Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 35


__ADS_3

Klaster 3 (Final)


“Lawanmu selanjutnya dari team Bogor,


apa kamu siap?” kata Sabin di sampingku.


“Sudah kuduga,” sahutku, “pasti dari


team Bogor yang berhasil masuk final.”


“Jangan sampai kalah yaa,” Sabin yang


melirik ke arahku.


“Tentu saja.”


Sabin sekarang sudah menyelesaikan


pertandingannya. Dia berhasil menang di final tadi, aku juga harus tidak boleh


kalah dengan Sabin. Pertandingan kali ini Sabin mendapat emas, penentuan final


ada di tanganku sendiri.


Orang yang akan bertemu denganku nanti


di final, dia sudah berkembang dari sebelumnya. Aku juga harus berhati-hati


terhadapnya, aku akan benar-benar serius di final ini. Tidak akan kuberikan


juara 1 kepada orang lain, kecuali diriku sendiri.


Melani


***


Angga hebat,


sekarang dia sudah sampai ke babak final di pertandingan. Dia pasti akan


menang. Di pertandingan sebelumnya dia benar-benar mendominasi pertandingannya,


tidak di biarkan lawannya mengenainya. Aku yakin dia akan menang.


“Angga hebat


yaa,” sahut ayahku, “dua pertandingan sebelumnya dia benar-benar mendominasi


permainan. Dia tidak memberi lawannya point sedikitpun walaupun tadi dia sempat


kecolongan, tapi hanya sedikit.”


“Emm…,” aku


menganggukkan kepala, “aku yakin dia akan menjadi juara di pertandingan kali


ini.”


“Angga


benar-benar hebat,” kata Putri.


Ayo Angga


satu pertandingan lagi untuk menjadi juara. Aku sudah melihat latihan kerasmu,


bahkan saat aku melihatmu latihan pada saat itu, terbayang di benakku bila aku


melakukan itu selama sebulan penuh. Aku sendiri tidak yakin akan bisa. Aku


mohon Angga, berjuanglah.


***


Rehan


***


Tidak aku sangka dia berhasil menuju


babak final, dari pertandingan sebelumnya dia benar-benar mendominasi


permainannya. Kurasa dia akan menjadi juara di kejuaraan kali ini, aku tidak


perlu kaget tentang ini. Ini memang seharusnya tempatnya Angga.


“Angga masuk ke babak final yaa,


Rehan?” tanya Safira di sampingku.


“Iyaa,” jawabku, “Dia berhasil


memenangkan dua pertandingan sebelumnya dengan mudah. Tapi kita liat bagaimana


hasil dari pertandingan final ini.”


“Dia sangat bersemangat sekali.”


“Dia memang selalu begitu.”

__ADS_1


***


Aku dan juga pelatih Markus berjalan


bersama menuju arena. Di babak final masih pelatih Markus sebagai Coach yang


mendampingiku selama pertandingan. Ini adalah babak penentuan, bila aku


memenangkan ini aku yang akan menjadi juara 1, dan mendapat medali emas.


Aku dan pelatih Markus yang memasuki


lapangan, terdengar suara panggilan dari panitia.


“Pertandingan final, Angga Saputra dari


Bekasi melawan Darla Febius dari Bogor. Harap kepada atlet memasuki lapangan


dan bersiap.”


Aku segera pergi ke panitia untuk


mempersiapkan peralatan yang akan aku kenakan. Setelah selesai semua peralatan


di pasangkan oleh panitia kepadaku, aku pergi menuju pelatih Markus untuk


mendapatkan arahan darinya sebelum pertandingan di mulai.


“Ini udah final, jangan main gegabah.


Kamu sendiri sudah melihat bagaimana cara main dia kan? Jadi di round pertama


sabeum mau kamu sabar dulu. Jangan sampai kamu terbawa emosi, kontrol emosi


kamu. Kalau dapat celah menyerang jangan di sia-siain. Paham kan?” kata pelatih


Markus kepadaku sebelum di mulai.


“Iyaa beum.”


Wasit memberi tanda untuk peserta


memasuki lapangan, sebelum itu aku meminta restu kepada pelatih Markus dengan


memberi salam hormat, aku menundukkan kepalaku di hadapannya. Karena beliau lah


yang menemaniku terus dalam kejuaraan. Dia adalah yang terbaik.


Akupun pergi ke lapangan, aku dan Darla


saling memberi hormat dan bersalaman sebelum bertanding. Wasit menaruh


tangannya ke atas, tanda permainan di mulai.


Tiba-tiba dia langsung menggunakan Deaol


Chagi dengan kaki depan sambil loncat maju (Deaol Chagi, tendangan mencangkul


ke arah depan menggunakan tumit dengan mengangkat kaki setinggi tingginya dan


menghempaskannya seolah-olah seperti gerakan mencangkul)


Aku kaget dengan tendangan dia barusan


dan berhasil mengenai bagian kepalaku, skor 0-3. Aku kecolongan point di awal


olehnya, dia benar-benar mengincar point awal. Tapi aku jangan sampai terbawa suasana


olehnya, aku harus tetap tenang.


Dia mulai menyerang lagi dengan cara


mempushku dengan kaki depannya, saat itulah pertahanan dia ada yang terbuka.


Segera aku meluncurkan serangan kaki belakangku untuk menendang bagian


perutnya, kakiku mengayun dari bawah menuju body protektornya. Dan aku berhasil


mengenai perutnya, skor 2-3.


Waktu terus berlalu kami terus saling


jual beli serangan tanpa henti, namun belum ada point lagi yang bertambah. Aku


terus mencari celah untuk mendapat point, tapi terus gagal. Dia benar-benar


memperkuat pertahanannya.


Sekarang aku mencoba untuk memancingnya


dengan cara mempushnya, aku terus mendorongnya. Dia terus menepis dorongan


kakiku, tapi itu hanya pancingan dariku. Aku langsung menurunkan kaki depanku


yang aku gunakan untuk mendorong dan memancingnya, dan segera kaki belakangku


lagi-lagi melakukan serangan mendadak, dan berhasil membuatnya kagok. Dan aku


berhasil mendapatkan point perut. Skor 4-3.

__ADS_1


Waktu round pertama habis, wasit segera


memisahkan kita untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan permainan.


Waktu istirahat habis dan kami kembali


ke lapangan untuk melanjutkan permainan.


Wasit memulai permainan, dan dengan


tiba-tiba dia mengeluarkan tendangan yang sama seperti di awal untuk membuatku


kaget. Tapi aku sudah menyadarinya duluan, dengan begitu aku berhasil menghindari


tendangannya.


Kami saling meluncurkan serangan, namun


tidak ada point yang masuk. Bahkan kadang serangan di antara kita di tepis atau


di hindar. Benar-benar pertarungan yang membuat hati gregetan. Saat aku mencoba


untuk mendorongnya menggunakan kakiku, aku terkejut dia langsung membalasnya


dengan tendangan cepat menuju perutku. Diapun berhasil mendapat 2-point dari


serangannya barusan, skor 4-5.


Waktu terus berjalan, saat detik-detik


terakhir round dua. Aku mengecohnya dengan kaki depanku dengan cara memutar-mutar


kaki di saat aku menggantungkan setara pinggul. Aku terus memutar, sampai dia


tidak bisa membuang kakiku yang ada di hadapannya. Lalu dengan cepat saat


sedang berputar, aku menendang bodynya, dan berhasil mendapat 2 point, skor


6-5.


Hasil dari round dua adalah 6-5. Aku


unggul satu point darinya, lalu kami di pisahkan untuk istirahat ke dua sebelum


melanjutkan ke round 3.


“Ingat, ini round terakhir. Jangan


bikin kesalahan aneh-aneh, jika sampai membuat kesalahan dan kamu kecolongan


point, sabeum takutnya emosimu jadi tidak terkendali, dan kamu bermain dengan


acak-acakan. Sabeum minta fokus! Oke?” kata pelatih Markus.


“Okee!!”


Wasit memberi tanda untuk peserta


memasuki lapangan kembali, untuk melanjutkan round yang terakhir. Round ke-3 di


mulai.


Aku langsung meluncurkan serangan


kepadanya, namun mudah baginya menangkis seranganku barusan. Diapun sama, dia


mencoba untuk menyerangku, namun mudah bagiku untuk menghindar dari serangannya


barusan.


Skor masih 6-5, dengan aku yang


memimpin sementara skornya. Kami terus menyerang dan bertahan, belum ada di


antara kami yang mendapat point. Dan membuat suasana arena menjadi memanas,


karena point hanya selisih satu angka.


Ayo aku pasti bisa. Aku belum mendapat


point lagi sejauh ini, diapun demikian. Perasaanku mulai bergejolak karena


seranganku dari tadi tidak berhasil mengenainya, suasananya menjadi tegang


begini. Waktu sebentar lagi mau habis hanya tinggal beberapa detik lagi. Dan


skor belum ada yang berubah sejak round 3 di mulai.


5…4…3…2


Tiba-tiba saat aku mencoba untuk


mendorongnya, karena posisiku kaki depan sedang terangkat setara pinggul. Kaki


belakangnya langsung mengarah cepat ke arah perutku dan berhasil mengenai body


protektorku, tendangannya pun berhasil masuk sensor. Skor 6-7.


1…Selesai.

__ADS_1


__ADS_2