
Klaster 3 (Final)
“Lawanmu selanjutnya dari team Bogor,
apa kamu siap?” kata Sabin di sampingku.
“Sudah kuduga,” sahutku, “pasti dari
team Bogor yang berhasil masuk final.”
“Jangan sampai kalah yaa,” Sabin yang
melirik ke arahku.
“Tentu saja.”
Sabin sekarang sudah menyelesaikan
pertandingannya. Dia berhasil menang di final tadi, aku juga harus tidak boleh
kalah dengan Sabin. Pertandingan kali ini Sabin mendapat emas, penentuan final
ada di tanganku sendiri.
Orang yang akan bertemu denganku nanti
di final, dia sudah berkembang dari sebelumnya. Aku juga harus berhati-hati
terhadapnya, aku akan benar-benar serius di final ini. Tidak akan kuberikan
juara 1 kepada orang lain, kecuali diriku sendiri.
Melani
***
Angga hebat,
sekarang dia sudah sampai ke babak final di pertandingan. Dia pasti akan
menang. Di pertandingan sebelumnya dia benar-benar mendominasi pertandingannya,
tidak di biarkan lawannya mengenainya. Aku yakin dia akan menang.
“Angga hebat
yaa,” sahut ayahku, “dua pertandingan sebelumnya dia benar-benar mendominasi
permainan. Dia tidak memberi lawannya point sedikitpun walaupun tadi dia sempat
kecolongan, tapi hanya sedikit.”
“Emm…,” aku
menganggukkan kepala, “aku yakin dia akan menjadi juara di pertandingan kali
ini.”
“Angga
benar-benar hebat,” kata Putri.
Ayo Angga
satu pertandingan lagi untuk menjadi juara. Aku sudah melihat latihan kerasmu,
bahkan saat aku melihatmu latihan pada saat itu, terbayang di benakku bila aku
melakukan itu selama sebulan penuh. Aku sendiri tidak yakin akan bisa. Aku
mohon Angga, berjuanglah.
***
Rehan
***
Tidak aku sangka dia berhasil menuju
babak final, dari pertandingan sebelumnya dia benar-benar mendominasi
permainannya. Kurasa dia akan menjadi juara di kejuaraan kali ini, aku tidak
perlu kaget tentang ini. Ini memang seharusnya tempatnya Angga.
“Angga masuk ke babak final yaa,
Rehan?” tanya Safira di sampingku.
“Iyaa,” jawabku, “Dia berhasil
memenangkan dua pertandingan sebelumnya dengan mudah. Tapi kita liat bagaimana
hasil dari pertandingan final ini.”
“Dia sangat bersemangat sekali.”
“Dia memang selalu begitu.”
__ADS_1
***
Aku dan juga pelatih Markus berjalan
bersama menuju arena. Di babak final masih pelatih Markus sebagai Coach yang
mendampingiku selama pertandingan. Ini adalah babak penentuan, bila aku
memenangkan ini aku yang akan menjadi juara 1, dan mendapat medali emas.
Aku dan pelatih Markus yang memasuki
lapangan, terdengar suara panggilan dari panitia.
“Pertandingan final, Angga Saputra dari
Bekasi melawan Darla Febius dari Bogor. Harap kepada atlet memasuki lapangan
dan bersiap.”
Aku segera pergi ke panitia untuk
mempersiapkan peralatan yang akan aku kenakan. Setelah selesai semua peralatan
di pasangkan oleh panitia kepadaku, aku pergi menuju pelatih Markus untuk
mendapatkan arahan darinya sebelum pertandingan di mulai.
“Ini udah final, jangan main gegabah.
Kamu sendiri sudah melihat bagaimana cara main dia kan? Jadi di round pertama
sabeum mau kamu sabar dulu. Jangan sampai kamu terbawa emosi, kontrol emosi
kamu. Kalau dapat celah menyerang jangan di sia-siain. Paham kan?” kata pelatih
Markus kepadaku sebelum di mulai.
“Iyaa beum.”
Wasit memberi tanda untuk peserta
memasuki lapangan, sebelum itu aku meminta restu kepada pelatih Markus dengan
memberi salam hormat, aku menundukkan kepalaku di hadapannya. Karena beliau lah
yang menemaniku terus dalam kejuaraan. Dia adalah yang terbaik.
Akupun pergi ke lapangan, aku dan Darla
saling memberi hormat dan bersalaman sebelum bertanding. Wasit menaruh
tangannya ke atas, tanda permainan di mulai.
Tiba-tiba dia langsung menggunakan Deaol
Chagi dengan kaki depan sambil loncat maju (Deaol Chagi, tendangan mencangkul
ke arah depan menggunakan tumit dengan mengangkat kaki setinggi tingginya dan
menghempaskannya seolah-olah seperti gerakan mencangkul)
Aku kaget dengan tendangan dia barusan
dan berhasil mengenai bagian kepalaku, skor 0-3. Aku kecolongan point di awal
olehnya, dia benar-benar mengincar point awal. Tapi aku jangan sampai terbawa suasana
olehnya, aku harus tetap tenang.
Dia mulai menyerang lagi dengan cara
mempushku dengan kaki depannya, saat itulah pertahanan dia ada yang terbuka.
Segera aku meluncurkan serangan kaki belakangku untuk menendang bagian
perutnya, kakiku mengayun dari bawah menuju body protektornya. Dan aku berhasil
mengenai perutnya, skor 2-3.
Waktu terus berlalu kami terus saling
jual beli serangan tanpa henti, namun belum ada point lagi yang bertambah. Aku
terus mencari celah untuk mendapat point, tapi terus gagal. Dia benar-benar
memperkuat pertahanannya.
Sekarang aku mencoba untuk memancingnya
dengan cara mempushnya, aku terus mendorongnya. Dia terus menepis dorongan
kakiku, tapi itu hanya pancingan dariku. Aku langsung menurunkan kaki depanku
yang aku gunakan untuk mendorong dan memancingnya, dan segera kaki belakangku
lagi-lagi melakukan serangan mendadak, dan berhasil membuatnya kagok. Dan aku
berhasil mendapatkan point perut. Skor 4-3.
__ADS_1
Waktu round pertama habis, wasit segera
memisahkan kita untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan permainan.
Waktu istirahat habis dan kami kembali
ke lapangan untuk melanjutkan permainan.
Wasit memulai permainan, dan dengan
tiba-tiba dia mengeluarkan tendangan yang sama seperti di awal untuk membuatku
kaget. Tapi aku sudah menyadarinya duluan, dengan begitu aku berhasil menghindari
tendangannya.
Kami saling meluncurkan serangan, namun
tidak ada point yang masuk. Bahkan kadang serangan di antara kita di tepis atau
di hindar. Benar-benar pertarungan yang membuat hati gregetan. Saat aku mencoba
untuk mendorongnya menggunakan kakiku, aku terkejut dia langsung membalasnya
dengan tendangan cepat menuju perutku. Diapun berhasil mendapat 2-point dari
serangannya barusan, skor 4-5.
Waktu terus berjalan, saat detik-detik
terakhir round dua. Aku mengecohnya dengan kaki depanku dengan cara memutar-mutar
kaki di saat aku menggantungkan setara pinggul. Aku terus memutar, sampai dia
tidak bisa membuang kakiku yang ada di hadapannya. Lalu dengan cepat saat
sedang berputar, aku menendang bodynya, dan berhasil mendapat 2 point, skor
6-5.
Hasil dari round dua adalah 6-5. Aku
unggul satu point darinya, lalu kami di pisahkan untuk istirahat ke dua sebelum
melanjutkan ke round 3.
“Ingat, ini round terakhir. Jangan
bikin kesalahan aneh-aneh, jika sampai membuat kesalahan dan kamu kecolongan
point, sabeum takutnya emosimu jadi tidak terkendali, dan kamu bermain dengan
acak-acakan. Sabeum minta fokus! Oke?” kata pelatih Markus.
“Okee!!”
Wasit memberi tanda untuk peserta
memasuki lapangan kembali, untuk melanjutkan round yang terakhir. Round ke-3 di
mulai.
Aku langsung meluncurkan serangan
kepadanya, namun mudah baginya menangkis seranganku barusan. Diapun sama, dia
mencoba untuk menyerangku, namun mudah bagiku untuk menghindar dari serangannya
barusan.
Skor masih 6-5, dengan aku yang
memimpin sementara skornya. Kami terus menyerang dan bertahan, belum ada di
antara kami yang mendapat point. Dan membuat suasana arena menjadi memanas,
karena point hanya selisih satu angka.
Ayo aku pasti bisa. Aku belum mendapat
point lagi sejauh ini, diapun demikian. Perasaanku mulai bergejolak karena
seranganku dari tadi tidak berhasil mengenainya, suasananya menjadi tegang
begini. Waktu sebentar lagi mau habis hanya tinggal beberapa detik lagi. Dan
skor belum ada yang berubah sejak round 3 di mulai.
5…4…3…2
Tiba-tiba saat aku mencoba untuk
mendorongnya, karena posisiku kaki depan sedang terangkat setara pinggul. Kaki
belakangnya langsung mengarah cepat ke arah perutku dan berhasil mengenai body
protektorku, tendangannya pun berhasil masuk sensor. Skor 6-7.
1…Selesai.
__ADS_1