Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 33


__ADS_3

Hari Pertandingan


Aku dan juga team berangkat bersama


dari markas latihan menuju tempat pertandingan. Kami menaiki mobil


bersama-sama, mobil yang kami pakai adalah mobil travel. Mobil yang cocok untuk


menampung beberapa orang.


“Angga, apa kau ketakutan?” sahut


Sabin. “Aku harap kau tidak kabur nanti saat di pertandingan.”


“Siapa juga yang akan kabur, apa kau


bisa diam selama perjalanan? Aku ingin tidur sebentar sebelum sampai di sana,”


balasku, dengan nada yang tidak bersemangat.


Sabin berisik sekali, apa dia tidak


bisa diam selama perjalanan. Aku ingin tidur sejenak sebelum sampai di sana,


aku tidur agar tubuhku lebih fit lagi dan lebih berenergi. Tapi kendalanya


hanya satu, yaitu Sabin. Dia dari tadi berisik sekali, dan selalu mengajakku


untuk ngobrol.


“Hmm,” gumam Sabin, “kau ini, tidak


seru sama sekali, harusnya kau bersemangat saat ini. Karena kita akan


bertanding kembali untuk memperebutkan medali terbanyak.”


“Iyaa-iyaa, dah aku ingin tidur dulu.”


“Hmm dia ini.”


Perjalanan menuju tempat pertandingan


masih 20 menit lagi, jadi ini waktu yang pas untuk tidur sebentar. Anggap saja


ini adalah bersantai sebelum mulai tanding. Sabin begitu bersemangat dalam


kejuaraan kali ini, dia benar-benar ingin mengalahkanku.


Setelah di perjalanan selama kurang


lebih 20 menit, kami sampai di tempat kejuaraan. Tempat ini adalah GOR yang


cukup besar, aku sudah beberapa kali mengikuti kejuaraan di sini. Tempat yang


bagus untuk bertanding.


Aku dan temanku yang lain turun dari


mobil, melihat sekeliling yang begitu luas. Tempat parkir GOR ini lumayan luas,


mungkin bisa untuk puluhan mobil. Sabin terlihat begitu bersemangat saat turun


dari mobil.


“Aku sudah tidak sabar lagi,” sahut


Sabin.


“Kau buru-buru sekali Sabin, tenang


sedikit lah,” kata salah satu temanku.


“Iyaa benar,” sahutku, “kita termasuk


beruntung, kita semua dapat bertanding di hari ini. Jadi bisa selesai hari ini


juga.”


“Hey Angga, apa kau masih mengantuk?”


tanya Sabin. “Lebih baik kau segera mencuci mukamu, jangan sampai kau menabrak


saat berjalan.”


“Apa kau sedang ngeledekku?” balasku


dengan wajah mengantuk.


“Baiklah semua berkumpul di sini,


cepat!” suara pelatih Markus yang memanggil team, untuk berkumpul semua


terlebih dahulu.


Pelatih Markus memanggil kami semua


untuk berkumpul, sepertinya pelatih Markus ingin memulai briefing sebelum


pertandingan di mulai. Kami semua berkumpul di hadapan pelatih Markus, dan


berbaris.


“Apa sudah semua?” kata pelatih Markus,


sambil melihat semua anggota.


“Baiklah, aku mulai,” pelatih Markus


yang memulai briefing, “aku senang semua anggota bisa mengikuti kejuaraan kali


ini. kita sudah latihan 2 bulan terakhir menjelang kejuaraan, di bulan pertama


kalian mengikuti pelatihan rutin, dan bulan kedua latihan normal seperti


biasanya, namun dengan tingkat latihan lanjut. Dan sekarang adalah hari di mana


hasil latihan kalian, apakah akan membuahkan hasil bagus atau bisa jadi


sebaliknya. Tetapi aku mau kalian menanamkan di pikiran kalian adalah untuk


tidak ada kata kalah. Aku tau kalah bisa menjadi sebuah pembelajaran yang


sangat penting. Tapi, apa kalian mau setiap kejuaraan hanya mendapat kekalahan


terus menerus. Dan aku juga ingin kalian melakukan yang terbaik hari ini,


habiskan semua tenaga kalian hari ini. Semisal kalian sedang kesal terhadap


sesuatu, kalian bisa melampiaskannya ke musuh kalian nanti, hanya ingat agar


kalian tetap mengendalikan emosi kalian. Dan yang paling penting, yang namanya


sang juara hanya ada satu orang bukan dua bukan tiga. Tapi hanya satu!”


Pelatih Markus mencoba untuk


menyemangati kami yang sebentar lagi akan memulai pertandingan. Dan menanamkan


ke dalam pikiran kami untuk berfikir menang, walaupun hasil akhir kita tidak


ada yang tau, tapi pelatih Markus meminta kami agar membuang pikiran yang dapat


mengganggu konsentrasi saat bertanding.


Itulah kenapa pelatih Markus adalah


pelatih yang hebat bagi kami semua. Pelatih yang tidak hanya melatih kami dari


segi fisik, tetapi juga dari cara pola fikir juga. Dengan selalu memberi


mindset yang positif kepada kami, kami jadi bisa berkembang dengan cepat.


“Oke sekarang kalian cepat taruh


perlengkapan kalian di dalam, dan langsung balik lagi ke sini. Kita akan


melakukan pemanasan di luar,” ujar pelatih Markus.


Kami semua mengikuti arahan pelatih,


kami semua pergi ke dalam GOR untuk menaruh perlengkapan yang kami bawa untuk


bertanding. Setelah menaruh perlengkapan, kami langsung kembali ke tempat briefing


untuk melakukan pemanasan.


Saat aku dan teman yang lain memasuki


GOR, terlihat banyak sekali persiapan di dalam. Dan matras untuk arena sudah di


pasang rapi. Mereka para panitia sedang mempersiapkan hal-hal lain, seperti


peralatan sensor, dll.


“Sepertinya ada yang sedang gugup,


Angga?” sahut Sabin yang berada di sampingku, sembari melihat arena yang


disiapkan panitia.


“Apa kau bercanda?” balasku, “justru


aku sedang semangat menantikan pertandingan di mulai. Aku juga tidak akan


semudah itu memberikan kemenangan kepadamu,” kataku, sambil pergi meninggalkan


Sabin.


“Heh, kita liat nanti.”


Melani


***


“Jeni apa


kamu sudah siap?” tanyaku, “kita harus ke sana sebelum Angga mulai bertanding.”


“Persiapan


saya sebentar lagi selesai,” jawab Jeni.

__ADS_1


Di saat aku sedang


berbicara dengan Jeni, tiba-tiba ada yang datang ke rumahku. Aku tidak tau


siapa yang datang di waktu seperti ini, aku takut terlambat datang ke sana. Aku


ingin melihat pertandingan Angga.


“Apa yang


sedang kamu lakukan, Melani? Bisa-bisa nanti kamu terlambat melihatnya,” sahut


seseorang yang datang ke rumahku.


Aku mendengar


suara itu, suara yang terdengar tidak asing bagiku. Suara yang sudah dekat


denganku. Aku berbalik badan untuk melihat siapa yang datang ke sini, dan dia


tau kalau aku sedang ingin pergi ke tempat pertandingan Angga. Namun, saat aku


melihatnya aku terkejut yang datang itu adalah.


“Ayah?!” aku


yang terkejut.


“Kenapa? Kamu


terkejut ayah yang tiba-tiba pulang ke rumah, kan ini rumah ayah,” kata ayahku


dengan santainya.


“Bukan itu


maksudku, aku terkejut, tiba-tiba ayah sudah pulang.”


“Jeni memberi


tau ayah, kamu ingin pergi ke pertandingan cowok itu kan?”


“Namanya


Angga, bukan ‘orang itu’ lalu ayah juga ingin ikut ke sana?” tanyaku penasaran.


“Hmm?”


gumamnya, “Ayah akan menemanimu ke sana, dan juga ayah ingin tau cowok yang


sudah membuat putri ayah jatuh cinta.”


Aku yang


mendengar itu langsung dari ayah membuatku sangat malu. Aku tidak tau kalau


Jeni yang sudah memberi tau ayah kalau aku akan pergi ke pertandingan Angga.


Namun aku merasa senang karena ayah sekarang sudah pulang.


“Ayah jangan


berkata seperti itu, itu membuatku malu,” kataku dengan wajah yang memerah.


“Hahaha,”


tawa sombong ayah, “rupanya putri ayah sudah mulai tumbuh dewasa, perasaan baru


kemarin kamu masih sering di gendong ayah.”


“Ayah saja


sering bekerja, aku jadi jarang bertemu dengan ayah,” kataku dengan wajah


datar.


“Dari pada


memikirkan itu, lebih baik kita cepat untuk berangkat. Khusus hari ini ayah


akan menemanimu,” kata ayahku dengan wajah tersenyum.


“Iyaa, terima


kasih yaa, ayah.”


GOR


Pertandingan


“Apa ini


tempat nya?” tanya ayahku.


“Iyaa,”


jawabku, “Aku di beri tau tempatnya oleh Angga kalau tempat pertandingan nya di


sini,” sambil melihat ke luar jendela mobil.


“Tempatnya


ke dalam.” Kata ayah penuh semangat.


Tempatnya


ternyata lebih besar dari dugaanku, semisal di lihat dari foto sekilas tidak


terlalu besar. Namun, saat mengunjungi tempatnya langsung di luar bayanganku.


Ini jauh lebih besar. Pasti ramai yang datang, jika di lihat dari banyaknya


kendaraan yang parkir di parkiran GOR.


Kemudian kami


parkirkan mobil kami, dan segera masuk ke dalam. Saat aku sudah dekat dengan


pintu masuk ke dalam GOR, aku melihat ada Rehan dan Safira yang juga sudah


sampai. Ternyata Rehan benar datang ke sini, padahal dia sudah curang


sebelumnya.


Aku sengaja tidak


menyapa mereka, aku membiarkan mereka masuk ke dalam, dan juga mereka tidak


melihat kami. Jadi tidak perlu di khawatirkan, aku ke sini untuk mendukung


Angga. Aku tidak terlalu mempedulikan mereka berdua.


“Melani!”


suara dari kiriku.


Aku mendengar


suara yang menyebut namaku dari arah sebelah kiri. Aku menolehkan kepalaku ke


arah kiri untuk melihat siapa yang memanggilku.


“Ohh,


ternyata kamu, Putri.”


“Kamu baru


sampai Melani? Dan juga selamat pagi ayahnya Melani,” sapa Putri kepada ayahku.


“Iyaa selamat


pagi,” balas ayahku, “jadi kamu temannya Melani juga yaa, kamu juga ingin


melihat pertandingan Angga yaa.”


“Iyaa, aku


juga datang ingin melihat pertandingan Angga.”


“Apa kamu


baru sampai, Putri?” tanyaku karena melihat Putri yang datang dari gerbang


depan.


“Iyaa aku


baru saja sampai, kalau begitu aku masuk duluan yaa.”


“Kenapa tidak


bersama kami saja,” ujarku, “ikut saja bersama kami, kami senang bila bertambah


orang, ayo.”


“Baiklah


ayo.”


Kamipun masuk


ke dalam GOR, saat aku memasuki GOR ternyata dalamnya begitu sangat luas. Aku belum


pernah sama sekali masuk ke GOR, dan ini adalah bagiku untuk pertama kalinya.


Aku melihat semua persiapan sudah di siapkan, sepertinya sebentar lagi sudah


ingin di mulai.


Kami langsung


mencari tempat duduk untuk kami, tempat duduk yang bagus untuk melihat dari


atas. Aku melihat ada beberapa orang sedang latihan dan menggunakan sebagian


arena pertandingan untuk latihan. Dari luar aku melihat ada gerombolan orang


yang datang dan masuk ke dalam arena pertandingan. Ternyata itu adalah


gerombolan team nya Angga.

__ADS_1


Sepertinya timnya


Angga juga ingin menggunakan sebagian arena pertandingan untuk latihan, dan


Angga sepertinya tidak melihat aku dan juga Putri di sini.


“Apa ada


Angga di antara gerombolan orang di tengah lapangan itu?” tanya ayahku yang


melihat ke tengah lapangan dari kursi penonton.


“Ada,


gerombolannya Angga yang baru saja memasuki lapangan,” jawab Putri.


“Wah…lalu


orangnya yang mana?” tanya ayahku lagi.


Putri dengan


tenangnya menunjuk ke arah lapangan. “Itu di sana, yang mengenakan celana


pendek hitam. Yang rambutnya pendek.”


“Bukannya


kebanyakan dari mereka rambutnya pendek yaa,” kata ayahku, yang sedikit turun


harapan.


“Emm…” Putri


yang bingung bagaimana memberi taunya.


Aku pun


memperhatikan Angga dari kursi penonton, aku melihatnya yang pergi meninggalkan


gerombolan. Dan secara reflek aku memberi tau ayah dengan cara menunjukan orang


yang sedang meninggalkan gerombolannya.


“Angga yang


itu, yang sedang meninggalkan gerombolannya,” kataku dengan santainya.


“Ohh yang itu


toh, lumayan juga yaa. Pantas Melani cekatan sekali menunjuknya,” kata ayahku


yang mencoba meledekku.


Wajahku


seketika memerah, ini semua gara-gara ayah yang bilang seperti itu. Padahal


balas saja dengan kata “Ohh” itu sudah cukup, kenapa harus menambah kalimat


lagi setelahnya.


“Emm?


Kenapa?” Putri yang bingung maksud dari ayahnya Melani.


“Ti–tidak


a–apa-apa kok,” balasku sedikit gugup.


Ayah ini


ada-ada ajah. Padahal ada Putri di sini, nanti kalau dia berfikir yang


aneh-aneh bagaimana. Karena Putri orangnya cepat sekali menangkap maksud dari seseorang,


tapi dia benar-benar tidak tau. Atau mungkin dia tau, namun pura-pura tidak


tau. Tidak!!!


Aku merasa


lapar, aku ingin beli jajanan di luar GOR. Karena aku melihat banyak sekali


jajanan yang di jual di luar GOR, aku juga ingin sekalian mencicipi jajanannya.


Kurasa pertandingan masih belum di mulai, jadi pasti masih ada waktu untukku


jajan.


“Ayah, aku


mau keluar dulu yaa, aku mau jajan. Pertandingannya juga belum di mulai,”


kataku yang bilang kepada ayah.


“Iya,” jawab


ayah, “Tapi saat ke sini ayah titip jajanan juga.”


“Iyaa, nanti


aku belikan.”


Akupun


mengajak Putri untuk ikut denganku membeli jajanan di luar. Saat aku keluar


dari pintu masuk, ternyata masih ada beberapa team yang sedang latihan di halaman


GOR. Banyak juga peserta yang mengikuti kejuaraan di sini.


“Mereka semua


masih latihan sebelum kejuaraan di mulai, mungkin kalau aku duduk diam dan


bersantai,” ucap Putri sambil melihat team yang sedang latihan.


“Bukannya


memang hobi kamu rebahan yaa?” ujarku dengan sengaja.


“Kata-katamu


barusan lumayan menyakitkan tau,” jawab Putri sambil mengelus-elus dada.


“Iya-iya


maaf,” kataku dengan tersenyum, “kalau begitu ayuk kita keluar, aku sudah tidak


sabar untuk membeli jajanan.”


“Baiklah ayuk.”


Kami jalan


keluar GOR, karena pedagang yang menjual jajanan itu berada di luar. Saat kami


sudah di luar, aku melihat ke sekeliling untuk melihat apa saja jajanan yang di


jual di sini. Aku melihat ada yang menjual sosis ukuran besar, sepertinya enak,


aku ingin ke sana.


“Putri,


bagaimana dengan sosis itu? Apa kamu mau ke sana?” tanyaku.


“Emm…tapi aku


melihat di sana ada yang menjual kebab, kelihatannya enak. aku ingin ke kedai


kebab saja,” jawab Putri yang melihat kedai kebab.


“Bagaimana


jika kamu pergi ke kedai kebab, sedangkan aku pergi ke kedai sosis?” saranku,


“nanti kita bertemu di sini lagi, bagaimana?”


“Hmm…oke deh,


kalau gitu aku pergi ke sana.”


“Iyaa.”


Kemudian


Putri pergi ke sana, ke kedai kebab. Sedangkan aku pergi ke kedai yang menjual


sosis. Jadi jika di antara kami sudah selesai membeli makanan, maka kami akan


kembali ke tempat kami berdiri di sini.


Aku segera


pergi ke kedai sosis. Aku memilih sosis karena pikirku ini sedikit


mengenyangkan, sosis yang di jual juga besar-besar. Aku memesan 3 kepada penjual


sosis itu. “Pak, aku pesan 3 yaa,” kataku. Namun setelah aku bilang, dari


samping ada orang yang juga memesan sosis.


“Pak aku 2


yaa.”


Aku menoleh


ke arah orang yang memesan tadi, aku melihat ke arah sampingku. Dan orang itu


juga melihat ke arahku, jadi kami sama-sama saling menoleh. Aku sedikit


terkejut dengan orang yang datang itu.


“Melani?!” –


“Angga?!”


***

__ADS_1


__ADS_2