
Aku baru saja pulang dari latihan rutin, sekarang sudah pukul
21:30. Walaupun latihan tidak begitu lama, latihan ini benar-benar langsung ke
intinya, sehingga latihan di laksanakan dengan tingkat kesulitan yang lebih
dari biasanya. Itulah yang membuat latihan ini tetap melelahkan, bahkan lebih
lelah dari biasanya.
Aku memasuki rumah dengan keadaan yang cukup lelah, sampai aku
malas berjalan lagi menuju kamar. Aku melihat suasana rumah yang berbeda, jika
dari pengalaman ku yang terkadang pulang malam karena habis latihan, biasanya
kondisi ini adalah dimana orang rumah sudah tidur semua. Aku bisa tau karena
aku berpengalaman membaca suasana rumah.
Ada sesuatu tercium dari
hidungku, baunya seperti bau makanan yang lezat. Kurasa ada yang meninggalkan
makanan di ruang makan untukku, karena aku penasaran, aku berjalan menuju ruang
makan untuk melihat makanan apa yang tersedia di sana.
Hmm? Lampu ruang makan mati, ruangan nya menjadi gelap dan aku
tidak bisa melihat sama sekali ada makanan apa disana. Aku pergi ke saklar
lampu untuk menyalakannya, dengan begitu ruangan menjadi terang benderang. “Nah
sekarang kan jadi lebih terang,” ujar ku.
Pandangan ku mengarah ke meja makan yang disana ada makanan, dan
tertutup oleh tudung. Aku berjalan menuju meja untuk membuka tudung makanan,
dan melihat makanan apa yang ibu masak. Tanganku menggenggam pegangan untuk
mengangkat tudung, kemudian aku angkat dari situ. Saat aku melihat isinya yang
ternyata adalah ikan asin dan juga tempe orek kecap.
Makan malam hari ini adalah ikan asin dan juga tempe orek kecap.
Aku tak pernah mempermasalahkan dengan apa aku makan, karena jika itu masakan
buatan ibu pasti akan aku makan. Makanan yang dibuat oleh ibu adalah juara,
seperti tidak ada tandingan untuk mengalahkannya dalam hal memasak.
Dari arah samping ku terdengar seperti suara langkah kaki yang mendekatku,
suara itu semakin jelas dan semakin mendekat. Ternyata itu Riska yang terbangun
dari tidurnya, wajahnya terlihat sekali bahwa dia baru bangun tidur atau memang
terbangun karena ke pulanganku ke rumah.
“Kakak sudah pulang?” Riska yang bertanya sambil mengucek matanya
karena ngantuk.
Riska tumben sekali bangun di jam segini, memangnya dia tidur jam
berapa? Aku yakin dia terbangun karena aku yang baru saja pulang ke rumah.
“Iyaa, kakak baru pulang. Maaf yaa membangunkan mu,” kataku karena
sudah membangunkan Riska.
Aku merasa tidak enak karena sudah membangunkannya dari tidur, dia
jadi repot-repot berjalan ke sini dalam kondisi yang ngantuk seperti itu.
“Tidak apa-apa, aku hanya kebelet buang air kecil, tidak perlu di
pikirkan,” katanya dengan santai, sambil mengayunkan tangannya kepadaku
seolah-olah tidak perlu di pikirkan soal itu.
Mm…ternyata bukan karena aku membangunkannya, dia cuman sedang
kebelet buang air, oleh karena itu dia bangun dan keluar dari kamar menuju
kamar mandi. Mungkin kebetulan saja Riska yang tiba-tiba ke ruang makan, lain
kali aku tidak akan menanyakan yang seperti tadi.
“Kalau begitu silahkan,” kataku, mempersilahkan Riska yang mau ke
kamar mandi karena kebelet buang air.
Aku hanya salah sangka ternyata, sebenarnya tidak perlu juga aku
pikirin soal beginian. Yang lebih penting adalah makanan yang ada di depan ku
ini, sudah di sediakan oleh ibu untuk ku yang pulang malam, lelah karena
latihan. Ibu memang terbaik.
Kemudian Riska pergi dan berjalan menuju kamar mandi dengan
kondisi yang masih seperti setengah sadar. Nyawanya seperti entah dimana, namun
jasadnya berjalan dengan bungkuk.
Aku segera mengambil piring dan juga nasi, aku sudah lapar karena
latihan yang melelahkan ini. aku bisa mengisi kembali tenaga ku sebelum tidur
dengan makan malam sebentar, aku tidak perlu takut gendut, karena aku di
barengi dengan olahraga yang cukup untuk membakar lemak dan juga gula dalam
tubuhku.
Lalu aku duduk manis dan menikmati
makanan yang sudah di sediakan ini, seperti yang sudah aku duga. Walaupun
masakan ini sederhana, karena yang memasak adalah koki terbaik di dunia yaitu
ibuku, semua masakan yang di masaknya tetap menjadi enak.
Saat aku menikmati makan malam ku sendiri
di meja makan, Riska yang selesai menyelesaikan urusannya di kamar mandi,
__ADS_1
kemudian dia bilang kepadaku dengan suara pelan.
“Jika sudah selesai makan, langsung cuci
piringnya. Dan kalau ingin pergi tidur, lampu dapur matikan jangan sampai ada
lampu yang menyala,” katanya yang menasihatiku.
Aku tiba-tiba berhenti sejenak dari
kunyahanku, dan menatap ke arah Riska yang sedang menjelaskan kepadaku barusan.
Aku berfikir, lebih baik kamu segera pergi ke kasur dan melanjutkan mimpi mu
yang indah itu, dari pada menasihati orang yang sedang asik makan dengan
tenang.
Tapi aku tau, dia menasihati ku seperti
itu, agar saat pagi tidak ada cucian piring di wastafel. Dan mematikan lampu
agar bisa irit listrik rumah, dengan begitu bayaran listrik menjadi murah.
Akupun menanggapi ucapan Riska tadi.
“Iyaa-iyaa ibu negara, akan aku
laksanakan,” kataku sambil memberikan hormat kepadanya, tanda bahwa aku paham
apa yang dia ucapkan, walaupun dalam keadaan setengah sadar seperti itu.
Dia sepertinya juga mendengar apa yang aku
ucap barusan, setelah Riska mendengar ucapan ku tadi dia mengangguk kan kepalanya
dan berkata kepadaku. “Kalau begitu aku mau ke kamar lanjut tidur,” katanya,
kemudian pergi meninggalkan ku disini.
“Yoo, hati-hati di jalan,” lelucon
dariku kepada Riska, yang sedang berjalan seperti orang sempoyongan.
Setelah aku selesai dengan makan malam
ku, aku bersih-bersih diri. Dan mempersiapkan diri untuk tidur, aku mematikan
semua lampu yang masih menyala dan mencuci piring yang tadi aku pakai makan
sebelumnya.
Aku rasa sudah semua yang aku siapkan,
dari membersihkan piring dan mematikan lampu, dan juga aku sudah bersih untuk
tidur. Kemudian aku pergi ke kamar dan berbaring di kasur, sambil merasakan
betapa lelahnya hari ini. Aku tidak boleh menyerah begitu saja, ini masih
permulaan, masih jauh untuk menuju ke pertandingan. Aku harus mempersiapkan
diri untuk ini.
Akan aku serahkan urusan besok kepada
diriku ini. Aku harus segera tidur untuk memulihkan seluruh tenaga, dan bangun
Pagi Hari
Bangun di pagi hari setelah latihan yang
melelahkan saat malam, membuat tubuhku terasa sangat segar saat bangun,
walaupun masih ada rasa ngantuk sedikit dalam diriku. Aku mencoba meregangkan
tubuhku, dari kaki, tangan, sampai ke punggung. Duduk diam di atas kasur sampai
semua nyawaku terkumpul ke dalam tubuhku.
“Aku harap hari ini berjalan dengan
lancar,” gumamku yang masih mengantuk.
Aku bangkit dari kasur dan melihat ke
arah keluar jendela, matahari sudah mulai terbit. Sambil membuka jendela, aku
menghirup udara pagi yang masuk ke dalam kamarku, aroma embun pagi memang
membuat pikiran menjadi tenang saat menghirupnya.
Di saat aku sedang menikmati suasana dan
aroma pagi hari di jendela, aku teringat saat Rehan berdua bersama Safira. Aku
tidak tau pasti mereka sedang apa disana kemarin, kalau itu urusan pribadi
mereka, maka aku sama saja ikut campur dalam urusan mereka.
Dari atas kamarku aku melihat ayah yang
keluar rumah, apa ayah sedang ingin jalan-jalan pagi seperti biasanya?
Berkeliling komplek. Jika iya, ayah memang sedang semangat-semangatnya, dia
juga sepertinya memang terlihat semangat. Ayah mengenakan baju kaos hitam polos
dan celana pendek, apa tidak dingin pagi-pagi gini? Aku tidak mengerti lagi.
Aku tadi saja tidur mengenakan celana
panjang karena dingin, mungkin sedikit lagi ada pergantian musim ke musim
hujan. Jadi suasana setiap pagi sedikit lebih dingin dari biasanya, walaupun
dingin udara yang masuk ke kamarku melalui jendela, tetap itu adalah udara yang
segar.
Lebih baik aku ke ruang makan, duduk
disana. Pasti ada ibu yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi,
sekaligus siap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku tidak ingin hampir telat
seperti awal masuk semester pertama, akupun sebenarnya males untuk mengingat
itu kembali.
Pagi Hari Di Sekolah
__ADS_1
Seperti biasanya aku menaiki sepeda ke
sekolah, dan memarkirkannya di parkiran sekolah yang isinya siswa/siswi yang
membawa motor, yaa maksudku, disana tidak ada yang membawa sepeda sama sekali,
hanya aku saja. Diantara banyak motor yang harganya mahal disana, ada sepeda
yang parkir bersama motor.
Aku keluar dari parkiran menuju gerbang
depan sekolah, karena hanya itu satu-satunya jalan yang dibuka. Jalan belakang
yang langsung mengakses ke parkiran, hanya di buka saat waktu pulang sekolah.
Siswa saat pagi, wajib masuk melewati gerbang depan.
Sebagian siswa ada yang membawa motor ke
sekolah ada juga yang di antarkan menggunakan mobil. Mereka adalah orang-orang
mampu di sekolah, orang yang sepertiku hanya minoritas di sekolah. Tapi aku
tidak terlalu mempedulikan hal semacam itu.
Di saat aku sudah dekat dengan gerbang
depan sekolah, aku melihat Rehan sedang disana. Bersandar di tembok sekolah
seperti sedang menunggu seseorang, saat aku ingin memanggilnya, tiba-tiba ada
seseorang keluar dari mobil di depan hadapan Rehan. Seorang wanita yang keluar,
aku terkejut yang keluar dari dalam mobil itu adalah Safira.
Jadi Rehan sedang menunggu Safira di
depan gerbang sekolah, apa mereka ingin jalan bersama ke dalam? Apa aku harus
mengikutinya? Atau aku langsung saja. Tapi kurasa aku melihat mereka dari jauh
saja, aku takut salah paham terhadap Rehan. Kemudian mereka berdua pun masuk ke
dalam sekolah bersama-sama.
“Kenapa mereka tiba-tiba jadi sedekat
ini?” gumam ku.
Saat mereka masuk, aku juga ikut masuk ke
dalam untuk mengikutinya dari jauh di belakang. Mereka seperti sangat dekat
saat jalan berdua, aku tetap mengikuti mereka dari belakang. Mereka berjalan
menuju gedung Bahasa, Rehan juga mengikutinya sampai kesana, yang padahal
gedung IPA bukan di belakang.
Aku terus mengikuti mereka dan sampailah
di depan kelas dari gedung Bahasa. Sepertinya itu kelas nya Safira, apa Rehan
mengantarnya sampai ke depan kelasnya? Lalu setelah itu Rehan meninggalkan
kelasnya, mungkin dia ingin pergi ke kelas. Sepertinya aku harus pergi juga ke
kelas, dengan cepat aku menaiki tangga yang ada di samping ku, namun saat aku
ingin berbalik arah dan menaiki tangga itu, tiba-tiba aku tertabrak orang yang
sedang berlari menuju tangga itu juga.
Kepala kami saling berbenturan, kami
saling memegang kepala kami karena benturan itu. Saat aku ingin melihat orang yang
bertabrakan denganku, ternyata dia adalah Melani, aku terkejut akan bertemu dengannya
disini. Jika di lihat-lihat sepertinya dia juga baru sampai di sekolah, karena
tas nya masih ada di punggung nya. Dan tumben sekali dia lewat sini, padahal
kelas kita berada di depan bukan di belakang. Apa dia mengikutiku sejak tadi.
“Melani? Kamu ngapain? Bukannya kelas
kita ada di depan, kenapa kamu ke sini?” kataku penasaran, sambil memegang
kepalaku karena terbentur.
“Kamu sendiri juga ngapain disini? Aku
hanya habis dari sana menghampiri temanku,” kata Melani, sambil menunjukan
kelas lain.
Melani ternyata punya teman selain di
kelas, ternyata dia lebih berkembang dari pada aku. Aku saja tidak punya teman
di luar kelas, yang ku maksud dari kelas lain. Aku hanya bersosialisasi dengan
teman di kelas saja.
“Aku hanya kebetulan keliling saja,”
kataku yang mencari alasan.
Aku sengaja berbohong karena aku tidak
ingin ada yang tau kalau aku dari tadi sedang mengikuti Rehan. Oleh karena itu,
aku berbohong kepada Melani.
“Apa kamu mau ke kelas?” tanyaku.
“Iyaa, aku ingin ke kelas.”
“Kalau sudah ketemu begini, lebih baik
kita bareng saja ke kelasnya,” kataku.
Aku sengaja berkata begitu agar
memalingkan topik yang bisa membuat salah paham ini. Aku memalingkan
pembicaraan untuk kita pergi jalan bersama ke kelas, karena kita kebetulan
ketemu disini, jadi aku pikir aku jalan dengannya saja ke kelas.
__ADS_1