Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 21


__ADS_3

Aku baru saja pulang dari latihan rutin, sekarang sudah pukul


21:30. Walaupun latihan tidak begitu lama, latihan ini benar-benar langsung ke


intinya, sehingga latihan di laksanakan dengan tingkat kesulitan yang lebih


dari biasanya. Itulah yang membuat latihan ini tetap melelahkan, bahkan lebih


lelah dari biasanya.


Aku memasuki rumah dengan keadaan yang cukup lelah, sampai aku


malas berjalan lagi menuju kamar. Aku melihat suasana rumah yang berbeda, jika


dari pengalaman ku yang terkadang pulang malam karena habis latihan, biasanya


kondisi ini adalah dimana orang rumah sudah tidur semua. Aku bisa tau karena


aku berpengalaman membaca suasana rumah.


Ada sesuatu tercium dari


hidungku, baunya seperti bau makanan yang lezat. Kurasa ada yang meninggalkan


makanan di ruang makan untukku, karena aku penasaran, aku berjalan menuju ruang


makan untuk melihat makanan apa yang tersedia di sana.


Hmm? Lampu ruang makan mati, ruangan nya menjadi gelap dan aku


tidak bisa melihat sama sekali ada makanan apa disana. Aku pergi ke saklar


lampu untuk menyalakannya, dengan begitu ruangan menjadi terang benderang. “Nah


sekarang kan jadi lebih terang,” ujar ku.


Pandangan ku mengarah ke meja makan yang disana ada makanan, dan


tertutup oleh tudung. Aku berjalan menuju meja untuk membuka tudung makanan,


dan melihat makanan apa yang ibu masak. Tanganku menggenggam pegangan untuk


mengangkat tudung, kemudian aku angkat dari situ. Saat aku melihat isinya yang


ternyata adalah ikan asin dan juga tempe orek kecap.


Makan malam hari ini adalah ikan asin dan juga tempe orek kecap.


Aku tak pernah mempermasalahkan dengan apa aku makan, karena jika itu masakan


buatan ibu pasti akan aku makan. Makanan yang dibuat oleh ibu adalah juara,


seperti tidak ada tandingan untuk mengalahkannya dalam hal memasak.


Dari arah samping ku terdengar seperti suara langkah kaki yang mendekatku,


suara itu semakin jelas dan semakin mendekat. Ternyata itu Riska yang terbangun


dari tidurnya, wajahnya terlihat sekali bahwa dia baru bangun tidur atau memang


terbangun karena ke pulanganku ke rumah.


“Kakak sudah pulang?” Riska yang bertanya sambil mengucek matanya


karena ngantuk.


Riska tumben sekali bangun di jam segini, memangnya dia tidur jam


berapa? Aku yakin dia terbangun karena aku yang baru saja pulang ke rumah.


“Iyaa, kakak baru pulang. Maaf yaa membangunkan mu,” kataku karena


sudah membangunkan Riska.


Aku merasa tidak enak karena sudah membangunkannya dari tidur, dia


jadi repot-repot berjalan ke sini dalam kondisi yang ngantuk seperti itu.


“Tidak apa-apa, aku hanya kebelet buang air kecil, tidak perlu di


pikirkan,” katanya dengan santai, sambil mengayunkan tangannya kepadaku


seolah-olah tidak perlu di pikirkan soal itu.


Mm…ternyata bukan karena aku membangunkannya, dia cuman sedang


kebelet buang air, oleh karena itu dia bangun dan keluar dari kamar menuju


kamar mandi. Mungkin kebetulan saja Riska yang tiba-tiba ke ruang makan, lain


kali aku tidak akan menanyakan yang seperti tadi.


“Kalau begitu silahkan,” kataku, mempersilahkan Riska yang mau ke


kamar mandi karena kebelet buang air.


Aku hanya salah sangka ternyata, sebenarnya tidak perlu juga aku


pikirin soal beginian. Yang lebih penting adalah makanan yang ada di depan ku


ini, sudah di sediakan oleh ibu untuk ku yang pulang malam, lelah karena


latihan. Ibu memang terbaik.


Kemudian Riska pergi dan berjalan menuju kamar mandi dengan


kondisi yang masih seperti setengah sadar. Nyawanya seperti entah dimana, namun


jasadnya berjalan dengan bungkuk.


Aku segera mengambil piring dan juga nasi, aku sudah lapar karena


latihan yang melelahkan ini. aku bisa mengisi kembali tenaga ku sebelum tidur


dengan makan malam sebentar, aku tidak perlu takut gendut, karena aku di


barengi dengan olahraga yang cukup untuk membakar lemak dan juga gula dalam


tubuhku.


Lalu aku duduk manis dan menikmati


makanan yang sudah di sediakan ini, seperti yang sudah aku duga. Walaupun


masakan ini sederhana, karena yang memasak adalah koki terbaik di dunia yaitu


ibuku, semua masakan yang di masaknya tetap menjadi enak.


Saat aku menikmati makan malam ku sendiri


di meja makan, Riska yang selesai menyelesaikan urusannya di kamar mandi,

__ADS_1


kemudian dia bilang kepadaku dengan suara pelan.


“Jika sudah selesai makan, langsung cuci


piringnya. Dan kalau ingin pergi tidur, lampu dapur matikan jangan sampai ada


lampu yang menyala,” katanya yang menasihatiku.


Aku tiba-tiba berhenti sejenak dari


kunyahanku, dan menatap ke arah Riska yang sedang menjelaskan kepadaku barusan.


Aku berfikir, lebih baik kamu segera pergi ke kasur dan melanjutkan mimpi mu


yang indah itu, dari pada menasihati orang yang sedang asik makan dengan


tenang.


Tapi aku tau, dia menasihati ku seperti


itu, agar saat pagi tidak ada cucian piring di wastafel. Dan mematikan lampu


agar bisa irit listrik rumah, dengan begitu bayaran listrik menjadi murah.


Akupun menanggapi ucapan Riska tadi.


“Iyaa-iyaa ibu negara, akan aku


laksanakan,” kataku sambil memberikan hormat kepadanya, tanda bahwa aku paham


apa yang dia ucapkan, walaupun dalam keadaan setengah sadar seperti itu.


Dia sepertinya juga mendengar apa yang aku


ucap barusan, setelah Riska mendengar ucapan ku tadi dia mengangguk kan kepalanya


dan berkata kepadaku. “Kalau begitu aku mau ke kamar lanjut tidur,” katanya,


kemudian pergi meninggalkan ku disini.


“Yoo, hati-hati di jalan,” lelucon


dariku kepada Riska, yang sedang berjalan seperti orang sempoyongan.


Setelah aku selesai dengan makan malam


ku, aku bersih-bersih diri. Dan mempersiapkan diri untuk tidur, aku mematikan


semua lampu yang masih menyala dan mencuci piring yang tadi aku pakai makan


sebelumnya.


Aku rasa sudah semua yang aku siapkan,


dari membersihkan piring dan mematikan lampu, dan juga aku sudah bersih untuk


tidur. Kemudian aku pergi ke kamar dan berbaring di kasur, sambil merasakan


betapa lelahnya hari ini. Aku tidak boleh menyerah begitu saja, ini masih


permulaan, masih jauh untuk menuju ke pertandingan. Aku harus mempersiapkan


diri untuk ini.


Akan aku serahkan urusan besok kepada


diriku ini. Aku harus segera tidur untuk memulihkan seluruh tenaga, dan bangun


Pagi Hari


Bangun di pagi hari setelah latihan yang


melelahkan saat malam, membuat tubuhku terasa sangat segar saat bangun,


walaupun masih ada rasa ngantuk sedikit dalam diriku. Aku mencoba meregangkan


tubuhku, dari kaki, tangan, sampai ke punggung. Duduk diam di atas kasur sampai


semua nyawaku terkumpul ke dalam tubuhku.


“Aku harap hari ini berjalan dengan


lancar,” gumamku yang masih mengantuk.


Aku bangkit dari kasur dan melihat ke


arah keluar jendela, matahari sudah mulai terbit. Sambil membuka jendela, aku


menghirup udara pagi yang masuk ke dalam kamarku, aroma embun pagi memang


membuat pikiran menjadi tenang saat menghirupnya.


Di saat aku sedang menikmati suasana dan


aroma pagi hari di jendela, aku teringat saat Rehan berdua bersama Safira. Aku


tidak tau pasti mereka sedang apa disana kemarin, kalau itu urusan pribadi


mereka, maka aku sama saja ikut campur dalam urusan mereka.


Dari atas kamarku aku melihat ayah yang


keluar rumah, apa ayah sedang ingin jalan-jalan pagi seperti biasanya?


Berkeliling komplek. Jika iya, ayah memang sedang semangat-semangatnya, dia


juga sepertinya memang terlihat semangat. Ayah mengenakan baju kaos hitam polos


dan celana pendek, apa tidak dingin pagi-pagi gini? Aku tidak mengerti lagi.


Aku tadi saja tidur mengenakan celana


panjang karena dingin, mungkin sedikit lagi ada pergantian musim ke musim


hujan. Jadi suasana setiap pagi sedikit lebih dingin dari biasanya, walaupun


dingin udara yang masuk ke kamarku melalui jendela, tetap itu adalah udara yang


segar.


Lebih baik aku ke ruang makan, duduk


disana. Pasti ada ibu yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan pagi,


sekaligus siap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku tidak ingin hampir telat


seperti awal masuk semester pertama, akupun sebenarnya males untuk mengingat


itu kembali.


Pagi Hari Di Sekolah

__ADS_1


Seperti biasanya aku menaiki sepeda ke


sekolah, dan memarkirkannya di parkiran sekolah yang isinya siswa/siswi yang


membawa motor, yaa maksudku, disana tidak ada yang membawa sepeda sama sekali,


hanya aku saja. Diantara banyak motor yang harganya mahal disana, ada sepeda


yang parkir bersama motor.


Aku keluar dari parkiran menuju gerbang


depan sekolah, karena hanya itu satu-satunya jalan yang dibuka. Jalan belakang


yang langsung mengakses ke parkiran, hanya di buka saat waktu pulang sekolah.


Siswa saat pagi, wajib masuk melewati gerbang depan.


Sebagian siswa ada yang membawa motor ke


sekolah ada juga yang di antarkan menggunakan mobil. Mereka adalah orang-orang


mampu di sekolah, orang yang sepertiku hanya minoritas di sekolah. Tapi aku


tidak terlalu mempedulikan hal semacam itu.


Di saat aku sudah dekat dengan gerbang


depan sekolah, aku melihat Rehan sedang disana. Bersandar di tembok sekolah


seperti sedang menunggu seseorang, saat aku ingin memanggilnya, tiba-tiba ada


seseorang keluar dari mobil di depan hadapan Rehan. Seorang wanita yang keluar,


aku terkejut yang keluar dari dalam mobil itu adalah Safira.


Jadi Rehan sedang menunggu Safira di


depan gerbang sekolah, apa mereka ingin jalan bersama ke dalam? Apa aku harus


mengikutinya? Atau aku langsung saja. Tapi kurasa aku melihat mereka dari jauh


saja, aku takut salah paham terhadap Rehan. Kemudian mereka berdua pun masuk ke


dalam sekolah bersama-sama.


“Kenapa mereka tiba-tiba jadi sedekat


ini?” gumam ku.


Saat mereka masuk, aku juga ikut masuk ke


dalam untuk mengikutinya dari jauh di belakang. Mereka seperti sangat dekat


saat jalan berdua, aku tetap mengikuti mereka dari belakang. Mereka berjalan


menuju gedung Bahasa, Rehan juga mengikutinya sampai kesana, yang padahal


gedung IPA bukan di belakang.


Aku terus mengikuti mereka dan sampailah


di depan kelas dari gedung Bahasa. Sepertinya itu kelas nya Safira, apa Rehan


mengantarnya sampai ke depan kelasnya? Lalu setelah itu Rehan meninggalkan


kelasnya, mungkin dia ingin pergi ke kelas. Sepertinya aku harus pergi juga ke


kelas, dengan cepat aku menaiki tangga yang ada di samping ku, namun saat aku


ingin berbalik arah dan menaiki tangga itu, tiba-tiba aku tertabrak orang yang


sedang berlari menuju tangga itu juga.


Kepala kami saling berbenturan, kami


saling memegang kepala kami karena benturan itu. Saat aku ingin melihat orang yang


bertabrakan denganku, ternyata dia adalah Melani, aku terkejut akan bertemu dengannya


disini. Jika di lihat-lihat sepertinya dia juga baru sampai di sekolah, karena


tas nya masih ada di punggung nya. Dan tumben sekali dia lewat sini, padahal


kelas kita berada di depan bukan di belakang. Apa dia mengikutiku sejak tadi.


“Melani? Kamu ngapain? Bukannya kelas


kita ada di depan, kenapa kamu ke sini?” kataku penasaran, sambil memegang


kepalaku karena terbentur.


“Kamu sendiri juga ngapain disini? Aku


hanya habis dari sana menghampiri temanku,” kata Melani, sambil menunjukan


kelas lain.


Melani ternyata punya teman selain di


kelas, ternyata dia lebih berkembang dari pada aku. Aku saja tidak punya teman


di luar kelas, yang ku maksud dari kelas lain. Aku hanya bersosialisasi dengan


teman di kelas saja.


“Aku hanya kebetulan keliling saja,”


kataku yang mencari alasan.


Aku sengaja berbohong karena aku tidak


ingin ada yang tau kalau aku dari tadi sedang mengikuti Rehan. Oleh karena itu,


aku berbohong kepada Melani.


“Apa kamu mau ke kelas?” tanyaku.


“Iyaa, aku ingin ke kelas.”


“Kalau sudah ketemu begini, lebih baik


kita bareng saja ke kelasnya,” kataku.


Aku sengaja berkata begitu agar


memalingkan topik yang bisa membuat salah paham ini. Aku memalingkan


pembicaraan untuk kita pergi jalan bersama ke kelas, karena kita kebetulan


ketemu disini, jadi aku pikir aku jalan dengannya saja ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2