Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 18


__ADS_3

Flashback Masa Kecil Melani



6 bulan berlalu sejak aku di antar oleh Angga menemui orang tuaku


saat aku tersesat di jalan. Aku sedang menggambar di taman di temani oleh


supirku, suasana taman yang banyak sekali anak-anak bermain termasuk aku, dan


juga banyak orang tua yang sedang menemani anaknya bermain.


Aku duduk di kursi batu dan sedang menggambar seseorang yang


menyelamatkanku saat tersesat yaitu Angga, aku menggambar Angga dan juga diriku


sendiri. Aku menggambar kami sedang bergandengan tangan layaknya Raja dan Ratu.


“Bagaimana menurutmu? Apakah gambar aku bagus?” kataku, menunjukan


gambarku ke supirku yang sedang menemani.


“Gambar nona sangat indah, kalau boleh tau siapa lelaki yang nona


gambar?” balasnya.


“Dia adalah Rajaku, dia yang menyelamatkan ku saat aku tersesat,


dia sangat pemberani,” kataku dengan wajah yang tersenyum manis.


Saat aku asik bicara dengan supirku, tiba-tiba aku melihat Angga


sedang bermain di box pasir sendirian. Aku mengingat wajahnya, aku merasa


senang bisa melihatnya disini, akupun pergi menghampirinya sambil berlari.


“Halo, boleh aku bermain pasir disini bersamamu?” kataku dengan


malu-malu dan pipi yang sedikit memerah.


“Hmm? Kamu siapa?” tanya Angga yang bingung dengan sosokku yang


tiba-tiba datang.


“Kamu lupa yaa, kamu yang membantuku menemukan ayahku saat aku


tersesat.”


“Ohh itu kamu, sedang apa kamu disini? Apa kamu sedang tersesat


lagi?”


“Tidak, aku ke sini untuk bermain, kamu sendiri kenapa bisa ada


disini? Ke mana ibumu apa dia tidak ada disini? Aku tidak melihatnya sama


sekali,” kataku, melirak lirik sekitar taman.


“Ibu sedang membeli kue di toko kue seberang sana, aku pergi ke


sini untuk menunggunya selesai membeli kue,” balas Angga, sambil menunjukan


toko kue itu menggunakan tangannya.


“Ohh jadi seperti itu, apa aku boleh main pasir disini bersamamu?”


tanyaku malu-malu.


“Tentu saja boleh, mari bermain bersama,” kata Angga sambil


menganggukkan kepala dan tersenyum.


Kamipun bermain pasir bersama saat itu, waktu ku terasa sangat


indah saat bersamanya. Kami bersenang-senang bersama, tertawa bersama, bercanda


bersama. Dan aku ingat, tadi aku baru saja menyelesaikan gambarku saat sebelum


bertemu Angga di taman, aku ingin menunjukan gambarku kepadanya.


“Oiya, tadi aku baru menyelesaikan gambarku, mau liat?” kataku,


memejamkan mata dan dengan senyum manis.


“Ohh kamu tadi sedang menggambar, kalau begitu aku mau liat apa


yang kamu gambar.”


“Sebentar.”


Aku langsung berlari menuju tempat duduk dan mengambil buku


gambarku, lalu aku memperlihatkan gambar orang yang sedang berpegangan tangan,


sambil duduk di tumpukan pasir.


“Ini gambarku,” kataku, menunjukan hasil gambar kepada Angga.


“Hmm? Apa itu?” Angga yang bingung.


“Ini aku dan kamu, aku yang ini dan kamu yang ini,” kataku yang


menunjukan gambar orang di buku gambar.


Aku menunjuk gambar itu dengan wajah tersenyum dan hati yang ceria,


aku merasa sangat bersemangat saat menunjukan gambar itu kepada Angga. Tapi


sepertinya Angga masih bingung maksud gambar yang aku buat ini.


“Lalu maksud orang di gambar itu bergandengan tangan?” Angga


penasaran.


Kemudian aku menggenggam tangan Angga dan berkata.


“Maksud bergandengan tangan ini, kita akan selalu bersama selamanya,


layaknya Raja dan Ratu dalam kartun TV. Jika ada yang membuat kita berpisah


jauh maka hati kecil kita akan menuntun kita untuk bersama kembali selamanya.”


“Bersama selamanya?”


“Iyaa,” kataku, sambil mengangguk kan kepala dan tersenyum manis.



Melani


***


Aku terbangun dari mimpi ku tadi, mimpi


barusan adalah kejadian aku masih kecil saat bertemu dengan Angga. Aku


mengingat kejadian itu, aku ingat sekali. Kami bermain pasir bersama dan aku


menunjukan gambar orang yang kubuat. Aku mengingat kembali soal gambar orang


itu, aku pernah menyimpan nya dan tak pernah aku buang.


Aku beranjak dari kasur dan pergi ke


lemari untuk memeriksa laci, siapa tau gambar itu masih ada. Aku mengecek


setiap laci yang ada di rumah berharap gambar itu masih ada, karena aku ingat


gambar itu aku simpan dan tidak pernah aku buang.


Aku mencari kesana dan kemari namun


tidak menemukannya sama sekali, kemudian aku memanggil Jeni dan meminta tolong


kepadanya untuk membantu mencari gambar itu.


“Jeni!” teriakku memanggilnya.


Lalu Jeni menghampiri ku saat mendengar


teriakku.


“Iyaa nona, ada apa?” tanya Jeni


penasaran.


“Bantu aku mencari gambar orang berdua


yang sedang bergandengan tangan, aku harus menemukannya.”


“Gambar orang?” Jeni yang kebingungan.


“Pokoknya cari gambar yang ada orang


bergandengan tangan, gambar itu adalah gambar yang di buat anak kecil. Kamu tau


lah bagaimana model gambar anak kecil.”


“Baik Nona.”


Aku dan Jeni mencari kesana-sini,


mencari ke seluruh bagian rumah. Tapi aku belum menemukannya juga, Kemudian


Jeni menghampiri ku yang sedang mencari dan berkata kepadaku.


“Nona aku menemukannya.”


Dan ternyata benar itu adalah gambarku


yang aku buat saat aku masih kecil dulu, yang ternyata ada di laci untuk


menyimpan barang-barang yang tidak terpakai lagi. Aku tidak ke pikiran untuk


mencarinya di sana, syukurlah ketemu. Jeni yang bingung dengan gambar itu,

__ADS_1


kemudian bertanya kepadaku.


“Memangnya gambar itu untuk apa nona?”


Jeni penasaran.


“Gambar ini adalah gambar yang aku buat


saat aku masih kecil dulu. Gambar yang aku tunjukan kepada Angga dulu saat


bermain bersamanya di taman,” kataku, menatap gambar ini dengan penuh kenangan.


“Jadi itu gambar buatan nona saat masih


kecil, aku berharap Angga juga melihat gambar itu lagi untuk kedua kalinya


sebagai pengingat,” kata Jeni yang menatap gambar ini juga.


“Aku pun berharap seperti itu.”


Aku akan menyimpan gambar ini sebaik-baiknya,


akan aku simpan di tempat yang aman. Aku ingin memperlihatkan ini lagi kepada


Angga, aku harap dia mengingat gambar ini. Hari ini adalah hari weekend jadi


aku tidak berangkat ke sekolah, aku harus kembali ke kasurku dan ber-istirahat


kembali, karena sedikit lagi aku akan sembuh total dari sakit ku ini.


***


DRING... DRING... (Suara pesan handphone


ku di atas meja berbunyi).


“Aduh siapa pagi-pagi gini chat aku,


ganggu saja. Padahal hari ini weekend, aku hanya ingin bermalas malasan di


kasur seharian penuh,” aku yang menggerutu.


Aku mengambil handphone ku yang berada di atas


meja di samping kasur, aku melihat nama pengirim pesan itu yang ternyata,


pelatih Markus. Aku langsung melek seketika dan bangun dari tempat tidurku. Aku


penasaran ada apa pelatih chat aku pagi-pagi begini.


“Hari ini gak ada kegiatan kan? Kita


kumpul di Cafe Laboon jam 9 pagi bersama anak-anak yang lain juga, gak usah ada


alasan gak datang, WAJIB,” pesan dari pelatih Markus.


Weekend ku hancur sudah, yang dimana


hari ini aku bermalas malasan malah tidak jadi. Aku tidak punya alasan untuk


menolak, yang ada aku saat latihan nanti mendapat hukuman dari pelatih karena


tidak datang ke pertemuan team.


Sekarang jam 7 pagi, lebih baik aku siap-siap


dulu dari pada telat. Aku keluar dari kamar tidur menuju ruang tengah, dan


duduk di kursi ruang makan, duduk bengong saja di sini dan melihat ibu yang


sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga. Tapi aku tidak melihat ayah sama


sekali, ke mana dia?


“Ibu, ayah dimana?” tanyaku yang masih


setengah sadar karena ngantuk.


“Ayah sedang keliling komplek pagi-pagi


gini, katanya dia ingin menghirup udara segar.”


Rajin sekali orang tua itu, semangat


weekend nya sangat tinggi. Biasanya dia masih di kamar dan leyeh-leyeh di


kasur, akupun pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka agar tidak merasa ngantuk


lagi. Melihat ke cermin saat mencuci muka di wastafel, terlihat wajah orang


yang tidak ada semangat weekend sama sekali.


Aku keluar rumah untuk menghilangkan


rasa ngantuk ku ini. Hari ini cerah sekali, matahari begitu terang dan hangat,


aku pun duduk di kursi teras rumah. Tak lama dari itu ayah pulang dari keliling


komplek nya, dia terkejut melihatku yang sedang duduk di teras rumah.


sudah bangun, biasanya kamu masih leyeh-leyeh di kamar seperti orang yang tidak


punya semangat sama sekali,” kata ayahku.


Ha? dia sendiri juga, tiba-tiba semangat


sekali sampai keliling komplek kaya gitu. Dia juga biasanya masih leyeh-leyeh


di kamar, bisa-bisanya dia bilang seperti itu.


“Ayah juga, rajin sekali jalan-jalan


keliling komplek, sendirian lagi,” kataku, menatapnya dengan wajah yang lesu


bangun tidur.


“Ayah selalu semangat setiap harinya,


jadi kamu tidak perlu meragukan ayah lagi,” katanya yang terlihat semangat.


“Bohong sekali,” suara hatiku yang


jengkel mendengar ucapan tadi dari ayahku.


“Kalau begitu ikut ayah sebentar, kita


keliling komplek lagi.”


Heuh, kenapa jadi keliling komplek.


Padahal aku hanya ingin duduk manis di teras depan rumah, yaa mau bagaimana


lagi, sesekali aku jalan keliling berdua bersama ayah. Karena komplek kami


lumayan luas, kami tidak jalan ke seluruhan sudut komplek, kami hanya keliling


sekitar rumah saja. Karena kesempatan jalan ini, aku bilang kepada ayah akan


ada kejuaraan taekwondo tingkat provinsi.


“Ayah, 2 bulan lagi ada kejuaraan


taekwondo tingkat provinsi,” kataku, jalan santai berdua dengan ayah.


“Hmm, 2 bulan lagi yaa. Berapa biaya


untuk kejuaraan nya nanti?” tanya ayahku penasaran.


“Belum tau, maka dari itu nanti ada


kumpul bersama team, ngebahas soal kejuaraan nya.”


Sepertinya ayah mengkhawatirkan soal


biaya nanti, aku tau sekarang perusahaan tempat ayah kerja sedang mengalami


penurunan. Jadi gaji setiap karyawan di batasi oleh penghasilan perusahaan nya,


dan juga kami punya kebutuhan lain selain biaya untuk kejuaraan. Dari kebutuhan


makan, dan juga kebutuhan rumah lainnya. Aku sangat memaklumi kondisi sekarang.


“Tenang saja, akan ayah usahakan sebaik


mungkin untuk kamu mengikuti kejuaraan nanti,” sahut ayahku, menatap yakin


kepadaku.


Walaupun kondisinya sedang tidak


menguntungkan, ayah tetap berusaha sebaik mungkin untuk keluarga nya, ia terus


banting tulang untuk keluarganya. Aku yang sekarang masih belum bisa apa-apa,


namun suatu saat aku harus bisa membalas apa yang telah mereka beri kepadaku.


“Aku juga akan latihan dengan keras dan


berusaha sebaik mungkin, agar memenangkan kejuaraan ini.”


“Ayah tunggu prestasi mu lagi.”


Tidak buruk juga jalan santai bersama


ayah berkeliling komplek, membantu mengurangi rasa ngantuk ku. Kami tidak


terlalu lama jalan kelilingnya, karena ibu sudah menyiapkan sarapan pagi untuk


keluarga, jadi kami segera pulang untuk sarapan bersama.


Sarapan pagi ini sangat lezat, karena


ibu memasak telor ceplok kecap yang enak. Setelah selesai sarapan, aku pergi


mandi untuk siap-siap karena aku ingin pergi ke Cafe Laboon untuk pertemuan

__ADS_1


team taekwondo, dan aku sudah izin kepada ayah untuk meminjam motor hari ini.


Setelah siap-siap, dan sudah pamit kepada


orang rumah. “Aku berangkat dulu,” ucapku, sambil mendekati pintu keluar. Cuaca


hari ini benar-benar cerah, jadi aku tidak perlu membawa jas hujan. Karena aku


yakin hari ini akan cerah sampai sore.


Aku pergi ke Cafe Laboon menggunakan


google map, karena ini baru pertama kali aku pergi ke Cafenya milik Safira.


Waktu yang aku tempuh dari rumah sampai Cafe Laboon adalah sekitar 45 menit,


aku sempat kesasar gara-gara google map. Yang harusnya 30 menit sudah sampai


malah jadi lebih.


Cafenya terlihat bagus dari luar, aku


penasaran dengan dalam Cafe nya. Saat aku ingin masuk ke dalam tiba-tiba pintu


nya terbuka sendiri, yang ternyata pintu itu di buka kan oleh pelayan dari


dalam, jadi setiap ada pelanggan yang datang dari luar dan ingin masuk ke dalam


maka akan di buka kan pintunya.


Dalamnya tidak terdengar seperti


namanya, dalam Cafe ini di dominasi warna coklat dengan lampu yang berwarna


kuning samar-samar membuat sensasi santai di dalam sini. Aku mencari dimana


rombongan ku berkumpul, melihat kesana dan ke sini. Yang ternyata mereka ada di


bagian belakang, di tempat untuk keluarga besar.


Jadi bagian itu adalah tempat khusus


untuk keluarga besar yang datang, karena yang datang adalah satu team kami maka


wajar saja tempat yang di booking adalah tempat itu. Aku bisa tau mereka di


sana karena salah satu teman satu team ku melambaikan tangan kepadaku, agar aku


mengetahui posisi mereka. Wah ternyata sudah datang semua, sepertinya aku yang


terakhir datang.


“Ke mana saja kau lama sekali,” sahut


salah satu teman team ku.


“Maaf, tadi aku di sasarin sama google


map,” jawabku, sambil memegang kepala.


“Kasihan banget sih, bisa-bisa nya di


sasarin sama teknologi,” sahut salah satu teman ku lagi.


Sepertinya tidak berubah sifat mereka,


masih saja suka ngejek teman satu timnya, tapi itu sudah hal biasa bagi kami di


team saling mengejek, karena kami tidak marah saat ada yang ngeledek satu sama


lain. Karena kami sudah seperti keluarga.


“Angga cepat duduk,” kata Pelatih


Markus.


“Iyaa.”


Pada akhirnya kami di pisahkan oleh pelatih,


mungkin pelatih ingin langsung membahas inti topik nya.


“Baiklah aku mulai, kita kumpul disini


ingin membahas soal kejuaraan taekwondo yang akan diadakan oleh provinsi,


niatnya aku pingin nurunin semua ke kejuaraan. Jadi semua ikut kejuaraan, kalau


kita mengikut sertakan banyak, maka kesempatan kita memenangkan juara umum


semakin besar. Jadi gimana siap buat ikut semua?” tanya Pelatih Markus.


“Aku sih ikut ajah, sudah lama aku tidak


ikut kejuaraan. Kejuaraan kemarin aku tidak ikut karena ada acara, jadi


sekarang aku juga ingin ikut,” sahut salah satu temanku.


“Aku juga ingin ikut, kalau sparing


cuman hanya dengan teman sendiri, aku merasa kurang. Aku ingin mencari lawan


dari luar,” sahut lagi diantara mereka.


“Aku sebenarnya pingin ikut. Tapi, aku sedang


tidak ada biaya untuk ikut kejuaraan ini,” kataku.


“Kalau tidak ada kenapa kau tidak


mencari uang sendiri? Kau juga pasti bisa mencari uang sendiri, entah itu


berjualan atau semacamnya, lalu ayahmu akan menutup kekurangan nya. Karena


terakhir penyerahan persyaratan dan biaya adalah 1 bulan sebelum hari-H, kau


harus bisa mencari solusi dari masalahmu sendiri,” kata Pelatih Markus,


menasihati ku dengan wajah yang serius.


“Akan saya usahakan sebaik mungkin untuk


mengumpulkan dana nya.”


Sepertinya aku akan berjualan saja di


kelas, kebetulan aku ada kenalan penjual kue 3000-an, aku minta kepadanya untuk


membuat lebih saja, lalu aku jual 5000-an di kelas. Setelah selesai ini aku


akan menanyakan langsung ke rumahnya. Aku akan berusaha sebisa ku, dari pada


aku hanya menunggu dari ayah, dengan ini aku bisa membantu nya sedikit.


“Oiya, team dari Bogor kayaknya bakal


ikut juga. sepertinya kita bakal ketemu mereka lagi,” sahut salah satu diantara


temanku.


“Iya mereka juga ikut kejuaraan ini, pelatih


mereka sudah memberi tahuku, katanya mereka nurunin semua personil nya ke


kejuaraan,” kata Pelatih Markus.


“Mm…sepertinya lawannya tidak akan mudah


untuk memperebutkan juara umum,” kata salah satu diantara temanku.


“Tidak usah takut begitu, lakukanlah


yang terbaik. Kita pasti bisa kok menghadapi team Bogor, tenang ajah,” kata


Pelatih Markus.


“Kita latihan seminggu 5 kali, jadi


waktu istirahat kita di hari sabtu dan juga minggu. Semua harus datang untuk latihan,


jika ingin absen pakailah alasan yang bisa di terima, paham?” lanjut Pelatih


Markus.


“Paham,” serentak semua.


“Kalau begitu kita pesan dulu makanan


dan minuman, kita nikmati hari ini dulu. Karena latihan akan di mulai besok Senin.”


Kita satu team menikmati hari ini untuk


makan bersama sebelum mulai latihan rutin yang di mulai pada hari Senin besok.


Menyenangkan berkumpul bersama satu team, kebersamaan yang di jalin sungguh


kuat, susah, senang, sakit, lelah, bahagia, semua kita lalui bersama. Aku ingin


terus berjuang bersama mereka di team ini.


Mm…makanan di Cafe milik ibunya Safira


enak juga yaa, pantas saja Cafe nya rame dengan pengunjung. Dari suasana, rasa


makanan, layanan, dll. Kecuali satu, yaitu harga, aku hanya memesan makanan


yang paling murah dan minuman air putih. Aku tidak mau keluar banyak uang, aku


harus menabung untuk kejuaraan nanti.


Setelah kumpul bersama, aku langsung


pulang dan pamit kepada mereka. Tidak ada buruknya berkumpul bersama di


weekend. Setelah sampai rumah aku melanjutkan layaknya orang gabut biasa di

__ADS_1


rumah ketika weekend.


__ADS_2