
“HAH? Kau lupa membawa pulpen lagi, Bagaimana bisa kau ini,” Rehan
yang sebal.
“Yaa mau gimana lagi sudah tertinggal, mending beli lagi di kantin,”
ujarku.
“Kenapa kau tidak meminjam saja, meminjam lebih praktis dari pada
harus ke kantin membeli lagi, kau kan bisa irit uang.”
“Aku tidak terlalu suka dengan konsep meminjam, aku lebih suka
membeli sendiri jadi barang itu secara penuh punya ku, dari pada meminjam,”
kataku seperti penasihat.
“Terserah lah,” Rehan dengan pasrah.
“Kalau begitu ayuk antarkan aku ke kantin sebentar, jam pertama
masih 30 menit lagi, masih sangat sempat untuk membeli pulpen di kantin,” pintaku
ke Rehan.
“Iyaa iya.”
Hari ini aku lupa membawa pulpen lagi, padahal aku sudah berusaha
mengingat barang apa yang tertinggal sebelum berangkat, tapi baru teringat
pulpen saat sampai di sekolah. Lebih baik aku membeli lagi di kantin, aku
meminta Rehan untuk mengantar ku, pasti di rumah bakal banyak sekali koleksi
pulpen yang aku beli di sekolah karena tertinggal.
Aku melihat ke arah luar jendela, dan cuaca hari ini cukup
mendukung untuk mata pelajaran olahraga nanti, tidak panas tidak mendung.
Kenapa tidak setiap hari saja cuaca seperti ini, pasti bakal seru, namun jika
tidak ada hujan itu akan mengerikan.
Aku dan Rehan sedang berjalan menuju kantin melewati lorong
sekolah tercepat, dan pada saat jalan aku menyahut Rehan tentang pelajaran
olahraga.
“Hari ini cuaca nya cukup bagus ya Han, untuk nanti mata pelajaran
olahraga sangat bagus,” sahutku ke Rehan.
“Uh?” Rehan yang tiba-tiba terdiam berhenti melangkah ke depan dan
bengong seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Hmm? Ada apa?” tanyaku melihat Rehan yang tiba-tiba berhenti dan
terdiam.
“Hari ini ada mata pelajaran olahraga?” tanya Rehan dengan wajah
yang panik.
“Iyaa, memangnya ada apa?” tanyaku lagi.
“Aku lupa membawa salinan baju olahraga, gawat,” Rehan mulai
panik.
“Nah loh, siap-siap kena marah oleh guru olahraga,” ejekku ke
Rehan yang sedang panik.
“AKU LUPA!!” teriak Rehan.
Kenapa dia harus teriak seperti itu sih, berisik sekali! Padahal
dia masih bisa meminjam baju ke kelas lain untuk nanti pelajaran olahraga,
memangnya hari ini kelas kita doang yang dapat pelajaran olahraga. Dan mata
pelajaran olahraga kan pelajaran ke-dua jadi Rehan masih sempat pinjam baju ke
kelas yang mendapat jam pelajaran pertama, kenapa dia harus di bawa pusing.
Sesaat kami sampai di kantin, aku melihat Safira sedang duduk di
__ADS_1
pojokan tempat duduk sama seperti kemarin saat aku pertama kali melihatnya di
kantin saat sedang disana. Aku pun bilang kepada Rehan bahwa aku ingin pergi ke
sana untuk menghampiri Safira.
“Rehan lihat, disana ada Safira, aku ingin pergi kesana dulu yaa
sebentar saja,” ujarku.
“Hmm kau ini, niat awal kita ke sini untuk apa?” tanya Rehan
kepadaku.
“Membeli pulpen,” jawabku.
“Itu kau tau, kau kan yang mengajak ke sini.”
“Sebentar ajah pliss,” kataku yang memelas.
Rehan sepertinya jijik melihat wajahku saat aku memohon kepadanya
seperti ini. Tapi mau gimana lagi, itu juga biar aku bisa pergi ke Safira
sebentar saja.
“Iyaa-iyaa, 3 menit saja,” jawab Rehan yang jengkel melihat
wajahku.
“Terima kasih, kau memang terbaik,” kataku lalu pergi ke Safira.
“Dia ini, apa pingin aku hack akun sosmednya,” kata Rehan yang
jengkel.
Kemudian aku menghampiri Safira yang sedang duduk di pojokan
tempat duduk, aku ingin menyapanya. Tapi kalau di lihat dari wajahnya, dia
seperti sedang memikirkan sesuatu, dia terlihat cemas seperti itu, apa ada
sesuatu?
“Kau masih ajah duduk disini sendiri,” ujarku yang menghampiri
Safira.
“Judesnya, padahal aku menghampirimu untuk menyapa, tapi tidak
dapat sapaan balik.”
“Hmm,” balasan simpel Safira.
“Oiya, aku lihat kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa
sedang ada masalah yang mengganggu pikiranmu?” tanyaku.
“Iyaa, hari ini aku pergi ke sekolah di antar oleh ibuku dan pada
saat di perjalanan aku dan ibuku ngobrol bersama, dan secara tidak sengaja
ibuku mengatakan suatu kegiatan yang mengingatkanku dan ibu tentang masa lalu,”
ujarnya.
Masa lalu? Safira sedang bicara apa sih? Aku tidak paham sama
sekali, sesuatu yang mengingatkannya dan ibunya tentang masa lalu? Aku benar-benar
tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan oleh Safira.
“Masa lalu? Apa yang sedang kamu maksud?” tanyaku lagi.
“Iyaa, saat kami sedang membahas cuaca hari ini, tiba-tiba ibu
nyeletuk ‘Iya, bagusnya cuaca seperti ini adalah ngopi dan duduk santai di
teras depan rumah sambil menikmati cuacanya’ dan itu adalah kegiatan yang biasa
ibu lakukan dengan ayah saat mereka masih bersama. Aku curiga ibu masih
mengharapkan ayah kembali, tapi dia malu untuk mengatakannya,” kata Safira
sambil memandangku.
“Ibumu bilang seperti itu? Bisa jadi memang kegiatan itu yang dia
suka,” ujarku.
“Hmm, mungkin.”
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak membuat sesuatu yang membuatnya ingat dengan
ayahmu, dengan begitu kamu bisa melihat ekspresi wajahnya, apakah dia benar-benar
rindu dengan ayahmu atau tidak,” nasihatku.
“Benar juga, malam ini bisa aku coba, apa kamu mau membantuku,
Angga?” ajaknya.
“Sebenarnya aku mau membantu tapi, malam ini aku ada jadwal
latihan jadi tidak bisa, mungkin lain waktu aku bisa membantumu,” jawabku.
“Baiklah, kalau tidak ada kegiatan kamu bisa hubungi aku.”
“Baiklah.”
Lalu dari belakang, Rehan mengeluarkan suara yang cukup keras, dia
ingin bilang kepadaku bahwa waktu 3 menitnya sudah habis, jadi aku harus
kembali ke Rehan dan lanjut untuk membeli pulpenku yang tertinggal.
“Waktunya habis Angga!” teriak Rehan dari belakang.
“Iyaa-iyaa, kenapa harus berteriak seperti itu sih,” jawabku.
“Kalau begitu aku tinggal dulu yaa Safira,” lanjut kataku.
“Iyaa.”
Kemudian aku meninggalkan Safira dari situ dan pergi kembali ke
Rehan, padahal aku lagi senang ngobrol berdua dengan Safira tapi Rehan
membatasi waktunya. Kan masih ada waktu 30 menit sebelum pelajaran di mulai.
“Kau buru-buru sekali Rehan,” ujarku dengan nada santai.
“Niat awal kita ke sini untuk membeli pulpen, ingat?!” kata Rehan
dengan wajah yang menakutkan.
“Iyaa-iyaa hehe.”
Setelah aku membeli pulpen
di kantin, aku dan juga Rehan kembali ke kelas. Saat di perjalanan kami berdua
bertemu dengan Putri yang habis dari ruang guru, kemudian kami menghampirinya
untuk menanyakan suratnya Melani.
“Putri!!” teriak Rehan dari belakang.
“Kalian.”
“Bagaimana suratnya? Sudah kamu kau kasih ke wali kelas? Ngomong-ngomong
apa kau tau isi dari surat izin Melani? Apa kamu membacanya?” tanya Rehan
dengan nada cepat.
“Suratnya sudah aku kasih ke wali kelas, kalau soal isinya aku
tidak tau dan melihat surat yang bukan di tuju untuk kita itu tidak sopan tau,
dan berhenti berbicara dengan nada cepat seperti itu,” balas Putri.
“Hmm, padahal aku ingin tau isinya apa, kalau begitu bagaimana
setelah pulang sekolah nanti kita menjenguk ke rumahnya, mungkin dengan kita
menjenguk kondisinya menjadi lebih baik” saran Rehan.
“Ide bagus, kalau begitu kita akan menjenguknya setelah nanti
pulang sekolah, bagaimana Angga? Kau ikut kan,” ucap Putri.
“Hmm, mungkin kita di sana hanya sebentar karena nanti malamnya
aku ada jadwal latihan, mungkin aku hanya sampai magrib lalu aku pulang,”
jawabku.
“Tidak apa, yang terpenting kita menjenguk nya,” ujar Putri.
Dan kami bertiga berjalan bersama menuju ruang kelas kami, Tapi
aku tidak tau dimana rumah Melani, mungkin mereka berdua tau rumahnya, jadi
__ADS_1
tenang saja lah.