
Pada saat aku berjalan di lorong sekolah bersama Melani, aku
melihat ada seorang wanita cantik sedang berteduh di bawah pohon jambu yang
sangat lebat, pohon jambu yang berdiri di tepi lapangan upacara. Aku harap aku bisa
kenal dan bersama dengannya.
Tatap matanya bagaikan pisau yang tajam, dan berhasil menusuk
sampai ke dalam. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, rasa aneh yang
menyerang hatiku. Apa ini yang biasanya orang sebut dengan jatuh cinta? Tapi
aku belum memastikan rasa apa yang berada di dalam hatiku ini.
Aku tiba-tiba terbangun dari tidurku, wajah wanita itu terbawa
sampai ke mimpi. Apakah aku akan bertemu lagi dengannya di sekolah? Mungkin aku
bisa memberi tau Rehan soal wanita yang berada di bawah pohon jambu itu, karena
dia banyak kenal siswa di sekolah dari pada aku.
Ini kenapa? Hatiku terasa sangat aneh saat memikirkan wajah wanita
itu, seperti ada rasa penasaran dengan wanita itu. Kurasa Rehan memang solusi
yang tepat dari ini semua, aku berharap Rehan bisa tau nama dan kelas wanita
itu.
“Angga! Siap-siap untuk berangkat sekolah, mandi sana!” teriak
ibuku.
Aku melihat jam dinding yang ada di sebelah ku, untung aku tidak
kesiangan seperti kemarin, jadi aku tidak harus terburu-buru dan yang penting
aku bisa membawa bekal makan siang untuk sekolah karena aku tak mau jajan di
sekolah.
Aku berjalan menuju bawah untuk pergi ke kamar mandi, jalanku
masih loyo, karena masih baru bangun tidur. Aku mengguyur kepala ku sembari
melihat cermin, apakah dengan wajah ini aku bisa berkenalan dengannya? Tapi aku
teringat dengan kata-kata ayahku untuk tidak meremehkan diri sendiri.
Usai aku mandi aku sarapan bersama orang tua ku dan juga adik
perempuan ku yang masih kelas 8 SMP, hari ini ibu memasak telur setengah
matang, dan juga sedikit sayur.
“Ayo dimakan jangan cuman di liatin doang,” ucap ibuku yang
melihat aku bengong melihat makanan.
“Hmm? Apa kakak tidak enak badan?” tanya adik perempuanku
penasaran.
“Tidak, kakak hanya masih terbawa suasana bangun tidur, jadi masih
agak sedikit loyo,” jawabku.
“Kalau begitu habiskan sarapannya dan siap-siap berangkat ke
sekolah,” ucap ibuku.
“Iyaa,” jawabku dan juga adikku.
Melani
***
“Melani kamu gak papa?” Angga sambil memegang keningku.
“Um… um… aku tidak apa-apa,” jawabku dengan wajah yang memerah
tersipu malu.
“Kalo kamu sakit aku akan menemani mu,” kata Angga.
Dan seketika aku terbangun dari tidurku yang indah, ahh ternyata
cuman mimpi. Semenjak aku melihat Angga untuk pertama kalinya, ada seperti rasa
aneh di dalam hatiku ini, aku tak kuat bila berada di dekatnya, bila berada pas
di samping nya jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
“Umm…pipi mu memerah, apa kau sedang sakit?” sahut Angga kepadaku
saat tadi di sekolah.
Kenapa aku masih teringat kata-katanya, padahal semalam sudah aku
bawa tidur untuk bisa melupakan itu. Aku beranjak dari tempat tidur dan
bercermin, pipi ku merah? Kenapa di saat aku malu karenanya pipi ku menjadi
merah, sedangkan dengan orang lain tidak sama sekali.
“Nona anda sudah bangun? Sarapan pagi sudah di siapkan,” ucap
pelayanku.
“Yaa, aku akan kesana,” jawabku.
Aku tak boleh merasa malu bila berada di dekatnya, jika sampai aku
malu maka pipi ku akan memerah karena malu. Tapi bagaimana aku bisa tidak
merasa malu terhadapnya, aku memikirkan nya saja sudah bisa membuat ku tersipu
malu. Kurasa dengan sarapan pagi akan membantu pikiranku.
“Nona kenapa? Pipi anda memerah? Apa anda sedang sakit?” tanya
pelayanku.
“Ahh tidak, aku tidak sedang sakit,” jawabku.
“Atau mungkin nona sedang memikirkan seseorang yaa?” canda dari
pelayanku.
“Ahh tidak, jangan berfikir yang tidak-tidak,” jawabku dan
menambah merah pipiku.
Pelayan ku hanya tersenyum saat mendengar jawabanku, apa dia
berfikir hal seperti itu? Ayo menjauhlah pikiran seperti ini, aku ingin makan
dengan tenang tanpa memikirkan apapun, aku harus cepat sarapan nya lalu pergi
“Nona, bath anda sudah siap,” ucap pelayanku yang lain.
“Iyaa aku akan mandi setelah aku selesai sarapan pagi.”
Usai sarapan aku pergi ke kamar mandi dan berendam di bath.
bagaimana cara aku melupakannya yaa? Tapi kemarin kenapa aku sangat baik
kepadanya sampai menawarkan makan bersama. Dan lagi aku duduk berada pas di
depan dia, jangan sampai aku selama pelajaran wajahku memerah karenanya. Aku
tak bisa berlama-lama berendam, aku harus segera cepat ke sekolah.
Aku berangkat ke sekolah menggunakan mobil dan di antar oleh supir
pribadi ku, jalan hari ini begitu lancar dan tidak macet sama sekali. Aku masih
memegang dadaku untuk mengecek bahwa detak jantung ku dalam keadaan normal,
karena aku masih belum bisa melupakan kata-katanya kemarin.
Aku sampai di sekolah kemudian aku turun dari mobil dan berjalan
menuju gerbang sekolah, namun saat aku ingin memasuki gerbang sekolah ada suara
yang memanggil ku dari kejauhan.
“Melani!!” suara teriakan yang memanggilku.
Aku menoleh dan terkejut, it–itu Angga, dia memanggil ku? Bagaimana
ini gawat aku belum siap untuk bertemu secara mendadak seperti ini. Aku
berjalan cepat menuju gerbang dan berharap menghilang dari pandangan nya.
“Melani, kau buru-buru sekali, padahal aku memanggil mu loh tadi”
kata Angga sambil memegang bahu ku.
Aku terkejut bukan main karena Angga memegang bahuku, aduh gimana
ini. Gawat kenapa aku merasa sangat malu seperti ini, kumohon wajah ku jangan
sampai memerah, kumohon.
__ADS_1
“Melani, wajahmu kenapa memerah?” tanya Angga penasaran.
Aku tersipu malu saat Angga berbicara seperti itu. Wajahku semakin
memerah, aku tak kuat lagi. Akupun berlari menjauh dari Angga, aku harus pergi
menjauh darinya. Aku berlari sangat kencang.
“Melani kenapa?” kata Angga.
***
Melani kenapa yaa? Padahal aku berniat mengajaknya jalan bareng ke
kelas. Ya sudah lah, tapi ngomong-ngomong memangnya Melani sudah hafal dengan
layout sekolah ini? Biarkan saja, dia pasti bertanya dengan siswa yang lain.
Aku tak perlu mengkhawatirkannya.
“Angga!!” teriak dari belakangku.
Ohh itu Rehan, syukurlah kita ketemu disini jadi aku bisa sedikit
bercerita tentang wanita itu kepadanya. Dan kenapa wajahnya terlihat kusam
seperti ini, apa dia tadi malam begadang? Tapi kan sekarang tidak ada tugas
jadi buat apa dia begadang.
“Mukamu kenapa berantakan seperti itu? Kamu begadang?” tanyaku
penasaran.
“Iyaa semalam aku begadang,” jawabnya dengan wajah tidak semangat.
“Bukannya hari ini tidak ada tugas, kenapa kau begadang?” tanyaku
lagi.
“Aku belajar pemrograman, karena bulan depan akan ada kompetisi
dalam membuat program, jadi aku latihan dari sekarang,”
“Ohh jadi seperti itu, ayuk kita ke kelas,” ajakku.
“ayo.”
Rehan sangat semangat sekali dalam menyambut kompetisinya, dia
melakukan persiapan agar saat hari pelaksanaan tidak terjadi masalah yang tidak
di inginkan. Sama sepertiku Ketika ada kejuaraan taekwondo aku bisa
menghabiskan setiap hari waktuku untuk latihan.
Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan
wanita itu kepada Rehan, Rehan pasti lelah, jadi biarkan dia istirahat dahulu.
Dan juga aku belum melihat wanita itu lagi, pohon jambu itu terlihat kosong
tidak ada orang satu pun.
Aku dan Rehan biasanya
setelah masuk gerbang depan kami lewat lobby sekolah, karena jalan pintas
tercepat menuju kelas. Kelas kami berada di lantai 2, dan di dekat lobby ada
sebuah tangga yang langsung menuju lantai 2 dan tak jauh dari tangga itu ada
kelas kami berdua.
Ketika kami keluar lobby kami melihat Melani sedang dalam keadaan
bingung melihat kesana kemari seperti orang yang tersesat. Sudah kuduga anak
itu pasti tersesat, kenapa dia tidak bertanya dengan siswa lain di sekitarnya.
“Bukankah itu Melani?” ucap Rehan sambil menunjuk ke arahnya.
“Iyaa, tak salah lagi itu Melani,” ujarku.
“Dia sedang apa disana, gerak geriknya mencurigakan,” ucap Rehan.
“Sepertinya dia tersesat, ayo kita samperin dia,” kataku.
Lalu aku dan Rehan menghampiri Melani yang terlihat seperti orang
tersesat, padahal dia harusnya tau kalau kelas kita di lantai 2, apa yang
sebenarnya dia lakukan. Dan dia hanya tinggal mencari tangga untuk akses ke
lantai 2 untuk menuju kelas.
__ADS_1