobsters.


Aku masih ingat ekspresi wajahnya saat makan seafood, lucunya. Aku


memikirkan itu sambil senyum-senyum sendiri sampai di lihat oleh Jeni dan


pelayan lainnya, mungkin dari sudut pandang Jeni aku seperti orang gila yang


cengar cengir sendiri.


“Nona? Nona kenapa?” tanya Jeni.


“Tidak apa-apa,” jawabku dengan senyum Bahagia.


“Makanan sudah siap nona, silahkan.”


“Baiklah.”


Ini kesempatan ku bilang kepada Jeni untuk menemaniku ke alun-alun,


di rumah mulu terkadang membosankan.


“Jeni malam ini aku ingin pergi ke alun-alun kota, nanti temani


aku kesana yaa,” ujarku.


“Baik nona, tumben sekali nona ingin pergi ke alun-alun,” Jeni


yang penasaran.


“Aku hanya ingin bersantai saja, tidak ada yang lain,”


“Baiklah saya mengerti, setelah makan malam selesai saya akan


siapkan kendaraan untuk anda.”


Aku ingin sekali mengajak Angga pergi bersama ke alun-alun, tapi


aku takut mengganggu waktu malam Angga, aku tidak tau apakah jadwal Angga malam


ini kosong atau tidak. Jika tidak, ingin sekali aku mengajaknya. Sudahlah lebih

__ADS_1


baik aku pergi sendiri dan menikmati suasana malam hari ini.


Akhirnya makan malam selesai


juga. Baik, sekarang aku harus siap-siap untuk pergi santai ke alun-alun.


“Jeni siapkan kendaraan sekarang.”


“Baik nona.”


***


Usai aku makan malam dan juga mandi, aku siap-siap untuk pergi ke


alun-alun bersama Safira. Dan aku mendapat izin dari ayah untuk membawa


motornya, mungkin nanti saat pulang aku akan ajak Safira pulang bersama.


Terdengar romantis.


“Aku berangkat!” teriakku kepada orang rumah.


“Yaa, hati – hati!” sahut ayahku.


Melihat motor ayah membuat aku berfikir, apa motor ini sudah di


isi bensin? Akupun memeriksa tangki motornya karena parameter bensin di motor


ayah sudah rusak. Saat aku buka tangki bensin motor ternyata tinggal sedikit


mungkin cukup untuk berangkat saja. Dasar ayah kenapa tidak di isi. Akupun


kembali ke dalam dan bilang kepada ayah.


“Ayah bensin motor sudah tinggal sedikit lagi habis,” ujarku yang


melihat ayah sedang menonton TV.


“Kalau begitu sekalian isi full yaa,” ujar ayah dengan tidak


menghadapku.


Hadeuh ayah…apa mungkin ayah mengizinkanku karena bensin motor


habis, agar sekalian di isikan oleh ku, beginilah jika punya ayah yang curang,


terpaksa aku yang akan mengisi bensin motor karena aku yang terakhir memakai


motor.


Baiklah aku nanti saat berangkat mampir terlebih dahulu ke pom


bensin. Kalau begitu aku berangkat sekarang, aku takut Safira menunggu lama


untuk berangkat.


Sudah lama aku tidak mengendarai motor saat malam hari, suasana


dingin sejuk dan tenang. Mengendarai motor pada malam hari merupakan suatu yang


membuat otakku terasa relax, tapi tarikan motor ini sudah mulai berat, wajar


saja motor ini sudah lama.


Di depan aku melihat ada pom bensin, jadi aku mampir kesana


terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju alun-alun, akupun belok


ke pom bensin untuk mengisi bensin. Safira gimana yaa? Dia sudah sampai atau


belum yaa?


Safira


***


Alun – Alun


Dimana bocah tengik itu? Aku sudah


sampai di jalan raya seberang alun-alun, kita sudah janjian disini tetapi aku


duluan yang sampai. Kalau begitu, jadi sekarang aku yang harus menunggu nya, benar-benar


menyebalkan sekali.


Aku kira dia sudah sampai jadi aku buru-buru


ke sini karena aku tidak enak membuat dia menunggu, tapi pada kenyataan nya


adalah sebaliknya, aku yang harus menunggu nya. Aku belum punya kontak hp nya


untuk menghubungi nya. Dasar bocah komodo.


Kalau begitu aku jalan-jalan sebentar deh


dari pada menunggu bocah itu. Aku tidak sangka malam hari ini akan rame sampai seramai


ini, aku pikir karena ini bukan malam weekend jadi hanya sedikit orang yang

__ADS_1


datang.


Melihat keluarga bersama menikmati malam


harinya di alun-alun kota membuatku iri, aku ingin sekali seperti itu bersama


keluargaku pergi bersama ke alun-alun untuk bersantai, pasti sangat menyenangkan.


Tiba-tiba suara hp ku berbunyi. Aku pun


segera membuka nya.


“Sayang, apa kamu menikmati suasana


alun-alun?” Telepon dari ibuku.


“Iyaa, aku sangat suka suasana nya,”


jawabku dari telepon.


“Lalu bagaimana teman mu apa dia


sudah datang?”


“Belum, dia belum datang.”


Aku melihat tanda-tanda keberadaan nya


saja tidak, bagaimana aku bisa bilang dia sudah datang.


“Kalau begitu selamat menunggu teman


mu itu yang terlambat,” ejek ibuku dengan emot senyum.


Dasar ibu, apa dia sengaja meledek ku


seperti itu, Aku memang senang bila di hubungi oleh ibuku. Aku merasa kesepian


ku terselimuti dengan kehadiran ibu walaupun hanya berupa telepon, itu pun


sudah cukup bagi ku.


Aku memutuskan Kembali ke tempat


perjanjian kita untuk mengecek apakah dia sudah sampai belum, dan ternyata


bocah tengik itu belum sampai. Gabut sekali menunggu nya, jangan sampai karena


menunggu aku mengantuk dan tidur di jalan.


“Teman mu itu perempuan atau laki-laki?”


telepon dari ibuku.


“Dia laki-laki,” jawabku.


“Apa mungkin dia itu pacarmu? Kalau


begitu kenalkan sama ibu dong, ibu ingin bertemu dengannya,” katanya dengan


menggunakan emot senyum manis.


“Ibu ini…dia bukan pacarku, dia hanya


temanku saja, ibu juga tidak perlu bertemu dengan anak komodo satu ini.”


“Anak komodo?”


“Iyaa…aku memanggilnya seperti itu


karena dia lama sekali, aku sudah menunggu nya dari tadi.”


“Kamu so sweet sekali,” dengan


emot senyum.


“Ibu….”


“Iyaa-iyaa maaf,” dengan emot


senyum dan tawa.


“Kalau begitu selamat menikmati malam


di alun-alun,” kata ibuku lalu menutup telepon nya.


Ibu ini selalu saja dalam keadaan


seperti ini masih saja meledek ku, padahal dia jelas-jelas adalah hanya teman


ku yang baru saja kenal di sekolah dan langsung secara mendadak mengajakku


jalan-jalan di alun-alun kota.


“Safira!!!” suara teriakan dari arah


belakangku.


Aku menoleh dan berbalik arah mengarah ke

__ADS_1


belakangku dan melihat ternyata itu si anak komodo, akhirnya datang juga dia,


jika tidak akan ku tinggal pulang.


__ADS_2