Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 19


__ADS_3

Hari Senin


Sekarang sudah hari Senin, kemarin aku


tidak melakukan apapun setelah pulang dari kumpul bersama satu team taekwondo,


hanya melakukan hal gabut. Seperti, tidur, makan, nonton TV, main game online,


dan ganggu adikku yang sedang main handphone di kamar.


Aku berangkat sekolah dengan normal, dan


juga aku membawa kue-kue yang harganya 5000-an. Kemarin sebelum pulang ke rumah


aku menemui temanku yang menjual kue ini, aku bilang kepadanya kalau aku ingin


menjualnya juga di sekolah. Jadi aku mengambil untung 2000 dari setiap kue yang


terjual.  Setelah sampai di sekolah aku


langsung pergi ke kelas, aku menemui Rehan yang sedang duduk di kursi nya. Dia


hanya bermain handphone tanpa melakukan apapun. Yap, hanya bermain handphone.


“Gimana kabar soal lomba programing mu?”


tanyaku, yang menghampirinya dan berdiri menghadapnya.


“Ohh Angga, yoo apa kabar. Tentang lomba,


aku sudah mendaftar dari 3 hari yang lalu, dan lomba akan diadakan pada hari Jumat.


Submissions nya membuat website toko online, dan maksimal membuat 1 minggu,


lalu penilaian selama 3 hari. Terakhir pengumuman 2 hari setelah penilaian,”


kata Rehan, duduk di kursi sambil menatap ke arah ku.


Jadi sistem perlombaan programing nya


seperti itu, lumayan bikin ribet juga.


“kalau gitu kau harus menang, jangan


kalah dengan lawanmu,” kataku.


“Iyaa, kamu juga kejuaraan nanti yaa,”


balas Rehan, dengan wajah yang semangat.


Aku pergi meninggalkan Rehan dan duduk


di kursi ku. Aku menaruh tasku dan saat ingin mengeluarkan buku tiba-tiba


Melani menyapaku dari depan tempat duduknya. “Pagi Angga,” sapanya dengan wajah


yang tersenyum manis. Aku pun membalas sapaan nya Melani dengan senang hati.


“Pagi juga, rupanya kamu udah sembuh ya.”


Kemudian aku melihat pipi nya Melani


memerah saat aku balas sapaan nya, dia ini kenapa selalu saja saat bicara


dengan ku ekspresinya seperti itu, padahal tidak aku apa-apain. Melani langsung


membalas pernyataan ku sebelumnya soal dia sudah sembuh.


“Iyaa aku sudah sembuh total. Oiya,


gimana soal kejuaraan kamu?” tanya Melani penasaran.


“Iyaa sekarang aku sedang


mempersiapkannya, aku sedang ada latihan rutin seminggu 5 kali dan istirahatnya


di hari sabtu dan minggu,” jawabku, dengan santai.


“Oiya Angga, dari tadi aku penasaran


dengan yang kau bawa itu? Apa kue itu untuk di jual? Atau kau emang sengaja


membawanya ke sekolah?” tanya Rehan penasaran, yang melihatku membawa kotak


saat masuk kelas.


“Iyaa ini untuk di jual, aku niatnya


ingin menjualnya dulu di kelas. aku sedang mengumpulkan uang untuk ikut


kejuaraan, soalnya ayah ku sedang kesulitan masalah keuangan,” jawabku.


“Harganya berapa?” tanya Melani


penasaran. Aku pun menjawabnya dengan senang hati. “Harganya cuman 5000-an,


saja kok.”


“Kalau begitu aku pesan 2 Angga,” kata


Melani, dengan wajah tersenyum manis.


“Aku pesan 1 Angga,” kata Rehan.


“Baiklah, terima kasih.”


Syukurlah Melani dan juga Rehan menjadi


yang awal membeli dagangan ku, dan teman kelas ku yang lain melihat mereka


membeli dan penasaran, yang akhirnya membuat mereka juga membeli kue yang aku


jual.


“Mm…enak juga kue ini, Angga,” kata


Melani, menyukai rasa kue yang aku jual.


“Aku pun suka dengan kue ini,” balasku.


“Apa kamu yang membuat kue ini?” tanya


Melani penasaran.


“Tidak, ini sebenarnya dagangan teman


rumah ku. Aku memintanya untuk membuat lebih dan aku yang menjualnya, aku


sendiri tidak bisa membuat kue, aku selalu menolak jika ibuku memintaku


membantu membuat kue.”


“Kenapa tidak mencoba membuatnya?


Padahal tidak terlalu susah membuat kue itu, aku bisa membuat kue, aku bisa


mengajari kamu membuatnya–” kata Melani. “Ahh maksudku jika itu kamu ingin


mencoba membuat nya,” Melani yang malu-malu dan memerah.


“Mungkin kapan-kapan, oke?” kataku,


sambil memberi thumbzup dengan tangan.


“I–i–iyaa.”


Aku tak menyangka dagangan ku habis


dalam waktu yang cepat, teman ku di kelas rupanya menyukai kue buatan teman

__ADS_1


rumah ku. Mungkin jika aku bisa membuatnya sendiri akan lebih bagus, tapi aku


akan belajar membuat kue hanya untuk dimakan diri sendiri saja, dari pada di


jual.


Sepulang Sekolah


Hari ini benar-benar bagus, daganganku


habis. Pasti temanku suka melihat ini. Tetapi, aku merasa ada seseorang yang


sedang membututiku dari belakang, sangat mencurigakan. Dan di saat aku


melanjutkan jalanku menuju parkiran sekolah aku melihat Rehan dan juga Safira


yang berduaan di depan gedung Bahasa.


Mereka terlihat seperti sedang


bermesraan, aku merasa aneh saat Rehan tadi di kelas. Dia hanya bermain handphone


lalu pergi keluar kelas seorang diri, biasanya dia mengajakku jika dia ingin


keluar kelas. apa mungkin karena ini.


Tapi aku harus tetap positif thinking


kepada Rehan, mungkin memang ada keperluan tertentu yang hanya boleh tau mereka


berdua. Jika aku mencampuri urusan mereka, maka sama saja aku ikut campur dengan


urusan orang lain. Kalau gitu aku lanjut jalan saja ke parkiran dan segera


pulang agar aku bisa ber-istirahat sebentar, karena nanti malam aku ada latihan


rutin menjelang kejuaraan.


Aku sudah sampai di parkiran sekolah,


dan menuju ke sepedaku. Namun saat aku perhatikan di atas tempat duduk sepedaku


ada kertas yang di timpa batu kecil. Aku tidak tau kertas apa yang ada di atas


kursi sepedaku, sekilas terlihat seperti surat singkat. Namun aku tidak tau.


Akupun mengambil kertas itu dan membuka


kertasnya, yang ternyata ada tulisan di dalam lipatan kertas itu. Isi tulusan


itu hanya bertuliskan. “SEMANGAT!!”. Sekarang kedua kali nya aku mendapat yang


seperti ini, sebenarnya siapa yang memberi ini kepadaku, aku ingin bertemu


dengan nya.


Kemudian kertas itu aku simpan di dalam


kantong baju, dan segera aku menaiki sepeda dan pulang. Namun sebelum aku


pulang ke rumah aku ingin pergi ke tempat temanku yang menjual kue ini, dia


bernama Bintang. Kami sudah berteman sejak kecil, aku selalu bermain bersama


dengannya saat masih kecil, dia salah satu teman dekatku. Bintang pasti senang


saat melihat dagangan ku habis.


Aku segera pergi ke rumah bintang,


rumahnya tidak jauh dari rumahku, hanya saja kami berbeda gang. Aku ingin


mendengar balasan nya seperti apa saat melihat aku berhasil menjual semua


dagangan kue nya.


Kemudian aku memanggilnya.


“Permisi Bintang!” teriak ku memanggil Bintang.


Tak lama dari aku memanggil nya, dia


keluar dari dalam rumah dan menghampiriku.


“Yoo, sudah pulang sekolah ternyata kau,


bagaimana hasil penjualannya hari ini? Laku atau tidak?” tanya Bintang, yang


menghampiri ku.


Aku mengeluarkan kotak kue dari dalam


tasku, kemudian aku memperlihatkannya tepat di depan wajahnya. “Lihat!!” aku


yang menunjukan kotak kue di depan hadapan wajahnya Bintang. “kau berhasil


menjual semuanya?” Bintang yang tercengang melihatnya.


“Bagaimana aku? Hebat bukan hehe.”


“Aku salut kamu bisa menjual semuanya,


besok mau nambah kue nya atau tidak?” tanya Bintang yang sedang senang.


“Sepertinya aku nambah 2 saja, aku ingin


menambahnya sedikit demi sedikit,” balasku.


“Baiklah, terima kasih yaa Angga,” kata


Bintang. “Tidak masalah, oiya nih hasil penjualannya, uang nya aku simpan di


kau dulu yaa, aku ingin langsung pulang ke rumah.” Kata ku, sambil memberi uang


hasil penjualan.


“Baiklah, hati-hati.”


Melani


***


1 Jam Sebelumnya


Sebelum


pulang sekolah aku ingin menulis sesuatu untuk Angga, karena sekarang dia lagi berjuang


mencari uang untuk kejuaraan dan sedang ada latihan rutin juga. Aku ingin


menulis surat ucapan semangat kepadanya. Tapi enaknya gimana yaa caranya.


Ayo berfikir, ayo berfikir. Aku tau,


Angga kan selalu membawa sepeda jika pergi ke sekolah, jadi aku tulis ucapan


semangat di kertas kecil dan menaruh kertasnya di sepedanya saja. Aku langsung


mengambil buku di dalam tas dan menyobek sedikit kertas dari buku, kemudian aku


tulis menggunakan pulpen dengan tulisan. “SEMANGAT!!”.


Jadi sebelum Angga pulang aku harus


pergi ke parkiran terlebih dahulu. Aku sudah menulis ucapan nya di kertas kecil


dan langsung pergi ke parkiran sekolah lewat gerbang belakang, karena gerbang


belakang di buka hanya pada saat pulang sekolah saja, jika saat pagi semua

__ADS_1


murid wajib melewati gerbang depan.


Saat aku pergi menuju parkiran, aku


melihat Rehan sedang jalan berdua bersama dengan wanita yang Angga ajak jalan


waktu itu di alun-alun. Mereka berdua sedang ngapain yaa, kenapa wanita itu


bisa bersama dengan Rehan? Aku tidak tau. Tapi aku harus cepat ke parkiran,


tadi Angga di kelas sudah siap-siap rapi ingin pulang.


Akupun sampai di parkiran sekolah, lewat


gerbang belakang yang di buka hanya pada saat waktu pulang. Aku mencari sepeda


Angga dari sekian banyak motor yang parkir, dan aku melihat ada sepeda di


bagian pojokan parkiran. Ternyata dia seorang saja yang membawa sepeda ke


sekolah, aku langsung berlari menuju sepedanya.


Sepeda dia cukup bagus juga, mungkin


karena ini dia suka naik sepeda ke sekolah, lagi pula dia juga adalah seorang


atlet yang selalu mengandalkan kaki nya untuk bertarung. Kertas ucapan sudah


berada di genggaman ku, namun aku bingung bagaimana menaruhnya. Sepeda dia


bukanlah tipe yang memiliki keranjang, aku harus berfikir bagaimana menaruh


surat ucapan ini.


Aku melihat bentuk tempat duduk sepedanya


Angga, bentuknya gepeng dan bila di taruh barang kecil di atasnya, barang itu


tidak akan jatuh dengan mudah. Itu akan bagus bila aku menaruhnya di atas


tempat duduk sepedanya, namun masalahnya yang akan aku taruh adalah sebuah


kertas kecil. Jika kertas itu di taruh di atas situ, mungkin kertas ini akan


terbang terbawa angin yang berhembus.


Aku mencari solusi lagi bagaimana


caranya kertas ini tidak jatuh dari atas situ bila terkena angin. Aku mencari


cara dengan melihat ke kanan, kiri dan juga bawah. Namun ketika pandangan ku ke


bawah, aku melihat ada batu kecil. Sepintas aku memiliki ide untuk menaruh batu


itu tepat di atas kertas ucapan, jadi kertas itu tidak akan terbang bila ada


angin yang berhembus.


Aku mengambil batu itu dengan tangan


kiri ku, kemudian menaruh kertas ucapan ini di atas tempat duduk sepeda Angga,


lalu menimpanya dengan batu kecil agar tidak jatuh dari sana. Dengan begini


selesai, jadi aku tidak perlu khawatir kertas ini akan terjatuh dari atas


tempat duduk. Aku harus segera pergi dari sini sebelum Angga sampai sini,


jangan sampai Angga melihat ku disini dan dekat dengan sepedanya.


Aku langsung berlari dari tempat parkiran


untuk menjauh. Saat aku ingin mengambil tas di kelas, aku melihat Angga sudah


turun dari kelas dan sedang berjalan menuju parkiran melewati gerbang belakang.


Sementara itu aku membuntuti dia terlebih dahulu sebelum pergi ke kelas untuk


mengambil tas.


Aku mengikutinya, aku tidak tau apakah


dia menyadari kehadiran ku disini, aku harap tidak. Di saat aku mengikutinya


dari belakang, tiba-tiba dia berhenti dari jalannya dan melihat Rehan bersama


dengan wanita yang bersama Angga saat di alun-alun.


Wajah Angga tidak terlihat bagus saat


melihat pemandangan itu, aku memperhatikannya dari belakang dan melihat


wajahnya. Tapi dia tidak menghampiri Rehan, melainkan dia melanjutkan jalanya


menuju parkiran, akupun juga langsung lanjut jalan untuk mengikutinya.


Akhirnya sampai juga di parkiran. Angga


menyadari ada sebuah kertas di atas tempat duduk sepedanya, sepertinya dia


penasaran dengan kertas itu. Angga pun membuka kertas ucapan semangat dari ku


dan membaca isinya, aku melihat ada senyuman kecil dari mulutnya saat membaca


isinya.


Hati ku terasa berbunga-bunga saat


melihatnya, tapi sayangnya dia tidak tau siapa yang mengirim itu. Tidak apalah,


aku juga belum berani mengatakan perasaanku padanya, jadi sekarang lebih bagus


diam-diam saja sampai waktunya tiba. Setelah melihat itu aku langsung pergi


dari situ dan menuju ke kelas dengan keadaan hati yang begitu senang.


Aku berjalan menuju kelas dengan wajah


tersenyum dan berseri-seri. Kemudian di jalan aku bertemu dengan Putri yang


sedang menuju gerbang depan sekolah, Putri melihat ku dengan keadaan bingung.


Putri yang bingung pun bertanya.


“Kamu kenapa Mel? Sepertinya sedang


senang sekali,” Putri penasaran.


“Tidak apa-apa kok, aku seperti biasanya


kok,” kataku dengan wajah tersenyum. Mungkin dalam sudut pandang Putri aku


terlihat sangat aneh, karena jalan sambil senyum-senyum sendiri, terlihat


seperti orang yang tidak waras.


“Melani kenapa yaa? Tidak seperti


biasanya,” suara hati Putri karena bingung dengan Melani yang tiba-tiba seperti


itu.


Aku dengan santai jalan sambil tersenyum


menuju kelas untuk mengambil tas dan pulang, aku pun tanpa sadar telah


menghiraukan Putri yang kebingungan. Aku akan ceritakan ini kepada Jeni, pasti


Jeni juga akan senang dengan cerita yang akan aku ceritakan ini.

__ADS_1


__ADS_2