
Hari Senin
Sekarang sudah hari Senin, kemarin aku
tidak melakukan apapun setelah pulang dari kumpul bersama satu team taekwondo,
hanya melakukan hal gabut. Seperti, tidur, makan, nonton TV, main game online,
dan ganggu adikku yang sedang main handphone di kamar.
Aku berangkat sekolah dengan normal, dan
juga aku membawa kue-kue yang harganya 5000-an. Kemarin sebelum pulang ke rumah
aku menemui temanku yang menjual kue ini, aku bilang kepadanya kalau aku ingin
menjualnya juga di sekolah. Jadi aku mengambil untung 2000 dari setiap kue yang
terjual. Setelah sampai di sekolah aku
langsung pergi ke kelas, aku menemui Rehan yang sedang duduk di kursi nya. Dia
hanya bermain handphone tanpa melakukan apapun. Yap, hanya bermain handphone.
“Gimana kabar soal lomba programing mu?”
tanyaku, yang menghampirinya dan berdiri menghadapnya.
“Ohh Angga, yoo apa kabar. Tentang lomba,
aku sudah mendaftar dari 3 hari yang lalu, dan lomba akan diadakan pada hari Jumat.
Submissions nya membuat website toko online, dan maksimal membuat 1 minggu,
lalu penilaian selama 3 hari. Terakhir pengumuman 2 hari setelah penilaian,”
kata Rehan, duduk di kursi sambil menatap ke arah ku.
Jadi sistem perlombaan programing nya
seperti itu, lumayan bikin ribet juga.
“kalau gitu kau harus menang, jangan
kalah dengan lawanmu,” kataku.
“Iyaa, kamu juga kejuaraan nanti yaa,”
balas Rehan, dengan wajah yang semangat.
Aku pergi meninggalkan Rehan dan duduk
di kursi ku. Aku menaruh tasku dan saat ingin mengeluarkan buku tiba-tiba
Melani menyapaku dari depan tempat duduknya. “Pagi Angga,” sapanya dengan wajah
yang tersenyum manis. Aku pun membalas sapaan nya Melani dengan senang hati.
“Pagi juga, rupanya kamu udah sembuh ya.”
Kemudian aku melihat pipi nya Melani
memerah saat aku balas sapaan nya, dia ini kenapa selalu saja saat bicara
dengan ku ekspresinya seperti itu, padahal tidak aku apa-apain. Melani langsung
membalas pernyataan ku sebelumnya soal dia sudah sembuh.
“Iyaa aku sudah sembuh total. Oiya,
gimana soal kejuaraan kamu?” tanya Melani penasaran.
“Iyaa sekarang aku sedang
mempersiapkannya, aku sedang ada latihan rutin seminggu 5 kali dan istirahatnya
di hari sabtu dan minggu,” jawabku, dengan santai.
“Oiya Angga, dari tadi aku penasaran
dengan yang kau bawa itu? Apa kue itu untuk di jual? Atau kau emang sengaja
membawanya ke sekolah?” tanya Rehan penasaran, yang melihatku membawa kotak
saat masuk kelas.
“Iyaa ini untuk di jual, aku niatnya
ingin menjualnya dulu di kelas. aku sedang mengumpulkan uang untuk ikut
kejuaraan, soalnya ayah ku sedang kesulitan masalah keuangan,” jawabku.
“Harganya berapa?” tanya Melani
penasaran. Aku pun menjawabnya dengan senang hati. “Harganya cuman 5000-an,
saja kok.”
“Kalau begitu aku pesan 2 Angga,” kata
Melani, dengan wajah tersenyum manis.
“Aku pesan 1 Angga,” kata Rehan.
“Baiklah, terima kasih.”
Syukurlah Melani dan juga Rehan menjadi
yang awal membeli dagangan ku, dan teman kelas ku yang lain melihat mereka
membeli dan penasaran, yang akhirnya membuat mereka juga membeli kue yang aku
jual.
“Mm…enak juga kue ini, Angga,” kata
Melani, menyukai rasa kue yang aku jual.
“Aku pun suka dengan kue ini,” balasku.
“Apa kamu yang membuat kue ini?” tanya
Melani penasaran.
“Tidak, ini sebenarnya dagangan teman
rumah ku. Aku memintanya untuk membuat lebih dan aku yang menjualnya, aku
sendiri tidak bisa membuat kue, aku selalu menolak jika ibuku memintaku
membantu membuat kue.”
“Kenapa tidak mencoba membuatnya?
Padahal tidak terlalu susah membuat kue itu, aku bisa membuat kue, aku bisa
mengajari kamu membuatnya–” kata Melani. “Ahh maksudku jika itu kamu ingin
mencoba membuat nya,” Melani yang malu-malu dan memerah.
“Mungkin kapan-kapan, oke?” kataku,
sambil memberi thumbzup dengan tangan.
“I–i–iyaa.”
Aku tak menyangka dagangan ku habis
dalam waktu yang cepat, teman ku di kelas rupanya menyukai kue buatan teman
__ADS_1
rumah ku. Mungkin jika aku bisa membuatnya sendiri akan lebih bagus, tapi aku
akan belajar membuat kue hanya untuk dimakan diri sendiri saja, dari pada di
jual.
Sepulang Sekolah
Hari ini benar-benar bagus, daganganku
habis. Pasti temanku suka melihat ini. Tetapi, aku merasa ada seseorang yang
sedang membututiku dari belakang, sangat mencurigakan. Dan di saat aku
melanjutkan jalanku menuju parkiran sekolah aku melihat Rehan dan juga Safira
yang berduaan di depan gedung Bahasa.
Mereka terlihat seperti sedang
bermesraan, aku merasa aneh saat Rehan tadi di kelas. Dia hanya bermain handphone
lalu pergi keluar kelas seorang diri, biasanya dia mengajakku jika dia ingin
keluar kelas. apa mungkin karena ini.
Tapi aku harus tetap positif thinking
kepada Rehan, mungkin memang ada keperluan tertentu yang hanya boleh tau mereka
berdua. Jika aku mencampuri urusan mereka, maka sama saja aku ikut campur dengan
urusan orang lain. Kalau gitu aku lanjut jalan saja ke parkiran dan segera
pulang agar aku bisa ber-istirahat sebentar, karena nanti malam aku ada latihan
rutin menjelang kejuaraan.
Aku sudah sampai di parkiran sekolah,
dan menuju ke sepedaku. Namun saat aku perhatikan di atas tempat duduk sepedaku
ada kertas yang di timpa batu kecil. Aku tidak tau kertas apa yang ada di atas
kursi sepedaku, sekilas terlihat seperti surat singkat. Namun aku tidak tau.
Akupun mengambil kertas itu dan membuka
kertasnya, yang ternyata ada tulisan di dalam lipatan kertas itu. Isi tulusan
itu hanya bertuliskan. “SEMANGAT!!”. Sekarang kedua kali nya aku mendapat yang
seperti ini, sebenarnya siapa yang memberi ini kepadaku, aku ingin bertemu
dengan nya.
Kemudian kertas itu aku simpan di dalam
kantong baju, dan segera aku menaiki sepeda dan pulang. Namun sebelum aku
pulang ke rumah aku ingin pergi ke tempat temanku yang menjual kue ini, dia
bernama Bintang. Kami sudah berteman sejak kecil, aku selalu bermain bersama
dengannya saat masih kecil, dia salah satu teman dekatku. Bintang pasti senang
saat melihat dagangan ku habis.
Aku segera pergi ke rumah bintang,
rumahnya tidak jauh dari rumahku, hanya saja kami berbeda gang. Aku ingin
mendengar balasan nya seperti apa saat melihat aku berhasil menjual semua
dagangan kue nya.
Kemudian aku memanggilnya.
“Permisi Bintang!” teriak ku memanggil Bintang.
Tak lama dari aku memanggil nya, dia
keluar dari dalam rumah dan menghampiriku.
“Yoo, sudah pulang sekolah ternyata kau,
bagaimana hasil penjualannya hari ini? Laku atau tidak?” tanya Bintang, yang
menghampiri ku.
Aku mengeluarkan kotak kue dari dalam
tasku, kemudian aku memperlihatkannya tepat di depan wajahnya. “Lihat!!” aku
yang menunjukan kotak kue di depan hadapan wajahnya Bintang. “kau berhasil
menjual semuanya?” Bintang yang tercengang melihatnya.
“Bagaimana aku? Hebat bukan hehe.”
“Aku salut kamu bisa menjual semuanya,
besok mau nambah kue nya atau tidak?” tanya Bintang yang sedang senang.
“Sepertinya aku nambah 2 saja, aku ingin
menambahnya sedikit demi sedikit,” balasku.
“Baiklah, terima kasih yaa Angga,” kata
Bintang. “Tidak masalah, oiya nih hasil penjualannya, uang nya aku simpan di
kau dulu yaa, aku ingin langsung pulang ke rumah.” Kata ku, sambil memberi uang
hasil penjualan.
“Baiklah, hati-hati.”
Melani
***
1 Jam Sebelumnya
Sebelum
pulang sekolah aku ingin menulis sesuatu untuk Angga, karena sekarang dia lagi berjuang
mencari uang untuk kejuaraan dan sedang ada latihan rutin juga. Aku ingin
menulis surat ucapan semangat kepadanya. Tapi enaknya gimana yaa caranya.
Ayo berfikir, ayo berfikir. Aku tau,
Angga kan selalu membawa sepeda jika pergi ke sekolah, jadi aku tulis ucapan
semangat di kertas kecil dan menaruh kertasnya di sepedanya saja. Aku langsung
mengambil buku di dalam tas dan menyobek sedikit kertas dari buku, kemudian aku
tulis menggunakan pulpen dengan tulisan. “SEMANGAT!!”.
Jadi sebelum Angga pulang aku harus
pergi ke parkiran terlebih dahulu. Aku sudah menulis ucapan nya di kertas kecil
dan langsung pergi ke parkiran sekolah lewat gerbang belakang, karena gerbang
belakang di buka hanya pada saat pulang sekolah saja, jika saat pagi semua
__ADS_1
murid wajib melewati gerbang depan.
Saat aku pergi menuju parkiran, aku
melihat Rehan sedang jalan berdua bersama dengan wanita yang Angga ajak jalan
waktu itu di alun-alun. Mereka berdua sedang ngapain yaa, kenapa wanita itu
bisa bersama dengan Rehan? Aku tidak tau. Tapi aku harus cepat ke parkiran,
tadi Angga di kelas sudah siap-siap rapi ingin pulang.
Akupun sampai di parkiran sekolah, lewat
gerbang belakang yang di buka hanya pada saat waktu pulang. Aku mencari sepeda
Angga dari sekian banyak motor yang parkir, dan aku melihat ada sepeda di
bagian pojokan parkiran. Ternyata dia seorang saja yang membawa sepeda ke
sekolah, aku langsung berlari menuju sepedanya.
Sepeda dia cukup bagus juga, mungkin
karena ini dia suka naik sepeda ke sekolah, lagi pula dia juga adalah seorang
atlet yang selalu mengandalkan kaki nya untuk bertarung. Kertas ucapan sudah
berada di genggaman ku, namun aku bingung bagaimana menaruhnya. Sepeda dia
bukanlah tipe yang memiliki keranjang, aku harus berfikir bagaimana menaruh
surat ucapan ini.
Aku melihat bentuk tempat duduk sepedanya
Angga, bentuknya gepeng dan bila di taruh barang kecil di atasnya, barang itu
tidak akan jatuh dengan mudah. Itu akan bagus bila aku menaruhnya di atas
tempat duduk sepedanya, namun masalahnya yang akan aku taruh adalah sebuah
kertas kecil. Jika kertas itu di taruh di atas situ, mungkin kertas ini akan
terbang terbawa angin yang berhembus.
Aku mencari solusi lagi bagaimana
caranya kertas ini tidak jatuh dari atas situ bila terkena angin. Aku mencari
cara dengan melihat ke kanan, kiri dan juga bawah. Namun ketika pandangan ku ke
bawah, aku melihat ada batu kecil. Sepintas aku memiliki ide untuk menaruh batu
itu tepat di atas kertas ucapan, jadi kertas itu tidak akan terbang bila ada
angin yang berhembus.
Aku mengambil batu itu dengan tangan
kiri ku, kemudian menaruh kertas ucapan ini di atas tempat duduk sepeda Angga,
lalu menimpanya dengan batu kecil agar tidak jatuh dari sana. Dengan begini
selesai, jadi aku tidak perlu khawatir kertas ini akan terjatuh dari atas
tempat duduk. Aku harus segera pergi dari sini sebelum Angga sampai sini,
jangan sampai Angga melihat ku disini dan dekat dengan sepedanya.
Aku langsung berlari dari tempat parkiran
untuk menjauh. Saat aku ingin mengambil tas di kelas, aku melihat Angga sudah
turun dari kelas dan sedang berjalan menuju parkiran melewati gerbang belakang.
Sementara itu aku membuntuti dia terlebih dahulu sebelum pergi ke kelas untuk
mengambil tas.
Aku mengikutinya, aku tidak tau apakah
dia menyadari kehadiran ku disini, aku harap tidak. Di saat aku mengikutinya
dari belakang, tiba-tiba dia berhenti dari jalannya dan melihat Rehan bersama
dengan wanita yang bersama Angga saat di alun-alun.
Wajah Angga tidak terlihat bagus saat
melihat pemandangan itu, aku memperhatikannya dari belakang dan melihat
wajahnya. Tapi dia tidak menghampiri Rehan, melainkan dia melanjutkan jalanya
menuju parkiran, akupun juga langsung lanjut jalan untuk mengikutinya.
Akhirnya sampai juga di parkiran. Angga
menyadari ada sebuah kertas di atas tempat duduk sepedanya, sepertinya dia
penasaran dengan kertas itu. Angga pun membuka kertas ucapan semangat dari ku
dan membaca isinya, aku melihat ada senyuman kecil dari mulutnya saat membaca
isinya.
Hati ku terasa berbunga-bunga saat
melihatnya, tapi sayangnya dia tidak tau siapa yang mengirim itu. Tidak apalah,
aku juga belum berani mengatakan perasaanku padanya, jadi sekarang lebih bagus
diam-diam saja sampai waktunya tiba. Setelah melihat itu aku langsung pergi
dari situ dan menuju ke kelas dengan keadaan hati yang begitu senang.
Aku berjalan menuju kelas dengan wajah
tersenyum dan berseri-seri. Kemudian di jalan aku bertemu dengan Putri yang
sedang menuju gerbang depan sekolah, Putri melihat ku dengan keadaan bingung.
Putri yang bingung pun bertanya.
“Kamu kenapa Mel? Sepertinya sedang
senang sekali,” Putri penasaran.
“Tidak apa-apa kok, aku seperti biasanya
kok,” kataku dengan wajah tersenyum. Mungkin dalam sudut pandang Putri aku
terlihat sangat aneh, karena jalan sambil senyum-senyum sendiri, terlihat
seperti orang yang tidak waras.
“Melani kenapa yaa? Tidak seperti
biasanya,” suara hati Putri karena bingung dengan Melani yang tiba-tiba seperti
itu.
Aku dengan santai jalan sambil tersenyum
menuju kelas untuk mengambil tas dan pulang, aku pun tanpa sadar telah
menghiraukan Putri yang kebingungan. Aku akan ceritakan ini kepada Jeni, pasti
Jeni juga akan senang dengan cerita yang akan aku ceritakan ini.
__ADS_1