
Melani
***
40 Menit Sebelumnya
Aku yang baru terbangun dari tidur,
sadar bahwa aku kesiangan, aku terkejut saat melirik jam dinding. Aku segera
bangkit dari tempat tidur dan siap-siap untuk pergi ke sekolah. Jeni kenapa
tidak membangunkan ku sih, memangnya dia sedang apa?
Aku bangkit dari kasur dan pergi ke
kamar Jeni terlebih dahulu sebelum siap-siap, aku pergi ke kamarnya dengan
keadaan jalan cepat. Setelah aku sampai depan pintu kamarnya, aku pegang gagang
pintu dan menariknya, kemudian aku lihat di dalam ternyata Jeni masih tidur.
Dia masih berbaring di kasur nya, dalam
keadaan tidur yang sangat pulas. Aku segera mendekati Jeni untuk membangunkannya,
aku jalan cepat mendekat. Aku yang sudah berada di samping nya, langsung
memegang pundak Jeni sambil menggoyangkan badannya.
“Jeni! Jeni!” kataku dengan suara yang
aku keraskan.
Namun dia belum bangun juga dari kasurnya,
sekarang aku menggenggam keras pundaknya dengan kedua tanganku, berharap dia
akan bangun dari tempat tidurnya. Setelah ku pegang pundaknya dengan kedua
tanganku, aku menggoyangkan tubuh nya dengan lumayan kencang. Sambil berkata
dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
“Jeni bangun! Jeni bangun!” kataku.
Tapi dia tidak sama sekali bangun, aku
mulai kesal dengan Jeni yang masih tertidur. Aku seperti tidak punya pilihan
lain selain menggunakan cara ini, untuk membangunkan nya dari tidurnya. Aku
dekatkan mulut ku ke samping kupingnya Jeni, kemudian.
“JENI!!!” teriak ku, dengan keras aku
meneriakkan nya tepat di samping kuping nya.
Mata Jeni terbuka dengan cepat, dan
saking cepatnya dia langsung dalam kondisi duduk. Dia sepertinya benar-benar terkejut
dengan teriakku, maaf soal itu, tapi kita benar-benar sudah kesiangan. Maaf
jika cara membangunkan ku seperti ini.
“Em…nona? Tumben nona membangunkan ku,
biasanya aku yang akan membangunkan nona,” kata Jeni, yang masih syok karena
teriakan ku.
Aku melihat Jeni dengan raut wajah
datar, dia terlihat seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Kemudian aku angkat
tangan dan menunjukan jari ku mengarah ke jam dinding di kamar Jeni, Jeni
kemudian mengikuti arah unjukku. Dia menolehkan kepalanya mengarah ke jam itu,
dan menyadari bahwa dia kesiangan.
“Kita Kesiangan!!!” teriak Jeni.
Dia ini dari tadi baru sadar, aku kira
dia bakal membangun kan ku. Nyatanya malah aku yang membangunkannya, aku tidak
tau apa aku akan telat ke sekolah, soalnya aku jarang sekali dengan kata
“Telat”. Setelah membangunkan nya, aku menyuruh Jeni siap-siap juga untuk
menyiapkan keperluan sebelum berangkat, sedangkan aku pergi mandi dan sarapan
pagi. Mungkin tidak akan cukup bila sarapan pagi, aku menyuruh Jeni untuk
membuat sandwich saja, aku akan memakannya saat di perjalanan.
Aku ke sekolah menggunakan mobil, aku
bilang kepada supir ku untuk mempercepat laju mobilnya, karena aku tidak mau
terlambat. Dan aku bersyukur jalanan hari ini tidak macet, jika hari ini macet,
habislah aku.
“Nona, ini sandwich nya,” Jeni yang
memberiku sandwich.
Akupun mengambilnya dan memakan sandwich
itu saat dalam perjalanan, karena aku tidak akan sempat bila makan di rumah,
waktu yang kubutuhkan tidaklah cukup untuk itu. Perjalanan aku ke sekolah
membutuhkan kurang lebih 15 menit.
Dan akhirnya aku sampai di sekolah
sebelum bel masuk, aku pikir aku akan terlambat ke sekolah. Kemudian aku keluar
__ADS_1
dari mobil dan bilang kepada Jeni. “Aku pamit dulu yaa,” kataku sambil membuka
pintu mobil. “Iyaa nona,” balas Jeni.
Untung saja keberuntungan masih berpihak
kepadaku. Setelah aku keluar dari mobil aku melihat Angga yang seperti sedang
mengikuti seseorang, Angga seperti itu membuatku menjadi penasaran. Akupun
mengikuti nya dari belakang, aku mengikutinya tanpa ketahuan olehnya. Saat aku
terus mengikutinya, aku paham, ternyata dia sedang mengikuti Rehan dan juga
wanita itu.
Aku terkejut karena Rehan bisa bersama
lagi dengan wanita itu, apa mereka berangkat bersama? Dan juga Angga sepertinya
benar-benar penasaran dengan mereka, oleh karena itu dia mengikutinya. Aku
ingin tau bagaimana perasaan Angga setelah melihat ini, memangnya hubungan
Rehan dengan wanita itu apa.
Aku mengikuti Angga sampai ke gedung
Bahasa, apa mungkin Rehan mengantar wanita itu sampai depan kelasnya. Angga
juga masih memperhatikan mereka dari situ, mereka berdua jalan bersama seperti
itu membuat orang penasaran saja.
Kemudian pandanganku melihat ke arah
Rehan yang sudah selesai dengan urusannya bersama wanita itu, yang sepertinya
dia akan ke kelas. Bisa gawat kalau dia melihat aku dan Angga di sini, saat aku
ingin pergi dari sini, aku melihat ada tangga yang langsung mengakses ke lantai
2. Mungkin itu jalan tercepat\, tetapi Angga sedang berada di samping tangga itu
juga, aku harus berlari secepat mungkin lalu naik ke atas melewati tangga itu.
Akupun berlari secepat-cepatnya menuju
tangga yang berada di sampingnya, saat aku sudah dekat dengan tangga, tiba-tiba
Angga berbalik badan yang juga ingin pergi dari situ, dan pergi melewati tangga
juga. Karena tangga itu tidak begitu lebar, saat aku ingin menaikinya, aku
bertabrakan dengan Angga di depan tangga.
“Aduh…,” aku yang terjatuh.
“Melani? Kamu ngapain? Bukannya kelas
kita ada di depan, kenapa kamu ke sini?” katanya penasaran, sambil memegang kepalanya
karena terbentur.
bertanya seperti itu, aku harus mencari alasan secepatnya, jangan sampai dia
tau kalau aku sedang membuntuti nya barusan. Aku melirik ke arah kelas, dan menjadikan
kelas itu sebagai alasanku kepada Angga. Sebelum itu aku juga melontarkan
pertanyaan yang dia tanyakan kepadaku.
“Kamu sendiri juga ngapain disini? Aku
hanya habis dari sana menghampiri temanku,” kataku, sambil menunjukan kelas
lain.
Aku sengaja berbohong kepadanya, agar
aku tidak ketahuan olehnya kalau aku dari tadi sedang membuntuti nya dari
belakang. Sebenarnya aku juga khawatir soal perasaan Angga yang melihat Rehan
jalan bersama dengan wanita itu.
“Aku hanya kebetulan keliling saja,”
kata Angga yang berbohong.
“Apa kamu mau ke kelas?” tanya Angga.
“Iyaa, aku ingin ke kelas.”
“Kalau sudah bertemu begini, lebih baik
kita bareng saja ke kelasnya,” ajak Angga.
Mm…serius? Aku dan Angga jalan bersama
menuju kelas? Aku akui itu membuatku sedikit malu saat dia mengajak jalan
bersama, namun aku senang dengan ajakannya, dan kondisi yang membuat ini
terjadi adalah karena kami membuntuti orang yang sedang jalan bersama. Pada
akhirnya, orang yang membuntuti akan jalan bersama juga.
***
Hmm, mau tidak mau aku harus melakukan ini. Agar aku tidak ketahuan
Melani kalau aku dari tadi sedang membuntuti Rehan dan Safira yang sedang jalan
berdua. Gara-gara ini aku malah jadi canggung saat di hadapan Melani, aku takut
dia menyadari yang barusan.
Aku dan Melani jalan bersama menuju kelas dengan menaiki tangga
yang ada di sebelahku tadi, karena tangga ini adalah jalan tercepat agar
__ADS_1
langsung ke lantai 2, yaa walaupun masih harus jalan lagi ke kelas kami, karena
kami sekarang ada di perbatasan gedung Bahasa dan IPA.
Sekolah ini benar-benar luas, sampai-sampai setiap jurusan
memiliki gedungnya sendiri. Gedung IPA berada di depan sampai tengah namun ada
di bagian sisi kiri sekolah, gedung IPS juga berada di depan sampai tengah
namun ada di sisi kanan sekolah, dan yang terakhir gedung Bahasa berada di
belakang.
Tangga yang aku naiki bersama Melani adalah tangga yang berada di
perbatasan gedung IPA dan juga gedung Bahasa. Dan yang menjadi pembatasnya
adalah lapangan yang lumayan luas yaitu, lapangan futsal dan lapangan basket.
Dan satu lapangan lagi ada di bagian depan sekolah, yang biasa di gunakan para
warga sekolah untuk upacara pagi setiap hari senin.
Aku melirik ke arah Melani, dia hanya terdiam dan tidak
mengeluarkan suara sedikitpun. Pandangan dia lurus ke depan tanpa melirik ke
kanan maupun ke kiri, dan aku melihat pipi pada wajahnya Melani memerah, kenapa
dia selalu begini jika di dekat ku, apa aku semenakutkan itu?
“Melani, wajah mu memerah kenapa?” tanyaku karena penasaran.
Aku sengaja bertanya demikian, aku hanya ingin memastikan dia
tidak sedang sakit. Karena aku berasumsi Melani sedang tidak enak badan, jika
dia memang sedang sakit, aku bisa mengantarkannya ke UKS. Bukankah lebih baik
seperti itu, daripada menahan kondisi tubuh yang sedang tidak enak.
“Ti–tidak apa-apa,” katanya yang menjawab gugup dan ragu.
Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu? Dari nada bicaranya dia
sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku hanya khawatir dia sedang tidak enak
badan, karena belum lama Melani sembuh dari sakitnya. Akupun bertanya lagi
untuk memastikan kondisinya.
“Apa kamu lagi tidak enak badan? Kalau iya aku akan mengantarkanmu
ke UKS,” kataku yang khawatir padanya.
Aku menawarkan diri untuk mengantarnya ke UKS, karena aku tidak
mau dia tiba-tiba semakin parah saat pelajaran berlangsung. Kemudian Melani
membalas pertanyaanku tadi.
“Ti–tidak usah, aku tidak sakit, jadi tidak usah sampai ke UKS.”
Dia menjawabnya dengan pandangan lurus ke depan, dia sama sekali
tidak melihat ke arahku. Padahal aku sedang melihat ke arahnya, tapi dia tidak
sedikitpun melirik ke arahku. Bukankah itu menyakitkan. Dan juga dia
menjawabnya dengan ragu-ragu seperti itu aku ingin memastikannya lagi.
Aku mengangkat salah satu tanganku dan memegang kening Melani, aku
ingin memastikan dia tidak apa-apa, karena dari nada jawabnya barusan dia
seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Akupun memegang keningnya untuk
memastikan suhu tubuhnya normal.
“Benar kamu tidak apa-apa?” kataku sambil memegang kening Melani.
Di saat aku memegang keningnya, tiba-tiba wajahnya nambah memerah.
Dia langsung menyingkirkan tanganku dari keningnya dan lari dariku. “dia kabur?”
Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Tapi aku merasakan suhu di keningnya
normal saja.
“Sudah aku bilang aku tidak apa-apa,” katanya, sambil menyingkirkan
tanganku dari keningnya kemudian lari dariku.
“Tung–”
Dia langsung dari ku, apakah sebegitunya menjijikannya aku sampai
dia lari begitu, benar-benar menyakitkan. Aku langsung lari mengejarnya, karena
aku tau dia belum lama sembuh dari sakitnya. Dia ini main lari-lari ajah.
“Melani tunggu!” aku yang sedang mengejarnya di lorong sekolah.
Melani larinya cepat sekali, aku baru tau dia bisa lari secepat
ini. Seperti sedang di kejar anjing saja, tapi aku ini bukan hewan. Dia ini
punya tenaga berapa banyak sih, padahal belum lama sembuh, tapi larinya
sekencang ini, lebih baik dia ikut lomba lari kalau larinya sekencang ini.
“Jangan mendekat, pergi sana!” teriak Melani sambil lari, dengan
wajah memerah.
Hah? Dia kenapa sih, kenapa jadi aku yang di usir. Bagaimana pun
aku harus mengejarnya, dia pasti merasa tidak enak badan, lalu kabur untuk
menyembunyikan sakitnya. Gawat kalo dia lari begini terus, pasti dia akan
__ADS_1
kecapean dan pingsan.