
Setelah aku
menoleh ke arah belakang, aku terkejut. Wanita yang mendatangi kami berdua
adalah Safira, benar-benar tidak terduga. Akupun terkejut melihat Safira berada
disini, aku tau ini adalah Cafe milik ibunya. Tetap saja aku terkejut dengan
kehadirannya di sini.
“Angga?” ucap
Safira yang juga terkejut.
“Safira?
Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku, sambil terkejut.
“Aku di sini
karena orang tuaku sedang ada di sini. Kami berdua ke sini untuk mengecek Cafe,
tidak kusangka kamu juga sedang ada di sini.”
Jadi gitu,
Safira sedang mengecek beberapa cabang Cafe Laboon bersama orang tuanya. Akupun
tidak menyangka akan bertemunya di sini, mungkin ini hanya kebetulan saja bagi
kami. Dan kenapa Safira menjadi pelayan di sini?
“Ohh jadi
kamu, yang namanya Safira. Salam kenal aku Melani, teman sekelasnya Angga,”
saut Melani, sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Uhh, Melani
cepat sekali kalau soal orang baru. Ini pertama kalinya Melani bertemu dengan
Safira, dia mungkin saat menguping pembicaraanku dengan Rehan hanya tau namanya
saja, namun tidak dengan orangnya langsung. Dan harusnya ini pertama kali
mereka bertemu.
“Namaku
Safira, salam kenal juga. Ngomong-ngomong kalian di sini sedang berpacaran atau
bagaimana?” tanya Safira, dengan niat mengejek kami.
Yang benar
saja, dia ini baru saja datang dan mengejutkanku dengan kehadiran dirinya,
sekarang dia sudah mulai ngejek seperti itu. Aku melihat ke arah Melani, dia
kenapa jadi malu-malu gitu, apa dia merasa sangat malu saat di bilang seperti
itu oleh Safira.
“Yang benar
saja, aku baru saja selesai latihan. Melani ikut denganku ke tempat latihan
karena dia penasaran dengan latihan taekwondo, usai latihan kami pergi ke sini,”
kataku, memejamkan mata sambil memegang kepala.
“Dan juga,
kenapa kamu jadi pelayan di sini?” tanyaku.
Aku penasaran
kenapa Safira yang datang menerima tamu, bukannya di sini masih ada pelayan
yang tidak sedang menghadapi tamu. Dan juga pelayan apa yang menggunakan baju
bebas, sedangkan pelayan yang lain menggunakan seragam.
“Em? Tidak.
Ini aku hanya mencoba untuk melayani tamu saja, tidak ada alasan khusus aku
menjadi pelayan,” ujar Safira.
“Kalau begitu
apa ada yang ingin kamu pesan, Angga?” tanya Safira, sambil memegang buku dan
pulpen.
Safira
seperti sudah berubah, saat aku pertama kali bertemu dengannya dia sangat cuek,
bahkan tidak mempedulikan di sekitarnya. Sekarang dia seperti sangat terbuka,
apa ada sesuatu yang membuatnya jadi seperti ini? Aku penasaran.
“Biar aku
yang pesan yaa,” sahut Melani.
“Baiklah, aku
ikut kamu saja.”
“Roti bakar
ukuran besar 2, dan kentang goreng sedang 1, Em…Angga apa kamu mau minum kopi?”
tanya Melani yang sedang memesan pesanan.
Em…kopi yaa?
Sepertinya akan enak jika minum kopi setelah latihan lelah seperti ini. Dan
juga kata teman taekwondoku kemarin kopi di sini lumayan enak, baiklah. Kalau
begitu aku pesan kopinya 1 dengan gula dan susu.
“Iyaa aku
pesan kopi, tambah gula dan juga susunya,” jawabku.
“Baiklah,
kopinya 2 yaa,” ujar Melani yang memesan.
“Baiklah akan
segera kami siapkan,” kata Safira yang menulis pesanan.
Kemudian
Safira pergi meninggalkan kami untuk menyiapkan pesanan, Safira benar-benar
seperti sudah berubah. Sikapnya tidak seperti biasanya, aku jadi ingin tau
kenapa tiba-tiba dia jadi ramah sekali yang biasanya jutek.
Pesanan Tiba
Safira yang
menghampiri kami sambil membawa pesanan. Kenapa aku melihatnya seperti sangat
cocok menjadi pelayan yaa, padahal dia adalah anak dari yang punya Cafe ini.
Jika di bandingkan dengan pelayan lain, aku lebih suka melihat Safira yang
melayani tamu.
“Ini
pesanannya, silahkan di nikmati,” kata Safira, sambil menaruh pesanan kami di
__ADS_1
atas meja.
“Terima
kasih,” ucap Melani dengan senyum manis.
Di saat
Safira menaruh pesanan kami, ada 2 orang dewasa yang mendekati kami. 2 orang
dewasa laki-laki dan perempuan berbaju rapi, aku tidak tau siapa mereka tapi
sepertinya mereka sedang mendekat ke sini.
“Safira apa
kamu sudah selesai?” tanya perempuan dewasa yang mendekati kami.
“Sudah bu,
sebentar lagi juga sudah selesai,” kata Safira.
Bu? Apa dia
ibunya Safira? Aku baru pertama kali melihatnya, saat pergi ke alun-alun aku
mengantarkannya pulang ke rumah, tapi belum sempat bertemu dengan ibunya. Ini
adalah pertama kalinya aku bertemu dengan ibunya Safira.
“Maaf. Ibu,
ibunya Safira?” tanyaku penasaran.
“Iyaa, aku
ibunya Safira. Memangnya ada apa yaa?” jawab ibunya Safira, sambil menanya
kembali.
“Aku Angga,
temannya Safira di sekolah,” kataku, sambil berdiri memperkenalkan diri.
Saat aku tau
dia adalah ibunya Safira, aku langsung berdiri dan memperkenalkan diriku
kepadanya. Ini bisa menjadi kesempatanku untuk mendapatkan Safira sebelum
Rehan, dengan memperkenalkan diri ke ibunya, itu bisa menjadi awal untukku.
“Ohh jadi
kamu yang namanya Angga, yang jalan bersama Safira ke alun-alun yaa.”
“Iyaa bu,
saya yang bulan lalu mengajak Safira ke alun-alun,” kataku dengan tersenyum.
“Senang
bertemu kamu di sini, Angga. Kalau begitu nikmati saja makan malammu bersama
temanmu,” kata ibunya Safira.
“Iyaa bu.”
Setelah aku
berbicara singkat dengan ibunya Safira, dia pun dan laki-laki di sampingnya
pergi meninggalkan kami. Tapi aku masih penasaran dengan laki-laki yang bersama
ibunya Safira itu, apa dia orang baru?
“Safira,
siapa laki-laki yang bersama ibumu?” tanyaku.
“Ohh dia,
maaf sebelumnya. Soalnya kamu belum pernah bertemu juga dengannya, dia itu
hubungan ayah dan ibuku kembali. Karena kamu sibuk latihan jadi aku tidak enak
meminta bantuanmu. Rehan benar-benar orang yang baik yaa.”
Ayahnya
Safira? Rehan? Jadi Rehan sudah membantunya untuk mempertemukan kembali ayahnya
Safira dengan ibunya. Tapi bagaimana bisa Safira tau kalau aku sedang ada
latihan rutin, apa jangan-jangan Rehan yang memberi taunya.
“Sejak kapan
kalian melakukannya?” tanyaku yang sedikit terkejut.
“Hmm
sepertinya sudah 2 minggu yang lalu,” kata Safira, “dia benar-benar membantuku
dari awal, sampai kedua orang tuaku kembali lagi seperti semula, aku sungguh
senang.”
Mungkin ini
juga alasannya Safira menjadi seperti ini, yang dia biasanya jutek, pendiam.
Tapi sekarang dia sangat terbuka sekali, dan Rehan adalah orang yang telah
membantunya untuk mempersatukan kembali kedua orang tuanya.
“Em?
Sepertinya sudah waktunya aku pergi,” kata Safira yang melihat jam tangannya,
“Angga, aku pergi dulu ya. Sepertinya kedua orang tuaku sudah menunggu, aku
tidak enak jika membuat mereka menunggu lebih lama lagi.”
“Iyaa,”
kataku.
Safirapun
pergi meninggalkan aku dan Melani di sini, dengan hidangan di atas meja yang
kami pesan sebelumnya. Aku terdiam sejenak saat Safira pergi meninggalkan kami
berdua di sini, aku tidak tau harus bilang apa. Dan aku tidak tau harus senang
atau sedih.
Melani
***
Rumah
Setelah kami makan bersama di Cafe
Laboon, kami langsung balik pulang ke rumah. Aku merasa kasihan kepada Angga,
yang tiba-tiba Safira berkata seperti itu tepat di hadapannya. Pasti hatinya
sangat terluka saat mendengar ucapan Safira.
Aku yang sedang duduk di atas ranjang
memikirkan perasaan Angga sekarang, aku berharap dia tidak apa-apa. Aku ingin
dia fokus kepada kejuaraannya, karena kejuaraannya sudah di depan matanya.
Tinggal menghitung hari saja sebelum pertandingan.
“Nona, sudah malam. Waktunya nona untuk
__ADS_1
tidur, besok nona harus ke sekolah.” Kata Jeni yang mengingatkanku.
“Iyaa Jeni,” kataku, “Jeni, menurutmu
bagaimana perasaan Angga, setelah mendengar tadi saat di Cafe. Mungkin ini juga
salahku karena mengajaknya ke Cafe Laboon, jadinya aku dan Angga bertemu dengan
Safira di sana.”
“Nona tidak perlu menyalahkan diri
sendiri,” Kata Jeni, “aku yakin Angga tidak akan mudah jatuh karena hal sepele
seperti itu. Dia pasti akan bangkit dengan cepat.”
“Kau benar, Angga mungkin tidak akan
jatuh karena hal sepele seperti itu. Karena aku tau, Angga adalah orang yang
sangat kuat, dia adalah orang aku kagumi.”
“Kalau begitu sekarang waktunya untuk
tidur, jangan sampai besok kita telat seperti waktu itu,” kata Jeni sambil
memejamkan mata.
“Itu juga karena kamu tidak
membangunkanku,” balasku dengan wajah sedikit cemberut.
“Iyaa-iyaa, maafkan aku. Baiklah
sekarang waktunya tidur, aku akan matikan lampu dan menutup pintu kamar nona,”
kata Jeni.
“Iyaa, terima kasih.”
Kemudian Jeni langsung mematikan lampu
dan juga menutup pintu kamarku. Hmm apa yang di bilang Jeni adalah benar, Angga
tidak mungkin akan mudah terjatuh karena hal seperti itu. Aku percaya Angga
adalah orang yang pantang menyerah.
Sekarang adalah waktunya untuk tidur,
aku tidak mau besok telat seperti waktu itu. Jika telat pasti akan terbawa
buru-buru.
“Nona, anda masih saja memikirkan
perasaan Angga. Padahal tadi sudah jelas Angga masih berusaha untuk mendapatkan
hatinya Safira, bahkan nona bilang Angga adalah orang yang pantang menyerah.
Maksud dari kata itu adalah Angga tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati
Safira. Nona, apa kau menyadarinya? Nona memang sangat kuat,” kata Jeni dalam
hatinya sambil keluar meninggalkan kamar Melani.
***
Di Sekolah
Berangkat sekolahku seperti biasanya,
tidak ada yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Yang berbeda adalah hatiku
saja, aku masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Safira semalam
kepadaku. Dan ada sesuatu yang aku ingin tanyakan kepada Rehan.
“Angga!” teriak seseorang dari
belakangku.
Aku menoleh ke belakangku, yang
ternyata itu adalah Melani yang baru sampai di sekolah. Dia berlari menujuku,
sepertinya dia sudah mulai terbiasa denganku. Biasanya dia seperti robot jika
berada di dekatku. Baguslah.
“Melani, kamu baru sampai juga di
sekolah?” kataku.
“Iyaa aku baru sampai,” balas Melani, “apa
kamu sudah pulih setelah latihan kerasmu semalam? Aku melihat saja tadi malam
sudah bisa merasakan bagaimana lelahnya. Mungkin kalau aku, aku tidak akan kuat
untuk melakukannya.”
“Kamu ini,” kataku sambil menghela
nafas, “selama kamu punya keinginan terhadap sesuatu, kamu pasti akan terus
berjuang walaupun sulit. Atau mungkin kamu tau itu sesuatu yang mustahil untuk
di dapatkan, tapi kamu tetap berjuang untuk meraihnya.”
“Itu terdengar seperti tidak boleh
mudah menyerah terhadap apa yang kita inginkan,” kata Melani yang menduga.
“yap begitulah maksudku.”
Kemudian kami berdua jalan bersama
menuju kelas, aku bertemu dengan Melani saat setelah aku masuk dari gerbang
sekolah. Dia tidak biasanya, biasanya dia seperti robot saat berbicara
denganku. Sekarang sudah mulai terbiasa, sepertinya.
Di Kelas
Setelah kami berjalan dari gerbang
sekolah, kamipun sampai juga di kelas. Saat aku membuka pintu, ternyata hanya
Putri di kelas. Apa kami terlalu cepat datang? Tapi aku melihat tas yang sudah
di taruh, yang berarti sudah ada yang datang selain Putri. Lantas mereka di mana?
Aku jadi bingung.
“Hm? Teman yang lain pada di mana?
Putri?” tanyaku ke Putri karena bingung.
“Mereka semua pergi ke taman sekolah,
katanya Rehan sedang menembak seseorang dari kelas Bahasa. Aku tidak ikut
karena malas untuk pergi ke sananya,” jawab Putri.
Apa jangan-jangan Rehan sedang mencoba
untuk menembak Safira di sana?! Bagaimana bisa ini terjadi, kenapa dia
melanggar perjanjiannya. Padahal kejuaraanku saja belum di mulai, tetapi dia
sudah mulai untuk menembak Safira. Aku harus ke sana untuk melihatnya.
Anggapun langsung berlari menuju taman
sekolah.
“Ehh?” Putri yang bingung karena Angga
yang pergi tiba-tiba.
__ADS_1
“Angga!” teriak Melani.