Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 38


__ADS_3

Angga – Melani


***


Cuaca terus


cerah sampai sore hari menyelimuti sekolah Garuda Abadi. Sinar matahari yang


masuk menerangi ruang kelas, memberi kesan hangat di dalamnya. Dan pada siang


hari sinar matahari tidak begitu panas, justru panas matahari seperti


menyesuaikan dengan kondisi.


Pada saat jam


istirahat siang, lagi-lagi Angga lupa membawa bekal makan siangnya. Dia hanya


terdiam di kelas tidak melakukan apapun, hanya diam. Sedangkan teman kelas


cowonya sudah pergi ke kantin termasuk Rehan, Angga berfikir untuk menyimpan


uang jajannya dari pada di jajankan di tempat yang mahal itu.


Melani yang


melihat itu, melihat Angga sedang sendirian di bangkunya karena tidak membawa


bekal makan siang. Iapun langsung menghampiri Angga di sana sambil membawa


bekal makan siangnya, Melani berniat untuk saling berbagi bekal makan siangnya.


Melani


mendekati Angga dengan wajah penuh senyum bagaikan mentari pagi, Angga yang menyadari


kedatangan Melani, langsung merespon nya dengan melihat ke arah Melani.


“Kamu lupa


membawa bekal makan siangmu lagi yaa?” tanya Melani dengan senyum indahnya.


“Iyaa aku


lupa membawanya,” kata Angga, “Aku tadi saat berangkat merasa ada yang tertinggal,


namun aku tidak tau apa itu. Saat aku sampai di sekolah tepatnya saat sampai di


kelas, aku menyadari kalau aku lupa membawa bekal makan siangku.”


“Kalau begitu


ayuk makan bersama, pakai bekal makan siangku saja.” ajak Melani.


“Kamu yakin?”


Angga dengan nada mencoba meyakinkan.


“Iyaa, aku


tidak apa berbagi bekal makan siangku denganmu. Aku juga sedang diet,” Melani


yang sedikit kemerahan pada wajahnya.


“Iyaa iyaa,


terima kasih yaa.”


Angga dan


Melani akhirnya makan bersama di kelas, dengan Melani yang menawarkan bekal


makan siangnya untuk di makan bersama. Di saat seperti itu, Melani mengingat


saat pertama kalinya dia bertemu Angga kembali setelah sekian lamanya sejak


kecil dulu.


Sedangkan


Angga mengingat saat pertama kalinya ia lupa membawa bekal makan siangnya, dan


tiba-tiba anak baru di sekolahnya menghampirinya untuk makan bersama


menggunakan bekal makan siangnya. Yang pada akhirnya mereka makan bersama.


Mereka berdua


saling mengingat masa-masa yang menurut mereka patut untuk di ingat, saling tersenyum


saat berhadapan. Mereka berdua sangat bahagia, seperti ada aura positif


menyelimuti mereka ketika mereka sedang makan siang bersama.


Waktu


Pulang Sekolah


Waktu pulang


sekolah tiba, mereka jalan bersama menuju gerbang depan sekolah. Angga seperti


sedang mengantar Melani ke gerbang depan, yang padahal Angga bisa langsung


pergi ke pintu belakang untuk menuju ke parkiran. Namun dia memilih lewat


gerbang depan sekalian mengantar Melani ke Jeni.


Mereka jalan


bersama mendekati pintu gerbang sekolah depan, di bawah sinar senja sore hari


yang begitu membuat hati tenang ketika melihatnya. Bahkan sampai bisa tercium


aroma-aroma ketika sore hari menjelang malam.


Ketika mereka


sedang berjalan menuju gerbang, seketika ada adik kelas wanita yang menghadap


mereka dan mendekati mereka berdua. Orang yang datang itu adalah salah satu


adik kelas wanita yang paling populer di angkatannya, Melani dan Angga


kebingungan kenapa dia seperti menghalangi jalan mereka ke gerbang depan.


Adik kelas


itu mendekati mereka, ia berdiri tegak di depan mereka kemudian memejamkan


matanya sambil berkata.


“Kak Angga,


aku menyukaimu,” dengan tegasnya ia berbicara sambil terpejam matanya, wajahnya


sedikit memerah karena malu.


“Heh?


E–e–em…ba–bagaimana bi–bisa?” Angga yang bingung.


“Aku


menyukaimu, aku selama ini memperhatikanmu. Bahkan aku datang ke tempat

__ADS_1


pertandinganmu kemarin untuk mendukungmu, aku tau juga hasil akhirnya, aku


harap kak Angga tidak berputus asa karena hal seperti itu. Aku menyukai kak


Angga dari semester awal masuk ke sekolah, aku mengagumi kakak. Selama ini aku


selalu menahan diri untuk menyampaikan perasaanku kepada kak Angga, dan


akhirnya sekarang aku berani mengatakan apa yang ingin aku katakan. Kumohon


terimalah perasaanku ini kak Angga, kakak pasti tau bagaimana rasanya menahan


rasa yang begitu lama, kan?”


“Heh?” Angga


semakin bingung dengan kondisinya.


Dia


benar-benar terkejut adik kelas itu mendekatinya untuk menyampaikan perasaan


sukanya yang terpendam lama. Dia kembali mengingat sama seperti Rehan yang


menyukai Safira, namun Rehan selalu menahan perasaannya. Jadi Angga mengerti


perasaan adik kelas itu, terlebih adik kelas itu adalah anak paling populer di


angkatannya, karena paras wajahnya yang cantik.


Dan di


kondisi seperti itu tiba-tiba handphone Angga berbunyi, tanda bahwa ada sebuah


pesan masuk ke nomornya. Dia bilang kepada adik kelas itu. “Em…sebentar,” Angga


yang mengambil handphone dari saku celananya. Dia melihat ada pesan dari ibunya


yang bertuliskan.


Oiya Angga


ibu lupa memberi tau kepadamu tentang bagaimana kamu bisa mengikuti kejuaraan


kemarin. Jadi saat itu Melani bilang kepada ibu dan kepada yang lain, kalau


dialah yang membayar biaya untuk kejuaraanmu. Jadi jangan lupa untuk berterima


kasih kepadanya, berkat dia kamu bisa mengikuti kejuaraan kemarin. Pesan dari ibu Angga.


Angga


benar-benar terkejut melihat isi pesan dari ibunya, dia seperti tidak percaya.


Dia kira yang mengikutinya kejuaraan adalah pelatih Markus, namun pada kenyataannya


Melani lah yang membayar biaya untuk mengikut sertakan Angga dalam kejuaraan.


Kemudian Angga melihat ke arah Melani yang


menundukkan kepalanya dengan wajah yang begitu sedih. Lalu Melani jalan pergi


menjauh dari Angga dan adik kelas itu, setelah itu dia berlari begitu cepat


untuk menjauh. “Melani!!” teriak Angga.


“Kak Angga


dia kenapa? Lalu bagaimana jawabanmu tentang perasaanku ini,” ujar adik kelas


itu.


Apa-apaan


orang ini, dia ngapain menyatakan perasaan kepadaku dalam keadaan seperti ini. Dalam hati Angga.


Angga mengingat sesuatu pada kejadian sebelum-sebelumnya, ketika Melani memberi


makan siangnya padahal baru saja kenal pada saat itu, kenapa Melani memilih


buku Aku Cinta Kamudi perpustakaan, surat dari M saat di parkiran sekolah dan di kelas


saat ada kado kecil di mejanya, Melani yang mencoba menenangkan Angga saat


melihat Rehan menyatakan perasaannya kepada Safira, dan yang terakhir saat dia


menenangkan Angga ketika di pertandingan saat dia kalah.


Kemudian


Angga langsung berlari mengejar Melani dan meninggalkan adik kelas itu tempat.


“Kak Angga mau ke mana kakak?!” namun tidak ada jawaban sama sekali dari Angga.


Bodohnya aku


tidak mengingatnya, jadi itu tujuan Melani. Dia mencoba menyatakan perasaannya


tetapi dia tidak berani melakukannya, jadi dia menggunakan caranya sendiri. Dia


orang yang selalu membantuku, kenapa kamu tidak langsung bilang kepadaku saja


Melani. Kamu bilang saat itu akan selalu menemaniku, kan? Kenapa kamu


bisa-bisanya bilang begitu tanpa mempedulikan perasaanmu sendiri. Saat aku


bilang aku jalan bersama Safira, kamu menahan perasaan itu dengan kuatnya


padahal kondisimu saat itu sedang sakit. Aku memang tidak bisa di maafkan.


Dimana kamu Melani? Kata hati Angga yang sedang berlari mencari Melani.


Ketika dia


sedang berlari Angga kembali mengingat flashback saat masih kecil saat bertemu


Melani, Angga membantunya mencari orang tua Melani. Dan yang terakhir saat di


taman ketika mereka sedang bermain bersama. Angga kembali mengingat pada saat


itu.



“Maksud bergandengan tangan ini, kita akan selalu bersama


selamanya, layaknya Raja dan Ratu dalam kartun TV. Jika ada yang membuat kita


berpisah jauh maka hati kecil kita akan menuntun kita untuk bersama kembali


selamanya.”


“Bersama selamanya?”


“Iyaa,” kataku, sambil mengangguk kan kepala dan tersenyum manis.



Maafkan aku


Melani aku tidak mengingat pada saat dulu, tapi kamu mengingatnya dengan begitu


kuat. Kamu menahan perasaan itu bertahun-tahun, dan saat kamu pindah ke sekolah


Garuda Abadi aku tidak mengenalmu sama sekali, aku melupakanmu, Maafkan aku

__ADS_1


Melani. Kata hatinya Angga.


Angga terus


mencari ke mana perginya Melani, karena saat Melani pergi dari situ dia tidak


pergi ke arah gerbang depan. “Ke mana perginya kamu, Melani?” ujar Angga


terengah-engah. “Apa jangan-jangan kamu di sana.”


Angga berlari


menuju tempat yang dia maksud, dia berlari begitu cepat, benar-benar sangat


cepat. Bahkan napasnya tidak beraturan, karena saking terburu-burunya. Dia


ingin segera cepat-cepat bertemu dengan Melani. Akhirnya Angga sampai di depan


sebuah pintu, kemudian dia membuka pintu itu dan benar Melani sedang ada di


sana. Tempat itu adalah atap gedung IPA.


Melani sedang


menangis terisak-isak sambil membelakangi Angga. Hatinya seperti sangat amat


hancur, dia kembali mengingat kata-kata Jeni kepadanya sebelum berangkat ke


sekolah tadi pagi. Dia bingung untuk memutuskan.


“Melani?”


kata Angga yang melihat Melani di sana sedang menangis, “Maafkan aku, aku


selama ini tidak mengingatnya sama sekali. Seketika aku mengingat kembali apa


yang telah terjadi, kumohon maafkan aku.”


“Kamu tidak


perlu meminta maaf, ini juga karena keegoisan saja. Kamu tidak perlu meminta


maaf. Aku hanya berharap kamu kembali mengingat aku kembali, aku senang


sekarang kamu sudah mengingatnya. Di mana saat itu kamu datang membantuku


mencari orang tuaku, dan bermain bersamaku di taman, aku senang kamu


mengingatnya.” Kata Melani berbalik badan sambil tersenyum, dengan air mata


yang mengalir membasahi pipinya.


*


Sang wanita sedang berdiri di atas atap sekolah melihat sunset


matahari, memandang sunset membuat hatinya begitu tenang. Dia ingin menenangkan


sendiri di sana, dia berharap tidak ada orang yang datang ke sana.


Di samping itu sang cowok sudah tidak lagi dengan pacarnya di


karenakan suatu hal, diapun langsung pergi ke atap sekolah untuk menenangkan


pikirannya yang sedang kacau. Sang cowok tidak tau kalau di atas juga sedang


ada sang wanita.


Ketika sang cowok membuka pintu ke atap sekolah, dia melihat ada


sang wanita di sana, dan sang wanita berbalik arah dan melihat ada sang cowok


yang datang sendiri ke sana. Sebelumnya sang wanita sudah mengetahui soal sang cowok


sudah putus dengan pacarnya.


Sang cowok melihatnya di sana dan berkata “Bolehkah aku di sana?”


“Tentu saja,” jawab sang wanita dengan gugupnya. Di samping itu sang cowok juga


mengetahui kalau sang wanita yang selalu memperhatikannya dari belakang.


“Jadi kamu menikmati sunset juga yaa,” kata sang cowok.


“Iyaa, a–aku suka di sini,” jawab sang wanita.


Sang wanita benar-benar canggung sekaligus gugup saat berada di


dekat sang cowok, namun sebaliknya sang cowok bingung yang melihat sang wanita


begitu grogi. “Ada apa, apa kamu baik-baik saja,” tanya sang cowok.


“Iyaa aku baik-baik saja,” jawab sang wanita dengan wajah sedikit


memerah, “Kalau boleh mengatakan sesuatu ingin bilang kepadamu, Aku


mencintaimu.”


Kemudian setelah itu sang wanita saking malunya, dia langsung


pergi meninggalkan sang cowok. Sang cowok tersipu malu saat mendengarnya.


“Selalu saja ada hal yang tidak terduga,” gumam sang cowok.


Pada akhirnya sang wanita berani menyatakan perasaannya kepada


sang cowok, walaupun setelah itu dia berlari meninggalkan sang cowok karena


malunya.


*


“Angga, izinkan aku mengatakan sesuatu


kepadamu untuk menghilangkan rasa yang ku pendam selama ini. Angga aku


mencintaimu. A–aku benar-benar mencintaimu,” kata Melani sambil menangis.


“Aku juga mencintaimu, Melani,” balas


Angga, yang tiba-tiba sudah berada di depan Melani kemudian memeluknya erat-erat.


Melani benar-benar terkejut dengan


balasan Angga dan Angga yang tiba-tiba memeluknya begitu erat. “A–Angga? Kamu


serius?” Melani yang terkejut.


“Maafkan aku selama ini, aku tidak


menyadari bahkan aku melupakan janji kita. Kamu adalah Ratuku dan aku adalah


Rajamu. Bukankah seperti itu?”


Melani kemudian menangis dalam pelukan


Angga, menangis begitu sangat kencang sambil menempelkan wajahnya di dada


Angga, dengan begitu suara tangis kencang Melani tidak terdengar sampai jauh.


Melani menangis bahagia ketika Angga berkata seperti itu. Bagi Melani ini


bagaikan mimpi yang mustahil di raih.


Melani begitu sangat-sangat senang.

__ADS_1


“Aku mencintaimu.”


***


__ADS_2