
Jam Mata Pelajaran Olahraga
***
Padahal belum mulai jam olahraga, tapi
Rehan berisik sekali mengoceh tanpa henti di depanku. kepalaku pusing mendengar
ocehannya, dia mengoceh tentang bagaimana nasibnya karena lupa membawa seragam
olahraga, dia takut kena alpha jika tidak ikut pelajaran olahraga.
“Angga! ini bagaimana? Aku lupa membawa
seragam olahraga lagi, bagaimana bisa aku melupakannya. Aku takut jika aku
tidak ikut pelajaran olahraga akan di cap alpha karena tidak mengikuti
pelajaran sekolah, apa yang harus aku lakukan ANGGA!?” ocehan Rehan yang begitu
berisik.
“Akukan sudah bilang kepadamu tadi, kau
bisa meminjam seragam olahraga kelas lain yang baru selesai olahraga,” ujarku
dengan wajah datar karena lelah mendengar ocehan bocah satu ini.
“Tapi itu seragam yang dipakai sehabis
olahraga, keringatnya nanti bercampur denganku bagaimana? Kan itu menjijikkan,”
sahut Rehan.
“Lalu kau ingin bolos pelajaran ini? Atau
meminjam hanya untuk sehari ini saja?” kataku yang memberi Rehan pilihan.
Anak ini siapa suruh lupa membawa
seragam olahraga, akupun tidak mau memakai seragam olahraga yang habis di pakai
orang lain olahraga, aku juga tidak mau keringat orang lain bercampur dengan
tubuhku, tetap saja itu menjijikkan. Tapi yaa mau gimana lagi, bocah ini lupa
membawa seragam nya dan tidak mau alpha satu pelajaran, hanya pilihan ini yang
terbaik.
“Iyaa aku akan meminjam seragam hanya
untuk hari ini, tapi apa kau mau menemaniku meminjamnya? Aku sedikit malu
datang sendiri ke kelas lain,” pinta Rehan dengan gestur tubuh aneh.
“Iyaa akan aku temani, tenang saja. Tapi
tetap kau yang akan ngomong untuk meminjam seragam olahraganya,” ujarku wajah
yang datar.
Kelas yang baru selesai pelajaran
olahraga adalah kelas 11 IPA 3, kelas itu mendapat jam pelajaran olahraga di
jam pertama sedangkan kelas aku kami mendapat di jam kedua. Dan si Rehan lupa
membawa seragam olahraganya, kami berniat untuk meminjam satu untuk Rehan agar
mengikuti kelas olahraga hari ini, jika tidak dia akan kena alpha oleh guru
olahraga.
Saat kami berjalan menuju kelas 11 IPA 3
wajah Rehan seperti cemas dan takut. Sepertinya dia malu untuk meminjamnya,
lebih baik aku diam saja. Mari kita liat bagaimana Rehan akan bilang kepada
salah satu anak yang ada di kelas itu.
“Baik kita sudah sampai di kelas 11 IPA
3, aku akan menunggu di depan pintu karena tugasku sekarang adalah hanya
menemanimu,” kataku dengan wajah senyum jahat.
Lalu Rehan memanggil salah satu anak
terdekat yang duduknya di dekat pintu keluar, agar lebih mudah meminjamnya dan
tidak terdengar oleh siswa lain yang ada di kelas itu. Namun, yang Rehan
panggil adalah seorang perempuan. Aku berfikir “Kenapa dia meminjam kepada anak
perempuan!”
“Em…maaf, bisa ke sini sebentar tidak!?”
sahut Rehan ke salah satu murid perempuan yang berada di dekat pintu. Murid
perempuan itu pun menghampiri Rehan dengan santai.
“Iyaa, ada perlu apa yaa?” tanya
penasaran perempuan itu kepada Rehan.
“Aku mau meminjam seragam olahraga, aku
lupa membawa seragamku. Aku takut jika tidak ikut pelajaran olahraga akan kena
alpha dari guru olahraga, makanya dari itu aku ke sini untuk meminjam sebentar
saja,” Rehan yang malu-malu.
Dan yang sudah aku duga pun terjadi,
perempuan itu bilang kepada seluruh siswa di kelas itu dengan suara yang
lantang.
“Oyy! Kalian para cowok ada yang mau
meminjamkannya seragam olahraga tidak? Dia katanya lupa membawa seragamnya,”
teriak perempuan itu kepada seluruh anak di kelas.
Sudah kuduga perempuan itu akan memberi
tau kepada teman laki-lakinya, dan juga kenapa Rehan meminjam seragam kepada
anak perempuan, dasar dia ini. Aku melihat wajah Rehan yang terlihat sangat
malu, kaki nya sedikit gemetaran, palingan setelah ini dia bakal memintaku
untuk menemaninya ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Setelah anak perempuan itu memberi tau
kepada teman laki nya, tidak ada satupun tanda-tanda dari anak lelaki yang
ingin meminjamkan Rehan seragam olahraga. Dan tiba-tiba ada satu anak lelaki
berbadan yang lebih besar dari Rehan yang mendekati Rehan dan perempuan itu
dengan membawa seragam olahraga yang telah di pakai.
“Kau ingin meminjam seragam olahraga,
kan? Aku akan meminjamkannya kepadamu tapi jangan sampai ada yang sobek, aku
harap seragam ini tidak kebesaran untuk mu,” ujar lelaki itu.
“Iyaa tidak apa jika kebesaran, yang
terpenting aku bisa mengikuti pelajaran ini, terima kasih yaa. Setelah selesai
akan aku bawa pulang dulu yaa, aku akan cuci seragam mu, jadi saat aku
kembalikan seragam ini sudah bersih dan wangi,” Rehan yang berterima kasih
kepada lelaki itu.
“Baiklah, terima kasih juga,” balas
lelaki itu.
__ADS_1
“Oiya, kalau boleh tau namamu siapa?”
tanya Rehan.
“Namaku Zainal,” jawab Zainal dengan
wajah senyum.
“Oke, kalau begitu aku pinjam dulu yaa
seragam mu,”
“Iyaa,”
Akhirnya
Rehan berhasil meminjam seragam olahraga dari anak kelas 11 IPA 3, nama anak
itu Zainal. Dan benar saja setelah selesai Rehan meminjam seragam dia mengajak
ku untuk pergi ke toilet sebentar hanya untuk buang air kecil. Pasti dia tadi
menahan rasa malunya, di tambah yang tiba-tiba perempuan tadi berteriak cukup
keras untuk memberi tau bahwa ada orang yang ingin meminjam seragam olahraga.
“Angga, antar aku sebentar yuk ke
toilet. Aku sudah tidak tahan lagi aku ingin buang air kecil,” kata Rehan yang
menahan buang air.
“Iyaa-iyaa aku temani,”
Setelah aku menemani nya ke toilet ia
sekalian mengganti seragam nya di disana. Dan saat memperlihatkan nya kepada
ku, ternyata benar seragam nya kebesaran. Aku menahan tawa ku di hadapan Rehan,
jika di lihat dari bagian baju, lengannya kepanjangan, celana nya juga
kepanjangan, dan juga lumayan gombrang.
“Kau yakin pakai seragam itu untuk
olahraga? Apa tidak kebesaran?” ejekku kepada Rehan sambil menahan ketawa.
“Kenapa wajah kau seperti itu? Kau ingin
menertawakanku, kan? Tapi aku akan tetap memakai seragam yang sudah di
pinjamkan kepada ku, jika bukan karena seragam ini mungkin aku akan di alpha
kan oleh guru olahraga,” kata Rehan dengan yakin.
“Baiklah, jika kau merasa nyaman
menggunakannya maka pakai saja untuk olahraga,” kataku.
Kamipun kembali ke kelas terlebih
dahulu, karena waktu jam pelajaran olahraga masih 10 menit lagi. Sepanjang
perjalanan ke kelas aku berusaha untuk tidak tertawa, karena Rehan terlihat
aneh saat mengenakan pakaian yang gombrang itu, dan ada beberapa siswa lain
yang melihatnya entah itu dari jendela kelas mereka atau pas-pasan di jalan,
sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama dengan ku.
Dan sesaat sampai di kelas, teman-teman
kelas yang lain langsung melihat ke arah Rehan kemudian mereka tertawa
sekencang-kencang nya. Hari ini di kelas Rehan menjadi sorotan, karena pakaiannya
yang gombrang itu.
“Kau pinjam ke siapa? Memangnya tidak
kau coba dulu ukurannya sampai-sampai kau langsung pakai,” ujar salah satu
teman di kelasku.
jika olahraga menggunakan pakaian yang gombrang seperti itu?” ujar teman wanita
di kelas ku.
“Tidak! Aku akan tetap mengikuti
pelajaran olahraga dengan mengenakan seragam yang sudah di pinjamkannya untuk
ku. Walaupun seragam ini gombrang, aku akan tetap mengenakannya untuk pelajaran
olahraga,” kata Rehan yang percaya diri dengan dada yang di busungkan.
Anak ini percaya diri sekali, yaa
seperti itulah Rehan. Karena waktu sudah 5 menit lagi ingin dimulai pelajaran
olahraga, kami sekelas pergi bersama ke lapangan belakang, karena guru olahraga
sudah menunggu di sana.
Saat sampai disana tidak aku sangka
ternyata kelas aku ber-barengan jam olahraganya dengan kelas Safira, dari kelas
Bahasa. Aku dan Safira memiliki jadwal olahraga yang ber-barengan, sepertinya
jadwal olahraga akan menjadi jadwal favoritku sekarang di sekolah.
Dan juga saat sampai di lapangan, anak
dari kelas lain terfokus pandangannya kepada Rehan yang mengenakan pakaian
gombrang. Anak-anak pada menertawakan Rehan, Rehan menjadi sorotan hari ini di
lapangan. Namun dia tidak mempedulikan yang lain, dia hanya focus terhadap
pelajaran hari ini.
“Kamu kenapa memakai seragam yang
gombrang seperti itu?” tanya kebingungan guru olahraga ku kepada Rehan.
“Saya lupa membawa seragam olahraga saya
Pak. Jadi saya tadi meminjam ke kelas lain yang sudah selesai pelajaran
olahraga di jam sebelumnya,” ucap Rehan.
“Dasar kamu ini, lain kali jangan di
ulangi lagi. Jika di ulangi kembali bapak akan memberi mu skors,” balas guru
olahraga dengan tegas.
“Baik Pak.”
Olahraga hari ini tidak begitu berat
hanya bermain sepak bola, karena guru olahraga kami ingin di pertemuan pertama
semester baru olahraga nya hanya untuk senang-senang. Dan guru kami membagi
beberapa team, kelas kami di campur dengan kelas lain. Jumlah team setelah di
bagi adalah 6 team untuk lelaki dan 3 team untuk perempuan, setiap team ada 5
orang. Aku mendapat satu team dengan Rehan, aku harap dia tidak kesulitan bermain
bola dengan pakaian gombrangnya.
Di
permainan pertama aku langsung kalah, menyebalkan. Posisi Rehan adalah menjadi
back dan aku Penyerang, selama permainan Rehan kesulitan untuk menahan bola
yang datang menyerang, karena baju gombrangnya yang membuat Rehan kesulitan.
Dan aku juga kesulitan saat menyerang gawang lawan, team kami kalah 8-3. Benar-benar
menyedihkan dan melelahkan.
__ADS_1
Saat aku ingin istirahat, aku melihat
Safira sedang duduk sendiri di tepi lapangan. Kenapa dia tidak gabung saja
dengan team nya, aduh dia ini selalu saja sendirian. Tanpa basa basi aku
menghampirinya yang tengah duduk sendiri di tepi lapangan.
“Masih ajah duduk sendiri, kenapa kamu
tidak gabung dengan team mu saja?” tanyaku.
“Aku lebih suka duduk sendiri, jika team
aku sudah waktu bermain maka aku akan kesana, jika belum yaa aku duduk disini
saja melihat orang-orang disana bermain,” ujar Safira, menatap siswa yang bermain
sepak bola.
“Bagaimana tadi? Apa team mu menang?
Atau sebaliknya,” sambung Safira, melihat ke arah wajahku dengan maksud yang
berbeda.
“Dengan ekspresi wajahmu seperti itu
harusnya kamu sudah tau bagaimana hasilnya, kan? Aku sedikit kesulitan saat menyerang
dan Rehan kesulitan untuk menahan bola di belakang karena seragam yang di
pinjamnya kebesaran untuk badannya,” kataku.
Dia berusaha mengejek ku dengan
pertanyaan seperti itu dan dengan ekspresi wajahnya yang mudah di tebak maksud
dan tujuannya.
“Itu temanmu kenapa meminjam seragam
olahraga yang bukan ukuran untuk badannya sih, yang ada cuman buat dirinya
susah sendiri,” kata Safira.
“Huh, aku tidak tau. Yang penting dia
percaya diri saja saat mengenakannya.”
“Kamu mau minum? Aku bawa botol minumku
dari kelas, aku tau kamu kelelahan habis bermain bola, apalagi dengan satu team
seperti itu tadi, pasti sangat berjuang sekali,” kata Safira, memberikan botol
airnya untuk aku minum.
“Terima kasih, pas banget kamu membawa
botol air.”
Aku duduk berdua dengan Safira di tepi
lapangan sambil menunggu giliran timnya Safira main, aku menyadari Rehan sedang
memperhatikan dari tempat duduk berkumpulnya team ku. Dia terlihat seperti
ingin bilang sesuatu kepadaku namun dengan gestur wajah yang aneh, aku tidak
bisa menerjemahkan gestur wajahnya. Tak lama dari itu permainan untuk wanita
sudah habis dan berganti giliran untuk team Safira bermain.
“Aku tinggal ya, sepertinya waktunya
team aku untuk main,” kata Safira sambil berdiri dari duduknya.
“Iyaa sana, mungkin mereka akan kesusahan
untuk menang jika kekurangan satu orang di team nya.”
Kemudian mata pelajaran olahraga
berjalan seperti biasanya sampai waktunya habis. Lalu aku dan teman kelas yang
lain nya pergi bersama ke kelas, sesaat sampai di kelas aku melihat ada sebuah
kotak merah kecil di atas mejaku. Aku penasaran siapa yang menaruh di atas
mejaku sebuah kotak merah kecil.
“Hmm…aku tidak ingat ada kotak ini di
atas mejamu, atau memang itu punya mu?” tanya Rehan kebingungan melihat kotak
kecil di atas mejaku.
“Aku juga tidak menaruh kotak ini di
atas meja, dan juga ini punya siapa akupun tidak tau,” ujarku, menatap kotak
merah. Kemudian Putri datang menghampiri kami karena penasaran melihat aku dan
Rehan yang sedang menatap kotak merah kecil di atas mejaku.
“Kalian sedang ngapain? Sampai
kebingungan gitu,” tanya Putri kebingungan.
“Putri, kamu liat ada orang yang menaruh
kotak ini di atas mejaku? Mungkin barangnya ke tinggal di sini,” kataku,
berprasangka baik.
“Tidak ada, bukannya saat kita semua
pergi ke lapangan semua meja dalam keadaan kosong, dan pada saat pelajaran
olahraga berlangsung teman-teman yang lain tidak ada yang izin masuk ke kelas
semua berada di lapangan,” kata Putri dengan yakin.
Apa yang di bilang oleh Putri ada benar
nya juga, saat pelajaran olahraga pun tidak ada siswa yang izin masuk ke kelas.
Tapi siapa yang menaruh ini, aku penasaran dengan isi kotaknya, tanganku terasa
sangat gatal ingin membukanya segera. Tanpa banyak pikir lagi aku mengambil
kotak itu dan membukanya tepat di hadapan mereka berdua.
Dan saat aku buka ternyata isinya
gantungan dengan bentuk huruf M, dan ada surat di dalam kotak itu yang
bertuliskan untuk Angga. Putri dan Rehan penasaran dengan isi suratnya namun
aku tidak ingin mereka juga membacanya karena surat ini di tuju untukku.
“Wow ada surat, aku mau liat dong isi
suratnya,” ucap Rehan penasaran, menatap ke arah surat yang aku pegang.
“Aku juga mau liat dong isinya,” ucap
Putri penasaran.
“Tidak, jika memang surat ini di tuju
kepada ku maka hanya aku yang boleh membacanya. Jadi kalian jangan mengintip
yaa isi nya apa, hanya aku yang boleh melihat dan membacanya,” kataku dengan nada
sombong dan dengan wajah nyebelin.
“Baiklah surat ini akan aku buka saat
sudah di rumah saja, dan gantungan ini aku pasang saja di tasku. Aku sangat
menghargai pemberian orang ini walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi,” sambung
ku.
***
__ADS_1