Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 34


__ADS_3

Rehan


***


Hmm di mana Angga?


Aku belum liat dia dari tadi. Apa dia belum datang atau bagaimana? Aku baru


pertama kali melihat pertandingan bela diri, aku tidak sangka akan seramai ini.


banyak sekali peserta yang mengikuti kejuaraan.


“Kamu kenapa,


Rehan?” tanya Safira.


“Aku belum


melihat Angga sama sekali dari tadi, apa dia belum datang ke sini yaa,”


jawabku.


“Mungkin


sedikit lagi dia sampai,” kata Safira, “Palingan ada beberapa persiapan yang


mesti di siapkan, kitakan tidak tau bagaimana.”


Persiapan


yaa, mungkin bisa jadi. Aku ingin tau bagaimana hasil akhirnya, dengan peserta


yang banyak seperti ini. Apa Angga bisa menang dengan jumlah yang banyak. Atau


mungkin dari sekian banyak peserta akan di bagikan sesuai kriteria.


***


“Em…Melani?” aku yang melihat Melani, “ohh


jadi kamu beneran datang ke sini yaa, aku senang kamu datang. Btw kamu ke sini


sama siapa?”


“A–aku ke sini bersama A–a–ayahku,”


jawab Melani karena gugup.


“Ohh jadi kamu ke sini bersama ayah


kamu, aku ingin bertemu dengan ayahmu, boleh?” tanyaku, “soalnya aku belum


pernah bertemu dengannya.”


“E–emm…,” Melani yang gugup.


“Kenapa? Apa tidak boleh aku bertemu


dengannya?” tanyaku heran dan penasaran.


“Te–tentu saja boleh, masa iya tidak


boleh,” jawab Melani gugup dengan wajah tersenyum.


“Baiklah, nanti setelah beli sosis ini


aku ingin bertemu dengan ayahmu.”


Apa yang datang ke kejuaraanku hanya


Melani? Lalu bagaimana dengan Rehan? Putri? Safira? Aku belum melihat mereka


dari tadi. Atau mungkin mereka tidak datang? Terlebih Rehan, apa dia akan


datang ke kejuaraanku atau tidak, aku tidak tau.


Aku cuman baru melihat Melani yang


datang ke sini, dan dia datang ke sini bersama ayahnya. Aku juga sedikit


penasaran dengan rupa ayahnya, karena sebelumnya aku belum pernah bertemu


dengannya. Dan juga dia orang yang sangat sibuk sampai jarang pulang ke rumah.


“Oiya Melani, apa kamu doang yang


datang ke sini?” tanyaku.


“Ada Putri kok, tadi aku bersamanya,


dia sedang membeli kebab di kedai sana,” jawab Melani sambil menunjukan jari ke


arah kedai kebab.


“Ohh itu Putri, aku tidak sadar kalau


dia ada di sana, apa kamu ketemuan dengan Putri?”


“Tidak, kami kebetulan bertemu saat di


pintu masuk GOR, jadi sekalian saja bersama dari pada misah-misah.”


“Oiya Angga,” sahut Melani.


“Hmm?”


“Semangat yaa, jangan sampai kamu kalah


di pertandingan ini,” kata Melani.


“Emm,” aku yang menganggukkan kepala,


“tenang saja, aku tidak akan kalah dengan mudah. Aku akan memenangkan


pertandingan kali ini.”


Setelah kami memesan sosis, aku dan


juga Melani menunggu Putri yang masih di kedai kebab. Karena yang beli kebab


lumayan banyak orangnya, jadi sedikit membutuhkan waktu untuk membelinya.


Setelah kami menunggu, akhirnya Putri


datang juga mendatangi aku dan Melani.


“wah Angga, ternyata kamu di sini


bersama Melani,” katanya, yang baru datang sehabis membeli kebab.


“Iyaa, aku tadi pas sekali bertemu


dengan Melani di kedai sosis, jadi yaa sekalian bareng ajah,” jawabku, “kalau


begitu kita masuk saja, dari pada di luar kayak gini. Yang ada kita menghalangi


orang yang baru datang.”


“Oke deh ayuk.”


Kami bertigapun masuk ke dalam GOR, dan


aku juga ingin mengunjungi tempat duduk Melani bersama ayahnya, sekalian


bertemu dengan ayahnya Melani. Aku belum pernah bertemu dengannya, jadi ini


adalah pertama kalinya.


“Ini sosis yang ayah pesan,” kata


Melani sambil memberikan sosis yang ia beli.


“Wah, terima kasih, Emm?” ayah Melani


yang melihatku, “ohh kamu yang namanya Angga yaa, Melani tadi sudah cerita


tentang kamu saat di perjalanan menuju ke sini,” kata ayah Melani, sambil


memegang pundakku.


“I–iyaa, te–terima kasih sudah datang


untuk melihat kejuaraannya,” kataku yang gugup.


“Ayah!!” kata Melani dengan suara yang


tegas, “jangan bikin aku malu, ayah bisa tenang tidak,” Melani yang wajahnya


memerah.


Ayahnya Melani kenapa ini, aku jadi


sedikit gugup saat dia bilang begitu. Aku tidak bisa bilang apa-apa tentang


pendapatku saat pertama kali bertemu dengan ayahnya Melani. Tapi jika di lihat


dia adalah orang yang baik. Aku bisa merasakannya.


“Oiya, apa pertandingannya belum di


mulai?” tanya ayahnya Melani.


“Sebentar lagi kok, sedikit lagi juga ingin


di mulai,” jawabku, “karena persiapannya sedikit lagi selesai,” jawabku sambil


melihat ke arah tengah lapangan.


“Ohh jadi begitu.”


Kurasa aku tidak bisa berlama-lama di


sini, karena sebentar lagi pertandingan akan di mulai. Aku harus cepat-cepat


balik ke team untuk persiapan, aku harus pamit dulu ke ayahnya Melani. Agar aku

__ADS_1


terlihat sopan kepada yang lebih tua.


“Kalau begitu aku pamit dulu yaa, aku


ingin kembali kumpul bersama timku. Kalau di lihat pertandingannya ingin di


mulai, jadi aku ingin siap-siap,” aku yang izin pamit kepada ayahnya Melani.


“Iyaa, semangat yaa,” balas ayah


Melani.


“Iyaa terima kasih,” balasku, “Melani,


Putri, aku pamit yaa,” aku yang pamit ke mereka berdua.


“Iyaa, semangat yaa.”


Klaster 1


Untuk klaster pertama aku bertemu


dengan dari Bekasi juga, namun berbeda team denganku. Aku pernah bertemu


dengannya di pertandingan sebelum-sebelumnya. Walaupun saat itu aku menang


dengan mudah, tetap saja aku tidak boleh meremehkan lawanku. Karena kita tidak


tau sudah seberapa jauh perkembangannya selama ini.


“Untuk pertama kamu jangan main


gegabah, sabeum mau kamu bermain tenang di awal-awal. Jangan sampai terbawa


emosi,” kata pelatih Markus. (sabeum = guru/pelatih)


“Iyaa beum,” jawabku yang paham.


“Sabeum tau, kalau dia mainnya akan


lebih agresif. Tanpa di beri tahupun kamu sudah tau, karena kamu pernah bertemu


dengannya.”


“Ya udah kalau begitu sana, semangat!”


lanjut kata pelatih Markus.


Pelatih Markus akan menjadi Coach di


pertandingan pertamaku, dia yang akan menemaniku selama bertanding, dia juga


yang akan memberiku nasihat dan strategi bermain selama pertandingan


berlangsung. Jadi aku ada di arahannya.


Wasit sudah memberitahu kedua belah


pihak untuk memasuki tengah arena, akupun pergi ke tengah lapangan. “Fokus,


jangan pikirin yang lain-lain, fokus sama pertandingannya ajah,” nasihat


pelatih Markus sebelum aku masuk ke arena.


Kami saling memberi hormat ke sesama


lawan, wasitpun memberi tanda dengan tangan yang menunjukan bahwa permainan


sudah di mulai.


Aku melihat cara bermain dari lawanku,


dia terlihat lebih sabar di banding permainan sebelum-sebelumnya. Apa aku harus


menunggu dia menendangku? Atau aku pancing saja dia. Jika di lihat dari kondisi


ini lebih baik aku pancing saja.


Aku memancingnya dengan mengulurkan


kaki depanku yaitu kaki kananku. Aku memancingnya menggunakan kaki kanan,


dengan tujuan dia akan membalas dan memberi celah untukku menendang body


protektornya.


Ketika aku pancing, dugaanku benar. Dia


langsung menendangku dengan kaki belakangnya. Tujuan dari tendangannya itu


adalah menuju ke kepalaku, dia berniat mengambil 3 point. Tapi, aku sudah


menyadarinya sejak awal, karena memang itu niatku memancingnya.


Segera setelah dia mengarahkan


tendangannya ke kepalaku, aku dengan cepat mendekatkan jarakku dengannya. Dengan


begitu tendangan dia tidak dapat mengenaiku, melainkan lututnya mengenai bagian


Aku berhasil memblok tendangan


counternya, tapi aku sudah punya rencana lain. Karena posisi kita sedang berdekatan,


mungkin hanya 8 cm. Segera kakiku naik ke atas untuk melakukan tendangan dengan


jarak dekat ke kepalanya. Pada posisi ini kakiku begitu sangat tinggi naik ke


atas, dan juga pertahanannya kosong.


Kaki kananku mengayun ke atas dari arah


kanan menuju arah kiri. Pada akhirnya kakiku mengenai kepalanya, dan tendangan


yang barusan berhasil masuk sensor, sehingga aku mendapat point 3. Karena


berhasil mengenai bagian kepala.


Namun setelah kakiku mengenai


kepalanya, kakiku tersangkut di pundaknya. Apa dia sengaja agar kakiku


tersangkut, lumayan sulit bagiku untuk menurunkan kaki kananku. Karena kami


terus menempel, jadi wasit memisahkan kami, agar menjaga jarak seperti semula.


Kamipun memulai kembali setelah wasit


memisahkan kami, sepertinya emosi dia sedikit terbawa saat kepalanya terkena


tendanganku. Ini bagus, dengan begini aku bisa membuat emosinya meningkat dan


membuatnya tidak terkendali dalam permainan.


Kemudian aku mengangkat lututku sejajar


dengan perut, posisi lututku masuk ke dalam agar tidak terlalu berat saat ingin


menendang. Dengan posisi ini aku bisa menggunakan kakiku sebagai push ke


lawanku. Aku menendangnya dengan niat memancingnya kembali sekaligus mempush


lawanku. Aku bisa mendapat dua keuntungan dari sini.


Dia hanya menghindar dan menangkis


tendangan pancinganku. Kenapa dia tidak membalas seranganku ini? Apa dia ragu


untuk membalasnya. Kalau begitu aku akan mengubah rencananya, aku akan


mengeluarkan serangan dadakan setelah aku memancingnya menggunakan kaki bagian


depanku.


Baiklah aku mulai.


Aku mengangkat lututku setara perut


dengan bagian lutut masuk ke dalam. Setelah itu aku push dia dengan


tendanganku, dengan kaki yang masih menggantung setara perut. Setelah


keraguannya bertambah aku menurunkan kakiku yang masih menggantung setara perut


ini ke bawah dan memposisikannya di bagian depan.


Setelah aku menurunkan kaki menjadi ke


bagian depan, aku dengan frontal menendangnya dengan kaki yang berada di bagian


belakang, pasti itu membuatnya kaget dan kagok. Kaki belakangku naik untuk menendang


bagian kepalanya lagi.


Dia dengan kagetnya tidak bisa


menghindar seranganku, dan tendangan kakiku kembali berhasil mengenai


kepalanya. Namun, terkena sedikit di bagian leher. Alhasil setelah dia menerima


tendangan dariku, dia jatuh dan tidak sadarkan diri.


Apa dia pingsan?


Wasitpun langsung memberhentikan


permainan dan segera memanggil team medis untuk memeriksanya. Setelah dia di


periksa ternyata benar dia jatuh pingsan, tendanganku barusan mengenai bagian


leher. Akupun pernah terkena tendangan kuat di arah leher, saat terkena di


bagian sana, penglihatanku menjadi gelap seperti ingin terjatuh, nafas tidak


beraturan, dan lain sebagainya.

__ADS_1


Karena dia pingsan akhirnya permainan


di berhentikan dan menjadikanku sebagai pemenang di klaster pertama ini dengan


point akhir 6-0. Pada akhirnya di klaster pertama aku menang karena lawan K.O.


nanti juga dia bangun dengan sendirinya.


Aku langsung pergi ke pelatih Markus,


dia berkata kepadaku, “Keren, gitu dong,” katanya sambil memberi thumbzup


kepadaku. Yang bertanda bahwa aku menyelesaikan klaster pertama dengan baik


tanpa ada kesalahan sedikitpun.


Akupun lolos menuju semifinal yaitu


klaster ke dua.


Klaster 2


Wasit memerintahkan untuk peserta


memasuki arena, dan bersiap memulai pertandingan. Lawanku kali ini adalah lawan


yang pernah aku hadapi saat pertandingan provinsi. Dia ini dari Cirebon. Untuk


lawan kali ini aku harus lebih tenang lagi, karena permainan dia sebelumnya


adalah sabar sepertiku.


Kami saling memberi hormat sebelum di


mulainya pertandingan. Setelah itu wasit menandakan dengan tangannya, yang


berarti permainan telah di mulai.


Dia langsung memulai untuk push aku,


teknik pushnya sama seperti biasanya. Aku segera memotong push dari dia dengan


menahan kakinya untuk push dengan kaki depanku, karena dengan ini kaki kita


saling bertemu dan serangan pushnya bisa di hentikan.


Yang di lakukannya hanya terus menerus


seperti itu, dan aku menahan pushnya menggunakan kaki bagian depanku. Aku berusaha


mencari celah agar bisa mengcounter pushnya, apa dia sudah tau cara bermainku


dari klaster pertama. Dia dari tadi cuman mempushku, dan aku sesekali


melancarkan serangan biasa agar tidak terkena gamjeum (Pelanggaran) karena


tidak melancarkan serangan sama sekali.


Aku sedikit melirik ke arah monitor,


untuk melihat waktu yang tersisa di round 1 ini. waktu menunjukan 00.10, itu


berarti waktu tinggal 10 detik lagi. Lebih baik aku mengulur waktunya sampai


waktu habis, tapi sebelum itu pertahanannya mulai terbuka. Saat dia menggantung


kakinya untuk mempush diriku, di situ lah aku melancarkan serangan dengan cara


menendangnya dengan kaki belakangku, meluncur melalui bawah menuju ke atas,


tepatnya ke bagian pinggangnya yaitu bagian body protector.


Akupun berhasil mendapat 2-point dari


tendanganku mengenai body protektornya. Setelah itu wasit memisahkan kami untuk


kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat round 1. Aku segera pergi ke


pelatih Markus yang selaku Coach untukku di pertandingan.


Aku duduk di kursi yang di sediakan, di


situlah pelatih Markus langsung memberiku saran dan masukan dalam pertandingan


di round kedua nanti. Agar aku bermain lebih efisien, karena permainanku di


round pertama tadi hanya bermain santai.


“Angga, kamu mainnya jangan banyak


bertahan dan mundur, yang ada kamu nanti kena gamjeum. Kamu tau kan dia dari


tadi cuman push-push doang, kamu bisa Dwi Hurigi kan? Pake lah itu. (Tendangan


memutar ke arah belakang, dengan melompat memutar dan gerakan kaki seperti


mengait. Arah serangan ke arah kepala ataupun leher) Sabeum mau kamu pake itu


pas dia lagi push kamu kaya tadi, kaki dia posisi ngegantungkan? Kalau kamu


kagetin pake Dwi Hurigi sabeum yakin dia kagok nanti. Paham yaa? Ikutin


kata-kata sabeum yaa,” kata pelatih Markus sambil memegang kepalaku menggunakan


kedua tangannya.


“Iyaa beum.”


Kemudian wasit menandakan istirahat


telah usai dan waktunya kembali ke lapangan. Akupun bangun dari dudukku dan


pamit ke pelatih Markus kemudian pergi ke arena lagi. Aku dan juga lawanku


saling bersalaman bertanda kita saling bermain sportif.


Wasit mengangkat tangannya di hadapan


kami, kemudian mengangkatnya ke atas sambil berkata “Shijaa” dan permainan di


mulai lagi.


Dia langsung memulai seperti round


pertama, menggunakan teknik push untuk mendorongku dan membuatku mundur. Tapi aku


sudah bisa membalas serangan seperti itu. Saat dia mulai menggantungkan kakinya


untuk mempush diriku di situlah pertahanan depan dan belakang dia terbuka,


karena posisi badan dia saat menendangku seperti itu adalah miring menghadap ke


samping sedangkan kakinya terus mendorongku.


Saat dia terus mendorongku, aku


mendapat sebuah kesempatan untuk membalas serangannya. Ketika kakinya terus


menggantung untuk mempushku, langsung saja aku menggunakan Dwi Hurigi. Kakiku


mengayun cepat mengarah ke kepalanya, dia tidak sempat menghindar karena diapun


kaget dengan counter cepatku. Pada akhirnya aku berhasil mengenainya dengan


tendangan berputar. Point sekarang 7-0. Karena tendangan berputar yang mengenai


kepala akan mendapat 5 point.


Dia juga dengan cepat membalas seranganku


dengan menendang bagian perutku. Dia berhasil mendapat 2-point dari situ. Aku


kecolongan point, karena terlalu senang berhasil mengenainya dengan tendangan


berputar.


Waktu terus berjalan sampai round ke-2


habis. Lalu kami istirahat kembali sebelum melanjutkan ke round 3. Skor


sementara adalah 7-2.


“Tidak apa, terus begitu yaa,” kata


pelatih Markus, “untuk round 3, sabeum mau kamu bermain tenang sampai detik 15.


Setelah waktu tinggal 15 detik lagi, sabeum mau kamu bermain lebih agresif,


sebelum waktu sampai 15 detik lagi kamu bermain untuk counter saja, oke.”


“Oke.”


Waktunya untuk round yang terakhir.


Aku pergi menuju arena kembali untuk


menyelesaikan round yang terakhir. Saat permainan di mulai aku mengikuti


perkataan pelatih Markus, aku bermain tenang dan hanya bermain counter saja


sampai waktu tersisa 15 detik.


Selama waktu berjalan kami sering jual


beli serangan hingga di mana waktu tersisa 15 detik terakhir. Skor sementara


12-5. Aku mulai bermain lebih agresif dari sebelumnya, seranganku terus menerus


menekannya. Aku sama sekali tidak memberi dia celah untuk mendapatkan point


lagi.


3…2…1…Selesai.


Klaster ke-2 di menangkan olehku,

__ADS_1


berarti selanjutnya adalah klaster ke-3 yaitu babak final.


__ADS_2