
Melani
***
Rumah
“Ahh!!!–aku tadi memeluk Angga saat di
UKS, gawat! Aku benar-benar sangat malu. Aku memeluknya tanpa pikir panjang,
untung saja dia bisa mengerti kondisi saat itu aku sedang menangis,” kataku
yang berbicara sendiri di kamar dengan wajah sangat merah.
“Aku pikir nona akan sangat senang saat
memeluk Angga dengan erat seperti itu,” Jeni yang berada di sisi kamar ku,
melihatku berbicara sendiri.
Setelah aku memeluk Angga di UKS, aku
berterima kasih kepadanya karena sudah menenangkan ku saat menangis. Aku memintanya
untuk kembali ke kelas, untuk melanjutkan pembelajaran. Sebenarnya saat di
perjalanan dari UKS ke kelas, aku sangat canggung, karena aku sangat, sangat,
sangat canggung, aku terpaksa memasang wajah seperti orang yang baru siuman.
Saat di kelas teman yang lain khawatir
padaku, banyak yang bertanya kepadaku kenapa? Aku hanya tersenyum dan bilang
kepada mereka bahwa aku tidak apa-apa, aku hanya kelelahan saat itu. Namun,
tiba-tiba Angga membantuku dari banyak pertanyaan teman di kelas, dengan cara
bilang kepada yang lain bahwa aku masih perlu istirahat. Jadi aku diberi jalan
untuk duduk di kursi ku dengan tenang.
Angga benar-benar membantu saat itu,
tapi aku pada saat itu benar-benar sangat canggung dan juga malu. Dia berkata
kepadaku. “Kalau ada butuh apa-apa, bilang saja kepadaku”. Aku sedikit terharu
dengan perkataannya yang khawatir kepadaku, dan pipiku memerah.
“Aku memang senang saat memeluknya
dengan erat seperti itu, bahkan dia memeluk ku juga saat aku memintanya. Tapi
aku benar-benar malu saat mengingatnya, tapi mengingatnya membuatku akan susah
tidur, aku harus bagaimana, Jeni?” aku dengan wajah sangat merah.
“Kalau begitu nikmati saja rasa
melayang yang ada di hati nona, biarkan dia terbang bebas tanpa ada
penghalang.”
“Hah?! Apa kamu mengerti perasaan ku
sekarang, Jeni?” kataku, sambil menghadap Jeni dengan wajah mengerikan.
Jeni dengan santai menjawab. “Mm…aku
sangat mengerti perasaan nona sekarang,” katanya, sambil memejamkan mata dan
dengan suara yang santai.
Aku jalan ke arah kasur dan telungkup,
dengan wajah yang aku tutup menggunakan bantal, karena rasa yang benar-benar
sangat senang. Tapi besok aku akan bertemunya lagi di sekolah, aku jadi sangat
malu bila bertemunya lagi besok di sekolah, apalagi dia duduknya tepat di
belakang ku.
Aku harus gimana besok? Apa aku harus
menguncir rambutku agar Angga tidak mengenaliku. Tapi percuma itu tidak akan
membantu, atau aku menggunakan penutup wajah agar dia tidak bisa melihat
wajahku, dan aku tidak melihat wajahnya.
Karena diriku, Angga jadi menunda jualan
kue nya di kelas, aku jadi tidak enak kepadanya. Lalu kenapa aku harus lari
darinya, padahal cuman jalan bersama ke kelas. Aku benar-benar tidak kuat bila
berduaan bersamanya, Angga sih segala memegang keningku, itu membuatku salting.
Aku mengangkat kepalaku dari bantal,
dan mengubah posisi yang telungkup menjadi berbaring.
Aku menutup wajahku dengan kedua
tanganku, karena malunya. Wajahku masih saja memerah saat bersamanya, tapi di
saat dia memegang keningku, itu bisa membuat wajahku tambah merah. Akupun pada
saat itu juga terkejut, tiba-tiba Angga memegang keningku, jika wajahku tidak
merah mungkin Angga tidak akan melakukan demikian. Tapi aku tetap senang karena
yang melakukan adalah Angga.
Tiba-tiba Jeni berkata kepadaku.
“Apa saya perlu menyiapkan jus jeruk
dingin? Untuk menetralisir hawa panas dalam diri nona?”
“Mm…,” aku yang setuju. “Aku pesan satu
untuk mendingin kan suhu tubuhku, Jeni,” lanjut kataku kepadanya, sambil
mengangkat tangan ke atas dan menunjukan jari telunjuk ku.
***
Ke-esokan
Harinya Di Sekolah
__ADS_1
Aku baru
keluar dari parkiran sekolah menuju pintu depan, aku juga membawa kue yang akan
aku jual di kelas. Saat aku berjalan menuju gerbang sekolah aku melihat Melani
yang baru sampai dan turun dari mobilnya. Apa hari ini dia sudah baikan?
Kemarin dia seperti orang sakit, karena aku penasaran akupun memanggilnya.
“Melani!!!”
aku yang memanggil Melani dengan suara lantang.
Aku sengaja
memanggilnya, aku ingin tau dan bertanya tentang kondisi nya sekarang, apa dia
sudah baikan atau belum. Aku melihat di samping nya ada Jeni yang menemani Melani,
sepertinya Jeni hanya mengantar Melani sampai depan gerbang. Saat aku
memanggilnya, dia seperti orang yang terkejut.
Melani
menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
“Angga!?”
suara hati Melani.
“Oi Melani,
tunggu aku,” kataku yang teriak kepadanya.
Aku
menghampiri Melani dengan lari pelan, tiba-tiba dia memeluk Jeni, seperti melihat
sesuatu yang mengerikan. Dia ini dari tadi sikap nya aneh sekali, apa itu efek
dari penyakitnya? Membuatnya bersikap seperti orang aneh, aku tidak yakin.
Akupun sampai
di tempat Melani.
“Melani, kamu
udah baikan atau belum?” tanyaku penasaran.
Saat aku
menanyainya dia hanya memeluk Jeni dan tidak melihat ke arah ku sama sekali,
segitu menyeramkannya kah aku? Benar-benar tega sekali. Jangan membuat aku
sakit hati dong, dengan menghindari lawan bicara seperti itu.
“…,” Melani
yang menjawab sambil memeluk erat Jeni, jadi suara yang di katakannya tidak
jelas.
Hah? Dia
barusan ngomong apa? Aku tidak mengerti sama sekali. Dia ini sebenarnya sedang
memeluk ku untuk menenangkan dirinya, tapi sekarang melihat ku seperti orang
jahat.
“Nona? Angga
menanyakan kabar nona, ketika ada orang bertanya, kita harus menjawabnya. Tidak
baik mengabaikan pertanyaan yang di tujukan kepada kita,” kata Jeni, sambil
mengelus punggung Melani.
Melani pun
melepaskan pelukan nya dari Jeni, dia menghadap ke arahku dengan kepala yang di
tundukkan, seolah-olah sedang bertemu orang penting. Tapi dia terlihat sangat
gugup, apa ada yang ingin dia bicarakan kepadaku?
“A–Angga,
maafkan aku kemarin yaa…aku kemarin memeluk mu karena aku sedang ketakutan,
jadi kumohon maafkan aku,” kata Melani, sambil menundukkan kepalanya dan dengan
suara yang pelan.
Hmm? Jadi dia
mau minta maaf soal kemarin yaa, dia merasa bersalah karena tiba-tiba
memelukku. Menurutku tidak masalah, dia tadi bilang karena sedang ketakutan.
Kemarin juga dia sampai menangis dan spontan memelukku. Sekali lagi aku bukan
mencari kesempatan dalam kesempitan.
Kemudian aku
memegang kepalanya Melani untuk menenangkannya.
“Tidak apa,
kamu tidak perlu khawatir,” kataku sambil memegang kepalanya Melani. Kemudian
aku lepas dan berkata lagi.
“Itupun kamu
seperti orang yang habis mimpi buruk, akupun bingung kemarin kamu kenapa. Kamu
seperti tidak biasanya, makanya aku memakluminya.”
Wajah Melani
menjadi merah karena tangan Angga yang memegang kepalanya. Diapun berkata di
dalam hatinya. “Angga memegang kepalaku? Aku tidak kuat, aku ingin lari
rasanya, tapi aku senang sekali”. Jeni yang melihat dengan wajah yang tersenyum
senang.
__ADS_1
“Jadi tidak
apa-apa?” tanya Jeni kepadaku, sambil mendangak kan kepalanya dan melihat ke
arahku.
“Mm…tidak
apa-apa, tenang saja.”
Setelah dia
mengatakan meminta maaf kepadaku, aku mengajaknya jalan bareng ke kelas. Dia
pasti masih tidak enak, dengan begini aku harus membuatnya nyaman kembali
denganku. Jika tidak, yang ada dia akan begini terus saat ngobrol bersamaku.
Aku merasa tidak nyaman ketika lawan bicara ku menundukkan kepalanya, aku
merasa tidak enak saja.
“Ayuk, kita
kelas bersama,” ajakku ke Melani.
Melani
tersenyum menatapku dan berkata kepadaku.
“Mm…ayuk kita
ke kelas bersama,” katanya, sambil menutup mata dan tersenyum sangat manis.
Akhirnya kami
berdua jalan bersama ke kelas dari gerbang depan sekolah. Dan sepertinya dia
sudah mulai nyaman kembali saat berinteraksi denganku, syukurlah. Di tengah
perjalanan aku melihat lagi ada Rehan dan juga Safira bersama, apa Rehan akan
mengantarkan Safira lagi ke gedung Bahasa dan sampai ke depan kelasnya? Tapi
aku tidak perlu mengikutinya, karena sekarang aku sedang menemani Melani yang
baru baikan.
Sebenarnya
hubungan mereka berdua apa? Aku jadi penasaran, apa aku tanyakan saja ke Rehan
langsung nanti? Sepertinya harus begitu.
Melani pun
melihat Rehan dan juga wanita yang ia lihat berduaan bersama Angga saat di
alun-alun, Melani melihat Angga yang semakin penasaran dengan hubungan Rehan
dengan wanita itu. Melani bertanya di dalam hatinya. “Apa yang di rasakan hati
Angga sekarang ya? Aku harap hatinya tidak tersakiti karena melihat mereka”.
Kami berdua
melanjutkan perjalanan menuju ruang kelas, dan di tengah perjalanan Melani
bertanya kepadaku.
“Em…Angga,
kamu kalau latihan taekwondo di mana?” tanya Melani penasaran.
Hmm? Kenapa
Melani tiba-tiba bertanya tempat latihanku, apa dia ada urusan dengan hal ini.
Lebih baik aku tanya balik kepadanya, kenapa dia bertanya soal ini.
“Memangnya
kenapa? Tumben sekali kamu nanya soal ini.”
“Tidak
apa-apa, aku cuman ingin lihat bagaimana latihanmu saja,” kata Melani dengan
santai.
Ingin tau
latihanku bagaimana? Apa dia berniat nonton aku yang sedang latihan, kalau
cuman itu sih tidak masalah, asalkan tidak menggangguku saat latihan. Kalau
begitu aku beri tau saja di mana aku jika latihan.
“Aku latihan
tidak jauh dari rumahku, biasanya aku menggunakan sepeda dari rumah sampai
tempat latihan cuman memakan waktu 15 menit, jika kamu ingin tau tempatnya
nanti akan kuberi alamat lengkapnya.”
“Mm…terima
kasih,” Melani sambil mengangguk kan kepala.
Jadi dia
benar ada niat mau datang, tapi kapan? Jangan sampai dia datang tiba-tiba ke
tempat latihanku, itu akan sangat mengejutkan. Aku juga harus bertanya
kepadanya kapan dia akan datang ke tempat latihan.
“Kamu akan
datang kapan ke tempat latihanku?” tanyaku.
Pandangan
Melani yang tadinya menghadapku berubah menjadi lurus ke depan, jari
telunjuknya menyentuh dagunya, seolah-olah dia sedang berfikir. Kemudian Melani
berkata kepadaku.
“Hmm…kapan
yaa? Mungkin bila aku ingin datang aku akan memberi kabar kepadamu terlebih
__ADS_1
dahulu deh.”
“Baiklah.”