Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 24


__ADS_3

Melani


***


Rumah


“Ahh!!!–aku tadi memeluk Angga saat di


UKS, gawat! Aku benar-benar sangat malu. Aku memeluknya tanpa pikir panjang,


untung saja dia bisa mengerti kondisi saat itu aku sedang menangis,” kataku


yang berbicara sendiri di kamar dengan wajah sangat merah.


“Aku pikir nona akan sangat senang saat


memeluk Angga dengan erat seperti itu,” Jeni yang berada di sisi kamar ku,


melihatku berbicara sendiri.


Setelah aku memeluk Angga di UKS, aku


berterima kasih kepadanya karena sudah menenangkan ku saat menangis. Aku memintanya


untuk kembali ke kelas, untuk melanjutkan pembelajaran. Sebenarnya saat di


perjalanan dari UKS ke kelas, aku sangat canggung, karena aku sangat, sangat,


sangat canggung, aku terpaksa memasang wajah seperti orang yang baru siuman.


Saat di kelas teman yang lain khawatir


padaku, banyak yang bertanya kepadaku kenapa? Aku hanya tersenyum dan bilang


kepada mereka bahwa aku tidak apa-apa, aku hanya kelelahan saat itu. Namun,


tiba-tiba Angga membantuku dari banyak pertanyaan teman di kelas, dengan cara


bilang kepada yang lain bahwa aku masih perlu istirahat. Jadi aku diberi jalan


untuk duduk di kursi ku dengan tenang.


Angga benar-benar membantu saat itu,


tapi aku pada saat itu benar-benar sangat canggung dan juga malu. Dia berkata


kepadaku. “Kalau ada butuh apa-apa, bilang saja kepadaku”. Aku sedikit terharu


dengan perkataannya yang khawatir kepadaku, dan pipiku memerah.


“Aku memang senang saat memeluknya


dengan erat seperti itu, bahkan dia memeluk ku juga saat aku memintanya. Tapi


aku benar-benar malu saat mengingatnya, tapi mengingatnya membuatku akan susah


tidur, aku harus bagaimana, Jeni?” aku dengan wajah sangat merah.


“Kalau begitu nikmati saja rasa


melayang yang ada di hati nona, biarkan dia terbang bebas tanpa ada


penghalang.”


“Hah?! Apa kamu mengerti perasaan ku


sekarang, Jeni?” kataku, sambil menghadap Jeni dengan wajah mengerikan.


Jeni dengan santai menjawab. “Mm…aku


sangat mengerti perasaan nona sekarang,” katanya, sambil memejamkan mata dan


dengan suara yang santai.


Aku jalan ke arah kasur dan telungkup,


dengan wajah yang aku tutup menggunakan bantal, karena rasa yang benar-benar


sangat senang. Tapi besok aku akan bertemunya lagi di sekolah, aku jadi sangat


malu bila bertemunya lagi besok di sekolah, apalagi dia duduknya tepat di


belakang ku.


Aku harus gimana besok? Apa aku harus


menguncir rambutku agar Angga tidak mengenaliku. Tapi percuma itu tidak akan


membantu, atau aku menggunakan penutup wajah agar dia tidak bisa melihat


wajahku, dan aku tidak melihat wajahnya.


Karena diriku, Angga jadi menunda jualan


kue nya di kelas, aku jadi tidak enak kepadanya. Lalu kenapa aku harus lari


darinya, padahal cuman jalan bersama ke kelas. Aku benar-benar tidak kuat bila


berduaan bersamanya, Angga sih segala memegang keningku, itu membuatku salting.


Aku mengangkat kepalaku dari bantal,


dan mengubah posisi yang telungkup menjadi berbaring.


Aku menutup wajahku dengan kedua


tanganku, karena malunya. Wajahku masih saja memerah saat bersamanya, tapi di


saat dia memegang keningku, itu bisa membuat wajahku tambah merah. Akupun pada


saat itu juga terkejut, tiba-tiba Angga memegang keningku, jika wajahku tidak


merah mungkin Angga tidak akan melakukan demikian. Tapi aku tetap senang karena


yang melakukan adalah Angga.


Tiba-tiba Jeni berkata kepadaku.


“Apa saya perlu menyiapkan jus jeruk


dingin? Untuk menetralisir hawa panas dalam diri nona?”


“Mm…,” aku yang setuju. “Aku pesan satu


untuk mendingin kan suhu tubuhku, Jeni,” lanjut kataku kepadanya, sambil


mengangkat tangan ke atas dan menunjukan jari telunjuk ku.


***


Ke-esokan


Harinya Di Sekolah

__ADS_1


Aku baru


keluar dari parkiran sekolah menuju pintu depan, aku juga membawa kue yang akan


aku jual di kelas. Saat aku berjalan menuju gerbang sekolah aku melihat Melani


yang baru sampai dan turun dari mobilnya. Apa hari ini dia sudah baikan?


Kemarin dia seperti orang sakit, karena aku penasaran akupun memanggilnya.


“Melani!!!”


aku yang memanggil Melani dengan suara lantang.


Aku sengaja


memanggilnya, aku ingin tau dan bertanya tentang kondisi nya sekarang, apa dia


sudah baikan atau belum. Aku melihat di samping nya ada Jeni yang menemani Melani,


sepertinya Jeni hanya mengantar Melani sampai depan gerbang. Saat aku


memanggilnya, dia seperti orang yang terkejut.


Melani


menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.


“Angga!?”


suara hati Melani.


“Oi Melani,


tunggu aku,” kataku yang teriak kepadanya.


Aku


menghampiri Melani dengan lari pelan, tiba-tiba dia memeluk Jeni, seperti melihat


sesuatu yang mengerikan. Dia ini dari tadi sikap nya aneh sekali, apa itu efek


dari penyakitnya? Membuatnya bersikap seperti orang aneh, aku tidak yakin.


Akupun sampai


di tempat Melani.


“Melani, kamu


udah baikan atau belum?” tanyaku penasaran.


Saat aku


menanyainya dia hanya memeluk Jeni dan tidak melihat ke arah ku sama sekali,


segitu menyeramkannya kah aku? Benar-benar tega sekali. Jangan membuat aku


sakit hati dong, dengan menghindari lawan bicara seperti itu.


“…,” Melani


yang menjawab sambil memeluk erat Jeni, jadi suara yang di katakannya tidak


jelas.


Hah? Dia


barusan ngomong apa? Aku tidak mengerti sama sekali. Dia ini sebenarnya sedang


memeluk ku untuk menenangkan dirinya, tapi sekarang melihat ku seperti orang


jahat.


“Nona? Angga


menanyakan kabar nona, ketika ada orang bertanya, kita harus menjawabnya. Tidak


baik mengabaikan pertanyaan yang di tujukan kepada kita,” kata Jeni, sambil


mengelus punggung Melani.


Melani pun


melepaskan pelukan nya dari Jeni, dia menghadap ke arahku dengan kepala yang di


tundukkan, seolah-olah sedang bertemu orang penting. Tapi dia terlihat sangat


gugup, apa ada yang ingin dia bicarakan kepadaku?


“A–Angga,


maafkan aku kemarin yaa…aku kemarin memeluk mu karena aku sedang ketakutan,


jadi kumohon maafkan aku,” kata Melani, sambil menundukkan kepalanya dan dengan


suara yang pelan.


Hmm? Jadi dia


mau minta maaf soal kemarin yaa, dia merasa bersalah karena tiba-tiba


memelukku. Menurutku tidak masalah, dia tadi bilang karena sedang ketakutan.


Kemarin juga dia sampai menangis dan spontan memelukku. Sekali lagi aku bukan


mencari kesempatan dalam kesempitan.


Kemudian aku


memegang kepalanya Melani untuk menenangkannya.


“Tidak apa,


kamu tidak perlu khawatir,” kataku sambil memegang kepalanya Melani. Kemudian


aku lepas dan berkata lagi.


“Itupun kamu


seperti orang yang habis mimpi buruk, akupun bingung kemarin kamu kenapa. Kamu


seperti tidak biasanya, makanya aku memakluminya.”


Wajah Melani


menjadi merah karena tangan Angga yang memegang kepalanya. Diapun berkata di


dalam hatinya. “Angga memegang kepalaku? Aku tidak kuat, aku ingin lari


rasanya, tapi aku senang sekali”. Jeni yang melihat dengan wajah yang tersenyum


senang.

__ADS_1


“Jadi tidak


apa-apa?” tanya Jeni kepadaku, sambil mendangak kan kepalanya dan melihat ke


arahku.


“Mm…tidak


apa-apa, tenang saja.”


Setelah dia


mengatakan meminta maaf kepadaku, aku mengajaknya jalan bareng ke kelas. Dia


pasti masih tidak enak, dengan begini aku harus membuatnya nyaman kembali


denganku. Jika tidak, yang ada dia akan begini terus saat ngobrol bersamaku.


Aku merasa tidak nyaman ketika lawan bicara ku menundukkan kepalanya, aku


merasa tidak enak saja.


“Ayuk, kita


kelas bersama,” ajakku ke Melani.


Melani


tersenyum menatapku dan berkata kepadaku.


“Mm…ayuk kita


ke kelas bersama,” katanya, sambil menutup mata dan tersenyum sangat manis.


Akhirnya kami


berdua jalan bersama ke kelas dari gerbang depan sekolah. Dan sepertinya dia


sudah mulai nyaman kembali saat berinteraksi denganku, syukurlah. Di tengah


perjalanan aku melihat lagi ada Rehan dan juga Safira bersama, apa Rehan akan


mengantarkan Safira lagi ke gedung Bahasa dan sampai ke depan kelasnya? Tapi


aku tidak perlu mengikutinya, karena sekarang aku sedang menemani Melani yang


baru baikan.


Sebenarnya


hubungan mereka berdua apa? Aku jadi penasaran, apa aku tanyakan saja ke Rehan


langsung nanti? Sepertinya harus begitu.


Melani pun


melihat Rehan dan juga wanita yang ia lihat berduaan bersama Angga saat di


alun-alun, Melani melihat Angga yang semakin penasaran dengan hubungan Rehan


dengan wanita itu. Melani bertanya di dalam hatinya. “Apa yang di rasakan hati


Angga sekarang ya? Aku harap hatinya tidak tersakiti karena melihat mereka”.


Kami berdua


melanjutkan perjalanan menuju ruang kelas, dan di tengah perjalanan Melani


bertanya kepadaku.


“Em…Angga,


kamu kalau latihan taekwondo di mana?” tanya Melani penasaran.


Hmm? Kenapa


Melani tiba-tiba bertanya tempat latihanku, apa dia ada urusan dengan hal ini.


Lebih baik aku tanya balik kepadanya, kenapa dia bertanya soal ini.


“Memangnya


kenapa? Tumben sekali kamu nanya soal ini.”


“Tidak


apa-apa, aku cuman ingin lihat bagaimana latihanmu saja,” kata Melani dengan


santai.


Ingin tau


latihanku bagaimana? Apa dia berniat nonton aku yang sedang latihan, kalau


cuman itu sih tidak masalah, asalkan tidak menggangguku saat latihan. Kalau


begitu aku beri tau saja di mana aku jika latihan.


“Aku latihan


tidak jauh dari rumahku, biasanya aku menggunakan sepeda dari rumah sampai


tempat latihan cuman memakan waktu 15 menit, jika kamu ingin tau tempatnya


nanti akan kuberi alamat lengkapnya.”


“Mm…terima


kasih,” Melani sambil mengangguk kan kepala.


Jadi dia


benar ada niat mau datang, tapi kapan? Jangan sampai dia datang tiba-tiba ke


tempat latihanku, itu akan sangat mengejutkan. Aku juga harus bertanya


kepadanya kapan dia akan datang ke tempat latihan.


“Kamu akan


datang kapan ke tempat latihanku?” tanyaku.


Pandangan


Melani yang tadinya menghadapku berubah menjadi lurus ke depan, jari


telunjuknya menyentuh dagunya, seolah-olah dia sedang berfikir. Kemudian Melani


berkata kepadaku.


“Hmm…kapan


yaa? Mungkin bila aku ingin datang aku akan memberi kabar kepadamu terlebih

__ADS_1


dahulu deh.”


“Baiklah.”


__ADS_2