
Hari Pertandingan
Aku dan juga team berangkat bersama
dari markas latihan menuju tempat pertandingan. Kami menaiki mobil
bersama-sama, mobil yang kami pakai adalah mobil travel. Mobil yang cocok untuk
menampung beberapa orang.
“Angga, apa kau ketakutan?” sahut
Sabin. “Aku harap kau tidak kabur nanti saat di pertandingan.”
“Siapa juga yang akan kabur, apa kau
bisa diam selama perjalanan? Aku ingin tidur sebentar sebelum sampai di sana,”
balasku, dengan nada yang tidak bersemangat.
Sabin berisik sekali, apa dia tidak
bisa diam selama perjalanan. Aku ingin tidur sejenak sebelum sampai di sana,
aku tidur agar tubuhku lebih fit lagi dan lebih berenergi. Tapi kendalanya
hanya satu, yaitu Sabin. Dia dari tadi berisik sekali, dan selalu mengajakku
untuk ngobrol.
“Hmm,” gumam Sabin, “kau ini, tidak
seru sama sekali, harusnya kau bersemangat saat ini. Karena kita akan
bertanding kembali untuk memperebutkan medali terbanyak.”
“Iyaa-iyaa, dah aku ingin tidur dulu.”
“Hmm dia ini.”
Perjalanan menuju tempat pertandingan
masih 20 menit lagi, jadi ini waktu yang pas untuk tidur sebentar. Anggap saja
ini adalah bersantai sebelum mulai tanding. Sabin begitu bersemangat dalam
kejuaraan kali ini, dia benar-benar ingin mengalahkanku.
Setelah di perjalanan selama kurang
lebih 20 menit, kami sampai di tempat kejuaraan. Tempat ini adalah GOR yang
cukup besar, aku sudah beberapa kali mengikuti kejuaraan di sini. Tempat yang
bagus untuk bertanding.
Aku dan temanku yang lain turun dari
mobil, melihat sekeliling yang begitu luas. Tempat parkir GOR ini lumayan luas,
mungkin bisa untuk puluhan mobil. Sabin terlihat begitu bersemangat saat turun
dari mobil.
“Aku sudah tidak sabar lagi,” sahut
Sabin.
“Kau buru-buru sekali Sabin, tenang
sedikit lah,” kata salah satu temanku.
“Iyaa benar,” sahutku, “kita termasuk
beruntung, kita semua dapat bertanding di hari ini. Jadi bisa selesai hari ini
juga.”
“Hey Angga, apa kau masih mengantuk?”
tanya Sabin. “Lebih baik kau segera mencuci mukamu, jangan sampai kau menabrak
saat berjalan.”
“Apa kau sedang ngeledekku?” balasku
dengan wajah mengantuk.
“Baiklah semua berkumpul di sini,
cepat!” suara pelatih Markus yang memanggil team, untuk berkumpul semua
terlebih dahulu.
Pelatih Markus memanggil kami semua
untuk berkumpul, sepertinya pelatih Markus ingin memulai briefing sebelum
pertandingan di mulai. Kami semua berkumpul di hadapan pelatih Markus, dan
berbaris.
“Apa sudah semua?” kata pelatih Markus,
sambil melihat semua anggota.
“Baiklah, aku mulai,” pelatih Markus
yang memulai briefing, “aku senang semua anggota bisa mengikuti kejuaraan kali
ini. kita sudah latihan 2 bulan terakhir menjelang kejuaraan, di bulan pertama
kalian mengikuti pelatihan rutin, dan bulan kedua latihan normal seperti
biasanya, namun dengan tingkat latihan lanjut. Dan sekarang adalah hari di mana
hasil latihan kalian, apakah akan membuahkan hasil bagus atau bisa jadi
sebaliknya. Tetapi aku mau kalian menanamkan di pikiran kalian adalah untuk
tidak ada kata kalah. Aku tau kalah bisa menjadi sebuah pembelajaran yang
sangat penting. Tapi, apa kalian mau setiap kejuaraan hanya mendapat kekalahan
terus menerus. Dan aku juga ingin kalian melakukan yang terbaik hari ini,
habiskan semua tenaga kalian hari ini. Semisal kalian sedang kesal terhadap
sesuatu, kalian bisa melampiaskannya ke musuh kalian nanti, hanya ingat agar
kalian tetap mengendalikan emosi kalian. Dan yang paling penting, yang namanya
sang juara hanya ada satu orang bukan dua bukan tiga. Tapi hanya satu!”
Pelatih Markus mencoba untuk
menyemangati kami yang sebentar lagi akan memulai pertandingan. Dan menanamkan
ke dalam pikiran kami untuk berfikir menang, walaupun hasil akhir kita tidak
ada yang tau, tapi pelatih Markus meminta kami agar membuang pikiran yang dapat
mengganggu konsentrasi saat bertanding.
Itulah kenapa pelatih Markus adalah
pelatih yang hebat bagi kami semua. Pelatih yang tidak hanya melatih kami dari
segi fisik, tetapi juga dari cara pola fikir juga. Dengan selalu memberi
mindset yang positif kepada kami, kami jadi bisa berkembang dengan cepat.
“Oke sekarang kalian cepat taruh
perlengkapan kalian di dalam, dan langsung balik lagi ke sini. Kita akan
melakukan pemanasan di luar,” ujar pelatih Markus.
Kami semua mengikuti arahan pelatih,
kami semua pergi ke dalam GOR untuk menaruh perlengkapan yang kami bawa untuk
bertanding. Setelah menaruh perlengkapan, kami langsung kembali ke tempat briefing
untuk melakukan pemanasan.
Saat aku dan teman yang lain memasuki
GOR, terlihat banyak sekali persiapan di dalam. Dan matras untuk arena sudah di
pasang rapi. Mereka para panitia sedang mempersiapkan hal-hal lain, seperti
peralatan sensor, dll.
“Sepertinya ada yang sedang gugup,
Angga?” sahut Sabin yang berada di sampingku, sembari melihat arena yang
disiapkan panitia.
“Apa kau bercanda?” balasku, “justru
aku sedang semangat menantikan pertandingan di mulai. Aku juga tidak akan
semudah itu memberikan kemenangan kepadamu,” kataku, sambil pergi meninggalkan
Sabin.
“Heh, kita liat nanti.”
Melani
***
“Jeni apa
kamu sudah siap?” tanyaku, “kita harus ke sana sebelum Angga mulai bertanding.”
“Persiapan
saya sebentar lagi selesai,” jawab Jeni.
__ADS_1
Di saat aku sedang
berbicara dengan Jeni, tiba-tiba ada yang datang ke rumahku. Aku tidak tau
siapa yang datang di waktu seperti ini, aku takut terlambat datang ke sana. Aku
ingin melihat pertandingan Angga.
“Apa yang
sedang kamu lakukan, Melani? Bisa-bisa nanti kamu terlambat melihatnya,” sahut
seseorang yang datang ke rumahku.
Aku mendengar
suara itu, suara yang terdengar tidak asing bagiku. Suara yang sudah dekat
denganku. Aku berbalik badan untuk melihat siapa yang datang ke sini, dan dia
tau kalau aku sedang ingin pergi ke tempat pertandingan Angga. Namun, saat aku
melihatnya aku terkejut yang datang itu adalah.
“Ayah?!” aku
yang terkejut.
“Kenapa? Kamu
terkejut ayah yang tiba-tiba pulang ke rumah, kan ini rumah ayah,” kata ayahku
dengan santainya.
“Bukan itu
maksudku, aku terkejut, tiba-tiba ayah sudah pulang.”
“Jeni memberi
tau ayah, kamu ingin pergi ke pertandingan cowok itu kan?”
“Namanya
Angga, bukan ‘orang itu’ lalu ayah juga ingin ikut ke sana?” tanyaku penasaran.
“Hmm?”
gumamnya, “Ayah akan menemanimu ke sana, dan juga ayah ingin tau cowok yang
sudah membuat putri ayah jatuh cinta.”
Aku yang
mendengar itu langsung dari ayah membuatku sangat malu. Aku tidak tau kalau
Jeni yang sudah memberi tau ayah kalau aku akan pergi ke pertandingan Angga.
Namun aku merasa senang karena ayah sekarang sudah pulang.
“Ayah jangan
berkata seperti itu, itu membuatku malu,” kataku dengan wajah yang memerah.
“Hahaha,”
tawa sombong ayah, “rupanya putri ayah sudah mulai tumbuh dewasa, perasaan baru
kemarin kamu masih sering di gendong ayah.”
“Ayah saja
sering bekerja, aku jadi jarang bertemu dengan ayah,” kataku dengan wajah
datar.
“Dari pada
memikirkan itu, lebih baik kita cepat untuk berangkat. Khusus hari ini ayah
akan menemanimu,” kata ayahku dengan wajah tersenyum.
“Iyaa, terima
kasih yaa, ayah.”
GOR
Pertandingan
“Apa ini
tempat nya?” tanya ayahku.
“Iyaa,”
jawabku, “Aku di beri tau tempatnya oleh Angga kalau tempat pertandingan nya di
sini,” sambil melihat ke luar jendela mobil.
“Tempatnya
ke dalam.” Kata ayah penuh semangat.
Tempatnya
ternyata lebih besar dari dugaanku, semisal di lihat dari foto sekilas tidak
terlalu besar. Namun, saat mengunjungi tempatnya langsung di luar bayanganku.
Ini jauh lebih besar. Pasti ramai yang datang, jika di lihat dari banyaknya
kendaraan yang parkir di parkiran GOR.
Kemudian kami
parkirkan mobil kami, dan segera masuk ke dalam. Saat aku sudah dekat dengan
pintu masuk ke dalam GOR, aku melihat ada Rehan dan Safira yang juga sudah
sampai. Ternyata Rehan benar datang ke sini, padahal dia sudah curang
sebelumnya.
Aku sengaja tidak
menyapa mereka, aku membiarkan mereka masuk ke dalam, dan juga mereka tidak
melihat kami. Jadi tidak perlu di khawatirkan, aku ke sini untuk mendukung
Angga. Aku tidak terlalu mempedulikan mereka berdua.
“Melani!”
suara dari kiriku.
Aku mendengar
suara yang menyebut namaku dari arah sebelah kiri. Aku menolehkan kepalaku ke
arah kiri untuk melihat siapa yang memanggilku.
“Ohh,
ternyata kamu, Putri.”
“Kamu baru
sampai Melani? Dan juga selamat pagi ayahnya Melani,” sapa Putri kepada ayahku.
“Iyaa selamat
pagi,” balas ayahku, “jadi kamu temannya Melani juga yaa, kamu juga ingin
melihat pertandingan Angga yaa.”
“Iyaa, aku
juga datang ingin melihat pertandingan Angga.”
“Apa kamu
baru sampai, Putri?” tanyaku karena melihat Putri yang datang dari gerbang
depan.
“Iyaa aku
baru saja sampai, kalau begitu aku masuk duluan yaa.”
“Kenapa tidak
bersama kami saja,” ujarku, “ikut saja bersama kami, kami senang bila bertambah
orang, ayo.”
“Baiklah
ayo.”
Kamipun masuk
ke dalam GOR, saat aku memasuki GOR ternyata dalamnya begitu sangat luas. Aku belum
pernah sama sekali masuk ke GOR, dan ini adalah bagiku untuk pertama kalinya.
Aku melihat semua persiapan sudah di siapkan, sepertinya sebentar lagi sudah
ingin di mulai.
Kami langsung
mencari tempat duduk untuk kami, tempat duduk yang bagus untuk melihat dari
atas. Aku melihat ada beberapa orang sedang latihan dan menggunakan sebagian
arena pertandingan untuk latihan. Dari luar aku melihat ada gerombolan orang
yang datang dan masuk ke dalam arena pertandingan. Ternyata itu adalah
gerombolan team nya Angga.
__ADS_1
Sepertinya timnya
Angga juga ingin menggunakan sebagian arena pertandingan untuk latihan, dan
Angga sepertinya tidak melihat aku dan juga Putri di sini.
“Apa ada
Angga di antara gerombolan orang di tengah lapangan itu?” tanya ayahku yang
melihat ke tengah lapangan dari kursi penonton.
“Ada,
gerombolannya Angga yang baru saja memasuki lapangan,” jawab Putri.
“Wah…lalu
orangnya yang mana?” tanya ayahku lagi.
Putri dengan
tenangnya menunjuk ke arah lapangan. “Itu di sana, yang mengenakan celana
pendek hitam. Yang rambutnya pendek.”
“Bukannya
kebanyakan dari mereka rambutnya pendek yaa,” kata ayahku, yang sedikit turun
harapan.
“Emm…” Putri
yang bingung bagaimana memberi taunya.
Aku pun
memperhatikan Angga dari kursi penonton, aku melihatnya yang pergi meninggalkan
gerombolan. Dan secara reflek aku memberi tau ayah dengan cara menunjukan orang
yang sedang meninggalkan gerombolannya.
“Angga yang
itu, yang sedang meninggalkan gerombolannya,” kataku dengan santainya.
“Ohh yang itu
toh, lumayan juga yaa. Pantas Melani cekatan sekali menunjuknya,” kata ayahku
yang mencoba meledekku.
Wajahku
seketika memerah, ini semua gara-gara ayah yang bilang seperti itu. Padahal
balas saja dengan kata “Ohh” itu sudah cukup, kenapa harus menambah kalimat
lagi setelahnya.
“Emm?
Kenapa?” Putri yang bingung maksud dari ayahnya Melani.
“Ti–tidak
a–apa-apa kok,” balasku sedikit gugup.
Ayah ini
ada-ada ajah. Padahal ada Putri di sini, nanti kalau dia berfikir yang
aneh-aneh bagaimana. Karena Putri orangnya cepat sekali menangkap maksud dari seseorang,
tapi dia benar-benar tidak tau. Atau mungkin dia tau, namun pura-pura tidak
tau. Tidak!!!
Aku merasa
lapar, aku ingin beli jajanan di luar GOR. Karena aku melihat banyak sekali
jajanan yang di jual di luar GOR, aku juga ingin sekalian mencicipi jajanannya.
Kurasa pertandingan masih belum di mulai, jadi pasti masih ada waktu untukku
jajan.
“Ayah, aku
mau keluar dulu yaa, aku mau jajan. Pertandingannya juga belum di mulai,”
kataku yang bilang kepada ayah.
“Iya,” jawab
ayah, “Tapi saat ke sini ayah titip jajanan juga.”
“Iyaa, nanti
aku belikan.”
Akupun
mengajak Putri untuk ikut denganku membeli jajanan di luar. Saat aku keluar
dari pintu masuk, ternyata masih ada beberapa team yang sedang latihan di halaman
GOR. Banyak juga peserta yang mengikuti kejuaraan di sini.
“Mereka semua
masih latihan sebelum kejuaraan di mulai, mungkin kalau aku duduk diam dan
bersantai,” ucap Putri sambil melihat team yang sedang latihan.
“Bukannya
memang hobi kamu rebahan yaa?” ujarku dengan sengaja.
“Kata-katamu
barusan lumayan menyakitkan tau,” jawab Putri sambil mengelus-elus dada.
“Iya-iya
maaf,” kataku dengan tersenyum, “kalau begitu ayuk kita keluar, aku sudah tidak
sabar untuk membeli jajanan.”
“Baiklah ayuk.”
Kami jalan
keluar GOR, karena pedagang yang menjual jajanan itu berada di luar. Saat kami
sudah di luar, aku melihat ke sekeliling untuk melihat apa saja jajanan yang di
jual di sini. Aku melihat ada yang menjual sosis ukuran besar, sepertinya enak,
aku ingin ke sana.
“Putri,
bagaimana dengan sosis itu? Apa kamu mau ke sana?” tanyaku.
“Emm…tapi aku
melihat di sana ada yang menjual kebab, kelihatannya enak. aku ingin ke kedai
kebab saja,” jawab Putri yang melihat kedai kebab.
“Bagaimana
jika kamu pergi ke kedai kebab, sedangkan aku pergi ke kedai sosis?” saranku,
“nanti kita bertemu di sini lagi, bagaimana?”
“Hmm…oke deh,
kalau gitu aku pergi ke sana.”
“Iyaa.”
Kemudian
Putri pergi ke sana, ke kedai kebab. Sedangkan aku pergi ke kedai yang menjual
sosis. Jadi jika di antara kami sudah selesai membeli makanan, maka kami akan
kembali ke tempat kami berdiri di sini.
Aku segera
pergi ke kedai sosis. Aku memilih sosis karena pikirku ini sedikit
mengenyangkan, sosis yang di jual juga besar-besar. Aku memesan 3 kepada penjual
sosis itu. “Pak, aku pesan 3 yaa,” kataku. Namun setelah aku bilang, dari
samping ada orang yang juga memesan sosis.
“Pak aku 2
yaa.”
Aku menoleh
ke arah orang yang memesan tadi, aku melihat ke arah sampingku. Dan orang itu
juga melihat ke arahku, jadi kami sama-sama saling menoleh. Aku sedikit
terkejut dengan orang yang datang itu.
“Melani?!” –
“Angga?!”
***
__ADS_1