
Angga – Melani
***
Cuaca terus
cerah sampai sore hari menyelimuti sekolah Garuda Abadi. Sinar matahari yang
masuk menerangi ruang kelas, memberi kesan hangat di dalamnya. Dan pada siang
hari sinar matahari tidak begitu panas, justru panas matahari seperti
menyesuaikan dengan kondisi.
Pada saat jam
istirahat siang, lagi-lagi Angga lupa membawa bekal makan siangnya. Dia hanya
terdiam di kelas tidak melakukan apapun, hanya diam. Sedangkan teman kelas
cowonya sudah pergi ke kantin termasuk Rehan, Angga berfikir untuk menyimpan
uang jajannya dari pada di jajankan di tempat yang mahal itu.
Melani yang
melihat itu, melihat Angga sedang sendirian di bangkunya karena tidak membawa
bekal makan siang. Iapun langsung menghampiri Angga di sana sambil membawa
bekal makan siangnya, Melani berniat untuk saling berbagi bekal makan siangnya.
Melani
mendekati Angga dengan wajah penuh senyum bagaikan mentari pagi, Angga yang menyadari
kedatangan Melani, langsung merespon nya dengan melihat ke arah Melani.
“Kamu lupa
membawa bekal makan siangmu lagi yaa?” tanya Melani dengan senyum indahnya.
“Iyaa aku
lupa membawanya,” kata Angga, “Aku tadi saat berangkat merasa ada yang tertinggal,
namun aku tidak tau apa itu. Saat aku sampai di sekolah tepatnya saat sampai di
kelas, aku menyadari kalau aku lupa membawa bekal makan siangku.”
“Kalau begitu
ayuk makan bersama, pakai bekal makan siangku saja.” ajak Melani.
“Kamu yakin?”
Angga dengan nada mencoba meyakinkan.
“Iyaa, aku
tidak apa berbagi bekal makan siangku denganmu. Aku juga sedang diet,” Melani
yang sedikit kemerahan pada wajahnya.
“Iyaa iyaa,
terima kasih yaa.”
Angga dan
Melani akhirnya makan bersama di kelas, dengan Melani yang menawarkan bekal
makan siangnya untuk di makan bersama. Di saat seperti itu, Melani mengingat
saat pertama kalinya dia bertemu Angga kembali setelah sekian lamanya sejak
kecil dulu.
Sedangkan
Angga mengingat saat pertama kalinya ia lupa membawa bekal makan siangnya, dan
tiba-tiba anak baru di sekolahnya menghampirinya untuk makan bersama
menggunakan bekal makan siangnya. Yang pada akhirnya mereka makan bersama.
Mereka berdua
saling mengingat masa-masa yang menurut mereka patut untuk di ingat, saling tersenyum
saat berhadapan. Mereka berdua sangat bahagia, seperti ada aura positif
menyelimuti mereka ketika mereka sedang makan siang bersama.
Waktu
Pulang Sekolah
Waktu pulang
sekolah tiba, mereka jalan bersama menuju gerbang depan sekolah. Angga seperti
sedang mengantar Melani ke gerbang depan, yang padahal Angga bisa langsung
pergi ke pintu belakang untuk menuju ke parkiran. Namun dia memilih lewat
gerbang depan sekalian mengantar Melani ke Jeni.
Mereka jalan
bersama mendekati pintu gerbang sekolah depan, di bawah sinar senja sore hari
yang begitu membuat hati tenang ketika melihatnya. Bahkan sampai bisa tercium
aroma-aroma ketika sore hari menjelang malam.
Ketika mereka
sedang berjalan menuju gerbang, seketika ada adik kelas wanita yang menghadap
mereka dan mendekati mereka berdua. Orang yang datang itu adalah salah satu
adik kelas wanita yang paling populer di angkatannya, Melani dan Angga
kebingungan kenapa dia seperti menghalangi jalan mereka ke gerbang depan.
Adik kelas
itu mendekati mereka, ia berdiri tegak di depan mereka kemudian memejamkan
matanya sambil berkata.
“Kak Angga,
aku menyukaimu,” dengan tegasnya ia berbicara sambil terpejam matanya, wajahnya
sedikit memerah karena malu.
“Heh?
E–e–em…ba–bagaimana bi–bisa?” Angga yang bingung.
“Aku
menyukaimu, aku selama ini memperhatikanmu. Bahkan aku datang ke tempat
__ADS_1
pertandinganmu kemarin untuk mendukungmu, aku tau juga hasil akhirnya, aku
harap kak Angga tidak berputus asa karena hal seperti itu. Aku menyukai kak
Angga dari semester awal masuk ke sekolah, aku mengagumi kakak. Selama ini aku
selalu menahan diri untuk menyampaikan perasaanku kepada kak Angga, dan
akhirnya sekarang aku berani mengatakan apa yang ingin aku katakan. Kumohon
terimalah perasaanku ini kak Angga, kakak pasti tau bagaimana rasanya menahan
rasa yang begitu lama, kan?”
“Heh?” Angga
semakin bingung dengan kondisinya.
Dia
benar-benar terkejut adik kelas itu mendekatinya untuk menyampaikan perasaan
sukanya yang terpendam lama. Dia kembali mengingat sama seperti Rehan yang
menyukai Safira, namun Rehan selalu menahan perasaannya. Jadi Angga mengerti
perasaan adik kelas itu, terlebih adik kelas itu adalah anak paling populer di
angkatannya, karena paras wajahnya yang cantik.
Dan di
kondisi seperti itu tiba-tiba handphone Angga berbunyi, tanda bahwa ada sebuah
pesan masuk ke nomornya. Dia bilang kepada adik kelas itu. “Em…sebentar,” Angga
yang mengambil handphone dari saku celananya. Dia melihat ada pesan dari ibunya
yang bertuliskan.
Oiya Angga
ibu lupa memberi tau kepadamu tentang bagaimana kamu bisa mengikuti kejuaraan
kemarin. Jadi saat itu Melani bilang kepada ibu dan kepada yang lain, kalau
dialah yang membayar biaya untuk kejuaraanmu. Jadi jangan lupa untuk berterima
kasih kepadanya, berkat dia kamu bisa mengikuti kejuaraan kemarin. Pesan dari ibu Angga.
Angga
benar-benar terkejut melihat isi pesan dari ibunya, dia seperti tidak percaya.
Dia kira yang mengikutinya kejuaraan adalah pelatih Markus, namun pada kenyataannya
Melani lah yang membayar biaya untuk mengikut sertakan Angga dalam kejuaraan.
Kemudian Angga melihat ke arah Melani yang
menundukkan kepalanya dengan wajah yang begitu sedih. Lalu Melani jalan pergi
menjauh dari Angga dan adik kelas itu, setelah itu dia berlari begitu cepat
untuk menjauh. “Melani!!” teriak Angga.
“Kak Angga
dia kenapa? Lalu bagaimana jawabanmu tentang perasaanku ini,” ujar adik kelas
itu.
Apa-apaan
orang ini, dia ngapain menyatakan perasaan kepadaku dalam keadaan seperti ini. Dalam hati Angga.
Angga mengingat sesuatu pada kejadian sebelum-sebelumnya, ketika Melani memberi
makan siangnya padahal baru saja kenal pada saat itu, kenapa Melani memilih
buku Aku Cinta Kamudi perpustakaan, surat dari M saat di parkiran sekolah dan di kelas
saat ada kado kecil di mejanya, Melani yang mencoba menenangkan Angga saat
melihat Rehan menyatakan perasaannya kepada Safira, dan yang terakhir saat dia
menenangkan Angga ketika di pertandingan saat dia kalah.
Kemudian
Angga langsung berlari mengejar Melani dan meninggalkan adik kelas itu tempat.
“Kak Angga mau ke mana kakak?!” namun tidak ada jawaban sama sekali dari Angga.
Bodohnya aku
tidak mengingatnya, jadi itu tujuan Melani. Dia mencoba menyatakan perasaannya
tetapi dia tidak berani melakukannya, jadi dia menggunakan caranya sendiri. Dia
orang yang selalu membantuku, kenapa kamu tidak langsung bilang kepadaku saja
Melani. Kamu bilang saat itu akan selalu menemaniku, kan? Kenapa kamu
bisa-bisanya bilang begitu tanpa mempedulikan perasaanmu sendiri. Saat aku
bilang aku jalan bersama Safira, kamu menahan perasaan itu dengan kuatnya
padahal kondisimu saat itu sedang sakit. Aku memang tidak bisa di maafkan.
Dimana kamu Melani? Kata hati Angga yang sedang berlari mencari Melani.
Ketika dia
sedang berlari Angga kembali mengingat flashback saat masih kecil saat bertemu
Melani, Angga membantunya mencari orang tua Melani. Dan yang terakhir saat di
taman ketika mereka sedang bermain bersama. Angga kembali mengingat pada saat
itu.
“Maksud bergandengan tangan ini, kita akan selalu bersama
selamanya, layaknya Raja dan Ratu dalam kartun TV. Jika ada yang membuat kita
berpisah jauh maka hati kecil kita akan menuntun kita untuk bersama kembali
selamanya.”
“Bersama selamanya?”
“Iyaa,” kataku, sambil mengangguk kan kepala dan tersenyum manis.
Maafkan aku
Melani aku tidak mengingat pada saat dulu, tapi kamu mengingatnya dengan begitu
kuat. Kamu menahan perasaan itu bertahun-tahun, dan saat kamu pindah ke sekolah
Garuda Abadi aku tidak mengenalmu sama sekali, aku melupakanmu, Maafkan aku
__ADS_1
Melani. Kata hatinya Angga.
Angga terus
mencari ke mana perginya Melani, karena saat Melani pergi dari situ dia tidak
pergi ke arah gerbang depan. “Ke mana perginya kamu, Melani?” ujar Angga
terengah-engah. “Apa jangan-jangan kamu di sana.”
Angga berlari
menuju tempat yang dia maksud, dia berlari begitu cepat, benar-benar sangat
cepat. Bahkan napasnya tidak beraturan, karena saking terburu-burunya. Dia
ingin segera cepat-cepat bertemu dengan Melani. Akhirnya Angga sampai di depan
sebuah pintu, kemudian dia membuka pintu itu dan benar Melani sedang ada di
sana. Tempat itu adalah atap gedung IPA.
Melani sedang
menangis terisak-isak sambil membelakangi Angga. Hatinya seperti sangat amat
hancur, dia kembali mengingat kata-kata Jeni kepadanya sebelum berangkat ke
sekolah tadi pagi. Dia bingung untuk memutuskan.
“Melani?”
kata Angga yang melihat Melani di sana sedang menangis, “Maafkan aku, aku
selama ini tidak mengingatnya sama sekali. Seketika aku mengingat kembali apa
yang telah terjadi, kumohon maafkan aku.”
“Kamu tidak
perlu meminta maaf, ini juga karena keegoisan saja. Kamu tidak perlu meminta
maaf. Aku hanya berharap kamu kembali mengingat aku kembali, aku senang
sekarang kamu sudah mengingatnya. Di mana saat itu kamu datang membantuku
mencari orang tuaku, dan bermain bersamaku di taman, aku senang kamu
mengingatnya.” Kata Melani berbalik badan sambil tersenyum, dengan air mata
yang mengalir membasahi pipinya.
*
Sang wanita sedang berdiri di atas atap sekolah melihat sunset
matahari, memandang sunset membuat hatinya begitu tenang. Dia ingin menenangkan
sendiri di sana, dia berharap tidak ada orang yang datang ke sana.
Di samping itu sang cowok sudah tidak lagi dengan pacarnya di
karenakan suatu hal, diapun langsung pergi ke atap sekolah untuk menenangkan
pikirannya yang sedang kacau. Sang cowok tidak tau kalau di atas juga sedang
ada sang wanita.
Ketika sang cowok membuka pintu ke atap sekolah, dia melihat ada
sang wanita di sana, dan sang wanita berbalik arah dan melihat ada sang cowok
yang datang sendiri ke sana. Sebelumnya sang wanita sudah mengetahui soal sang cowok
sudah putus dengan pacarnya.
Sang cowok melihatnya di sana dan berkata “Bolehkah aku di sana?”
“Tentu saja,” jawab sang wanita dengan gugupnya. Di samping itu sang cowok juga
mengetahui kalau sang wanita yang selalu memperhatikannya dari belakang.
“Jadi kamu menikmati sunset juga yaa,” kata sang cowok.
“Iyaa, a–aku suka di sini,” jawab sang wanita.
Sang wanita benar-benar canggung sekaligus gugup saat berada di
dekat sang cowok, namun sebaliknya sang cowok bingung yang melihat sang wanita
begitu grogi. “Ada apa, apa kamu baik-baik saja,” tanya sang cowok.
“Iyaa aku baik-baik saja,” jawab sang wanita dengan wajah sedikit
memerah, “Kalau boleh mengatakan sesuatu ingin bilang kepadamu, Aku
mencintaimu.”
Kemudian setelah itu sang wanita saking malunya, dia langsung
pergi meninggalkan sang cowok. Sang cowok tersipu malu saat mendengarnya.
“Selalu saja ada hal yang tidak terduga,” gumam sang cowok.
Pada akhirnya sang wanita berani menyatakan perasaannya kepada
sang cowok, walaupun setelah itu dia berlari meninggalkan sang cowok karena
malunya.
*
“Angga, izinkan aku mengatakan sesuatu
kepadamu untuk menghilangkan rasa yang ku pendam selama ini. Angga aku
mencintaimu. A–aku benar-benar mencintaimu,” kata Melani sambil menangis.
“Aku juga mencintaimu, Melani,” balas
Angga, yang tiba-tiba sudah berada di depan Melani kemudian memeluknya erat-erat.
Melani benar-benar terkejut dengan
balasan Angga dan Angga yang tiba-tiba memeluknya begitu erat. “A–Angga? Kamu
serius?” Melani yang terkejut.
“Maafkan aku selama ini, aku tidak
menyadari bahkan aku melupakan janji kita. Kamu adalah Ratuku dan aku adalah
Rajamu. Bukankah seperti itu?”
Melani kemudian menangis dalam pelukan
Angga, menangis begitu sangat kencang sambil menempelkan wajahnya di dada
Angga, dengan begitu suara tangis kencang Melani tidak terdengar sampai jauh.
Melani menangis bahagia ketika Angga berkata seperti itu. Bagi Melani ini
bagaikan mimpi yang mustahil di raih.
Melani begitu sangat-sangat senang.
__ADS_1
“Aku mencintaimu.”
***