
Beberapa
Hari Kemudian Di Ruang Kelas
Sekarang sudah
jam pulang, di dalam kelas hanya ada aku dan Rehan sedangkan yang lain sudah
pulang, dan hari ini daganganku habis tak bersisa, syukurlah. Aku melihat Rehan
sedang di sampingku, dia sedang bermain hp, apa dia sedang menghubungi
seseorang. Aku memang tidak boleh ikut campur urusan orang, tapi belakangan ini
Rehan dekat sekali dengan Safira.
Aku mencoba
mengajak Rehan bicara, aku akan melakukan basa-basi soal lomba program nya.
“Rehan,
bagaimana lomba programmu? Kapan pengumuman pemenangnya?” tanyaku yang sedang
berbasa-basi.
“Lomba
program sebenarnya aku sudah selesai mengerjakan submissionsnya, dan untuk
pengumuman akan mulai besok lusa, memangnya kenapa?” kata Rehan dan berbalik
tanya kepadaku kenapa aku menanyakannya.
Sepertinya
tidak usah banyak basa-basi, aku lebih baik langsung bertanya kepadanya soal
hubungan nya dengan Safira. Karena beberapa hari ke belakang mereka berdua
sering bersama, dari berangkat dan pulang sekolah, aku ingin tau jawabannya.
“Sebenarnya
aku ingin bertanya kepadamu, apa kau punya hubungan dengan Safira?”
Rehan yang
sedang mengambil buku dari tas seketika terhenti, kemudian dia menoleh ke
arahku dan berkata.
“Kenapa kau
tanya soal ini, Angga?” tanya Rehan.
Kenapa dia
malah balik bertanya, pertanyaanku malah tidak di jawabnya. Aku hanya ingin tau
semua darimu Rehan, aku kira dengan bertanya seperti itu langsung, kau bisa
langsung memberi tau juga, ternyata tidak.
“Aku
penasaran saja, belakangan hari ini kalian sering sekali bersama.”
Aku tidak mau
basa-basi lagi, jadi langsung aku tanyakan saja kepadanya. Aku tidak tau ini
akan mencampuri urusan pribadinya atau tidak, tapi aku ini sahabatnya. Harusnya
seorang sahabat mau bercerita soal hal yang terkecil yang dimilik sahabatnya.
“Bagaimana
kau bisa tau aku sering bersama Safira?” tanya Rehan penasaran.
“Aku
terkadang melihat kalian berdua, mulai dari berangkat dan pulang sekolah. Aku
hanya ingin memastikannya saja darimu langsung.”
“Apa kau
cemburu?”
“Sedikit,
soalnya aku duluan yang mendekatinya saat di bawah pohon jambu dekat gerbang
sekolah, bahkan kau membantu ku mendekatinya kan? Apa kau lupa?”
“Tidak, aku
tidak lupa, aku sangat ingat. Tapi, ketika kau bilang kau duluan yang mendekati
Safira, maka kau salah. Karena aku lah yang terlebih dahulu mendekatinya,”
sanggah Rehan sambil menatapku di samping kursi tempat dudukku.
Dia duluan? Apa maksudnya, sejak kapan dia
mendekati Safira. Dia tidak pernah cerita sama sekali tentang Safira kepadaku,
bukannya dia yang menarikku ke Safira saat aku melihatnya di bawah pohon jambu.
Apa maksudnya.
“Hmm? Apa
maksudmu?” tanyaku, sedikit menoleh ke Rehan.
“Sebelum kau
mendekatinya saat di pohon jambu, aku sudah pernah mencoba mendekatinya. Saat
kelas satu, aku melihatnya sedang makan siang di kantin sendirian. Karena kau
orangnya yang selalu makan di kelas jadi kau tidak tau, aku bilang kepada teman
kelas yang lain saat di kantin bahwa aku suka pada wanita yang sedang makan
sendirian di sana. Kemudian teman yang lain mendorongku ke arah meja tempatnya
makan, akupun tidak bisa menghindar. Aku mendekatinya dan duduk di depannya,
aku bertanya kepadanya siapa namanya, namun dia tidak menjawab pertanyaanku.
Setelah aku bertanya dia langsung berhenti makan dan pergi dari situ.”
Dia
menyukainya dari kelas 1? Tapi dia tidak pernah cerita kepadaku kalau dia
sedang suka dengan seseorang. Dan baru sekarang dia cerita kalau dia menyukai
Safira sejak kelas 1, apa dia sengaja merahasiakan ini dariku?
“Aku selalu
__ADS_1
mencoba untuk mendekatinya, tetapi dia selalu saja menghindar dariku. Sampai di
mana kau melihatnya dibawah pohon jambu, dan kau bertanya dia dari kelas mana.
Aku sengaja menyuruhmu untuk berkenalan dengannya, karena aku mempunyai tujuan
yaitu agar aku juga bisa mengetahui namanya. Dan saat kau bertanya namanya, kau
berhasil mengetahuinya, mulai dari situ aku mencari cara untuk mendekati Safira.”
Dia berkata
seperti itu seolah-olah tidak sedang membantuku untuk dekat dengan Safira,
melainkan dia memanfaatkanku hanya untuk mengetahui namanya. Aku tidak tau
teman macam apa dia ini, jika dia memberi tau ini dari awal mungkin tidak akan
seperti ini.
“Berarti kau
tidak ada niat untuk membantuku dekat dengan Safira?” tanyaku, sambil melirik ke
arah Rehan.
“Maafkan
aku,” jawabnya.
Berarti
sekarang sudah jelas pada waktu itu, dia tidak benar-benar ingin menolongku.
Dia menarikku dengan paksa agar berkenalan dengan Safira, padahal saat itu aku
kira dia ingin membantuku, ternyata dia menggunakanku agar dia juga mengetahui
namanya.
“Lalu
bagaimana sekarang kau bisa sedekat itu dengannya?” tanyaku lagi.
Saat dia
mengetahui namanya dariku, dia juga harus mendekatinya lagi. Jika hanya
mengetahui namanya, itu tidak akan membuatnya bisa sedekat ini dengan Safira.
Pasti dia melakukan sesuatu agar bisa sedekat ini, aku ingin tau jawabannya.
“Itu aku
mulai saat setelah kau jalan bersamanya di alun-alun, kau cerita kepadaku bahwa
kau habis jalan bersama Safira di alun-alun, yang aku rasakan saat itu adalah
rasa iri, kenapa engkau bisa melakukan itu sedangkan aku tidak. Padahal aku
lebih dahulu suka kepadanya. Aku mencoba mendekatinya kembali berharap dia mau
mendengarkanku, saat aku mencoba beranikan diri berbicara padanya, dan pada
akhirnya dia mau mendengarkanku. Aku bilang kepadanya bahwa aku temannya Angga,
karena dia kenal denganmu, jadi aku bisa menggunakannya untuk berbicara Safira.
Setelah itu kami sering berbicara bersama dan saling bertukar nomor hp, sampai
sekarang terkadang aku berangkat dan pulang bersama,” cerita Rehan, berbicara
dengan menghadap papan tulis depan.
mencoba mendengarkannya saja, aku memalingkan pandanganku darinya. Pandangan ku
lurus ke depan menghadap papan tulis, tidak sama sekali pandanganku mengarahnya.
Karena aku hanya ingin mendengar dia berbicara.
Dan sekali
lagi, dia menggunakan namaku untuk bisa berbicara dengan Safira, jika itu
maunya Rehan untuk bicara dengan Safira, aku tidak mempermasalahkan. Tapi,
sekarang dia mencoba untuk mendekatinya, aku tidak tau apakah itu sesuatu yang
benar atau tidak. Namun aku sedikit kesal mendengarnya.
“Jadi kau
memanfaatkan keadaan yang ada, menggunakan namaku untuk mendekati Safira. Aku
tidak peduli siapa duluan yang suka padanya, tapi dengan merebut sesuatu dari
teman, apakah itu termasuk hal yang benar?” kataku, menghadap lurus dan tidak
menolehkan sedikitpun pandanganku kepadanya.
Ternyata dia
orang yang mengatakan ini dengan mudahnya, aku tidak tau apakah dia
mempedulikan perasaanku atau tidak, tapi nyali dia lumayan besar untuk
mengatakannya. Sedikit orang yang berani mengatakan seperti ini kepada teman
dekatnya.
“Maafkan aku
Angga, tapi aku sendiri tidak bisa menahan rasa yang sudah aku pendam sejak
setahun lalu.”
Aku sudah
malas mendengar omongan Rehan, aku merasa sudah cukup mendengar soal ini
darinya. Aku berdiri dari tempat duduk dengan wajah yang tidak senang, aku
tidak mengatakan sepatah katapun padanya, aku langsung pergi meninggalkannya
dari ruangan kelas.
Tiba-tiba dia
memberhentikanku dengan cara berkata.
“Bagaimana
kalau kita bertanding?” kata Rehan.
Aku yang
sudah dekat dengan pintu kelas ingin keluar, spontan berhenti karena mendengar
kata darinya. Bertanding? Apa lagi maksudnya sekarang, bertanding untuk
memperebutkan Safira? Bukannya itu hanya terdengar seperti orang bodoh.
“Bertanding?
__ADS_1
Apa maksudmu?” tanyaku
“Aku punya ide,
siapa yang menang dalam tanding ini, maka dia boleh mendekati Safira. Dan yang
kalah, tidak boleh mencoba mendekatinya.”
Hah? Apalagi
ini. aku sama sekali tidak mengerti, tanding apa yang dia maksud?
“Tanding apa
yang sedang kau bicarakan?” tanyaku.
“Kondisi kita
sekarang adalah dalam keadaan sedang menghadapi perlombaan, aku sedang dalam
lomba programing dan kau taekwondo. Aku ingin kita bertanding, siapa yang
mendapat juara 1, maka dia boleh mendekati Safira, jika kalah, dia tidak boleh
mencoba untuk mendekatinya.”
Tanding dalam
perlombaan? Dia bertaruh pada dirinya sendiri untuk hal ini? bagaimana bisa.
Seharusnya dia mengikuti lomba karena mencari prestasi untuk dirinya, tapi dia
juga menggunakan ini untuk bertanding denganku dalam memperebutkan satu orang.
“Karena kau
kejuaraan kurang lebih tinggal 1 minggu lagi, dan aku lusa sudah hari pengumuman
hasil lomba programing. Jika kita sama-sama juara 1, maka kita akan tanding
ulang dalam hal lain, bagaimana?” tawaran Rehan.
“Jika aku
menolak?” kataku.
“Jika kau
menolak, kau tidak boleh mendekati Safira lagi.”
Peraturan
macam apa itu? Apa aku harus mengikuti cara main nya? Kenapa harus kejuaraan ku
yang di bawa untuk beginian. Rencana ini apa dia siapkan dari awal, atau baru
saja dia siapkan. Dia benar-benar serius dalam mendapatkan Safira.
“Safira
sedang ada masalah, lebih baik kita tidak melibatkan dia dalam bertanding
memperebutkan juara 1,” kataku, menoleh ke kanan dan melirik ke belakang arah
Rehan.
“Masalah apa?
Masalah tentang ayahnya? Kau tidak perlu khawatir soal itu, Angga.”
Hmm? Dia
sudah tau masalahnya Safira dan ayahnya. Jika dia sudah tau sampai permasalahan
keluarga seseorang, berarti hubungan mereka berdua sekarang sudah dekat. Karena
jarang orang yang akan menceritakan soal masalah keluarganya, kecuali dia
memang benar-benar percaya terhadap orang itu.
“Jadi kau
sudah tau masalah itu.”
“Aku sudah
berjanji padanya kalau aku akan membantunya, karena kau lama untuk membantunya
jadi aku bilang padanya kalau aku akan membantu masalahnya sebaik mungkin,”
kata Rehan, sambil kaki diangkat ke atas meja.
Rehan sudah
bilang ke Safira kalau dia akan membantu Safira untuk mencoba mendekatkan
kembali ayah dan juga ibunya. Aku memang tidak bisa membantu karena sedang
dalam latihan rutin, jika aku bisa, akupun akan membantunya. Tapi, tetap saja
sudah telat.
“Baguslah
kalau begitu,” kataku.
“Jadi…bagaimana,
kau mau menerima tanding ini?” desak Rehan.
Apa aku harus
menerima tanding ini? Apa aku tolak saja? Jika aku menolaknya, maka dia akan
menganggapku sebagai orang yang lemah. Tapi bagaimana bisa kejuaraan untuk
mengembangkan sebuah prestasi, malah jadi untuk tanding memperebutkan satu
wanita. Kita tidak tau hasil akhir akan seperti apa, jadi lebih baik sekarang
aku akan menerima tanding ini.
“Iyaa, aku
terima tanding dari mu ini,” aku yang setuju dengan tanding dengan Rehan.
“Kalau begitu
mari kita bersalaman, yang berarti tanding ini deal di antara kedua belah
pihak,” kata Rehan.
Aku dan Rehan
saling berjabat tangan, bukti bahwa dengan ini kami bertanding memperebutkan
juara 1, agar bisa mendekati Safira. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal
seperti ini, namun aku juga belum memastikan di antara kita yang akan juara 1.
Sementara
itu, di luar kelas di balik tembok. Ada Melani yang sedang menguping
__ADS_1
pembicaraan mereka berdua soal bertanding memperebutkan Safira.