Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 3


__ADS_3

Pada saat aku berjalan di lorong sekolah bersama Melani, aku


melihat ada seorang wanita cantik sedang berteduh di bawah pohon jambu yang


sangat lebat, pohon jambu yang berdiri di tepi lapangan upacara. Aku harap aku bisa


kenal dan bersama dengannya.


Tatap matanya bagaikan pisau yang tajam, dan berhasil menusuk


sampai ke dalam. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, rasa aneh yang


menyerang hatiku. Apa ini yang biasanya orang sebut dengan jatuh cinta? Tapi


aku belum memastikan rasa apa yang berada di dalam hatiku ini.


Aku tiba-tiba terbangun dari tidurku, wajah wanita itu terbawa


sampai ke mimpi. Apakah aku akan bertemu lagi dengannya di sekolah? Mungkin aku


bisa memberi tau Rehan soal wanita yang berada di bawah pohon jambu itu, karena


dia banyak kenal siswa di sekolah dari pada aku.


Ini kenapa? Hatiku terasa sangat aneh saat memikirkan wajah wanita


itu, seperti ada rasa penasaran dengan wanita itu. Kurasa Rehan memang solusi


yang tepat dari ini semua, aku berharap Rehan bisa tau nama dan kelas wanita


itu.


“Angga! Siap-siap untuk berangkat sekolah, mandi sana!” teriak


ibuku.


Aku melihat jam dinding yang ada di sebelah ku, untung aku tidak


kesiangan seperti kemarin, jadi aku tidak harus terburu-buru dan yang penting


aku bisa membawa bekal makan siang untuk sekolah karena aku tak mau jajan di


sekolah.


Aku berjalan menuju bawah untuk pergi ke kamar mandi, jalanku


masih loyo, karena masih baru bangun tidur. Aku mengguyur kepala ku sembari


melihat cermin, apakah dengan wajah ini aku bisa berkenalan dengannya? Tapi aku


teringat dengan kata-kata ayahku untuk tidak meremehkan diri sendiri.


Usai aku mandi aku sarapan bersama orang tua ku dan juga adik


perempuan ku yang masih kelas 8 SMP, hari ini ibu memasak telur setengah


matang, dan juga sedikit sayur.


“Ayo dimakan jangan cuman di liatin doang,” ucap ibuku yang


melihat aku bengong melihat makanan.


“Hmm? Apa kakak tidak enak badan?” tanya adik perempuanku


penasaran.


“Tidak, kakak hanya masih terbawa suasana bangun tidur, jadi masih


agak sedikit loyo,” jawabku.


“Kalau begitu habiskan sarapannya dan siap-siap berangkat ke


sekolah,” ucap ibuku.


“Iyaa,” jawabku dan juga adikku.


Melani


***


“Melani kamu gak papa?” Angga sambil memegang keningku.


“Um… um… aku tidak apa-apa,” jawabku dengan wajah yang memerah


tersipu malu.


“Kalo kamu sakit aku akan menemani mu,” kata Angga.


Dan seketika aku terbangun dari tidurku yang indah, ahh ternyata


cuman mimpi. Semenjak aku melihat Angga untuk pertama kalinya, ada seperti rasa


aneh di dalam hatiku ini, aku tak kuat bila berada di dekatnya, bila berada pas


di samping nya jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1



“Umm…pipi mu memerah, apa kau sedang sakit?” sahut Angga kepadaku


saat tadi di sekolah.



Kenapa aku masih teringat kata-katanya, padahal semalam sudah aku


bawa tidur untuk bisa melupakan itu. Aku beranjak dari tempat tidur dan


bercermin, pipi ku merah? Kenapa di saat aku malu karenanya pipi ku menjadi


merah, sedangkan dengan orang lain tidak sama sekali.


“Nona anda sudah bangun? Sarapan pagi sudah di siapkan,” ucap


pelayanku.


“Yaa, aku akan kesana,” jawabku.


Aku tak boleh merasa malu bila berada di dekatnya, jika sampai aku


malu maka pipi ku akan memerah karena malu. Tapi bagaimana aku bisa tidak


merasa malu terhadapnya, aku memikirkan nya saja sudah bisa membuat ku tersipu


malu. Kurasa dengan sarapan pagi akan membantu pikiranku.


“Nona kenapa? Pipi anda memerah? Apa anda sedang sakit?” tanya


pelayanku.


“Ahh tidak, aku tidak sedang sakit,” jawabku.


“Atau mungkin nona sedang memikirkan seseorang yaa?” canda dari


pelayanku.


“Ahh tidak, jangan berfikir yang tidak-tidak,” jawabku dan


menambah merah pipiku.


Pelayan ku hanya tersenyum saat mendengar jawabanku, apa dia


berfikir hal seperti itu? Ayo menjauhlah pikiran seperti ini, aku ingin makan


dengan tenang tanpa memikirkan apapun, aku harus cepat sarapan nya lalu pergi


“Nona, bath anda sudah siap,” ucap pelayanku yang lain.


“Iyaa aku akan mandi setelah aku selesai sarapan pagi.”


Usai sarapan aku pergi ke kamar mandi dan berendam di bath.


bagaimana cara aku melupakannya yaa? Tapi kemarin kenapa aku sangat baik


kepadanya sampai menawarkan makan bersama. Dan lagi aku duduk berada pas di


depan dia, jangan sampai aku selama pelajaran wajahku memerah karenanya. Aku


tak bisa berlama-lama berendam, aku harus segera cepat ke sekolah.


Aku berangkat ke sekolah menggunakan mobil dan di antar oleh supir


pribadi ku, jalan hari ini begitu lancar dan tidak macet sama sekali. Aku masih


memegang dadaku untuk mengecek bahwa detak jantung ku dalam keadaan normal,


karena aku masih belum bisa melupakan kata-katanya kemarin.


Aku sampai di sekolah kemudian aku turun dari mobil dan berjalan


menuju gerbang sekolah, namun saat aku ingin memasuki gerbang sekolah ada suara


yang memanggil ku dari kejauhan.


“Melani!!” suara teriakan yang memanggilku.


Aku menoleh dan terkejut, it–itu Angga, dia memanggil ku? Bagaimana


ini gawat aku belum siap untuk bertemu secara mendadak seperti ini. Aku


berjalan cepat menuju gerbang dan berharap menghilang dari pandangan nya.


“Melani, kau buru-buru sekali, padahal aku memanggil mu loh tadi”


kata Angga sambil memegang bahu ku.


Aku terkejut bukan main karena Angga memegang bahuku, aduh gimana


ini. Gawat kenapa aku merasa sangat malu seperti ini, kumohon wajah ku jangan


sampai memerah, kumohon.

__ADS_1


“Melani, wajahmu kenapa memerah?” tanya Angga penasaran.


Aku tersipu malu saat Angga berbicara seperti itu. Wajahku semakin


memerah, aku tak kuat lagi. Akupun berlari menjauh dari Angga, aku harus pergi


menjauh darinya. Aku berlari sangat kencang.


“Melani kenapa?” kata Angga.


***


Melani kenapa yaa? Padahal aku berniat mengajaknya jalan bareng ke


kelas. Ya sudah lah, tapi ngomong-ngomong memangnya Melani sudah hafal dengan


layout sekolah ini? Biarkan saja, dia pasti bertanya dengan siswa yang lain.


Aku tak perlu mengkhawatirkannya.


“Angga!!” teriak dari belakangku.


Ohh itu Rehan, syukurlah kita ketemu disini jadi aku bisa sedikit


bercerita tentang wanita itu kepadanya. Dan kenapa wajahnya terlihat kusam


seperti ini, apa dia tadi malam begadang? Tapi kan sekarang tidak ada tugas


jadi buat apa dia begadang.


“Mukamu kenapa berantakan seperti itu? Kamu begadang?” tanyaku


penasaran.


“Iyaa semalam aku begadang,” jawabnya dengan wajah tidak semangat.


“Bukannya hari ini tidak ada tugas, kenapa kau begadang?” tanyaku


lagi.


“Aku belajar pemrograman, karena bulan depan akan ada kompetisi


dalam membuat program, jadi aku latihan dari sekarang,”


“Ohh jadi seperti itu, ayuk kita ke kelas,” ajakku.


“ayo.”


Rehan sangat semangat sekali dalam menyambut kompetisinya, dia


melakukan persiapan agar saat hari pelaksanaan tidak terjadi masalah yang tidak


di inginkan. Sama sepertiku Ketika ada kejuaraan taekwondo aku bisa


menghabiskan setiap hari waktuku untuk latihan.


Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan


wanita itu kepada Rehan, Rehan pasti lelah, jadi biarkan dia istirahat dahulu.


Dan juga aku belum melihat wanita itu lagi, pohon jambu itu terlihat kosong


tidak ada orang satu pun.


Aku dan Rehan biasanya


setelah masuk gerbang depan kami lewat lobby sekolah, karena jalan pintas


tercepat menuju kelas. Kelas kami berada di lantai 2, dan di dekat lobby ada


sebuah tangga yang langsung menuju lantai 2 dan tak jauh dari tangga itu ada


kelas kami berdua.


Ketika kami keluar lobby kami melihat Melani sedang dalam keadaan


bingung melihat kesana kemari seperti orang yang tersesat. Sudah kuduga anak


itu pasti tersesat, kenapa dia tidak bertanya dengan siswa lain di sekitarnya.


“Bukankah itu Melani?” ucap Rehan sambil menunjuk ke arahnya.


“Iyaa, tak salah lagi itu Melani,” ujarku.


“Dia sedang apa disana, gerak geriknya mencurigakan,” ucap Rehan.


“Sepertinya dia tersesat, ayo kita samperin dia,” kataku.


Lalu aku dan Rehan menghampiri Melani yang terlihat seperti orang


tersesat, padahal dia harusnya tau kalau kelas kita di lantai 2, apa yang


sebenarnya dia lakukan. Dan dia hanya tinggal mencari tangga untuk akses ke


lantai 2 untuk menuju kelas.

__ADS_1


__ADS_2