
Di sebuah perusahaan seorang pria setengah baya tengah sibuk dengan pekerjaannya. Namun saat sedang sibuk bekerja sekretarisnya berkata ada yang mau bertemu dengannya. Hendra merasa tidak punya janji dengan siapa pun, ya dia adalah Hendra papanya Yura. Karena penasaran Hendra pun mengijinkan seseorang itu untuk bertemu dengannya.
Seorang pria muda mendatanginya, sepertinya Hendra pernah melihatnya tapi dimana ia lupa. "Selamat siang pak Hendra "sapanya
"Selamat siang, maaf dengan siapa boleh saya tahu" tanya Hendra
"Saya Kenzie, saya pernah datang ke sebuah pesta bersama putri anda Kiara "ucap Kenzie memperkenalkan dirinya kepada Hendra.
"Oh iya, maaf saya lupa silahkan duduk "ucap Hendra
"Terima kasih " jawab Kenzie.
Hendra merasa aneh dengan kedatangan Kenzie ke kantornya, apa ia ada masalah dengan Kiara atau apa hingga Hendra memutuskan untuk bertanya padanya.
"Maaf kalo boleh saya tahu ada apa nak Kenzie datang kemari? "tanya Hendra langsung
"Saya kemari ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaan anda" jawab Kenzie dengan lugas. Mendengar ada perusahaan yang akan mengajaknya bekerja sama tentu Hendra sangat senang. Karena akhirnya perusahaan yang ia rintis kembali kini ada yang meliriknya kembali.
"Benarkah itu? "tanya Hendra dengan senang
"Tentu saja pak, saya juga akan menanamkan modal di perusahaan ini "ucap Kenzie lagi, semakin bahagia saja Hendra mendengarnya.
"Wahh, saya sangat senang sekali mendengarnya. Tiba-tiba ada perusahaan besar yang mau mengajak perusahaan kecil seperti perusahaan saya ini untuk menjalin kerja sama" Ucap Hendra dengan senang.
"Tentu saya juga sangat senang, tapi tentu saja semua yang saya berikan ada syaratnya " ucap Kenzie yang membuat Hendra terdiam.
__ADS_1
"Syarat? syarat apa kalau saya boleh tahu nak Kenzie "tanya Hendra.
"Saya ingin ada membantu saya untuk mendekatkan saya dengan putri anda pak "ucap Kenzie tersenyum.
"Oh itu, tentu saja nak Kenzie. Tapi bukankah nak Kenzie dengan Kiara itu sudah dekat atau apa anda ingin menjalin hubungan yang serius dengan Kiara?" tanya Hendra, karena memang setahu Hendra Kiara lah yang dekat dengan Kenzie. Tidak mungkin Yura kan karena Yura sudah menikah dengan Revan.
"Maaf pak, saya sama sekali tidak tertarik dengan Kiara dia terlalu murah*n untuk pria terhormat seperti saya. Sontak saja Hendra merasa terkejut dengan ucapan Kenzie yang mengatakan Kiara murah*n.
"Apa maksudmu? "tanya Hendra yang menjadi geram mendengar mendengar ucapan Kenzie.
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan Kiara, dia tidak lebih seperti sebuah mainan yang jika kita sudah bosan kita tinggal wuuusshhh, membuangnya" ucap Kenzie dengan nada merendahkan. Ucapan Kenzie benar-benar membuat Hendra geram, sebenarnya apa yang sudah terjadi antara Kiara dan juga Kenzie, hingga Kenzie menjelekan Kiara sampai seperti itu.
"Jika dimatamu Kiara seperti itu lalu putriku yang mana yang kau ceritakan,jangan bilang kau menginginkan putriku yang lain karena dia sudah.... ? tanya Hendra yang semakin geram melihat Kenzie
"Yura.... " ucap Kenzie hingga membuat nafas Hendra tercekat mendengarnya.
*
*
*
Saat sore menjelang saatnya Yura dan Bira pulang dari jalan-jalannya bersama Salsa dan juga Anggi, janji pergi selama tiga jam kini berubah menjadi enam jam .Dasar duo absurd ini memang, untungnya Regan Dan Revan sedang berbaik hati mengijinkan mereka. Mereka jadi teringat ucapan mamah Rita yang harus memberi kebebasan kepada istrinya. Bukan berarti tidak disiplin tapi mereka memang butuh waktu untuk bersenang-senang. Jangan sampai masa muda mereka di habiskan hanya untuk mengurus anak dan suami. Seorang istri juga butuh me time untuk membahagiakan dirinya. Begitu nasihat mamah Rita.
Tentu saja sebagai suami yang sudah berumur ehh maksudnya sebagai suami yang lebih dewasa dari istrinya, mereka harus mengerti dan pengertian.
__ADS_1
Saat Revan pulang kerja dari kantor, Revan di suguhi senyum cantik dari istri kecilnya. Sepertinya memberi sedikit kebebasan untuk istrinya tidaklah sia-sia, karena wajah Yura kini tampak penuh dengan senyuman sepertinya Yura sangat bahagia.
Revan langsung menghampiri Yura di kamar, istrinya kini sudah cantik dan wangi. Revan langsung saja mencium Yura dengan sayang. "Ada apa ? sepertinya kau sedang bahagia "tanya Revan
Yura langsung tersenyum dan langsung memeluk Revan dengan manja. Revan tersenyum senang melihat istri kecilnya bermanja-manja padanya. "Hari ini Yura seneng banget mas " ucapnya sambil menguyel-uyel dada Revan.
"Hey Tayo jangan menggodaku sekarang, aku belum mandi "ucap Revan tertawa.
"Salah sendiri kenapa baru pulang kerja juga tetep ganteng aja, kan Yura makin cinta "ucapnya masih dalam pelukan Revan.
"Dasar kau Tayo... " Revan memeluk erat istrinya, rasanya sangat bahagia di saat lelah habis bekerja seharian di sambut oleh istri yang sangat cantik dan senang bergelayut manja padanya. Ciuman bertubi-tubi Revan berikan pada Yura. "Kenapa kau sangat menggemaskan "ucap Revan.
"Iya lah, Yura kan bis kecil lucu dan ramah " Yura dan Revan pun tertawa. Setelah puas bercerita apa saja ia beli, Revan kini tengah mandi. Tadi saat bercerita dengan Yura, Revan pikir Yura akan memperlihatkan belanjaannya yang sangat mahal, karena sedari tadi Yura terus saja tersenyum. Revan pikir Yura sedang merayunya agar tidak marah karena sudah membeli barang yang mahal, berlian misalnya. Padahal apapun yang di beli Yura, Revan tidak akan melarangnya.
Namun yang keluar dari mulut kecil itu adalah dia sudah membeli boneka bis bersama teman-temannya. Dan menceritakan siapa saja dan karakter yang cocok dengan bis kecil itu sesuai warnanya.
Bis biru sudah pasti adalah dirinya, si Tayo. Bis kuning ia namakan Bira karena cocok dengan karakter Bira menurut Yura, entahlah sebelah mana cocoknya menurut Revan. Bis hijau Yura namakan Timmy, sudah jelas Timmy itu anak kam-bing kenapa malah jadi bis hijau, Yura bilang biar seragaman apalagi bis hijau sangat cocok dengan karakter Anggi yang sangat menyebalkan dan selalu berdebat dengannya, semakin di buat pusing saja Revan dengan cerita Yura.
Yang terakhir bis merah ia namakan Sasako, ini yang membuat Revan semakin pusing sudah tahu Sasako itu bumbu kenapa bonekanya malah bis merah, sangat-sangat jauh dari ekspektasi Revan. Yura Bilang tidak mungkin memasang bumbu di rak bonekanya karena itu akan terlihat sangat aneh. Lagi pula bis merah sangat cocok untuk Salsa yang kurang pintar katanya. Padahal dirinya saja sangat tidak pintar di mata Revan. Ahh sudahlah yang penting bis kecil ini bahagia bukan begitu. Revan hanya bisa berkata "kau sangat hebat sayang.... " Yura pun langsung tersenyum bangga.
Padahal maksud Revan sebenarnya adalah "kau sangat hebat membuat kepala suamimu pusing " tapi Revan hanya mampu mengucapkannya dalam hati. Jika Revan berani mengucapkannya secara langsung, alamat malam ini ia tidak akan mendapat jatah untuk si jhon. Oh....itu tidak boleh terjadi, kesejahteraan jhon adalah hal utama yang sangat penting bagi Revan.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
Likenya sumbangin dong, hari senin waktunya vote ya 😍😍
__ADS_1
Jangan takut ada konflik berat di novel ini. Di setiap cerita aku, aku cuman mau nunjukin kalo yang namanya pelakor dan pebinor itu sama sekali ga ada artinya di banding pasangan sendiri 😊, jadi jangan tegang atuh yah baca novel mimin mah 😅😅