Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 25


__ADS_3

Beberapa


Hari Kemudian Di Ruang Kelas


Sekarang sudah


jam pulang, di dalam kelas hanya ada aku dan Rehan sedangkan yang lain sudah


pulang, dan hari ini daganganku habis tak bersisa, syukurlah. Aku melihat Rehan


sedang di sampingku, dia sedang bermain hp, apa dia sedang menghubungi


seseorang. Aku memang tidak boleh ikut campur urusan orang, tapi belakangan ini


Rehan dekat sekali dengan Safira.


Aku mencoba


mengajak Rehan bicara, aku akan melakukan basa-basi soal lomba program nya.


“Rehan,


bagaimana lomba programmu? Kapan pengumuman pemenangnya?” tanyaku yang sedang


berbasa-basi.


“Lomba


program sebenarnya aku sudah selesai mengerjakan submissionsnya, dan untuk


pengumuman akan mulai besok lusa, memangnya kenapa?” kata Rehan dan berbalik


tanya kepadaku kenapa aku menanyakannya.


Sepertinya


tidak usah banyak basa-basi, aku lebih baik langsung bertanya kepadanya soal


hubungan nya dengan Safira. Karena beberapa hari ke belakang mereka berdua


sering bersama, dari berangkat dan pulang sekolah, aku ingin tau jawabannya.


“Sebenarnya


aku ingin bertanya kepadamu, apa kau punya hubungan dengan Safira?”


Rehan yang


sedang mengambil buku dari tas seketika terhenti, kemudian dia menoleh ke


arahku dan berkata.


“Kenapa kau


tanya soal ini, Angga?” tanya Rehan.


Kenapa dia


malah balik bertanya, pertanyaanku malah tidak di jawabnya. Aku hanya ingin tau


semua darimu Rehan, aku kira dengan bertanya seperti itu langsung, kau bisa


langsung memberi tau juga, ternyata tidak.


“Aku


penasaran saja, belakangan hari ini kalian sering sekali bersama.”


Aku tidak mau


basa-basi lagi, jadi langsung aku tanyakan saja kepadanya. Aku tidak tau ini


akan mencampuri urusan pribadinya atau tidak, tapi aku ini sahabatnya. Harusnya


seorang sahabat mau bercerita soal hal yang terkecil yang dimilik sahabatnya.


“Bagaimana


kau bisa tau aku sering bersama Safira?” tanya Rehan penasaran.


“Aku


terkadang melihat kalian berdua, mulai dari berangkat dan pulang sekolah. Aku


hanya ingin memastikannya saja darimu langsung.”


“Apa kau


cemburu?”


“Sedikit,


soalnya aku duluan yang mendekatinya saat di bawah pohon jambu dekat gerbang


sekolah, bahkan kau membantu ku mendekatinya kan? Apa kau lupa?”


“Tidak, aku


tidak lupa, aku sangat ingat. Tapi, ketika kau bilang kau duluan yang mendekati


Safira, maka kau salah. Karena aku lah yang terlebih dahulu mendekatinya,”


sanggah Rehan sambil menatapku di samping kursi tempat dudukku.


Dia duluan? Apa maksudnya, sejak kapan dia


mendekati Safira. Dia tidak pernah cerita sama sekali tentang Safira kepadaku,


bukannya dia yang menarikku ke Safira saat aku melihatnya di bawah pohon jambu.


Apa maksudnya.


“Hmm? Apa


maksudmu?” tanyaku, sedikit menoleh ke Rehan.


“Sebelum kau


mendekatinya saat di pohon jambu, aku sudah pernah mencoba mendekatinya. Saat


kelas satu, aku melihatnya sedang makan siang di kantin sendirian. Karena kau


orangnya yang selalu makan di kelas jadi kau tidak tau, aku bilang kepada teman


kelas yang lain saat di kantin bahwa aku suka pada wanita yang sedang makan


sendirian di sana. Kemudian teman yang lain mendorongku ke arah meja tempatnya


makan, akupun tidak bisa menghindar. Aku mendekatinya dan duduk di depannya,


aku bertanya kepadanya siapa namanya, namun dia tidak menjawab pertanyaanku.


Setelah aku bertanya dia langsung berhenti makan dan pergi dari situ.”


Dia


menyukainya dari kelas 1? Tapi dia tidak pernah cerita kepadaku kalau dia


sedang suka dengan seseorang. Dan baru sekarang dia cerita kalau dia menyukai


Safira sejak kelas 1, apa dia sengaja merahasiakan ini dariku?


“Aku selalu

__ADS_1


mencoba untuk mendekatinya, tetapi dia selalu saja menghindar dariku. Sampai di


mana kau melihatnya dibawah pohon jambu, dan kau bertanya dia dari kelas mana.


Aku sengaja menyuruhmu untuk berkenalan dengannya, karena aku mempunyai tujuan


yaitu agar aku juga bisa mengetahui namanya. Dan saat kau bertanya namanya, kau


berhasil mengetahuinya, mulai dari situ aku mencari cara untuk mendekati Safira.”


Dia berkata


seperti itu seolah-olah tidak sedang membantuku untuk dekat dengan Safira,


melainkan dia memanfaatkanku hanya untuk mengetahui namanya. Aku tidak tau


teman macam apa dia ini, jika dia memberi tau ini dari awal mungkin tidak akan


seperti ini.


“Berarti kau


tidak ada niat untuk membantuku dekat dengan Safira?” tanyaku, sambil melirik ke


arah Rehan.


“Maafkan


aku,” jawabnya.


Berarti


sekarang sudah jelas pada waktu itu, dia tidak benar-benar ingin menolongku.


Dia menarikku dengan paksa agar berkenalan dengan Safira, padahal saat itu aku


kira dia ingin membantuku, ternyata dia menggunakanku agar dia juga mengetahui


namanya.


“Lalu


bagaimana sekarang kau bisa sedekat itu dengannya?” tanyaku lagi.


Saat dia


mengetahui namanya dariku, dia juga harus mendekatinya lagi. Jika hanya


mengetahui namanya, itu tidak akan membuatnya bisa sedekat ini dengan Safira.


Pasti dia melakukan sesuatu agar bisa sedekat ini, aku ingin tau jawabannya.


“Itu aku


mulai saat setelah kau jalan bersamanya di alun-alun, kau cerita kepadaku bahwa


kau habis jalan bersama Safira di alun-alun, yang aku rasakan saat itu adalah


rasa iri, kenapa engkau bisa melakukan itu sedangkan aku tidak. Padahal aku


lebih dahulu suka kepadanya. Aku mencoba mendekatinya kembali berharap dia mau


mendengarkanku, saat aku mencoba beranikan diri berbicara padanya, dan pada


akhirnya dia mau mendengarkanku. Aku bilang kepadanya bahwa aku temannya Angga,


karena dia kenal denganmu, jadi aku bisa menggunakannya untuk berbicara Safira.


Setelah itu kami sering berbicara bersama dan saling bertukar nomor hp, sampai


sekarang terkadang aku berangkat dan pulang bersama,” cerita Rehan, berbicara


dengan menghadap papan tulis depan.


mencoba mendengarkannya saja, aku memalingkan pandanganku darinya. Pandangan ku


lurus ke depan menghadap papan tulis, tidak sama sekali pandanganku mengarahnya.


Karena aku hanya ingin mendengar dia berbicara.


Dan sekali


lagi, dia menggunakan namaku untuk bisa berbicara dengan Safira, jika itu


maunya Rehan untuk bicara dengan Safira, aku tidak mempermasalahkan. Tapi,


sekarang dia mencoba untuk mendekatinya, aku tidak tau apakah itu sesuatu yang


benar atau tidak. Namun aku sedikit kesal mendengarnya.


“Jadi kau


memanfaatkan keadaan yang ada, menggunakan namaku untuk mendekati Safira. Aku


tidak peduli siapa duluan yang suka padanya, tapi dengan merebut sesuatu dari


teman, apakah itu termasuk hal yang benar?” kataku, menghadap lurus dan tidak


menolehkan sedikitpun pandanganku kepadanya.


Ternyata dia


orang yang mengatakan ini dengan mudahnya, aku tidak tau apakah dia


mempedulikan perasaanku atau tidak, tapi nyali dia lumayan besar untuk


mengatakannya. Sedikit orang yang berani mengatakan seperti ini kepada teman


dekatnya.


“Maafkan aku


Angga, tapi aku sendiri tidak bisa menahan rasa yang sudah aku pendam sejak


setahun lalu.”


Aku sudah


malas mendengar omongan Rehan, aku merasa sudah cukup mendengar soal ini


darinya. Aku berdiri dari tempat duduk dengan wajah yang tidak senang, aku


tidak mengatakan sepatah katapun padanya, aku langsung pergi meninggalkannya


dari ruangan kelas.


Tiba-tiba dia


memberhentikanku dengan cara berkata.


“Bagaimana


kalau kita bertanding?” kata Rehan.


Aku yang


sudah dekat dengan pintu kelas ingin keluar, spontan berhenti karena mendengar


kata darinya. Bertanding? Apa lagi maksudnya sekarang, bertanding untuk


memperebutkan Safira? Bukannya itu hanya terdengar seperti orang bodoh.


“Bertanding?

__ADS_1


Apa maksudmu?” tanyaku


“Aku punya ide,


siapa yang menang dalam tanding ini, maka dia boleh mendekati Safira. Dan yang


kalah, tidak boleh mencoba mendekatinya.”


Hah? Apalagi


ini. aku sama sekali tidak mengerti, tanding apa yang dia maksud?


“Tanding apa


yang sedang kau bicarakan?” tanyaku.


“Kondisi kita


sekarang adalah dalam keadaan sedang menghadapi perlombaan, aku sedang dalam


lomba programing dan kau taekwondo. Aku ingin kita bertanding, siapa yang


mendapat juara 1, maka dia boleh mendekati Safira, jika kalah, dia tidak boleh


mencoba untuk mendekatinya.”


Tanding dalam


perlombaan? Dia bertaruh pada dirinya sendiri untuk hal ini? bagaimana bisa.


Seharusnya dia mengikuti lomba karena mencari prestasi untuk dirinya, tapi dia


juga menggunakan ini untuk bertanding denganku dalam memperebutkan satu orang.


“Karena kau


kejuaraan kurang lebih tinggal 1 minggu lagi, dan aku lusa sudah hari pengumuman


hasil lomba programing. Jika kita sama-sama juara 1, maka kita akan tanding


ulang dalam hal lain, bagaimana?” tawaran Rehan.


“Jika aku


menolak?” kataku.


“Jika kau


menolak, kau tidak boleh mendekati Safira lagi.”


Peraturan


macam apa itu? Apa aku harus mengikuti cara main nya? Kenapa harus kejuaraan ku


yang di bawa untuk beginian. Rencana ini apa dia siapkan dari awal, atau baru


saja dia siapkan. Dia benar-benar serius dalam mendapatkan Safira.


“Safira


sedang ada masalah, lebih baik kita tidak melibatkan dia dalam bertanding


memperebutkan juara 1,” kataku, menoleh ke kanan dan melirik ke belakang arah


Rehan.


“Masalah apa?


Masalah tentang ayahnya? Kau tidak perlu khawatir soal itu, Angga.”


Hmm? Dia


sudah tau masalahnya Safira dan ayahnya. Jika dia sudah tau sampai permasalahan


keluarga seseorang, berarti hubungan mereka berdua sekarang sudah dekat. Karena


jarang orang yang akan menceritakan soal masalah keluarganya, kecuali dia


memang benar-benar percaya terhadap orang itu.


“Jadi kau


sudah tau masalah itu.”


“Aku sudah


berjanji padanya kalau aku akan membantunya, karena kau lama untuk membantunya


jadi aku bilang padanya kalau aku akan membantu masalahnya sebaik mungkin,”


kata Rehan, sambil kaki diangkat ke atas meja.


Rehan sudah


bilang ke Safira kalau dia akan membantu Safira untuk mencoba mendekatkan


kembali ayah dan juga ibunya. Aku memang tidak bisa membantu karena sedang


dalam latihan rutin, jika aku bisa, akupun akan membantunya. Tapi, tetap saja


sudah telat.


“Baguslah


kalau begitu,” kataku.


“Jadi…bagaimana,


kau mau menerima tanding ini?” desak Rehan.


Apa aku harus


menerima tanding ini? Apa aku tolak saja? Jika aku menolaknya, maka dia akan


menganggapku sebagai orang yang lemah. Tapi bagaimana bisa kejuaraan untuk


mengembangkan sebuah prestasi, malah jadi untuk tanding memperebutkan satu


wanita. Kita tidak tau hasil akhir akan seperti apa, jadi lebih baik sekarang


aku akan menerima tanding ini.


“Iyaa, aku


terima tanding dari mu ini,” aku yang setuju dengan tanding dengan Rehan.


“Kalau begitu


mari kita bersalaman, yang berarti tanding ini deal di antara kedua belah


pihak,” kata Rehan.


Aku dan Rehan


saling berjabat tangan, bukti bahwa dengan ini kami bertanding memperebutkan


juara 1, agar bisa mendekati Safira. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal


seperti ini, namun aku juga belum memastikan di antara kita yang akan juara 1.


Sementara


itu, di luar kelas di balik tembok. Ada Melani yang sedang menguping

__ADS_1


pembicaraan mereka berdua soal bertanding memperebutkan Safira.


__ADS_2