Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 22


__ADS_3

Melani


***


40 Menit Sebelumnya


Aku yang baru terbangun dari tidur,


sadar bahwa aku kesiangan, aku terkejut saat melirik jam dinding. Aku segera


bangkit dari tempat tidur dan siap-siap untuk pergi ke sekolah. Jeni kenapa


tidak membangunkan ku sih, memangnya dia sedang apa?


Aku bangkit dari kasur dan pergi ke


kamar Jeni terlebih dahulu sebelum siap-siap, aku pergi ke kamarnya dengan


keadaan jalan cepat. Setelah aku sampai depan pintu kamarnya, aku pegang gagang


pintu dan menariknya, kemudian aku lihat di dalam ternyata Jeni masih tidur.


Dia masih berbaring di kasur nya, dalam


keadaan tidur yang sangat pulas. Aku segera mendekati Jeni untuk membangunkannya,


aku jalan cepat mendekat. Aku yang sudah berada di samping nya, langsung


memegang pundak Jeni sambil menggoyangkan badannya.


“Jeni! Jeni!” kataku dengan suara yang


aku keraskan.


Namun dia belum bangun juga dari kasurnya,


sekarang aku menggenggam keras pundaknya dengan kedua tanganku, berharap dia


akan bangun dari tempat tidurnya. Setelah ku pegang pundaknya dengan kedua


tanganku, aku menggoyangkan tubuh nya dengan lumayan kencang. Sambil berkata


dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.


“Jeni bangun! Jeni bangun!” kataku.


Tapi dia tidak sama sekali bangun, aku


mulai kesal dengan Jeni yang masih tertidur. Aku seperti tidak punya pilihan


lain selain menggunakan cara ini, untuk membangunkan nya dari tidurnya. Aku


dekatkan mulut ku ke samping kupingnya Jeni, kemudian.


“JENI!!!” teriak ku, dengan keras aku


meneriakkan nya tepat di samping kuping nya.


Mata Jeni terbuka dengan cepat, dan


saking cepatnya dia langsung dalam kondisi duduk. Dia sepertinya benar-benar terkejut


dengan teriakku, maaf soal itu, tapi kita benar-benar sudah kesiangan. Maaf


jika cara membangunkan ku seperti ini.


“Em…nona? Tumben nona membangunkan ku,


biasanya aku yang akan membangunkan nona,” kata Jeni, yang masih syok karena


teriakan ku.


Aku melihat Jeni dengan raut wajah


datar, dia terlihat seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Kemudian aku angkat


tangan dan menunjukan jari ku mengarah ke jam dinding di kamar Jeni, Jeni


kemudian mengikuti arah unjukku. Dia menolehkan kepalanya mengarah ke jam itu,


dan menyadari bahwa dia kesiangan.


“Kita Kesiangan!!!” teriak Jeni.


Dia ini dari tadi baru sadar, aku kira


dia bakal membangun kan ku. Nyatanya malah aku yang membangunkannya, aku tidak


tau apa aku akan telat ke sekolah, soalnya aku jarang sekali dengan kata


“Telat”. Setelah membangunkan nya, aku menyuruh Jeni siap-siap juga untuk


menyiapkan keperluan sebelum berangkat, sedangkan aku pergi mandi dan sarapan


pagi. Mungkin tidak akan cukup bila sarapan pagi, aku menyuruh Jeni untuk


membuat sandwich saja, aku akan memakannya saat di perjalanan.


Aku ke sekolah menggunakan mobil, aku


bilang kepada supir ku untuk mempercepat laju mobilnya, karena aku tidak mau


terlambat. Dan aku bersyukur jalanan hari ini tidak macet, jika hari ini macet,


habislah aku.


“Nona, ini sandwich nya,” Jeni yang


memberiku sandwich.


Akupun mengambilnya dan memakan sandwich


itu saat dalam perjalanan, karena aku tidak akan sempat bila makan di rumah,


waktu yang kubutuhkan tidaklah cukup untuk itu. Perjalanan aku ke sekolah


membutuhkan kurang lebih 15 menit.


Dan akhirnya aku sampai di sekolah


sebelum bel masuk, aku pikir aku akan terlambat ke sekolah. Kemudian aku keluar

__ADS_1


dari mobil dan bilang kepada Jeni. “Aku pamit dulu yaa,” kataku sambil membuka


pintu mobil. “Iyaa nona,” balas Jeni.


Untung saja keberuntungan masih berpihak


kepadaku. Setelah aku keluar dari mobil aku melihat Angga yang seperti sedang


mengikuti seseorang, Angga seperti itu membuatku menjadi penasaran. Akupun


mengikuti nya dari belakang, aku mengikutinya tanpa ketahuan olehnya. Saat aku


terus mengikutinya, aku paham, ternyata dia sedang mengikuti Rehan dan juga


wanita itu.


Aku terkejut karena Rehan bisa bersama


lagi dengan wanita itu, apa mereka berangkat bersama? Dan juga Angga sepertinya


benar-benar penasaran dengan mereka, oleh karena itu dia mengikutinya. Aku


ingin tau bagaimana perasaan Angga setelah melihat ini, memangnya hubungan


Rehan dengan wanita itu apa.


Aku mengikuti Angga sampai ke gedung


Bahasa, apa mungkin Rehan mengantar wanita itu sampai depan kelasnya. Angga


juga masih memperhatikan mereka dari situ, mereka berdua jalan bersama seperti


itu membuat orang penasaran saja.


Kemudian pandanganku melihat ke arah


Rehan yang sudah selesai dengan urusannya bersama wanita itu, yang sepertinya


dia akan ke kelas. Bisa gawat kalau dia melihat aku dan Angga di sini, saat aku


ingin pergi dari sini, aku melihat ada tangga yang langsung mengakses ke lantai


2. Mungkin itu jalan tercepat\, tetapi Angga sedang berada di samping tangga itu


juga, aku harus berlari secepat mungkin lalu naik ke atas melewati tangga itu.


Akupun berlari secepat-cepatnya menuju


tangga yang berada di sampingnya, saat aku sudah dekat dengan tangga, tiba-tiba


Angga berbalik badan yang juga ingin pergi dari situ, dan pergi melewati tangga


juga. Karena tangga itu tidak begitu lebar, saat aku ingin menaikinya, aku


bertabrakan dengan Angga di depan tangga.


“Aduh…,” aku yang terjatuh.


“Melani? Kamu ngapain? Bukannya kelas


kita ada di depan, kenapa kamu ke sini?” katanya penasaran, sambil memegang kepalanya


karena terbentur.


bertanya seperti itu, aku harus mencari alasan secepatnya, jangan sampai dia


tau kalau aku sedang membuntuti nya barusan. Aku melirik ke arah kelas, dan menjadikan


kelas itu sebagai alasanku kepada Angga. Sebelum itu aku juga melontarkan


pertanyaan yang dia tanyakan kepadaku.


“Kamu sendiri juga ngapain disini? Aku


hanya habis dari sana menghampiri temanku,” kataku, sambil menunjukan kelas


lain.


Aku sengaja berbohong kepadanya, agar


aku tidak ketahuan olehnya kalau aku dari tadi sedang membuntuti nya dari


belakang. Sebenarnya aku juga khawatir soal perasaan Angga yang melihat Rehan


jalan bersama dengan wanita itu.


“Aku hanya kebetulan keliling saja,”


kata Angga yang berbohong.


“Apa kamu mau ke kelas?” tanya Angga.


“Iyaa, aku ingin ke kelas.”


“Kalau sudah bertemu begini, lebih baik


kita bareng saja ke kelasnya,” ajak Angga.


Mm…serius? Aku dan Angga jalan bersama


menuju kelas? Aku akui itu membuatku sedikit malu saat dia mengajak jalan


bersama, namun aku senang dengan ajakannya, dan kondisi yang membuat ini


terjadi adalah karena kami membuntuti orang yang sedang jalan bersama. Pada


akhirnya, orang yang membuntuti akan jalan bersama juga.


***


Hmm, mau tidak mau aku harus melakukan ini. Agar aku tidak ketahuan


Melani kalau aku dari tadi sedang membuntuti Rehan dan Safira yang sedang jalan


berdua. Gara-gara ini aku malah jadi canggung saat di hadapan Melani, aku takut


dia menyadari yang barusan.


Aku dan Melani jalan bersama menuju kelas dengan menaiki tangga


yang ada di sebelahku tadi, karena tangga ini adalah jalan tercepat agar

__ADS_1


langsung ke lantai 2, yaa walaupun masih harus jalan lagi ke kelas kami, karena


kami sekarang ada di perbatasan gedung Bahasa dan IPA.


Sekolah ini benar-benar luas, sampai-sampai setiap jurusan


memiliki gedungnya sendiri. Gedung IPA berada di depan sampai tengah namun ada


di bagian sisi kiri sekolah, gedung IPS juga berada di depan sampai tengah


namun ada di sisi kanan sekolah, dan yang terakhir gedung Bahasa berada di


belakang.


Tangga yang aku naiki bersama Melani adalah tangga yang berada di


perbatasan gedung IPA dan juga gedung Bahasa. Dan yang menjadi pembatasnya


adalah lapangan yang lumayan luas yaitu, lapangan futsal dan lapangan basket.


Dan satu lapangan lagi ada di bagian depan sekolah, yang biasa di gunakan para


warga sekolah untuk upacara pagi setiap hari senin.


Aku melirik ke arah Melani, dia hanya terdiam dan tidak


mengeluarkan suara sedikitpun. Pandangan dia lurus ke depan tanpa melirik ke


kanan maupun ke kiri, dan aku melihat pipi pada wajahnya Melani memerah, kenapa


dia selalu begini jika di dekat ku, apa aku semenakutkan itu?


“Melani, wajah mu memerah kenapa?” tanyaku karena penasaran.


Aku sengaja bertanya demikian, aku hanya ingin memastikan dia


tidak sedang sakit. Karena aku berasumsi Melani sedang tidak enak badan, jika


dia memang sedang sakit, aku bisa mengantarkannya ke UKS. Bukankah lebih baik


seperti itu, daripada menahan kondisi tubuh yang sedang tidak enak.


“Ti–tidak apa-apa,” katanya yang menjawab gugup dan ragu.


Apa dia sedang menyembunyikan sesuatu? Dari nada bicaranya dia


sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku hanya khawatir dia sedang tidak enak


badan, karena belum lama Melani sembuh dari sakitnya. Akupun bertanya lagi


untuk memastikan kondisinya.


“Apa kamu lagi tidak enak badan? Kalau iya aku akan mengantarkanmu


ke UKS,” kataku yang khawatir padanya.


Aku menawarkan diri untuk mengantarnya ke UKS, karena aku tidak


mau dia tiba-tiba semakin parah saat pelajaran berlangsung. Kemudian Melani


membalas pertanyaanku tadi.


“Ti–tidak usah, aku tidak sakit, jadi tidak usah sampai ke UKS.”


Dia menjawabnya dengan pandangan lurus ke depan, dia sama sekali


tidak melihat ke arahku. Padahal aku sedang melihat ke arahnya, tapi dia tidak


sedikitpun melirik ke arahku. Bukankah itu menyakitkan. Dan juga dia


menjawabnya dengan ragu-ragu seperti itu aku ingin memastikannya lagi.


Aku mengangkat salah satu tanganku dan memegang kening Melani, aku


ingin memastikan dia tidak apa-apa, karena dari nada jawabnya barusan dia


seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Akupun memegang keningnya untuk


memastikan suhu tubuhnya normal.


“Benar kamu tidak apa-apa?” kataku sambil memegang kening Melani.


Di saat aku memegang keningnya, tiba-tiba wajahnya nambah memerah.


Dia langsung menyingkirkan tanganku dari keningnya dan lari dariku. “dia kabur?”


Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Tapi aku merasakan suhu di keningnya


normal saja.


“Sudah aku bilang aku tidak apa-apa,” katanya, sambil menyingkirkan


tanganku dari keningnya kemudian lari dariku.


“Tung–”


Dia langsung dari ku, apakah sebegitunya menjijikannya aku sampai


dia lari begitu, benar-benar menyakitkan. Aku langsung lari mengejarnya, karena


aku tau dia belum lama sembuh dari sakitnya. Dia ini main lari-lari ajah.


“Melani tunggu!” aku yang sedang mengejarnya di lorong sekolah.


Melani larinya cepat sekali, aku baru tau dia bisa lari secepat


ini. Seperti sedang di kejar anjing saja, tapi aku ini bukan hewan. Dia ini


punya tenaga berapa banyak sih, padahal belum lama sembuh, tapi larinya


sekencang ini, lebih baik dia ikut lomba lari kalau larinya sekencang ini.


“Jangan mendekat, pergi sana!” teriak Melani sambil lari, dengan


wajah memerah.


Hah? Dia kenapa sih, kenapa jadi aku yang di usir. Bagaimana pun


aku harus mengejarnya, dia pasti merasa tidak enak badan, lalu kabur untuk


menyembunyikan sakitnya. Gawat kalo dia lari begini terus, pasti dia akan

__ADS_1


kecapean dan pingsan.


__ADS_2