Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 1


__ADS_3

Namaku Angga Saputra, kelas 11 di sekolah swasta bernama Garuda


Abadi, salah satu sekolah paling populer di Jawa Barat, tepatnya sekolah ini


berada di daerah Bekasi. Ini adalah semester pertama untuk ku di kelas 11, aku


berasal dari keluarga yang berkecukupan, aku masuk sekolah swasta itu karena


beasiswa.


Aku bangun dari kasur, aku mencoba untuk meregangkan seluruh


tubuhku, sungguh enaknya. Wajahku masih lesu namun saat aku melirik ke arah jam


dinding, HAH?! Sudah pukul 07:00. Gawat aku akan terlambat di semester pertama


ku, aku loncat dari kasur dan berlari sekencang kencangnya menuju kamar mandi.


“Angga bantu ibu sebentar angkat galon ini ke belakang,” ucap ibuku


saat melihatku berlari.


“Maaf bu aku kesiangan, aku harus segera mandi dan berangkat


sekolah,” jawabku dengan nafas ter-engah engah.


“Dasar anak ini,” ucap ibuku sambil membuang nafas.


Aku akan terlambat, aku akan terlambat, aku akan terlambat. Padahal


ini hari pertama di semester pertama, aku membuka pintu kamar mandi dengan


cepat lalu menutup nya dengan kencang.


“Angga pelan-pelan! Kau mau menghancurkan pintu kamar mandi?!”


teriak ayahku yang mendengar gebrakan pintu.


Kurasa mandi hari ini tidak perlu bersih-bersih, jika aku lama


hanya untuk mandi sudah pasti aku akan terlambat. Aku ambil sikat gigi dan


menyikat gigiku, aku menghadap kaca dan melihat gigiku yang sudah bersih, oke


bagus! Kemudian aku sabunan dan mencuci wajahku, dan aku keluar kamar mandi


berlari menuju ke kamar, untuk mengenakan seragam sekolah.


Ayo cepat, aku masukan buku-buku ke dalam tasku akan tetapi aku


tidak tau buku apa yang dimasukan, karena saking buru-burunya.


“Angga kamu gak sarapan dulu?” tanya ibuku sambil mengetuk pintu


kamarku.


Aku sudah selesai berbenah dan siap untuk pergi ke sekolah, dan


membuka pintu kamar.


“Maaf bu aku buru-buru, aku akan makan di sekolah nanti,” jawabku.


Aku berlari menuju pintu keluar dan segera pergi ke sekolah dengan


menaiki sepeda. Kenapa aku bisa terlambat seperti ini, atau mungkin karena aku


lupa mengerjakan tugas sekolah dan mengerjakan tugasnya saat malam itu juga.


Intinya aku begadang!!!


Ayo sedikit lagi sampai ke parkiran sekolah, akhirnya sampai juga


di parkiran. Aku parkirkan sepedaku dan langsung berlari menuju gerbang


sekolah. Ahh tidak, “Pak Edi!! Tunggu jangan di tutup dulu.” Pak Edi adalah


satpam di sekolahku, dia melihatku dengan keadaan bingung.


“Ohh Angga, tumben sekali kau hampir terlambat,” ucap Pak Edi


dengan wajah bingung.


“Aku kesiangan,” jawabku.


“Mau minum? Bapak baru beli, mau minum dahulu?”


“Kebetulan sekali, terima kasih pak, bapak memang baik,” sambil


mengambil air dari tangan Pak Edi.


“Kamu sisiran gak sih? Rambut mu kayak monyet berbulu tebal,” ejek


Pak Edi.


“Jahat sekali bapak, nih pak airnya, aku mau masuk dulu ya pak,


terima kasih pak,” ucap ku.


“Dasar anak muda.”


Aku kembali berlari menuju ruang kelas, karena sebentar lagi akan ada


upacara bendera. Aku tidak mau baris di bagian orang-orang terlambat, terakhir


aku terlambat upacara, aku menjadi bahan candaan temanku di kelas, oleh karena


itu aku tidak mau terlambat upacara lagi, lagi pula itu membuatku malu.


Aku berlari melewati ruang guru, aku melihat ada seorang wanita.


Sepertinya dia murid baru pindahan, tapi aku tak peduli, aku harus cepat


menaruh tas di kelas. Akhirnya aku berhasil sampai di kelas, kemudian bel


upacara berbunyi, untung aku tepat waktu.


“Kenapa Angga? Sepertinya kesiangan nih,” ejek temanku.


Dia adalah temanku di kelas bernama Rehan, dia adalah orang kaya.


Karena sekolah ini rata-rata di penuhi oleh kalangan atas, sedangkan aku bisa


bersekolah di sini karena beasiswa sampai lulus. Rehan adalah orang yang cukup


pandai dan suka sekali dengan pemrograman.


“Aku semalam begadang mengerjakan tugas,” jawabku.


“Lebih baik kita pergi ke lapangan, sebentar lagi upacara mau di


mulai,” ajak Rehan.


“Oke deh, ayo.”


Setelah menaruh tasku di kursi, aku dan juga Rehan pergi ke


lapangan untuk melakukan upacara bendera.


Akhirnya upacara selesai juga, lumayan pegal kakiku, mulai dari


berangkat sekolah sampai selesai upacara kakiku belum istirahat sama sekali.


Duh panjang sekali jalan menuju kelas, kaki ini sudah ingin berhenti gerak.


“Kenapa? Kaki mu pegal?” tanya Rehan.


“Iyaa, aku belum istirahat sama sekali, kakiku pegal sekali,”


jawabku.


“Mau aku gendong?” Rehan yang sudah siap jongkok di depanku untuk


memberi tumpangan.


“Tidak! Yang benar saja, aku masih kuat untuk jalan ke kelas.”


“Iyalah harus kuat kau kan Atlet taekwondo masa tidak kuat.”


Hmm aku tak mau terlambat lagi, ini melelahkan aku harus terburu-buru


menuju ke sekolah. Aku lebih suka santai saat bersepeda pagi menuju ke sini,


setelah sampai kelas aku ingin melunjurkan kaki yang kaku ini.


“Ahh akhirnya kita sampai di kelas,” ucapku dengan perasaan lega.


Waktunya melunjurkan kaki ini. Oiya Rehan ini duduknya nomor 2


dari depan bagian kanan, sedangkan aku nomor 2 dari belakang bagian kiri. Rehan


menghampiri ke mejaku dengan jalan santai.


“Memangnya kau semalam begadang sampai jam berapa?” tanya Rehan.


“Aku begadang sampai jam 2 pagi, aku selesai mengerjakan tugas


sekolah lalu aku pergi tidur, dan saat bangun aku terkejut sudah jam 7 pagi,”


jawabku.


“Kau ini, kerjakan tugas kenapa harus mendadak seperti itu, kan

__ADS_1


lebih enak mengerjakan tugas di cicil tapi di kerjakannya jauh hari.”


“Iyaa, aku lupa mengerjakan tugas, karena asik liburan.”


“Lagian sekolah mana yang memberi tugas saat liburan,” ucap Rehan.


“Yaa begitulah, nikmati saja.”


Guru jam pertama masuk ke kelas, tapi ada seseorang di belakangnya.


Ahh dia kan, murid yang tadi aku lihat saat berlari melewati ruang guru. Kenapa


teman kelasku yang cowok memandang wanita murid baru dengan tatapan aneh


seperti itu. Hmm aku tau, sepertinya Rehan juga melihatnya.


“Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid pindahan,


dia adalah anak dari investor terbesar bagi Jawa Barat,” ujar guruku.


“Selamat pagi, namaku Melani Sarina. Aku biasa di panggil Melani,


aku murid pindahan dari sekolah Golden Street di Jakarta,” ucap Melani sambil


memperkenalkan diri.


Golden Street?! Itu adalah sekolah nomor 1 di Jakarta bahkan nomor


1 di Indonesia, kenapa dia pindah sekolah ke sini? Bukannya lebih bagus di sana.


Yaa aku tau sekolah Garuda Abadi dan Golden Street sama-sama sekolah dengan


akreditasi A. Tapi kalau soal populer, Golden Street adalah sekolah yang sangat


populer.


“Aku harap kalian bisa berteman baik denganku,” ucap Melani.


“Iyaa tenang saja, kami pasti akan berteman baik denganmu, bila


ada apa-apa bilang kami saja,” jawaban dari beberapa murid lelaki yang lain.


He…mereka ini kenapa antusias sekali menyambutnya, dan kenapa


Rehan malah ikut-ikutan dengan wajahnya yang sangat senang. Aku baru liat wajah


seperti itu dari Rehan.


“Baiklah Melani kamu bisa silahkan duduk,” ucap guruku.


“Melani duduk di samping sini ajah ... Melani duduk di depanku


sini,” suara anak lelaki di kelasnya Angga.


“Mereka ini kenapa sih?” kataku di dalam hati dengan wajah polos.


Karena meja depan Angga kosong, Melani memilih meja yang berada di


depan Angga.


Hmm. Jadi dia duduk di depanku, padahal sudah ada yang


menawarkannya tempat duduk, yaa terserah dia saja. Aku menyadari tatapan dari


para lelaki di kelas, aku menoleh dengan wajah takut. Kenapa mereka ini? Kenapa


menatapku dengan tatapan seperti itu, seolah-olah mereka sedang berkata,


“Akan kubunuh kau, Angga.”


Wait, kenapa Rehan juga memandangku seperti itu, sepertinya ingin aku


tendang saja wajah Rehan jika dia memasang ekspresi seperti itu barusan.


“Hai, namaku Melani, nama kamu siapa?” ujar Melani yang berada di


depanku.


Aku kaget tiba-tiba Melani menanyakan itu, padahal kondisiku


sedang di lihat dengan tatapan mengerikan oleh para lelaki di kelasku. Dari


pada aku kacangin Melani, lebih baik aku jawab saja, walaupun tatapan lelaki di


sebelah kananku menakutkan.


“Oh iya, namaku Angga, salam kenal.”


“Ohh Angga, nama yang bagus,” ucap Melani sambil memasang wajah


senyum manis nya.


Kenapa dia? Apa dia orangnya murah senyum? Apalah itu yang penting


orang-orang yang baik.


“Oi Angga kau nanti pulang lewat mana hah?!” ucap salah satu teman


lelakiku di kelas dengan tatapan seperti pembunuh.


Dan kenapa Rehan malah ikut-ikutan seperti itu. Apa mukamu mau aku


tendang?


Waktu Jam Istirahat.


***


 Waktu yang di sukai oleh para


siswa dari tingkat SD sampai SMA adalah waktu jam istirahat. Karena tadi buru-buru


aku tidak sempat membawa bekal makan siang, kalau begini mau gak mau aku


membeli makanan di kantin, dan lagi makanan di kantin sekolah ini mahal-mahal.


“Kamu tidak makan, Angga?” kata Melani yang berada di depanku.


“Aku lupa membawa bekalku, karena tadi aku buru-buru.”


“Aku membawa bekal siang, apa kamu mau makan bersama?” katanya.


“Tidak, itu makan siangmu, kau juga pasti lapar,” kataku.


“Tidak usah malu, ayo kita makan bersama,” katanya sambil membalikkan


bangkunya menghadapku.


Saat aku lihat isi kotak makan siangnya, wah dia ternyata membawa


seafood. Itu daging lobster, jadi ini makan siang orang kaya. Dia memberiku


garpu untuk makan dan dia menggunakan sendoknya. Saat aku coba makan siang


miliknya, rasa ini seperti makanan restoran bintang 5, padahal aku sendiri belum


pernah ke restoran bintang 5. Boleh aku katakan dengan jujur makanan ini sangat


enak.


Kurasa dia memang orang yang sangat baik, saat tadi sedang pembelajaran


Putri lupa membawa alat tulisnya, Melani dengan senang hati meminjamkan alat


tulisnya. Putri adalah teman wanita di kelasku yang duduk di depan Melani.


“Oiya, Angga kamu tadi kenapa bisa hampir terlambat?” tanya Melani


dengan pipi kemerahan.


“Uh…aku tadi kesiangan, saat bangun tidur aku tak sadar sudah jam


7 pagi, jadinya aku buru-buru,” kataku.


“Mm…saat pulang sekolah kamu ada kegiatan tidak?” tanya Melani,


masih dengan pipinya yang memerah.


“Kalau pulang sekolah sampai jam 19:00 aku masih ada waktu,


setelahnya aku ada kegiatan, memangnya ada apa?” jawabku dan menanyakan balik.


“Kamu mau menemaniku ke perpustakaan tidak setelah pulang sekolah?


Soalnya aku masih belum hafal sekolah ini,” pinta Melani dengan sedikit rasa


malu.


“Ohh jadi begitu, aku bisa menemanimu ke perpustakaan setelah jam


pulang sekolah,” kataku.


“Benarkah? Terima kasih!” kata Melani dengan senyum manis dan


pipinya yang memerah.


Tapi tunggu dulu, aku seperti merasakan ada yang sedang mengawasi


kami. Aku menolehkan kepala ku mengarah pintu kelas, yang ternyata teman lelakiku


sedang mengintip dari selah pintu yang terbuka. Kenapa tatapan mereka seperti

__ADS_1


ingin membunuhku.


Dan juga, kenapa Melani meminta bantuan kepada ku? Bukannya masih


ada wanita di kelas ini yang bisa menemaninya. Jika aku menolaknya, aku merasa


tidak nyaman karena dia sudah membagi bekal makan siangnya kepadaku. Tak apalah


hanya sehari ini saja dari pada dia nanti tersesat kesana-sini.


Lalu kemudian temanku yang berada di pintu tadi masuk ke dalam dan


menghampiri aku dan juga Melani.


“Angga bukannya kamu sudah berjanji dengan kami akan ke kantin?”


kata temanku.


“Janji? Sejak kapan aku janji pergi ke kantin dengan kalian?”


kataku dengan bingungnya.


Mereka ini mau ngapain, aku sedang menikmati makanan yang enak,


jarang-jarang aku makan seafood. Apa mereka tidak suka melihat temannya makan


makanan yang enak sekali saja.


“Ayo Angga kita pergi ke kantin bersama, tenang kamu akan kami


jajanin kok,” sambil menarikku dan dengan wajah yang merasa tidak bersalah.


Aku di tarik oleh teman-temanku keluar dan salah satu temanku


berkata kepada ku,


“Bagaimana kau bisa dekat dengan Melani?” tanya temanku dengan


wajah mencurigakan.


“Aku hanya duduk lalu dia menawarkan makan siangnya,” jawabku.


“Lalu kenapa kau menerimanya?” tanya Rehan.


“Yaa…karena isi makan siang itu adalah lobster jadi aku terima,


kan aku jarang-jarang bisa makan lobster, dan juga lobsternya enak sekali,”


kataku dengan wajah tersenyum.


“Jadi kau hanya suka makanannya,” ucap temanku dengan suara pelan.


“Tentu,” kataku.


Kenapa temanku wajahnya seperti menyesal setelah mendengar


penjelasanku, apa ada yang salah dari penjelasan aku tadi? Aku hanya berkata


sejujurnya, memang lobster yang Melani bawa untuk makan siangnya sangat enak.


***


Waktunya jam pulang, ini yang kutunggu-tunggu karena aku bisa


cepat pulang dan rebahan sebentar, kemudian melanjutkan kegiatan. Aku masukan


buku-buku dan juga alat tulis yang lain ke dalam tas, aku mengecek kolong


mejaku, jangan sampai ada barang yang tertinggal di sekolah karena aku malas


untuk mengambilnya kembali di sekolah.


“Mm…waktunya pulang,” kataku sambil mengeluarkan nafas lega.


Aku berjalan menuju pintu kelas kemudian setelah aku buka pintu,


ada Melani menunggu di samping pintu sambil bersandar di tembok dan memejamkan


matanya. Dan disitu aku baru ingat aku sudah berjanji kepada Melani akan


menemaninya ke perpustakaan selepas pulang sekolah. Tapi apakah dia benar tidur


sambil berdiri?


“Melani?” sahutku ke Melani yang sedang memejamkan mata seperti


orang yang tertidur.


“Ohh Angga, aku sudah menunggu mu disini kenapa kau lumayan lama?”


katanya sambil menguap.


“Aku tadi sedang beres-beres dahulu, apakah kita jadi pergi ke


perpustakaan?” tanyaku.


“Tentu saja ayo,”


Aku berjalan di Lorong sekolah bersama Melani menuju perpustakaan,


rebahanku jadi tertunda karena mengantarkan Melani. Kenapa harus aku yang dia


pinta, padahal dia bisa mengajak Putri yang duduk tepat di depan dia.


“kau tau?! Kau adalah orang pertama yang aku ajak kenalan di kelas


baru setelah itu Putri,” katanya.


“Sejak aku SD sampai sekarang aku belum pernah mempunyai teman,”


lanjut katanya.


“Lalu saat kau bersekolah di Golden Street, apa kau tidak punya


teman?” tanya ku karena penasaran.


“Tidak sama sekali, mereka menjauhiku karena aku anak dari


investor terkaya di Jawa Barat bahkan di Indonesia, mereka semua menganggap aku


ini berbeda dengan mereka, mereka tidak terlalu nyaman jika aku bergaul dengan


mereka, hanya karena aku orang kaya,” ujar Melani dengan wajah murung.


“Tapi bukannya Golden Street adalah sekolah dengan rata-rata siswa


nya orang kaya?” tanyaku.


“Iya memang banyak, tapi lebih banyak anak berprestasi di situ,”


“Jadi kau pindah ke sini karena ingin mencari teman?” tanyaku


lagi.


“Iyaa,” jawabnya.


Hmm orang kaya memang beda, aku sekolah disini karena aku mendapat


beasiswa, aku beruntung bisa sekolah disini, karena Garuda Abadi merupakan


sekolah dengan biaya yang mahal. Sedangkan dia pindah ke sini hanya untuk


mencari teman.


“Dan aku berhasil berbaur denganmu saat aku berkenalan denganmu,


dan Putri juga ingin berbaur dan berteman denganku, itu cukup membuat ku senang,”


katanya.


“Lalu kenapa kau memilihku untuk menemanimu ke perpustakaan?”


tanyaku.


“Umm…itu karena aku…aku…,” Melani sambil memalingkan wajahnya dan


memerah di pipinya.


“Aku…terserah aku mau mengajak siapa ajah! Kebetulan aku sudah


bilang duluan kepadamu jadi ya sudah,” lanjut katanya sambil menghadap ke arahku.


Mm, pipinya Melani memerah, apa dia sedang tidak enak badan?


“Umm…pipi mu memerah, apa kau sedang sakit?” tanyaku karena


penasaran.


“Ahh…tidak ini hanya kebiasaan ku saja kok,” kata Melani sambil


tersenyum malu.


“Ohh begitu baguslah, aku kira kamu sakit.”


Saat aku berjalan menuju perpustakaan bersama Melani melewati lorong,


aku menoleh kepalaku ke arah jendela. Aku melihat ada seorang wanita berdiri di


dekat pohon jambu yang lebat, sedang apa ya dia di sana? Wanita itupun menoleh ke


arah kami, aku melihat wajahnya, sangat cantik wanita itu, kira-kira dia berada

__ADS_1


di kelas mana yaa.


__ADS_2