
Flashback Angga
Pada saat aku ingin pulang dari menjenguk
Melani, kami pamit kepada orang rumah. Pada saat kami pamit, Melani tidak
sedang disana, karena dia di suruh oleh pelayan nya yaitu Jeni untuk
beristirahat. Jeni mengantarkan kami sampai gerbang depan, dan sebelum kami
pergi dia bilang kepada kami bertiga.
“Tolong jaga nona saat dia di sekolah,”
kata Jeni yang menundukkan kepalanya.
“Hmm? Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Nona memiliki jantung yang lemah, dia
pernah mengikuti olahraga di sekolah. Namun olahraga di sekolahnya cukup berat,
dan karena jantung nona lemah, dia tidak kuat menahan lelah pada tubuhnya. Pada
akhirnya nona terjatuh pingsan karena kelelahan,” kata Jeni dengan serius.
“Jadi saya mau teman nona yang disini,
Putri, Rehan, dan juga Angga, untuk menjaga nona bila ada kejadian apa-apa,”
lanjut katanya, dan dengan tatapan serius mengarah ku.
Melani mempunyai Jantung yang lemah,
jika dia lari terus begini dia bisa-bisa pingsan. Aku harus mengejarnya dan
menangkapnya secepat mungkin, dan juga dia kenapa harus lari dari ku seperti
itu, apa aku seperti monster menyeramkan yang ada di film? Jahat sekali.
“Melani tunggu!” teriakku sambil
mengejarnya.
“Pergi sana!” balas Melani yang juga
masih berlari dengan wajah memerah.
Dia ini, sampai segitunya. Lari dia
benar-benar cepat, aku berlari mengejar Melani dan sedikit lagi aku
menangkapnya. Kedua tangan ku sudah mencapai kedua pundaknya Melani, langsung
saja aku menangkapnya, dan akhirnya akupun berhasil menangkapnya.
Tanpa sadar, aku sudah sampai depan
pintu kelasku. Aku menangkap Melani tepat di depan kelas, Melani terlihat
sangat terengah-engah setelah berlari dari tangga perbatasan di gedung Bahasa
sampai masuk ke sini.
“Aku tidak kuat lagi,” Melani yang
terengah-engah.
“kamu ini kenapa sih, malah lari dariku
seperti itu.”
Tiba-tiba Melani sempoyongan dan
terjatuh tepat di dadaku, Aku berfikir yang aneh-aneh soal ini. Jangan-jangan
dia pingsan karena kelelahan, tubuhnya lemas, dan kurasa dia benar-benar
pingsan. Aku langsung memanggil teman yang ada di kelas untuk membantuku
membawa Melani ke UKS.
Melani
***
Aku seperti
mengambang di kegelapan tanpa cahaya sama sekali, apa ini ruang hampa? Aku
hanya mengambang tidak jelas, dan sama sekali tidak ada tujuan di tempat
seperti ini. Aku melirik ke berbagai arah, namun hanya kegelapan yang aku
lihat, apa aku sudah mati?
Tiba-tiba
tubuhku bergerak sendiri, bahkan bergeraknya sangat cepat, seperti sedang
berpindah ruang. Kemudian aku berpindah ke suatu tempat dimana aku melihat
diriku sendiri yang masih kecil sedang bermain bersama Angga di bak pasir, di
taman waktu itu.
“kita akan selalu bersama selamanya, layaknya Raja dan Ratu dalam
kartun TV. Jika ada yang membuat kita berpisah jauh, maka hati kecil kita akan
__ADS_1
menuntun kita untuk bersama kembali selamanya.”
“Bersama selamanya?”
“Iyaa,” aku yang mengangguk kan kepala dan tersenyum manis.
Aku mengingat
pernah berkata seperti itu kepada Angga sewaktu masih kecil, aku menyukai Angga
sejak aku masih kecil. Sampai dimana kita bertemu lagi di SMA Garuda Abadi,
jika ada yang membuat kita berpisah, maka hati kecil kita akan menuntun kita
untuk bersama kembali. Aku ingat pernah mengatakan itu kepadanya.
Sebenarnya
aku ini sedang apa? Kenapa tiba-tiba aku melihat masa laluku. Dan tidak ada
orang disini yang bisa melihat ku. Tak lama dari itu ibunya Angga datang ke
taman, dia menghampiri Angga. Dan bilang kepadanya.
“Ayo Angga,
ibu sudah selesai. Yuk kita pulang,” kata ibunya Angga dengan suara pelan dan
lembut.
“Aku pulang
dulu yaa,” kata Angga kepadaku yang masih kecil.
“Mm…,” kata
diriku yang kecil sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.
Sepertinya
ibu Angga mengenaliku, dia sepertinya ingat bahwa aku adalah orang yang di
tolongnya saat aku tersesat, bisa di lihat dari raut wajah ibunya Angga. Dia
pun berterima kasih kepadaku karena telah menemani Angga bermain di taman.
“Ohh kamu,
kamu yang waktu itu ya. Terima kasih yaa sudah menemani Angga bermain,” kata
ibu Angga dengan tersenyum.
“Mm…,” aku
yang mengangguk.
“Kamu di sini
dengan siapa?” tanyanya.
temani oleh supirku disini, dia menemani ku bermain di taman. Kemudian, aku
melihat Raja ku yang sedang bermain disini, makanya aku menghampirinya dan
menemani nya bermain disini,” kata diriku yang kecil dengan ceria nya.
Aku melihat
wajah ibunya Angga sepertinya dia terkejut dengan kata “Rajaku”. Tapi ibunya
Angga sangat baik dan berkata kepada ku dengan wajah yang sangat baik dan suara
yang lembut.
“Kalau begitu
Raja mu akan pulang, kau akan menjadi Ratunya saat sudah besar nanti yaa.”
Aku terkejut
saat ibunya Angga berkata seperti itu, dan ingatan ini mengingatkan kembali
kepadaku. Tapi aku berfikir secara rasional dan logis, ibunya Angga berkata
seperti itu karena memang aku sendiri masih kecil, dan mencoba untuk
menghiburku. Akupun bila ada di posisinya akan melakukan hal yang sama.
“Baiklah,
kapan-kapan kita bermain lagi yaa,” kata diriku yang kecil, sambil memegang
tangan Angga.
“Mm…kita akan
bertemu lagi dan bermain lagi,” jawab Angga.
Kemudian
Angga pergi dan pulang bersama ibunya, tapi saat dia ada di tepi taman, dia
berhenti. Dia berbalik arah kepada diriku yang kecil dan berkata kepadaku.
“Dadah,
Ratuku.”
Aku terkejut
saat Angga berkata demikian, bahkan aku melupakan ucapan Angga yang itu. Sejak
saat itu aku tidak bertemu dengannya lagi dan bertemu dengan nya kembali di SMA
__ADS_1
Garuda Abadi. Saat aku bertemu dengan nya kembali dan melihat Angga. Hati ku
terasa sangat senang karena berjumpa dengan nya lagi, mungkin dia sudah lupa
dengan ku tapi aku tidak akan pernah melupakan nya.
Karena Angga
adalah Rajaku.
***
Sejak saat
Melani pingsan aku bertanggung jawab untuk menemani nya di UKS sampai dia
siuman. Padahal aku sudah berusaha untuk menahan nya dari lari, aku tau karena
jantung Melani lemah, jika dia sangat kelelahan, dia bisa pingsan.
Sekarang aku
sedang di ruang UKS, duduk di samping ranjang Melani. Melani sedang berbaring
di ranjang dan aku harus menemaninya. Cepat siuman dong Melani, apa kau tau,
aku belum menjual kue di kelas. Aku langsung ke sini sebelum menjual kue-kue
ku.
Tapi ruang
UKS ternyata enak juga yaa, ruangannya dingin karena disini hanya ada aku dan
Melani. Sedangkan di kelas, ruangan nya dingin tapi karena banyak orang jadi
dingin nya sedikit berkurang. Dan harus sampai kapan aku menunggunya disini
sampai siuman.
Aku meletakan
sikutku di kasur dan telapak tanganku pada pipiku, aku memejamkan mata karena
bosan menunggu Melani. Namun tiba-tiba Melani terbangun secara mendadak, dan
membuatku sangat kaget. Jantungku terasa ingin copot saat itu.
Melani yang
terbangun dengan mata yang seperti habis melihat sesuatu yang menakjubkan, dan
tiba-tiba Melani mengeluarkan air mata. Aku kebingungan dengan keadaan Melani
sehabis siuman, aku jadi semakin takut dia kenapa-kenapa, aku takut ini menjadi
hal yang serius.
“Em…Melani,
kamu tidak apa-apa kan?” tanya ku kebingungan.
Aku bertanya
seperti itu karena aku khawatir dia kenapa-kenapa, dari cara dia bangun seperti
tadi membuatku jantungan setengah mati. Dan setelah bangun dia malah seperti
orang yang habis melihat sesuatu yang menakjubkan, atau mungkin yang
mengerikan. Aku benar-benar tidak tau.
Setelah aku
bertanya tentang kondisinya, diapun menolehkan kepalanya kepadaku dengan wajah
yang masih seperti orang habis melihat sesuatu, dan dengan air mata mengalir
dari matanya. Kemudian tiba-tiba dia menangis dan memeluk ku.
“Angga!
Angga!” Melani yang menangis sambil memeluk ku begitu kencang dan erat.
“Em…Melani,
ada apa?” aku bertanya kepadanya karena bingung.
“Angga!
Angga!” Melani yang tetap menangis sambil memelukku dengan kencang seolah-olah seperti
tidak pernah bertemu sekian lamanya.
Aku bingung
yang sebenarnya terjadi, yang tiba-tiba Melani menangis. Aku tidak tau harus
berbuat apa, jadi aku membiarkannya menangis sambil memeluk ku. Bukan berarti
aku mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi aku berusaha untuk diam
terlebih dahulu dan membiarkan emosi dalam diri Melani reda.
“Peluk aku
Angga, kumohon,” katanya sambil memeluk dan menangis.
Hmm? Dia ini
kenapa? Aku benar-benar tidak tau. Akupun mengikuti permintaan Melani, aku
memeluknya, mungkin dengan ini dia bisa sedikit tenang. Dan sekali lagi aku
__ADS_1
tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku hanya mengikuti permintaan nya
saja.