Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 15


__ADS_3

“HAH? Kau lupa membawa pulpen lagi, Bagaimana bisa kau ini,” Rehan


yang sebal.


“Yaa mau gimana lagi sudah tertinggal, mending beli lagi di kantin,”


ujarku.


“Kenapa kau tidak meminjam saja, meminjam lebih praktis dari pada


harus ke kantin membeli lagi, kau kan bisa irit uang.”


“Aku tidak terlalu suka dengan konsep meminjam, aku lebih suka


membeli sendiri jadi barang itu secara penuh punya ku, dari pada meminjam,”


kataku seperti penasihat.


“Terserah lah,” Rehan dengan pasrah.


“Kalau begitu ayuk antarkan aku ke kantin sebentar, jam pertama


masih 30 menit lagi, masih sangat sempat untuk membeli pulpen di kantin,” pintaku


ke Rehan.


“Iyaa iya.”


Hari ini aku lupa membawa pulpen lagi, padahal aku sudah berusaha


mengingat barang apa yang tertinggal sebelum berangkat, tapi baru teringat


pulpen saat sampai di sekolah. Lebih baik aku membeli lagi di kantin, aku


meminta Rehan untuk mengantar ku, pasti di rumah bakal banyak sekali koleksi


pulpen yang aku beli di sekolah karena tertinggal.


Aku melihat ke arah luar jendela, dan cuaca hari ini cukup


mendukung untuk mata pelajaran olahraga nanti, tidak panas tidak mendung.


Kenapa tidak setiap hari saja cuaca seperti ini, pasti bakal seru, namun jika


tidak ada hujan itu akan mengerikan.


Aku dan Rehan sedang berjalan menuju kantin melewati lorong


sekolah tercepat, dan pada saat jalan aku menyahut Rehan tentang pelajaran


olahraga.


“Hari ini cuaca nya cukup bagus ya Han, untuk nanti mata pelajaran


olahraga sangat bagus,” sahutku ke Rehan.


“Uh?” Rehan yang tiba-tiba terdiam berhenti melangkah ke depan dan


bengong seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Hmm? Ada apa?” tanyaku melihat Rehan yang tiba-tiba berhenti dan


terdiam.


“Hari ini ada mata pelajaran olahraga?” tanya Rehan dengan wajah


yang panik.


“Iyaa, memangnya ada apa?” tanyaku lagi.


“Aku lupa membawa salinan baju olahraga, gawat,” Rehan mulai


panik.


“Nah loh, siap-siap kena marah oleh guru olahraga,” ejekku ke


Rehan yang sedang panik.


“AKU LUPA!!” teriak Rehan.


Kenapa dia harus teriak seperti itu sih, berisik sekali! Padahal


dia masih bisa meminjam baju ke kelas lain untuk nanti pelajaran olahraga,


memangnya hari ini kelas kita doang yang dapat pelajaran olahraga. Dan mata


pelajaran olahraga kan pelajaran ke-dua jadi Rehan masih sempat pinjam baju ke


kelas yang mendapat jam pelajaran pertama, kenapa dia harus di bawa pusing.


Sesaat kami sampai di kantin, aku melihat Safira sedang duduk di

__ADS_1


pojokan tempat duduk sama seperti kemarin saat aku pertama kali melihatnya di


kantin saat sedang disana. Aku pun bilang kepada Rehan bahwa aku ingin pergi ke


sana untuk menghampiri Safira.


“Rehan lihat, disana ada Safira, aku ingin pergi kesana dulu yaa


sebentar saja,” ujarku.


“Hmm kau ini, niat awal kita ke sini untuk apa?” tanya Rehan


kepadaku.


“Membeli pulpen,” jawabku.


“Itu kau tau, kau kan yang mengajak ke sini.”


“Sebentar ajah pliss,” kataku yang memelas.


Rehan sepertinya jijik melihat wajahku saat aku memohon kepadanya


seperti ini. Tapi mau gimana lagi, itu juga biar aku bisa pergi ke Safira


sebentar saja.


“Iyaa-iyaa, 3 menit saja,” jawab Rehan yang jengkel melihat


wajahku.


“Terima kasih, kau memang terbaik,” kataku lalu pergi ke Safira.


“Dia ini, apa pingin aku hack akun sosmednya,” kata Rehan yang


jengkel.


Kemudian aku menghampiri Safira yang sedang duduk di pojokan


tempat duduk, aku ingin menyapanya. Tapi kalau di lihat dari wajahnya, dia


seperti sedang memikirkan sesuatu, dia terlihat cemas seperti itu, apa ada


sesuatu?


“Kau masih ajah duduk disini sendiri,” ujarku yang menghampiri


Safira.


“Judesnya, padahal aku menghampirimu untuk menyapa, tapi tidak


dapat sapaan balik.”


“Hmm,” balasan simpel Safira.


“Oiya, aku lihat kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa


sedang ada masalah yang mengganggu pikiranmu?” tanyaku.


“Iyaa, hari ini aku pergi ke sekolah di antar oleh ibuku dan pada


saat di perjalanan aku dan ibuku ngobrol bersama, dan secara tidak sengaja


ibuku mengatakan suatu kegiatan yang mengingatkanku dan ibu tentang masa lalu,”


ujarnya.


Masa lalu? Safira sedang bicara apa sih? Aku tidak paham sama


sekali, sesuatu yang mengingatkannya dan ibunya tentang masa lalu? Aku benar-benar


tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan oleh Safira.


“Masa lalu? Apa yang sedang kamu maksud?” tanyaku lagi.


“Iyaa, saat kami sedang membahas cuaca hari ini, tiba-tiba ibu


nyeletuk ‘Iya, bagusnya cuaca seperti ini adalah ngopi dan duduk santai di


teras depan rumah sambil menikmati cuacanya’ dan itu adalah kegiatan yang biasa


ibu lakukan dengan ayah saat mereka masih bersama. Aku curiga ibu masih


mengharapkan ayah kembali, tapi dia malu untuk mengatakannya,” kata Safira


sambil memandangku.


“Ibumu bilang seperti itu? Bisa jadi memang kegiatan itu yang dia


suka,” ujarku.


“Hmm, mungkin.”

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak membuat sesuatu yang membuatnya ingat dengan


ayahmu, dengan begitu kamu bisa melihat ekspresi wajahnya, apakah dia benar-benar


rindu dengan ayahmu atau tidak,” nasihatku.


“Benar juga, malam ini bisa aku coba, apa kamu mau membantuku,


Angga?” ajaknya.


“Sebenarnya aku mau membantu tapi, malam ini aku ada jadwal


latihan jadi tidak bisa, mungkin lain waktu aku bisa membantumu,” jawabku.


“Baiklah, kalau tidak ada kegiatan kamu bisa hubungi aku.”


“Baiklah.”


Lalu dari belakang, Rehan mengeluarkan suara yang cukup keras, dia


ingin bilang kepadaku bahwa waktu 3 menitnya sudah habis, jadi aku harus


kembali ke Rehan dan lanjut untuk membeli pulpenku yang tertinggal.


“Waktunya habis Angga!” teriak Rehan dari belakang.


“Iyaa-iyaa, kenapa harus berteriak seperti itu sih,” jawabku.


“Kalau begitu aku tinggal dulu yaa Safira,” lanjut kataku.


“Iyaa.”


Kemudian aku meninggalkan Safira dari situ dan pergi kembali ke


Rehan, padahal aku lagi senang ngobrol berdua dengan Safira tapi Rehan


membatasi waktunya. Kan masih ada waktu 30 menit sebelum pelajaran di mulai.


“Kau buru-buru sekali Rehan,” ujarku dengan nada santai.


“Niat awal kita ke sini untuk membeli pulpen, ingat?!” kata Rehan


dengan wajah yang menakutkan.


“Iyaa-iyaa hehe.”


Setelah aku membeli pulpen


di kantin, aku dan juga Rehan kembali ke kelas. Saat di perjalanan kami berdua


bertemu dengan Putri yang habis dari ruang guru, kemudian kami menghampirinya


untuk menanyakan suratnya Melani.


“Putri!!” teriak Rehan dari belakang.


“Kalian.”


“Bagaimana suratnya? Sudah kamu kau kasih ke wali kelas? Ngomong-ngomong


apa kau tau isi dari surat izin Melani? Apa kamu membacanya?” tanya Rehan


dengan nada cepat.


“Suratnya sudah aku kasih ke wali kelas, kalau soal isinya aku


tidak tau dan melihat surat yang bukan di tuju untuk kita itu tidak sopan tau,


dan berhenti berbicara dengan nada cepat seperti itu,” balas Putri.


“Hmm, padahal aku ingin tau isinya apa, kalau begitu bagaimana


setelah pulang sekolah nanti kita menjenguk ke rumahnya, mungkin dengan kita


menjenguk kondisinya menjadi lebih baik” saran Rehan.


“Ide bagus, kalau begitu kita akan menjenguknya setelah nanti


pulang sekolah, bagaimana Angga? Kau ikut kan,” ucap Putri.


“Hmm, mungkin kita di sana hanya sebentar karena nanti malamnya


aku ada jadwal latihan, mungkin aku hanya sampai magrib lalu aku pulang,”


jawabku.


“Tidak apa, yang terpenting kita menjenguk nya,” ujar Putri.


Dan kami bertiga berjalan bersama menuju ruang kelas kami, Tapi


aku tidak tau dimana rumah Melani, mungkin mereka berdua tau rumahnya, jadi

__ADS_1


tenang saja lah.


__ADS_2