Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 23


__ADS_3

Flashback Angga



Pada saat aku ingin pulang dari menjenguk


Melani, kami pamit kepada orang rumah. Pada saat kami pamit, Melani tidak


sedang disana, karena dia di suruh oleh pelayan nya yaitu Jeni untuk


beristirahat. Jeni mengantarkan kami sampai gerbang depan, dan sebelum kami


pergi dia bilang kepada kami bertiga.


“Tolong jaga nona saat dia di sekolah,”


kata Jeni yang menundukkan kepalanya.


“Hmm? Memangnya kenapa?” tanyaku.


“Nona memiliki jantung yang lemah, dia


pernah mengikuti olahraga di sekolah. Namun olahraga di sekolahnya cukup berat,


dan karena jantung nona lemah, dia tidak kuat menahan lelah pada tubuhnya. Pada


akhirnya nona terjatuh pingsan karena kelelahan,” kata Jeni dengan serius.


“Jadi saya mau teman nona yang disini,


Putri, Rehan, dan juga Angga, untuk menjaga nona bila ada kejadian apa-apa,”


lanjut katanya, dan dengan tatapan serius mengarah ku.



Melani mempunyai Jantung yang lemah,


jika dia lari terus begini dia bisa-bisa pingsan. Aku harus mengejarnya dan


menangkapnya secepat mungkin, dan juga dia kenapa harus lari dari ku seperti


itu, apa aku seperti monster menyeramkan yang ada di film? Jahat sekali.


“Melani tunggu!” teriakku sambil


mengejarnya.


“Pergi sana!” balas Melani yang juga


masih berlari dengan wajah memerah.


Dia ini, sampai segitunya. Lari dia


benar-benar cepat, aku berlari mengejar Melani dan sedikit lagi aku


menangkapnya. Kedua tangan ku sudah mencapai kedua pundaknya Melani, langsung


saja aku menangkapnya, dan akhirnya akupun berhasil menangkapnya.


Tanpa sadar, aku sudah sampai depan


pintu kelasku. Aku menangkap Melani tepat di depan kelas, Melani terlihat


sangat terengah-engah setelah berlari dari tangga perbatasan di gedung Bahasa


sampai masuk ke sini.


“Aku tidak kuat lagi,” Melani yang


terengah-engah.


“kamu ini kenapa sih, malah lari dariku


seperti itu.”


Tiba-tiba Melani sempoyongan dan


terjatuh tepat di dadaku, Aku berfikir yang aneh-aneh soal ini. Jangan-jangan


dia pingsan karena kelelahan, tubuhnya lemas, dan kurasa dia benar-benar


pingsan. Aku langsung memanggil teman yang ada di kelas untuk membantuku


membawa Melani ke UKS.


Melani


***


Aku seperti


mengambang di kegelapan tanpa cahaya sama sekali, apa ini ruang hampa? Aku


hanya mengambang tidak jelas, dan sama sekali tidak ada tujuan di tempat


seperti ini. Aku melirik ke berbagai arah, namun hanya kegelapan yang aku


lihat, apa aku sudah mati?


Tiba-tiba


tubuhku bergerak sendiri, bahkan bergeraknya sangat cepat, seperti sedang


berpindah ruang. Kemudian aku berpindah ke suatu tempat dimana aku melihat


diriku sendiri yang masih kecil sedang bermain bersama Angga di bak pasir, di


taman waktu itu.


“kita akan selalu bersama selamanya, layaknya Raja dan Ratu dalam


kartun TV. Jika ada yang membuat kita berpisah jauh, maka hati kecil kita akan

__ADS_1


menuntun kita untuk bersama kembali selamanya.”


“Bersama selamanya?”


“Iyaa,” aku yang mengangguk kan kepala dan tersenyum manis.


Aku mengingat


pernah berkata seperti itu kepada Angga sewaktu masih kecil, aku menyukai Angga


sejak aku masih kecil. Sampai dimana kita bertemu lagi di SMA Garuda Abadi,


jika ada yang membuat kita berpisah, maka hati kecil kita akan menuntun kita


untuk bersama kembali. Aku ingat pernah mengatakan itu kepadanya.


Sebenarnya


aku ini sedang apa? Kenapa tiba-tiba aku melihat masa laluku. Dan tidak ada


orang disini yang bisa melihat ku. Tak lama dari itu ibunya Angga datang ke


taman, dia menghampiri Angga. Dan bilang kepadanya.


“Ayo Angga,


ibu sudah selesai. Yuk kita pulang,” kata ibunya Angga dengan suara pelan dan


lembut.


“Aku pulang


dulu yaa,” kata Angga kepadaku yang masih kecil.


“Mm…,” kata


diriku yang kecil sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.


Sepertinya


ibu Angga mengenaliku, dia sepertinya ingat bahwa aku adalah orang yang di


tolongnya saat aku tersesat, bisa di lihat dari raut wajah ibunya Angga. Dia


pun berterima kasih kepadaku karena telah menemani Angga bermain di taman.


“Ohh kamu,


kamu yang waktu itu ya. Terima kasih yaa sudah menemani Angga bermain,” kata


ibu Angga dengan tersenyum.


“Mm…,” aku


yang mengangguk.


“Kamu di sini


dengan siapa?” tanyanya.


temani oleh supirku disini, dia menemani ku bermain di taman. Kemudian, aku


melihat Raja ku yang sedang bermain disini, makanya aku menghampirinya dan


menemani nya bermain disini,” kata diriku yang kecil dengan ceria nya.


Aku melihat


wajah ibunya Angga sepertinya dia terkejut dengan kata “Rajaku”. Tapi ibunya


Angga sangat baik dan berkata kepada ku dengan wajah yang sangat baik dan suara


yang lembut.


“Kalau begitu


Raja mu akan pulang, kau akan menjadi Ratunya saat sudah besar nanti yaa.”


Aku terkejut


saat ibunya Angga berkata seperti itu, dan ingatan ini mengingatkan kembali


kepadaku. Tapi aku berfikir secara rasional dan logis, ibunya Angga berkata


seperti itu karena memang aku sendiri masih kecil, dan mencoba untuk


menghiburku. Akupun bila ada di posisinya akan melakukan hal yang sama.


“Baiklah,


kapan-kapan kita bermain lagi yaa,” kata diriku yang kecil, sambil memegang


tangan Angga.


“Mm…kita akan


bertemu lagi dan bermain lagi,” jawab Angga.


Kemudian


Angga pergi dan pulang bersama ibunya, tapi saat dia ada di tepi taman, dia


berhenti. Dia berbalik arah kepada diriku yang kecil dan berkata kepadaku.


“Dadah,


Ratuku.”


Aku terkejut


saat Angga berkata demikian, bahkan aku melupakan ucapan Angga yang itu. Sejak


saat itu aku tidak bertemu dengannya lagi dan bertemu dengan nya kembali di SMA

__ADS_1


Garuda Abadi. Saat aku bertemu dengan nya kembali dan melihat Angga. Hati ku


terasa sangat senang karena berjumpa dengan nya lagi, mungkin dia sudah lupa


dengan ku tapi aku tidak akan pernah melupakan nya.


Karena Angga


adalah Rajaku.


***


Sejak saat


Melani pingsan aku bertanggung jawab untuk menemani nya di UKS sampai dia


siuman. Padahal aku sudah berusaha untuk menahan nya dari lari, aku tau karena


jantung Melani lemah, jika dia sangat kelelahan, dia bisa pingsan.


Sekarang aku


sedang di ruang UKS, duduk di samping ranjang Melani. Melani sedang berbaring


di ranjang dan aku harus menemaninya. Cepat siuman dong Melani, apa kau tau,


aku belum menjual kue di kelas. Aku langsung ke sini sebelum menjual kue-kue


ku.


Tapi ruang


UKS ternyata enak juga yaa, ruangannya dingin karena disini hanya ada aku dan


Melani. Sedangkan di kelas, ruangan nya dingin tapi karena banyak orang jadi


dingin nya sedikit berkurang. Dan harus sampai kapan aku menunggunya disini


sampai siuman.


Aku meletakan


sikutku di kasur dan telapak tanganku pada pipiku, aku memejamkan mata karena


bosan menunggu Melani. Namun tiba-tiba Melani terbangun secara mendadak, dan


membuatku sangat kaget. Jantungku terasa ingin copot saat itu.


Melani yang


terbangun dengan mata yang seperti habis melihat sesuatu yang menakjubkan, dan


tiba-tiba Melani mengeluarkan air mata. Aku kebingungan dengan keadaan Melani


sehabis siuman, aku jadi semakin takut dia kenapa-kenapa, aku takut ini menjadi


hal yang serius.


“Em…Melani,


kamu tidak apa-apa kan?” tanya ku kebingungan.


Aku bertanya


seperti itu karena aku khawatir dia kenapa-kenapa, dari cara dia bangun seperti


tadi membuatku jantungan setengah mati. Dan setelah bangun dia malah seperti


orang yang habis melihat sesuatu yang menakjubkan, atau mungkin yang


mengerikan. Aku benar-benar tidak tau.


Setelah aku


bertanya tentang kondisinya, diapun menolehkan kepalanya kepadaku dengan wajah


yang masih seperti orang habis melihat sesuatu, dan dengan air mata mengalir


dari matanya. Kemudian tiba-tiba dia menangis dan memeluk ku.


“Angga!


Angga!” Melani yang menangis sambil memeluk ku begitu kencang dan erat.


“Em…Melani,


ada apa?” aku bertanya kepadanya karena bingung.


“Angga!


Angga!” Melani yang tetap menangis sambil memelukku dengan kencang seolah-olah seperti


tidak pernah bertemu sekian lamanya.


Aku bingung


yang sebenarnya terjadi, yang tiba-tiba Melani menangis. Aku tidak tau harus


berbuat apa, jadi aku membiarkannya menangis sambil memeluk ku. Bukan berarti


aku mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi aku berusaha untuk diam


terlebih dahulu dan membiarkan emosi dalam diri Melani reda.


“Peluk aku


Angga, kumohon,” katanya sambil memeluk dan menangis.


Hmm? Dia ini


kenapa? Aku benar-benar tidak tau. Akupun mengikuti permintaan Melani, aku


memeluknya, mungkin dengan ini dia bisa sedikit tenang. Dan sekali lagi aku

__ADS_1


tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku hanya mengikuti permintaan nya


saja.


__ADS_2