Cinta Yang Tersampaikan

Cinta Yang Tersampaikan
Chapter 31


__ADS_3

Setelah aku


menoleh ke arah belakang, aku terkejut. Wanita yang mendatangi kami berdua


adalah Safira, benar-benar tidak terduga. Akupun terkejut melihat Safira berada


disini, aku tau ini adalah Cafe milik ibunya. Tetap saja aku terkejut dengan


kehadirannya di sini.


“Angga?” ucap


Safira yang juga terkejut.


“Safira?


Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku, sambil terkejut.


“Aku di sini


karena orang tuaku sedang ada di sini. Kami berdua ke sini untuk mengecek Cafe,


tidak kusangka kamu juga sedang ada di sini.”


Jadi gitu,


Safira sedang mengecek beberapa cabang Cafe Laboon bersama orang tuanya. Akupun


tidak menyangka akan bertemunya di sini, mungkin ini hanya kebetulan saja bagi


kami. Dan kenapa Safira menjadi pelayan di sini?


“Ohh jadi


kamu, yang namanya Safira. Salam kenal aku Melani, teman sekelasnya Angga,”


saut Melani, sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Uhh, Melani


cepat sekali kalau soal orang baru. Ini pertama kalinya Melani bertemu dengan


Safira, dia mungkin saat menguping pembicaraanku dengan Rehan hanya tau namanya


saja, namun tidak dengan orangnya langsung. Dan harusnya ini pertama kali


mereka bertemu.


“Namaku


Safira, salam kenal juga. Ngomong-ngomong kalian di sini sedang berpacaran atau


bagaimana?” tanya Safira, dengan niat mengejek kami.


Yang benar


saja, dia ini baru saja datang dan mengejutkanku dengan kehadiran dirinya,


sekarang dia sudah mulai ngejek seperti itu. Aku melihat ke arah Melani, dia


kenapa jadi malu-malu gitu, apa dia merasa sangat malu saat di bilang seperti


itu oleh Safira.


“Yang benar


saja, aku baru saja selesai latihan. Melani ikut denganku ke tempat latihan


karena dia penasaran dengan latihan taekwondo, usai latihan kami pergi ke sini,”


kataku, memejamkan mata sambil memegang kepala.


“Dan juga,


kenapa kamu jadi pelayan di sini?” tanyaku.


Aku penasaran


kenapa Safira yang datang menerima tamu, bukannya di sini masih ada pelayan


yang tidak sedang menghadapi tamu. Dan juga pelayan apa yang menggunakan baju


bebas, sedangkan pelayan yang lain menggunakan seragam.


“Em? Tidak.


Ini aku hanya mencoba untuk melayani tamu saja, tidak ada alasan khusus aku


menjadi pelayan,” ujar Safira.


“Kalau begitu


apa ada yang ingin kamu pesan, Angga?” tanya Safira, sambil memegang buku dan


pulpen.


Safira


seperti sudah berubah, saat aku pertama kali bertemu dengannya dia sangat cuek,


bahkan tidak mempedulikan di sekitarnya. Sekarang dia seperti sangat terbuka,


apa ada sesuatu yang membuatnya jadi seperti ini? Aku penasaran.


“Biar aku


yang pesan yaa,” sahut Melani.


“Baiklah, aku


ikut kamu saja.”


“Roti bakar


ukuran besar 2, dan kentang goreng sedang 1, Em…Angga apa kamu mau minum kopi?”


tanya Melani yang sedang memesan pesanan.


Em…kopi yaa?


Sepertinya akan enak jika minum kopi setelah latihan lelah seperti ini. Dan


juga kata teman taekwondoku kemarin kopi di sini lumayan enak, baiklah. Kalau


begitu aku pesan kopinya 1 dengan gula dan susu.


“Iyaa aku


pesan kopi, tambah gula dan juga susunya,” jawabku.


“Baiklah,


kopinya 2 yaa,” ujar Melani yang memesan.


“Baiklah akan


segera kami siapkan,” kata Safira yang menulis pesanan.


Kemudian


Safira pergi meninggalkan kami untuk menyiapkan pesanan, Safira benar-benar


seperti sudah berubah. Sikapnya tidak seperti biasanya, aku jadi ingin tau


kenapa tiba-tiba dia jadi ramah sekali yang biasanya jutek.


Pesanan Tiba


Safira yang


menghampiri kami sambil membawa pesanan. Kenapa aku melihatnya seperti sangat


cocok menjadi pelayan yaa, padahal dia adalah anak dari yang punya Cafe ini.


Jika di bandingkan dengan pelayan lain, aku lebih suka melihat Safira yang


melayani tamu.


“Ini


pesanannya, silahkan di nikmati,” kata Safira, sambil menaruh pesanan kami di

__ADS_1


atas meja.


“Terima


kasih,” ucap Melani dengan senyum manis.


Di saat


Safira menaruh pesanan kami, ada 2 orang dewasa yang mendekati kami. 2 orang


dewasa laki-laki dan perempuan berbaju rapi, aku tidak tau siapa mereka tapi


sepertinya mereka sedang mendekat ke sini.


“Safira apa


kamu sudah selesai?” tanya perempuan dewasa yang mendekati kami.


“Sudah bu,


sebentar lagi juga sudah selesai,” kata Safira.


Bu? Apa dia


ibunya Safira? Aku baru pertama kali melihatnya, saat pergi ke alun-alun aku


mengantarkannya pulang ke rumah, tapi belum sempat bertemu dengan ibunya. Ini


adalah pertama kalinya aku bertemu dengan ibunya Safira.


“Maaf. Ibu,


ibunya Safira?” tanyaku penasaran.


“Iyaa, aku


ibunya Safira. Memangnya ada apa yaa?” jawab ibunya Safira, sambil menanya


kembali.


“Aku Angga,


temannya Safira di sekolah,” kataku, sambil berdiri memperkenalkan diri.


Saat aku tau


dia adalah ibunya Safira, aku langsung berdiri dan memperkenalkan diriku


kepadanya. Ini bisa menjadi kesempatanku untuk mendapatkan Safira sebelum


Rehan, dengan memperkenalkan diri ke ibunya, itu bisa menjadi awal untukku.


“Ohh jadi


kamu yang namanya Angga, yang jalan bersama Safira ke alun-alun yaa.”


“Iyaa bu,


saya yang bulan lalu mengajak Safira ke alun-alun,” kataku dengan tersenyum.


“Senang


bertemu kamu di sini, Angga. Kalau begitu nikmati saja makan malammu bersama


temanmu,” kata ibunya Safira.


“Iyaa bu.”


Setelah aku


berbicara singkat dengan ibunya Safira, dia pun dan laki-laki di sampingnya


pergi meninggalkan kami. Tapi aku masih penasaran dengan laki-laki yang bersama


ibunya Safira itu, apa dia orang baru?


“Safira,


siapa laki-laki yang bersama ibumu?” tanyaku.


“Ohh dia,


maaf sebelumnya. Soalnya kamu belum pernah bertemu juga dengannya, dia itu


hubungan ayah dan ibuku kembali. Karena kamu sibuk latihan jadi aku tidak enak


meminta bantuanmu. Rehan benar-benar orang yang baik yaa.”


Ayahnya


Safira? Rehan? Jadi Rehan sudah membantunya untuk mempertemukan kembali ayahnya


Safira dengan ibunya. Tapi bagaimana bisa Safira tau kalau aku sedang ada


latihan rutin, apa jangan-jangan Rehan yang memberi taunya.


“Sejak kapan


kalian melakukannya?” tanyaku yang sedikit terkejut.


“Hmm


sepertinya sudah 2 minggu yang lalu,” kata Safira, “dia benar-benar membantuku


dari awal, sampai kedua orang tuaku kembali lagi seperti semula, aku sungguh


senang.”


Mungkin ini


juga alasannya Safira menjadi seperti ini, yang dia biasanya jutek, pendiam.


Tapi sekarang dia sangat terbuka sekali, dan Rehan adalah orang yang telah


membantunya untuk mempersatukan kembali kedua orang tuanya.


“Em?


Sepertinya sudah waktunya aku pergi,” kata Safira yang melihat jam tangannya,


“Angga, aku pergi dulu ya. Sepertinya kedua orang tuaku sudah menunggu, aku


tidak enak jika membuat mereka menunggu lebih lama lagi.”


“Iyaa,”


kataku.


Safirapun


pergi meninggalkan aku dan Melani di sini, dengan hidangan di atas meja yang


kami pesan sebelumnya. Aku terdiam sejenak saat Safira pergi meninggalkan kami


berdua di sini, aku tidak tau harus bilang apa. Dan aku tidak tau harus senang


atau sedih.


Melani


***


Rumah


Setelah kami makan bersama di Cafe


Laboon, kami langsung balik pulang ke rumah. Aku merasa kasihan kepada Angga,


yang tiba-tiba Safira berkata seperti itu tepat di hadapannya. Pasti hatinya


sangat terluka saat mendengar ucapan Safira.


Aku yang sedang duduk di atas ranjang


memikirkan perasaan Angga sekarang, aku berharap dia tidak apa-apa. Aku ingin


dia fokus kepada kejuaraannya, karena kejuaraannya sudah di depan matanya.


Tinggal menghitung hari saja sebelum pertandingan.


“Nona, sudah malam. Waktunya nona untuk

__ADS_1


tidur, besok nona harus ke sekolah.” Kata Jeni yang mengingatkanku.


“Iyaa Jeni,” kataku, “Jeni, menurutmu


bagaimana perasaan Angga, setelah mendengar tadi saat di Cafe. Mungkin ini juga


salahku karena mengajaknya ke Cafe Laboon, jadinya aku dan Angga bertemu dengan


Safira di sana.”


“Nona tidak perlu menyalahkan diri


sendiri,” Kata Jeni, “aku yakin Angga tidak akan mudah jatuh karena hal sepele


seperti itu. Dia pasti akan bangkit dengan cepat.”


“Kau benar, Angga mungkin tidak akan


jatuh karena hal sepele seperti itu. Karena aku tau, Angga adalah orang yang


sangat kuat, dia adalah orang aku kagumi.”


“Kalau begitu sekarang waktunya untuk


tidur, jangan sampai besok kita telat seperti waktu itu,” kata Jeni sambil


memejamkan mata.


“Itu juga karena kamu tidak


membangunkanku,” balasku dengan wajah sedikit cemberut.


“Iyaa-iyaa, maafkan aku. Baiklah


sekarang waktunya tidur, aku akan matikan lampu dan menutup pintu kamar nona,”


kata Jeni.


“Iyaa, terima kasih.”


Kemudian Jeni langsung mematikan lampu


dan juga menutup pintu kamarku. Hmm apa yang di bilang Jeni adalah benar, Angga


tidak mungkin akan mudah terjatuh karena hal seperti itu. Aku percaya Angga


adalah orang yang pantang menyerah.


Sekarang adalah waktunya untuk tidur,


aku tidak mau besok telat seperti waktu itu. Jika telat pasti akan terbawa


buru-buru.


“Nona, anda masih saja memikirkan


perasaan Angga. Padahal tadi sudah jelas Angga masih berusaha untuk mendapatkan


hatinya Safira, bahkan nona bilang Angga adalah orang yang pantang menyerah.


Maksud dari kata itu adalah Angga tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati


Safira. Nona, apa kau menyadarinya? Nona memang sangat kuat,” kata Jeni dalam


hatinya sambil keluar meninggalkan kamar Melani.


***


Di Sekolah


Berangkat sekolahku seperti biasanya,


tidak ada yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Yang berbeda adalah hatiku


saja, aku masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Safira semalam


kepadaku. Dan ada sesuatu yang aku ingin tanyakan kepada Rehan.


“Angga!” teriak seseorang dari


belakangku.


Aku menoleh ke belakangku, yang


ternyata itu adalah Melani yang baru sampai di sekolah. Dia berlari menujuku,


sepertinya dia sudah mulai terbiasa denganku. Biasanya dia seperti robot jika


berada di dekatku. Baguslah.


“Melani, kamu baru sampai juga di


sekolah?” kataku.


“Iyaa aku baru sampai,” balas Melani, “apa


kamu sudah pulih setelah latihan kerasmu semalam? Aku melihat saja tadi malam


sudah bisa merasakan bagaimana lelahnya. Mungkin kalau aku, aku tidak akan kuat


untuk melakukannya.”


“Kamu ini,” kataku sambil menghela


nafas, “selama kamu punya keinginan terhadap sesuatu, kamu pasti akan terus


berjuang walaupun sulit. Atau mungkin kamu tau itu sesuatu yang mustahil untuk


di dapatkan, tapi kamu tetap berjuang untuk meraihnya.”


“Itu terdengar seperti tidak boleh


mudah menyerah terhadap apa yang kita inginkan,” kata Melani yang menduga.


“yap begitulah maksudku.”


Kemudian kami berdua jalan bersama


menuju kelas, aku bertemu dengan Melani saat setelah aku masuk dari gerbang


sekolah. Dia tidak biasanya, biasanya dia seperti robot saat berbicara


denganku. Sekarang sudah mulai terbiasa, sepertinya.


Di Kelas


Setelah kami berjalan dari gerbang


sekolah, kamipun sampai juga di kelas. Saat aku membuka pintu, ternyata hanya


Putri di kelas. Apa kami terlalu cepat datang? Tapi aku melihat tas yang sudah


di taruh, yang berarti sudah ada yang datang selain Putri. Lantas mereka di mana?


Aku jadi bingung.


“Hm? Teman yang lain pada di mana?


Putri?” tanyaku ke Putri karena bingung.


“Mereka semua pergi ke taman sekolah,


katanya Rehan sedang menembak seseorang dari kelas Bahasa. Aku tidak ikut


karena malas untuk pergi ke sananya,” jawab Putri.


Apa jangan-jangan Rehan sedang mencoba


untuk menembak Safira di sana?! Bagaimana bisa ini terjadi, kenapa dia


melanggar perjanjiannya. Padahal kejuaraanku saja belum di mulai, tetapi dia


sudah mulai untuk menembak Safira. Aku harus ke sana untuk melihatnya.


Anggapun langsung berlari menuju taman


sekolah.


“Ehh?” Putri yang bingung karena Angga


yang pergi tiba-tiba.

__ADS_1


“Angga!” teriak Melani.


__ADS_2