
Rehan
***
Hmm di mana Angga?
Aku belum liat dia dari tadi. Apa dia belum datang atau bagaimana? Aku baru
pertama kali melihat pertandingan bela diri, aku tidak sangka akan seramai ini.
banyak sekali peserta yang mengikuti kejuaraan.
“Kamu kenapa,
Rehan?” tanya Safira.
“Aku belum
melihat Angga sama sekali dari tadi, apa dia belum datang ke sini yaa,”
jawabku.
“Mungkin
sedikit lagi dia sampai,” kata Safira, “Palingan ada beberapa persiapan yang
mesti di siapkan, kitakan tidak tau bagaimana.”
Persiapan
yaa, mungkin bisa jadi. Aku ingin tau bagaimana hasil akhirnya, dengan peserta
yang banyak seperti ini. Apa Angga bisa menang dengan jumlah yang banyak. Atau
mungkin dari sekian banyak peserta akan di bagikan sesuai kriteria.
***
“Em…Melani?” aku yang melihat Melani, “ohh
jadi kamu beneran datang ke sini yaa, aku senang kamu datang. Btw kamu ke sini
sama siapa?”
“A–aku ke sini bersama A–a–ayahku,”
jawab Melani karena gugup.
“Ohh jadi kamu ke sini bersama ayah
kamu, aku ingin bertemu dengan ayahmu, boleh?” tanyaku, “soalnya aku belum
pernah bertemu dengannya.”
“E–emm…,” Melani yang gugup.
“Kenapa? Apa tidak boleh aku bertemu
dengannya?” tanyaku heran dan penasaran.
“Te–tentu saja boleh, masa iya tidak
boleh,” jawab Melani gugup dengan wajah tersenyum.
“Baiklah, nanti setelah beli sosis ini
aku ingin bertemu dengan ayahmu.”
Apa yang datang ke kejuaraanku hanya
Melani? Lalu bagaimana dengan Rehan? Putri? Safira? Aku belum melihat mereka
dari tadi. Atau mungkin mereka tidak datang? Terlebih Rehan, apa dia akan
datang ke kejuaraanku atau tidak, aku tidak tau.
Aku cuman baru melihat Melani yang
datang ke sini, dan dia datang ke sini bersama ayahnya. Aku juga sedikit
penasaran dengan rupa ayahnya, karena sebelumnya aku belum pernah bertemu
dengannya. Dan juga dia orang yang sangat sibuk sampai jarang pulang ke rumah.
“Oiya Melani, apa kamu doang yang
datang ke sini?” tanyaku.
“Ada Putri kok, tadi aku bersamanya,
dia sedang membeli kebab di kedai sana,” jawab Melani sambil menunjukan jari ke
arah kedai kebab.
“Ohh itu Putri, aku tidak sadar kalau
dia ada di sana, apa kamu ketemuan dengan Putri?”
“Tidak, kami kebetulan bertemu saat di
pintu masuk GOR, jadi sekalian saja bersama dari pada misah-misah.”
“Oiya Angga,” sahut Melani.
“Hmm?”
“Semangat yaa, jangan sampai kamu kalah
di pertandingan ini,” kata Melani.
“Emm,” aku yang menganggukkan kepala,
“tenang saja, aku tidak akan kalah dengan mudah. Aku akan memenangkan
pertandingan kali ini.”
Setelah kami memesan sosis, aku dan
juga Melani menunggu Putri yang masih di kedai kebab. Karena yang beli kebab
lumayan banyak orangnya, jadi sedikit membutuhkan waktu untuk membelinya.
Setelah kami menunggu, akhirnya Putri
datang juga mendatangi aku dan Melani.
“wah Angga, ternyata kamu di sini
bersama Melani,” katanya, yang baru datang sehabis membeli kebab.
“Iyaa, aku tadi pas sekali bertemu
dengan Melani di kedai sosis, jadi yaa sekalian bareng ajah,” jawabku, “kalau
begitu kita masuk saja, dari pada di luar kayak gini. Yang ada kita menghalangi
orang yang baru datang.”
“Oke deh ayuk.”
Kami bertigapun masuk ke dalam GOR, dan
aku juga ingin mengunjungi tempat duduk Melani bersama ayahnya, sekalian
bertemu dengan ayahnya Melani. Aku belum pernah bertemu dengannya, jadi ini
adalah pertama kalinya.
“Ini sosis yang ayah pesan,” kata
Melani sambil memberikan sosis yang ia beli.
“Wah, terima kasih, Emm?” ayah Melani
yang melihatku, “ohh kamu yang namanya Angga yaa, Melani tadi sudah cerita
tentang kamu saat di perjalanan menuju ke sini,” kata ayah Melani, sambil
memegang pundakku.
“I–iyaa, te–terima kasih sudah datang
untuk melihat kejuaraannya,” kataku yang gugup.
“Ayah!!” kata Melani dengan suara yang
tegas, “jangan bikin aku malu, ayah bisa tenang tidak,” Melani yang wajahnya
memerah.
Ayahnya Melani kenapa ini, aku jadi
sedikit gugup saat dia bilang begitu. Aku tidak bisa bilang apa-apa tentang
pendapatku saat pertama kali bertemu dengan ayahnya Melani. Tapi jika di lihat
dia adalah orang yang baik. Aku bisa merasakannya.
“Oiya, apa pertandingannya belum di
mulai?” tanya ayahnya Melani.
“Sebentar lagi kok, sedikit lagi juga ingin
di mulai,” jawabku, “karena persiapannya sedikit lagi selesai,” jawabku sambil
melihat ke arah tengah lapangan.
“Ohh jadi begitu.”
Kurasa aku tidak bisa berlama-lama di
sini, karena sebentar lagi pertandingan akan di mulai. Aku harus cepat-cepat
balik ke team untuk persiapan, aku harus pamit dulu ke ayahnya Melani. Agar aku
__ADS_1
terlihat sopan kepada yang lebih tua.
“Kalau begitu aku pamit dulu yaa, aku
ingin kembali kumpul bersama timku. Kalau di lihat pertandingannya ingin di
mulai, jadi aku ingin siap-siap,” aku yang izin pamit kepada ayahnya Melani.
“Iyaa, semangat yaa,” balas ayah
Melani.
“Iyaa terima kasih,” balasku, “Melani,
Putri, aku pamit yaa,” aku yang pamit ke mereka berdua.
“Iyaa, semangat yaa.”
Klaster 1
Untuk klaster pertama aku bertemu
dengan dari Bekasi juga, namun berbeda team denganku. Aku pernah bertemu
dengannya di pertandingan sebelum-sebelumnya. Walaupun saat itu aku menang
dengan mudah, tetap saja aku tidak boleh meremehkan lawanku. Karena kita tidak
tau sudah seberapa jauh perkembangannya selama ini.
“Untuk pertama kamu jangan main
gegabah, sabeum mau kamu bermain tenang di awal-awal. Jangan sampai terbawa
emosi,” kata pelatih Markus. (sabeum = guru/pelatih)
“Iyaa beum,” jawabku yang paham.
“Sabeum tau, kalau dia mainnya akan
lebih agresif. Tanpa di beri tahupun kamu sudah tau, karena kamu pernah bertemu
dengannya.”
“Ya udah kalau begitu sana, semangat!”
lanjut kata pelatih Markus.
Pelatih Markus akan menjadi Coach di
pertandingan pertamaku, dia yang akan menemaniku selama bertanding, dia juga
yang akan memberiku nasihat dan strategi bermain selama pertandingan
berlangsung. Jadi aku ada di arahannya.
Wasit sudah memberitahu kedua belah
pihak untuk memasuki tengah arena, akupun pergi ke tengah lapangan. “Fokus,
jangan pikirin yang lain-lain, fokus sama pertandingannya ajah,” nasihat
pelatih Markus sebelum aku masuk ke arena.
Kami saling memberi hormat ke sesama
lawan, wasitpun memberi tanda dengan tangan yang menunjukan bahwa permainan
sudah di mulai.
Aku melihat cara bermain dari lawanku,
dia terlihat lebih sabar di banding permainan sebelum-sebelumnya. Apa aku harus
menunggu dia menendangku? Atau aku pancing saja dia. Jika di lihat dari kondisi
ini lebih baik aku pancing saja.
Aku memancingnya dengan mengulurkan
kaki depanku yaitu kaki kananku. Aku memancingnya menggunakan kaki kanan,
dengan tujuan dia akan membalas dan memberi celah untukku menendang body
protektornya.
Ketika aku pancing, dugaanku benar. Dia
langsung menendangku dengan kaki belakangnya. Tujuan dari tendangannya itu
adalah menuju ke kepalaku, dia berniat mengambil 3 point. Tapi, aku sudah
menyadarinya sejak awal, karena memang itu niatku memancingnya.
Segera setelah dia mengarahkan
tendangannya ke kepalaku, aku dengan cepat mendekatkan jarakku dengannya. Dengan
begitu tendangan dia tidak dapat mengenaiku, melainkan lututnya mengenai bagian
Aku berhasil memblok tendangan
counternya, tapi aku sudah punya rencana lain. Karena posisi kita sedang berdekatan,
mungkin hanya 8 cm. Segera kakiku naik ke atas untuk melakukan tendangan dengan
jarak dekat ke kepalanya. Pada posisi ini kakiku begitu sangat tinggi naik ke
atas, dan juga pertahanannya kosong.
Kaki kananku mengayun ke atas dari arah
kanan menuju arah kiri. Pada akhirnya kakiku mengenai kepalanya, dan tendangan
yang barusan berhasil masuk sensor, sehingga aku mendapat point 3. Karena
berhasil mengenai bagian kepala.
Namun setelah kakiku mengenai
kepalanya, kakiku tersangkut di pundaknya. Apa dia sengaja agar kakiku
tersangkut, lumayan sulit bagiku untuk menurunkan kaki kananku. Karena kami
terus menempel, jadi wasit memisahkan kami, agar menjaga jarak seperti semula.
Kamipun memulai kembali setelah wasit
memisahkan kami, sepertinya emosi dia sedikit terbawa saat kepalanya terkena
tendanganku. Ini bagus, dengan begini aku bisa membuat emosinya meningkat dan
membuatnya tidak terkendali dalam permainan.
Kemudian aku mengangkat lututku sejajar
dengan perut, posisi lututku masuk ke dalam agar tidak terlalu berat saat ingin
menendang. Dengan posisi ini aku bisa menggunakan kakiku sebagai push ke
lawanku. Aku menendangnya dengan niat memancingnya kembali sekaligus mempush
lawanku. Aku bisa mendapat dua keuntungan dari sini.
Dia hanya menghindar dan menangkis
tendangan pancinganku. Kenapa dia tidak membalas seranganku ini? Apa dia ragu
untuk membalasnya. Kalau begitu aku akan mengubah rencananya, aku akan
mengeluarkan serangan dadakan setelah aku memancingnya menggunakan kaki bagian
depanku.
Baiklah aku mulai.
Aku mengangkat lututku setara perut
dengan bagian lutut masuk ke dalam. Setelah itu aku push dia dengan
tendanganku, dengan kaki yang masih menggantung setara perut. Setelah
keraguannya bertambah aku menurunkan kakiku yang masih menggantung setara perut
ini ke bawah dan memposisikannya di bagian depan.
Setelah aku menurunkan kaki menjadi ke
bagian depan, aku dengan frontal menendangnya dengan kaki yang berada di bagian
belakang, pasti itu membuatnya kaget dan kagok. Kaki belakangku naik untuk menendang
bagian kepalanya lagi.
Dia dengan kagetnya tidak bisa
menghindar seranganku, dan tendangan kakiku kembali berhasil mengenai
kepalanya. Namun, terkena sedikit di bagian leher. Alhasil setelah dia menerima
tendangan dariku, dia jatuh dan tidak sadarkan diri.
Apa dia pingsan?
Wasitpun langsung memberhentikan
permainan dan segera memanggil team medis untuk memeriksanya. Setelah dia di
periksa ternyata benar dia jatuh pingsan, tendanganku barusan mengenai bagian
leher. Akupun pernah terkena tendangan kuat di arah leher, saat terkena di
bagian sana, penglihatanku menjadi gelap seperti ingin terjatuh, nafas tidak
beraturan, dan lain sebagainya.
__ADS_1
Karena dia pingsan akhirnya permainan
di berhentikan dan menjadikanku sebagai pemenang di klaster pertama ini dengan
point akhir 6-0. Pada akhirnya di klaster pertama aku menang karena lawan K.O.
nanti juga dia bangun dengan sendirinya.
Aku langsung pergi ke pelatih Markus,
dia berkata kepadaku, “Keren, gitu dong,” katanya sambil memberi thumbzup
kepadaku. Yang bertanda bahwa aku menyelesaikan klaster pertama dengan baik
tanpa ada kesalahan sedikitpun.
Akupun lolos menuju semifinal yaitu
klaster ke dua.
Klaster 2
Wasit memerintahkan untuk peserta
memasuki arena, dan bersiap memulai pertandingan. Lawanku kali ini adalah lawan
yang pernah aku hadapi saat pertandingan provinsi. Dia ini dari Cirebon. Untuk
lawan kali ini aku harus lebih tenang lagi, karena permainan dia sebelumnya
adalah sabar sepertiku.
Kami saling memberi hormat sebelum di
mulainya pertandingan. Setelah itu wasit menandakan dengan tangannya, yang
berarti permainan telah di mulai.
Dia langsung memulai untuk push aku,
teknik pushnya sama seperti biasanya. Aku segera memotong push dari dia dengan
menahan kakinya untuk push dengan kaki depanku, karena dengan ini kaki kita
saling bertemu dan serangan pushnya bisa di hentikan.
Yang di lakukannya hanya terus menerus
seperti itu, dan aku menahan pushnya menggunakan kaki bagian depanku. Aku berusaha
mencari celah agar bisa mengcounter pushnya, apa dia sudah tau cara bermainku
dari klaster pertama. Dia dari tadi cuman mempushku, dan aku sesekali
melancarkan serangan biasa agar tidak terkena gamjeum (Pelanggaran) karena
tidak melancarkan serangan sama sekali.
Aku sedikit melirik ke arah monitor,
untuk melihat waktu yang tersisa di round 1 ini. waktu menunjukan 00.10, itu
berarti waktu tinggal 10 detik lagi. Lebih baik aku mengulur waktunya sampai
waktu habis, tapi sebelum itu pertahanannya mulai terbuka. Saat dia menggantung
kakinya untuk mempush diriku, di situ lah aku melancarkan serangan dengan cara
menendangnya dengan kaki belakangku, meluncur melalui bawah menuju ke atas,
tepatnya ke bagian pinggangnya yaitu bagian body protector.
Akupun berhasil mendapat 2-point dari
tendanganku mengenai body protektornya. Setelah itu wasit memisahkan kami untuk
kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat round 1. Aku segera pergi ke
pelatih Markus yang selaku Coach untukku di pertandingan.
Aku duduk di kursi yang di sediakan, di
situlah pelatih Markus langsung memberiku saran dan masukan dalam pertandingan
di round kedua nanti. Agar aku bermain lebih efisien, karena permainanku di
round pertama tadi hanya bermain santai.
“Angga, kamu mainnya jangan banyak
bertahan dan mundur, yang ada kamu nanti kena gamjeum. Kamu tau kan dia dari
tadi cuman push-push doang, kamu bisa Dwi Hurigi kan? Pake lah itu. (Tendangan
memutar ke arah belakang, dengan melompat memutar dan gerakan kaki seperti
mengait. Arah serangan ke arah kepala ataupun leher) Sabeum mau kamu pake itu
pas dia lagi push kamu kaya tadi, kaki dia posisi ngegantungkan? Kalau kamu
kagetin pake Dwi Hurigi sabeum yakin dia kagok nanti. Paham yaa? Ikutin
kata-kata sabeum yaa,” kata pelatih Markus sambil memegang kepalaku menggunakan
kedua tangannya.
“Iyaa beum.”
Kemudian wasit menandakan istirahat
telah usai dan waktunya kembali ke lapangan. Akupun bangun dari dudukku dan
pamit ke pelatih Markus kemudian pergi ke arena lagi. Aku dan juga lawanku
saling bersalaman bertanda kita saling bermain sportif.
Wasit mengangkat tangannya di hadapan
kami, kemudian mengangkatnya ke atas sambil berkata “Shijaa” dan permainan di
mulai lagi.
Dia langsung memulai seperti round
pertama, menggunakan teknik push untuk mendorongku dan membuatku mundur. Tapi aku
sudah bisa membalas serangan seperti itu. Saat dia mulai menggantungkan kakinya
untuk mempush diriku di situlah pertahanan depan dan belakang dia terbuka,
karena posisi badan dia saat menendangku seperti itu adalah miring menghadap ke
samping sedangkan kakinya terus mendorongku.
Saat dia terus mendorongku, aku
mendapat sebuah kesempatan untuk membalas serangannya. Ketika kakinya terus
menggantung untuk mempushku, langsung saja aku menggunakan Dwi Hurigi. Kakiku
mengayun cepat mengarah ke kepalanya, dia tidak sempat menghindar karena diapun
kaget dengan counter cepatku. Pada akhirnya aku berhasil mengenainya dengan
tendangan berputar. Point sekarang 7-0. Karena tendangan berputar yang mengenai
kepala akan mendapat 5 point.
Dia juga dengan cepat membalas seranganku
dengan menendang bagian perutku. Dia berhasil mendapat 2-point dari situ. Aku
kecolongan point, karena terlalu senang berhasil mengenainya dengan tendangan
berputar.
Waktu terus berjalan sampai round ke-2
habis. Lalu kami istirahat kembali sebelum melanjutkan ke round 3. Skor
sementara adalah 7-2.
“Tidak apa, terus begitu yaa,” kata
pelatih Markus, “untuk round 3, sabeum mau kamu bermain tenang sampai detik 15.
Setelah waktu tinggal 15 detik lagi, sabeum mau kamu bermain lebih agresif,
sebelum waktu sampai 15 detik lagi kamu bermain untuk counter saja, oke.”
“Oke.”
Waktunya untuk round yang terakhir.
Aku pergi menuju arena kembali untuk
menyelesaikan round yang terakhir. Saat permainan di mulai aku mengikuti
perkataan pelatih Markus, aku bermain tenang dan hanya bermain counter saja
sampai waktu tersisa 15 detik.
Selama waktu berjalan kami sering jual
beli serangan hingga di mana waktu tersisa 15 detik terakhir. Skor sementara
12-5. Aku mulai bermain lebih agresif dari sebelumnya, seranganku terus menerus
menekannya. Aku sama sekali tidak memberi dia celah untuk mendapatkan point
lagi.
3…2…1…Selesai.
Klaster ke-2 di menangkan olehku,
__ADS_1
berarti selanjutnya adalah klaster ke-3 yaitu babak final.