Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 16


__ADS_3

Jam Mata Pelajaran Olahraga


***


Padahal belum mulai jam olahraga, tapi


Rehan berisik sekali mengoceh tanpa henti di depanku. kepalaku pusing mendengar


ocehannya, dia mengoceh tentang bagaimana nasibnya karena lupa membawa seragam


olahraga, dia takut kena alpha jika tidak ikut pelajaran olahraga.


“Angga! ini bagaimana? Aku lupa membawa


seragam olahraga lagi, bagaimana bisa aku melupakannya. Aku takut jika aku


tidak ikut pelajaran olahraga akan di cap alpha karena tidak mengikuti


pelajaran sekolah, apa yang harus aku lakukan ANGGA!?” ocehan Rehan yang begitu


berisik.


“Akukan sudah bilang kepadamu tadi, kau


bisa meminjam seragam olahraga kelas lain yang baru selesai olahraga,” ujarku


dengan wajah datar karena lelah mendengar ocehan bocah satu ini.


“Tapi itu seragam yang dipakai sehabis


olahraga, keringatnya nanti bercampur denganku bagaimana? Kan itu menjijikkan,”


sahut Rehan.


“Lalu kau ingin bolos pelajaran ini? Atau


meminjam hanya untuk sehari ini saja?” kataku yang memberi Rehan pilihan.


Anak ini siapa suruh lupa membawa


seragam olahraga, akupun tidak mau memakai seragam olahraga yang habis di pakai


orang lain olahraga, aku juga tidak mau keringat orang lain bercampur dengan


tubuhku, tetap saja itu menjijikkan. Tapi yaa mau gimana lagi, bocah ini lupa


membawa seragam nya dan tidak mau alpha satu pelajaran, hanya pilihan ini yang


terbaik.


“Iyaa aku akan meminjam seragam hanya


untuk hari ini, tapi apa kau mau menemaniku meminjamnya? Aku sedikit malu


datang sendiri ke kelas lain,” pinta Rehan dengan gestur tubuh aneh.


“Iyaa akan aku temani, tenang saja. Tapi


tetap kau yang akan ngomong untuk meminjam seragam olahraganya,” ujarku wajah


yang datar.


Kelas yang baru selesai pelajaran


olahraga adalah kelas 11 IPA 3, kelas itu mendapat jam pelajaran olahraga di


jam pertama sedangkan kelas aku kami mendapat di jam kedua. Dan si Rehan lupa


membawa seragam olahraganya, kami berniat untuk meminjam satu untuk Rehan agar


mengikuti kelas olahraga hari ini, jika tidak dia akan kena alpha oleh guru


olahraga.


Saat kami berjalan menuju kelas 11 IPA 3


wajah Rehan seperti cemas dan takut. Sepertinya dia malu untuk meminjamnya,


lebih baik aku diam saja. Mari kita liat bagaimana Rehan akan bilang kepada


salah satu anak yang ada di kelas itu.


“Baik kita sudah sampai di kelas 11 IPA


3, aku akan menunggu di depan pintu karena tugasku sekarang adalah hanya


menemanimu,” kataku dengan wajah senyum jahat.


Lalu Rehan memanggil salah satu anak


terdekat yang duduknya di dekat pintu keluar, agar lebih mudah meminjamnya dan


tidak terdengar oleh siswa lain yang ada di kelas itu. Namun, yang Rehan


panggil adalah seorang perempuan. Aku berfikir “Kenapa dia meminjam kepada anak


perempuan!”


“Em…maaf, bisa ke sini sebentar tidak!?”


sahut Rehan ke salah satu murid perempuan yang berada di dekat pintu. Murid


perempuan itu pun menghampiri Rehan dengan santai.


“Iyaa, ada perlu apa yaa?” tanya


penasaran perempuan itu kepada Rehan.


“Aku mau meminjam seragam olahraga, aku


lupa membawa seragamku. Aku takut jika tidak ikut pelajaran olahraga akan kena


alpha dari guru olahraga, makanya dari itu aku ke sini untuk meminjam sebentar


saja,” Rehan yang malu-malu.


Dan yang sudah aku duga pun terjadi,


perempuan itu bilang kepada seluruh siswa di kelas itu dengan suara yang


lantang.


“Oyy! Kalian para cowok ada yang mau


meminjamkannya seragam olahraga tidak? Dia katanya lupa membawa seragamnya,”


teriak perempuan itu kepada seluruh anak di kelas.


Sudah kuduga perempuan itu akan memberi


tau kepada teman laki-lakinya, dan juga kenapa Rehan meminjam seragam kepada


anak perempuan, dasar dia ini. Aku melihat wajah Rehan yang terlihat sangat


malu, kaki nya sedikit gemetaran, palingan setelah ini dia bakal memintaku


untuk menemaninya ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Setelah anak perempuan itu memberi tau


kepada teman laki nya, tidak ada satupun tanda-tanda dari anak lelaki yang


ingin meminjamkan Rehan seragam olahraga. Dan tiba-tiba ada satu anak lelaki


berbadan yang lebih besar dari Rehan yang mendekati Rehan dan perempuan itu


dengan membawa seragam olahraga yang telah di pakai.


“Kau ingin meminjam seragam olahraga,


kan? Aku akan meminjamkannya kepadamu tapi jangan sampai ada yang sobek, aku


harap seragam ini tidak kebesaran untuk mu,” ujar lelaki itu.


“Iyaa tidak apa jika kebesaran, yang


terpenting aku bisa mengikuti pelajaran ini, terima kasih yaa. Setelah selesai


akan aku bawa pulang dulu yaa, aku akan cuci seragam mu, jadi saat aku


kembalikan seragam ini sudah bersih dan wangi,” Rehan yang berterima kasih


kepada lelaki itu.


“Baiklah, terima kasih juga,” balas


lelaki itu.

__ADS_1


“Oiya, kalau boleh tau namamu siapa?”


tanya Rehan.


“Namaku Zainal,” jawab Zainal dengan


wajah senyum.


“Oke, kalau begitu aku pinjam dulu yaa


seragam mu,”


“Iyaa,”


Akhirnya


Rehan berhasil meminjam seragam olahraga dari anak kelas 11 IPA 3, nama anak


itu Zainal. Dan benar saja setelah selesai Rehan meminjam seragam dia mengajak


ku untuk pergi ke toilet sebentar hanya untuk buang air kecil. Pasti dia tadi


menahan rasa malunya, di tambah yang tiba-tiba perempuan tadi berteriak cukup


keras untuk memberi tau bahwa ada orang yang ingin meminjam seragam olahraga.


“Angga, antar aku sebentar yuk ke


toilet. Aku sudah tidak tahan lagi aku ingin buang air kecil,” kata Rehan yang


menahan buang air.


“Iyaa-iyaa aku temani,”


Setelah aku menemani nya ke toilet ia


sekalian mengganti seragam nya di disana. Dan saat memperlihatkan nya kepada


ku, ternyata benar seragam nya kebesaran. Aku menahan tawa ku di hadapan Rehan,


jika di lihat dari bagian baju, lengannya kepanjangan, celana nya juga


kepanjangan, dan juga lumayan gombrang.


“Kau yakin pakai seragam itu untuk


olahraga? Apa tidak kebesaran?” ejekku kepada Rehan sambil menahan ketawa.


“Kenapa wajah kau seperti itu? Kau ingin


menertawakanku, kan? Tapi aku akan tetap memakai seragam yang sudah di


pinjamkan kepada ku, jika bukan karena seragam ini mungkin aku akan di alpha


kan oleh guru olahraga,” kata Rehan dengan yakin.


“Baiklah, jika kau merasa nyaman


menggunakannya maka pakai saja untuk olahraga,” kataku.


Kamipun kembali ke kelas terlebih


dahulu, karena waktu jam pelajaran olahraga masih 10 menit lagi. Sepanjang


perjalanan ke kelas aku berusaha untuk tidak tertawa, karena Rehan terlihat


aneh saat mengenakan pakaian yang gombrang itu, dan ada beberapa siswa lain


yang melihatnya entah itu dari jendela kelas mereka atau pas-pasan di jalan,


sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama dengan ku.


Dan sesaat sampai di kelas, teman-teman


kelas yang lain langsung melihat ke arah Rehan kemudian mereka tertawa


sekencang-kencang nya. Hari ini di kelas Rehan menjadi sorotan, karena pakaiannya


yang gombrang itu.


“Kau pinjam ke siapa? Memangnya tidak


kau coba dulu ukurannya sampai-sampai kau langsung pakai,” ujar salah satu


teman di kelasku.


jika olahraga menggunakan pakaian yang gombrang seperti itu?” ujar teman wanita


di kelas ku.


“Tidak! Aku akan tetap mengikuti


pelajaran olahraga dengan mengenakan seragam yang sudah di pinjamkannya untuk


ku. Walaupun seragam ini gombrang, aku akan tetap mengenakannya untuk pelajaran


olahraga,” kata Rehan yang percaya diri dengan dada yang di busungkan.


Anak ini percaya diri sekali, yaa


seperti itulah Rehan. Karena waktu sudah 5 menit lagi ingin dimulai pelajaran


olahraga, kami sekelas pergi bersama ke lapangan belakang, karena guru olahraga


sudah menunggu di sana.


Saat sampai disana tidak aku sangka


ternyata kelas aku ber-barengan jam olahraganya dengan kelas Safira, dari kelas


Bahasa. Aku dan Safira memiliki jadwal olahraga yang ber-barengan, sepertinya


jadwal olahraga akan menjadi jadwal favoritku sekarang di sekolah.


Dan juga saat sampai di lapangan, anak


dari kelas lain terfokus pandangannya kepada Rehan yang mengenakan pakaian


gombrang. Anak-anak pada menertawakan Rehan, Rehan menjadi sorotan hari ini di


lapangan. Namun dia tidak mempedulikan yang lain, dia hanya focus terhadap


pelajaran hari ini.


“Kamu kenapa memakai seragam yang


gombrang seperti itu?” tanya kebingungan guru olahraga ku kepada Rehan.


“Saya lupa membawa seragam olahraga saya


Pak. Jadi saya tadi meminjam ke kelas lain yang sudah selesai pelajaran


olahraga di jam sebelumnya,” ucap Rehan.


“Dasar kamu ini, lain kali jangan di


ulangi lagi. Jika di ulangi kembali bapak akan memberi mu skors,” balas guru


olahraga dengan tegas.


“Baik Pak.”


Olahraga hari ini tidak begitu berat


hanya bermain sepak bola, karena guru olahraga kami ingin di pertemuan pertama


semester baru olahraga nya hanya untuk senang-senang. Dan guru kami membagi


beberapa team, kelas kami di campur dengan kelas lain. Jumlah team setelah di


bagi adalah 6 team untuk lelaki dan 3 team untuk perempuan, setiap team ada 5


orang. Aku mendapat satu team dengan Rehan, aku harap dia tidak kesulitan bermain


bola dengan pakaian gombrangnya.


Di


permainan pertama aku langsung kalah, menyebalkan. Posisi Rehan adalah menjadi


back dan aku Penyerang, selama permainan Rehan kesulitan untuk menahan bola


yang datang menyerang, karena baju gombrangnya yang membuat Rehan kesulitan.


Dan aku juga kesulitan saat menyerang gawang lawan, team kami kalah 8-3. Benar-benar


menyedihkan dan melelahkan.

__ADS_1


Saat aku ingin istirahat, aku melihat


Safira sedang duduk sendiri di tepi lapangan. Kenapa dia tidak gabung saja


dengan team nya, aduh dia ini selalu saja sendirian. Tanpa basa basi aku


menghampirinya yang tengah duduk sendiri di tepi lapangan.


“Masih ajah duduk sendiri, kenapa kamu


tidak gabung dengan team mu saja?” tanyaku.


“Aku lebih suka duduk sendiri, jika team


aku sudah waktu bermain maka aku akan kesana, jika belum yaa aku duduk disini


saja melihat orang-orang disana bermain,” ujar Safira, menatap siswa yang bermain


sepak bola.


“Bagaimana tadi? Apa team mu menang?


Atau sebaliknya,” sambung Safira, melihat ke arah wajahku dengan maksud yang


berbeda.


“Dengan ekspresi wajahmu seperti itu


harusnya kamu sudah tau bagaimana hasilnya, kan? Aku sedikit kesulitan saat menyerang


dan Rehan kesulitan untuk menahan bola di belakang karena seragam yang di


pinjamnya kebesaran untuk badannya,” kataku.


Dia berusaha mengejek ku dengan


pertanyaan seperti itu dan dengan ekspresi wajahnya yang mudah di tebak maksud


dan tujuannya.


“Itu temanmu kenapa meminjam seragam


olahraga yang bukan ukuran untuk badannya sih, yang ada cuman buat dirinya


susah sendiri,” kata Safira.


“Huh, aku tidak tau. Yang penting dia


percaya diri saja saat mengenakannya.”


“Kamu mau minum? Aku bawa botol minumku


dari kelas, aku tau kamu kelelahan habis bermain bola, apalagi dengan satu team


seperti itu tadi, pasti sangat berjuang sekali,” kata Safira, memberikan botol


airnya untuk aku minum.


“Terima kasih, pas banget kamu membawa


botol air.”


Aku duduk berdua dengan Safira di tepi


lapangan sambil menunggu giliran timnya Safira main, aku menyadari Rehan sedang


memperhatikan dari tempat duduk berkumpulnya team ku. Dia terlihat seperti


ingin bilang sesuatu kepadaku namun dengan gestur wajah yang aneh, aku tidak


bisa menerjemahkan gestur wajahnya. Tak lama dari itu permainan untuk wanita


sudah habis dan berganti giliran untuk team Safira bermain.


“Aku tinggal ya, sepertinya waktunya


team aku untuk main,” kata Safira sambil berdiri dari duduknya.


“Iyaa sana, mungkin mereka akan kesusahan


untuk menang jika kekurangan satu orang di team nya.”


Kemudian mata pelajaran olahraga


berjalan seperti biasanya sampai waktunya habis. Lalu aku dan teman kelas yang


lain nya pergi bersama ke kelas, sesaat sampai di kelas aku melihat ada sebuah


kotak merah kecil di atas mejaku. Aku penasaran siapa yang menaruh di atas


mejaku sebuah kotak merah kecil.


“Hmm…aku tidak ingat ada kotak ini di


atas mejamu, atau memang itu punya mu?” tanya Rehan kebingungan melihat kotak


kecil di atas mejaku.


“Aku juga tidak menaruh kotak ini di


atas meja, dan juga ini punya siapa akupun tidak tau,” ujarku, menatap kotak


merah. Kemudian Putri datang menghampiri kami karena penasaran melihat aku dan


Rehan yang sedang menatap kotak merah kecil di atas mejaku.


“Kalian sedang ngapain? Sampai


kebingungan gitu,” tanya Putri kebingungan.


“Putri, kamu liat ada orang yang menaruh


kotak ini di atas mejaku? Mungkin barangnya ke tinggal di sini,” kataku,


berprasangka baik.


“Tidak ada, bukannya saat kita semua


pergi ke lapangan semua meja dalam keadaan kosong, dan pada saat pelajaran


olahraga berlangsung teman-teman yang lain tidak ada yang izin masuk ke kelas


semua berada di lapangan,” kata Putri dengan yakin.


Apa yang di bilang oleh Putri ada benar


nya juga, saat pelajaran olahraga pun tidak ada siswa yang izin masuk ke kelas.


Tapi siapa yang menaruh ini, aku penasaran dengan isi kotaknya, tanganku terasa


sangat gatal ingin membukanya segera. Tanpa banyak pikir lagi aku mengambil


kotak itu dan membukanya tepat di hadapan mereka berdua.


Dan saat aku buka ternyata isinya


gantungan dengan bentuk huruf M, dan ada surat di dalam kotak itu yang


bertuliskan untuk Angga. Putri dan Rehan penasaran dengan isi suratnya namun


aku tidak ingin mereka juga membacanya karena surat ini di tuju untukku.


“Wow ada surat, aku mau liat dong isi


suratnya,” ucap Rehan penasaran, menatap ke arah surat yang aku pegang.


“Aku juga mau liat dong isinya,” ucap


Putri penasaran.


“Tidak, jika memang surat ini di tuju


kepada ku maka hanya aku yang boleh membacanya. Jadi kalian jangan mengintip


yaa isi nya apa, hanya aku yang boleh melihat dan membacanya,” kataku dengan nada


sombong dan dengan wajah nyebelin.


“Baiklah surat ini akan aku buka saat


sudah di rumah saja, dan gantungan ini aku pasang saja di tasku. Aku sangat


menghargai pemberian orang ini walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi,” sambung


ku.


***

__ADS_1


__ADS_2