
Flashback Masa Kecil Melani
6 bulan berlalu sejak aku di antar oleh Angga menemui orang tuaku
saat aku tersesat di jalan. Aku sedang menggambar di taman di temani oleh
supirku, suasana taman yang banyak sekali anak-anak bermain termasuk aku, dan
juga banyak orang tua yang sedang menemani anaknya bermain.
Aku duduk di kursi batu dan sedang menggambar seseorang yang
menyelamatkanku saat tersesat yaitu Angga, aku menggambar Angga dan juga diriku
sendiri. Aku menggambar kami sedang bergandengan tangan layaknya Raja dan Ratu.
“Bagaimana menurutmu? Apakah gambar aku bagus?” kataku, menunjukan
gambarku ke supirku yang sedang menemani.
“Gambar nona sangat indah, kalau boleh tau siapa lelaki yang nona
gambar?” balasnya.
“Dia adalah Rajaku, dia yang menyelamatkan ku saat aku tersesat,
dia sangat pemberani,” kataku dengan wajah yang tersenyum manis.
Saat aku asik bicara dengan supirku, tiba-tiba aku melihat Angga
sedang bermain di box pasir sendirian. Aku mengingat wajahnya, aku merasa
senang bisa melihatnya disini, akupun pergi menghampirinya sambil berlari.
“Halo, boleh aku bermain pasir disini bersamamu?” kataku dengan
malu-malu dan pipi yang sedikit memerah.
“Hmm? Kamu siapa?” tanya Angga yang bingung dengan sosokku yang
tiba-tiba datang.
“Kamu lupa yaa, kamu yang membantuku menemukan ayahku saat aku
tersesat.”
“Ohh itu kamu, sedang apa kamu disini? Apa kamu sedang tersesat
lagi?”
“Tidak, aku ke sini untuk bermain, kamu sendiri kenapa bisa ada
disini? Ke mana ibumu apa dia tidak ada disini? Aku tidak melihatnya sama
sekali,” kataku, melirak lirik sekitar taman.
“Ibu sedang membeli kue di toko kue seberang sana, aku pergi ke
sini untuk menunggunya selesai membeli kue,” balas Angga, sambil menunjukan
toko kue itu menggunakan tangannya.
“Ohh jadi seperti itu, apa aku boleh main pasir disini bersamamu?”
tanyaku malu-malu.
“Tentu saja boleh, mari bermain bersama,” kata Angga sambil
menganggukkan kepala dan tersenyum.
Kamipun bermain pasir bersama saat itu, waktu ku terasa sangat
indah saat bersamanya. Kami bersenang-senang bersama, tertawa bersama, bercanda
bersama. Dan aku ingat, tadi aku baru saja menyelesaikan gambarku saat sebelum
bertemu Angga di taman, aku ingin menunjukan gambarku kepadanya.
“Oiya, tadi aku baru menyelesaikan gambarku, mau liat?” kataku,
memejamkan mata dan dengan senyum manis.
“Ohh kamu tadi sedang menggambar, kalau begitu aku mau liat apa
yang kamu gambar.”
“Sebentar.”
Aku langsung berlari menuju tempat duduk dan mengambil buku
gambarku, lalu aku memperlihatkan gambar orang yang sedang berpegangan tangan,
sambil duduk di tumpukan pasir.
“Ini gambarku,” kataku, menunjukan hasil gambar kepada Angga.
“Hmm? Apa itu?” Angga yang bingung.
“Ini aku dan kamu, aku yang ini dan kamu yang ini,” kataku yang
menunjukan gambar orang di buku gambar.
Aku menunjuk gambar itu dengan wajah tersenyum dan hati yang ceria,
aku merasa sangat bersemangat saat menunjukan gambar itu kepada Angga. Tapi
sepertinya Angga masih bingung maksud gambar yang aku buat ini.
“Lalu maksud orang di gambar itu bergandengan tangan?” Angga
penasaran.
Kemudian aku menggenggam tangan Angga dan berkata.
“Maksud bergandengan tangan ini, kita akan selalu bersama selamanya,
layaknya Raja dan Ratu dalam kartun TV. Jika ada yang membuat kita berpisah
jauh maka hati kecil kita akan menuntun kita untuk bersama kembali selamanya.”
“Bersama selamanya?”
“Iyaa,” kataku, sambil mengangguk kan kepala dan tersenyum manis.
Melani
***
Aku terbangun dari mimpi ku tadi, mimpi
barusan adalah kejadian aku masih kecil saat bertemu dengan Angga. Aku
mengingat kejadian itu, aku ingat sekali. Kami bermain pasir bersama dan aku
menunjukan gambar orang yang kubuat. Aku mengingat kembali soal gambar orang
itu, aku pernah menyimpan nya dan tak pernah aku buang.
Aku beranjak dari kasur dan pergi ke
lemari untuk memeriksa laci, siapa tau gambar itu masih ada. Aku mengecek
setiap laci yang ada di rumah berharap gambar itu masih ada, karena aku ingat
gambar itu aku simpan dan tidak pernah aku buang.
Aku mencari kesana dan kemari namun
tidak menemukannya sama sekali, kemudian aku memanggil Jeni dan meminta tolong
kepadanya untuk membantu mencari gambar itu.
“Jeni!” teriakku memanggilnya.
Lalu Jeni menghampiri ku saat mendengar
teriakku.
“Iyaa nona, ada apa?” tanya Jeni
penasaran.
“Bantu aku mencari gambar orang berdua
yang sedang bergandengan tangan, aku harus menemukannya.”
“Gambar orang?” Jeni yang kebingungan.
“Pokoknya cari gambar yang ada orang
bergandengan tangan, gambar itu adalah gambar yang di buat anak kecil. Kamu tau
lah bagaimana model gambar anak kecil.”
“Baik Nona.”
Aku dan Jeni mencari kesana-sini,
mencari ke seluruh bagian rumah. Tapi aku belum menemukannya juga, Kemudian
Jeni menghampiri ku yang sedang mencari dan berkata kepadaku.
“Nona aku menemukannya.”
Dan ternyata benar itu adalah gambarku
yang aku buat saat aku masih kecil dulu, yang ternyata ada di laci untuk
menyimpan barang-barang yang tidak terpakai lagi. Aku tidak ke pikiran untuk
mencarinya di sana, syukurlah ketemu. Jeni yang bingung dengan gambar itu,
__ADS_1
kemudian bertanya kepadaku.
“Memangnya gambar itu untuk apa nona?”
Jeni penasaran.
“Gambar ini adalah gambar yang aku buat
saat aku masih kecil dulu. Gambar yang aku tunjukan kepada Angga dulu saat
bermain bersamanya di taman,” kataku, menatap gambar ini dengan penuh kenangan.
“Jadi itu gambar buatan nona saat masih
kecil, aku berharap Angga juga melihat gambar itu lagi untuk kedua kalinya
sebagai pengingat,” kata Jeni yang menatap gambar ini juga.
“Aku pun berharap seperti itu.”
Aku akan menyimpan gambar ini sebaik-baiknya,
akan aku simpan di tempat yang aman. Aku ingin memperlihatkan ini lagi kepada
Angga, aku harap dia mengingat gambar ini. Hari ini adalah hari weekend jadi
aku tidak berangkat ke sekolah, aku harus kembali ke kasurku dan ber-istirahat
kembali, karena sedikit lagi aku akan sembuh total dari sakit ku ini.
***
DRING... DRING... (Suara pesan handphone
ku di atas meja berbunyi).
“Aduh siapa pagi-pagi gini chat aku,
ganggu saja. Padahal hari ini weekend, aku hanya ingin bermalas malasan di
kasur seharian penuh,” aku yang menggerutu.
Aku mengambil handphone ku yang berada di atas
meja di samping kasur, aku melihat nama pengirim pesan itu yang ternyata,
pelatih Markus. Aku langsung melek seketika dan bangun dari tempat tidurku. Aku
penasaran ada apa pelatih chat aku pagi-pagi begini.
“Hari ini gak ada kegiatan kan? Kita
kumpul di Cafe Laboon jam 9 pagi bersama anak-anak yang lain juga, gak usah ada
alasan gak datang, WAJIB,” pesan dari pelatih Markus.
Weekend ku hancur sudah, yang dimana
hari ini aku bermalas malasan malah tidak jadi. Aku tidak punya alasan untuk
menolak, yang ada aku saat latihan nanti mendapat hukuman dari pelatih karena
tidak datang ke pertemuan team.
Sekarang jam 7 pagi, lebih baik aku siap-siap
dulu dari pada telat. Aku keluar dari kamar tidur menuju ruang tengah, dan
duduk di kursi ruang makan, duduk bengong saja di sini dan melihat ibu yang
sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga. Tapi aku tidak melihat ayah sama
sekali, ke mana dia?
“Ibu, ayah dimana?” tanyaku yang masih
setengah sadar karena ngantuk.
“Ayah sedang keliling komplek pagi-pagi
gini, katanya dia ingin menghirup udara segar.”
Rajin sekali orang tua itu, semangat
weekend nya sangat tinggi. Biasanya dia masih di kamar dan leyeh-leyeh di
kasur, akupun pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka agar tidak merasa ngantuk
lagi. Melihat ke cermin saat mencuci muka di wastafel, terlihat wajah orang
yang tidak ada semangat weekend sama sekali.
Aku keluar rumah untuk menghilangkan
rasa ngantuk ku ini. Hari ini cerah sekali, matahari begitu terang dan hangat,
aku pun duduk di kursi teras rumah. Tak lama dari itu ayah pulang dari keliling
komplek nya, dia terkejut melihatku yang sedang duduk di teras rumah.
sudah bangun, biasanya kamu masih leyeh-leyeh di kamar seperti orang yang tidak
punya semangat sama sekali,” kata ayahku.
Ha? dia sendiri juga, tiba-tiba semangat
sekali sampai keliling komplek kaya gitu. Dia juga biasanya masih leyeh-leyeh
di kamar, bisa-bisanya dia bilang seperti itu.
“Ayah juga, rajin sekali jalan-jalan
keliling komplek, sendirian lagi,” kataku, menatapnya dengan wajah yang lesu
bangun tidur.
“Ayah selalu semangat setiap harinya,
jadi kamu tidak perlu meragukan ayah lagi,” katanya yang terlihat semangat.
“Bohong sekali,” suara hatiku yang
jengkel mendengar ucapan tadi dari ayahku.
“Kalau begitu ikut ayah sebentar, kita
keliling komplek lagi.”
Heuh, kenapa jadi keliling komplek.
Padahal aku hanya ingin duduk manis di teras depan rumah, yaa mau bagaimana
lagi, sesekali aku jalan keliling berdua bersama ayah. Karena komplek kami
lumayan luas, kami tidak jalan ke seluruhan sudut komplek, kami hanya keliling
sekitar rumah saja. Karena kesempatan jalan ini, aku bilang kepada ayah akan
ada kejuaraan taekwondo tingkat provinsi.
“Ayah, 2 bulan lagi ada kejuaraan
taekwondo tingkat provinsi,” kataku, jalan santai berdua dengan ayah.
“Hmm, 2 bulan lagi yaa. Berapa biaya
untuk kejuaraan nya nanti?” tanya ayahku penasaran.
“Belum tau, maka dari itu nanti ada
kumpul bersama team, ngebahas soal kejuaraan nya.”
Sepertinya ayah mengkhawatirkan soal
biaya nanti, aku tau sekarang perusahaan tempat ayah kerja sedang mengalami
penurunan. Jadi gaji setiap karyawan di batasi oleh penghasilan perusahaan nya,
dan juga kami punya kebutuhan lain selain biaya untuk kejuaraan. Dari kebutuhan
makan, dan juga kebutuhan rumah lainnya. Aku sangat memaklumi kondisi sekarang.
“Tenang saja, akan ayah usahakan sebaik
mungkin untuk kamu mengikuti kejuaraan nanti,” sahut ayahku, menatap yakin
kepadaku.
Walaupun kondisinya sedang tidak
menguntungkan, ayah tetap berusaha sebaik mungkin untuk keluarga nya, ia terus
banting tulang untuk keluarganya. Aku yang sekarang masih belum bisa apa-apa,
namun suatu saat aku harus bisa membalas apa yang telah mereka beri kepadaku.
“Aku juga akan latihan dengan keras dan
berusaha sebaik mungkin, agar memenangkan kejuaraan ini.”
“Ayah tunggu prestasi mu lagi.”
Tidak buruk juga jalan santai bersama
ayah berkeliling komplek, membantu mengurangi rasa ngantuk ku. Kami tidak
terlalu lama jalan kelilingnya, karena ibu sudah menyiapkan sarapan pagi untuk
keluarga, jadi kami segera pulang untuk sarapan bersama.
Sarapan pagi ini sangat lezat, karena
ibu memasak telor ceplok kecap yang enak. Setelah selesai sarapan, aku pergi
mandi untuk siap-siap karena aku ingin pergi ke Cafe Laboon untuk pertemuan
__ADS_1
team taekwondo, dan aku sudah izin kepada ayah untuk meminjam motor hari ini.
Setelah siap-siap, dan sudah pamit kepada
orang rumah. “Aku berangkat dulu,” ucapku, sambil mendekati pintu keluar. Cuaca
hari ini benar-benar cerah, jadi aku tidak perlu membawa jas hujan. Karena aku
yakin hari ini akan cerah sampai sore.
Aku pergi ke Cafe Laboon menggunakan
google map, karena ini baru pertama kali aku pergi ke Cafenya milik Safira.
Waktu yang aku tempuh dari rumah sampai Cafe Laboon adalah sekitar 45 menit,
aku sempat kesasar gara-gara google map. Yang harusnya 30 menit sudah sampai
malah jadi lebih.
Cafenya terlihat bagus dari luar, aku
penasaran dengan dalam Cafe nya. Saat aku ingin masuk ke dalam tiba-tiba pintu
nya terbuka sendiri, yang ternyata pintu itu di buka kan oleh pelayan dari
dalam, jadi setiap ada pelanggan yang datang dari luar dan ingin masuk ke dalam
maka akan di buka kan pintunya.
Dalamnya tidak terdengar seperti
namanya, dalam Cafe ini di dominasi warna coklat dengan lampu yang berwarna
kuning samar-samar membuat sensasi santai di dalam sini. Aku mencari dimana
rombongan ku berkumpul, melihat kesana dan ke sini. Yang ternyata mereka ada di
bagian belakang, di tempat untuk keluarga besar.
Jadi bagian itu adalah tempat khusus
untuk keluarga besar yang datang, karena yang datang adalah satu team kami maka
wajar saja tempat yang di booking adalah tempat itu. Aku bisa tau mereka di
sana karena salah satu teman satu team ku melambaikan tangan kepadaku, agar aku
mengetahui posisi mereka. Wah ternyata sudah datang semua, sepertinya aku yang
terakhir datang.
“Ke mana saja kau lama sekali,” sahut
salah satu teman team ku.
“Maaf, tadi aku di sasarin sama google
map,” jawabku, sambil memegang kepala.
“Kasihan banget sih, bisa-bisa nya di
sasarin sama teknologi,” sahut salah satu teman ku lagi.
Sepertinya tidak berubah sifat mereka,
masih saja suka ngejek teman satu timnya, tapi itu sudah hal biasa bagi kami di
team saling mengejek, karena kami tidak marah saat ada yang ngeledek satu sama
lain. Karena kami sudah seperti keluarga.
“Angga cepat duduk,” kata Pelatih
Markus.
“Iyaa.”
Pada akhirnya kami di pisahkan oleh pelatih,
mungkin pelatih ingin langsung membahas inti topik nya.
“Baiklah aku mulai, kita kumpul disini
ingin membahas soal kejuaraan taekwondo yang akan diadakan oleh provinsi,
niatnya aku pingin nurunin semua ke kejuaraan. Jadi semua ikut kejuaraan, kalau
kita mengikut sertakan banyak, maka kesempatan kita memenangkan juara umum
semakin besar. Jadi gimana siap buat ikut semua?” tanya Pelatih Markus.
“Aku sih ikut ajah, sudah lama aku tidak
ikut kejuaraan. Kejuaraan kemarin aku tidak ikut karena ada acara, jadi
sekarang aku juga ingin ikut,” sahut salah satu temanku.
“Aku juga ingin ikut, kalau sparing
cuman hanya dengan teman sendiri, aku merasa kurang. Aku ingin mencari lawan
dari luar,” sahut lagi diantara mereka.
“Aku sebenarnya pingin ikut. Tapi, aku sedang
tidak ada biaya untuk ikut kejuaraan ini,” kataku.
“Kalau tidak ada kenapa kau tidak
mencari uang sendiri? Kau juga pasti bisa mencari uang sendiri, entah itu
berjualan atau semacamnya, lalu ayahmu akan menutup kekurangan nya. Karena
terakhir penyerahan persyaratan dan biaya adalah 1 bulan sebelum hari-H, kau
harus bisa mencari solusi dari masalahmu sendiri,” kata Pelatih Markus,
menasihati ku dengan wajah yang serius.
“Akan saya usahakan sebaik mungkin untuk
mengumpulkan dana nya.”
Sepertinya aku akan berjualan saja di
kelas, kebetulan aku ada kenalan penjual kue 3000-an, aku minta kepadanya untuk
membuat lebih saja, lalu aku jual 5000-an di kelas. Setelah selesai ini aku
akan menanyakan langsung ke rumahnya. Aku akan berusaha sebisa ku, dari pada
aku hanya menunggu dari ayah, dengan ini aku bisa membantu nya sedikit.
“Oiya, team dari Bogor kayaknya bakal
ikut juga. sepertinya kita bakal ketemu mereka lagi,” sahut salah satu diantara
temanku.
“Iya mereka juga ikut kejuaraan ini, pelatih
mereka sudah memberi tahuku, katanya mereka nurunin semua personil nya ke
kejuaraan,” kata Pelatih Markus.
“Mm…sepertinya lawannya tidak akan mudah
untuk memperebutkan juara umum,” kata salah satu diantara temanku.
“Tidak usah takut begitu, lakukanlah
yang terbaik. Kita pasti bisa kok menghadapi team Bogor, tenang ajah,” kata
Pelatih Markus.
“Kita latihan seminggu 5 kali, jadi
waktu istirahat kita di hari sabtu dan juga minggu. Semua harus datang untuk latihan,
jika ingin absen pakailah alasan yang bisa di terima, paham?” lanjut Pelatih
Markus.
“Paham,” serentak semua.
“Kalau begitu kita pesan dulu makanan
dan minuman, kita nikmati hari ini dulu. Karena latihan akan di mulai besok Senin.”
Kita satu team menikmati hari ini untuk
makan bersama sebelum mulai latihan rutin yang di mulai pada hari Senin besok.
Menyenangkan berkumpul bersama satu team, kebersamaan yang di jalin sungguh
kuat, susah, senang, sakit, lelah, bahagia, semua kita lalui bersama. Aku ingin
terus berjuang bersama mereka di team ini.
Mm…makanan di Cafe milik ibunya Safira
enak juga yaa, pantas saja Cafe nya rame dengan pengunjung. Dari suasana, rasa
makanan, layanan, dll. Kecuali satu, yaitu harga, aku hanya memesan makanan
yang paling murah dan minuman air putih. Aku tidak mau keluar banyak uang, aku
harus menabung untuk kejuaraan nanti.
Setelah kumpul bersama, aku langsung
pulang dan pamit kepada mereka. Tidak ada buruknya berkumpul bersama di
weekend. Setelah sampai rumah aku melanjutkan layaknya orang gabut biasa di
__ADS_1
rumah ketika weekend.