
Setelah mendengar anaknya sadar, Hendra bergegas akan pergi ke rumah sakit untuk menemuinya. Beribu syukur ia panjatkan kepada Tuhan karena anaknnya kini telah sadar dan selamat dari kecelakaan itu. Pagi ini dia sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Pah, mau kemana ?" tanya Sandra
"Aku akan menjenguk Yura ke rumah sakit , Revan tadi meneleponku kalau Yura sudah sadar ."
"Oh...." ucapnya
"Hanya oh saja yang dia ucapkan kepada Yura, tidak kah sedikit pun ia menanyakan kondisinya dan juga keadaan anaknya, apa hatinya benar-benar tertutup untuk anakku, tidak.... hatiku lah yang sudah tertutup selama ini bahkan istri dan anakku seperti ular saja aku tidak mengetahuinya " gumam Hendra dalam hati.
"Pah bolehkah aku minta uang ?" ucap Sandra
"Untuk apa ? bukankah dua hari yang lalu aku baru saja memberimu uang, apa semua uang itu sudah habis?"tanya Hendra ketus
"Mamah ikut arisan berlian pah, uangnya mamah pakai buat bayar itu belum kebutuhan rumah skincare Kiara juga, papa tahu kan kalo dia punya kemauan itu harus di turutin apalagi buat perawatannya ,Kiara kan udah gadis dia harus selalu mempercantik diri pah"
"Apa kau lupa bagaimana keadaan kita sekarang, berapa kali aku peringatkan agar kau berhemat tinggalkan gaya hidupmu yang glamour itu, dan untuk Kiara bilang padanya jangan terus berusaha mempercantik diri, percantiklah hati dan pikirannya agar dia sedikit berguna " kesal Hendra, kenapa anak dan istrinya sama sekali tidak mengerti dengan keadaannya sekarang.
"Kok papa jadi marah sama mamah juga Kiara sih, semua kesusahan ini gara-gara si Revan suami Yura. Kalo aja dia ga sok berkuasa, hidup kita ga bakal susah kaya gini " ucap Sandra tidak terima di salahkan oleh Hendra suaminya.Hendra geram endengar ucapan Sandra .
"Kau malah menyalahkam orang lain, kalau bukan karena kesombongan Kiara kita tidak akan seperti ini, dan kau sebagai seorang ibu kau sama sekali tidak bisa mendidik anak, hingga anakmu menjadi seseorang yang tidak punya akhlak"
"Pah....!!!! teriak Sandra kesal
"Berhenti berteriak padaku, apa kau buta selama ini setelah dia di keluarkan dari sekolah, apa ada kegiatan yang berguna yang dia lakukan ? atau sedikit saja dia merasa bersalah atas tindakannya, bahkan sedikit pun dia tidak merasa malu" geram Hendra , Sandra terdiam mendegar ucapan Hendra, karena memang benar Kiara seperti itu, dia hanya ingin selalu bersenang-senang tanpa peduli bagaimana keadaan orang tuanya, dan bodohnya Sandra dia selalu menuruti keinginan anak kesayangannya itu.
Sandra kini hanya tertunduk sambil menangis, namun Hendra tidak mempedulikannya dan akan bersiap untuk pergi menemui Yura. Dia berjalan melewati Sandra, tapi sebelum membuka pintu kamarnya Hendra menghentikan langkahnya.
"Dan satu hal lagi yang harus kau ingat, jika kau dan Kiara tetap tidak berubah, bersiaplah karena aku tidak akan segan-segan untuk meninggalkan kalian berdua " Setelah mengucapkan itu Hendra pun pergi sambil membanting pintu dengan keras.
"Aaaarrgghhh....." teriak Sandra dia menangis di sana sendirian.
__ADS_1
****
Di rumah sakit
"Mas Revan..." panggil Yura
"Kenapa sayang, kamu menginginkan sesuatu atau ada yang sakit ?" tanya Revan.
"Tolong bilangin sama suster, cabutin alat ini Yura sakit " Yura kini menggunakan alat untuk yang di masukan kebagian intinya, karena dia belum bisa ke kamar mandi.
"Tapi sayang, kondisi kamu masih belum membaik, kamu bahkan belum bisa bergerak jadi alat itu tidak mungkin akan di buka saat ini, bersabarlah dokter bilang jika keadaanmu membaik besok kamu bisa melepasnya " ucap Revan, Yura menangis karena merasakan sakit di seluruh tubuhnya, banyak sekali luka yang ia rasakan, jahitan di kepala dan juga luka akibat operasi caesarnya belum lagi luka-luka memar di tubuhnya.
Revan benar-benar tidak tega melihat Yura, Revan mencium kening Yura dengan sayang. Yura hanya menangis terisak. "Si dede keadaannya gimana ? Yura pengen liat " ucap Yura sambil terisak sedih, bahkan setelah ananknya lahir pun Yura belum bisa melihat atau pun menggendong anaknya.
"Dia baik-baik saja Yura kamu tenang saja, aku sudah melihatnya tadi " ucap Revan tersenyum
"Tapi Yura belum liat, Yura juga pengen liat " rengeknya
"Kasian banget dia mas, anak kita kecil banget" ucap Yura. Tentu saja bayi Yura dan Revan sangat kecil karena terlahir prematur.
"Kamu jangan khawatir, seiring waktu berat badannya akan bertambah, dia akan normal seperti bayi-bayi lainnya" ucap Revan menenangkan Yura.
"Padahal Yura udah ngebayangin, nanti kalo anak kita lahir, nanti Yura bakal gendong dia terus susuin dia, tapi kenyatannya Yura ga bisa gendong sama susuin anak kita " ucapnya sedih
"Semua sudah kehedak Tuhan sayang, kita tidak bisa melawan takdir, kamu harus ikhlas dengan semuanya. Bukan kah masih ada bayi besar yang harus kamuu susui " ucap Revan tertawa menggoda Yura. Berharap agar istrinya tidak bersedih.Wajah Yura langsung memerah karena malu mendengar ucapan suaminya, untungnya di sana hanya ada mereka berdua
"Dasar ihh junior mesum" ucap Yura
"Si junior ini suamimu Tayo " masih dalam tawanya, Revan senang sudah bisa melihat Yura tersenyum.
"Yura jadi pengen di peluk sama mas Revan " ucapnya manja
__ADS_1
"Kamu jangan menggodaku Tayo, saat ini aku sedang tidak bisa melakukan apa-apa padamu, jangan siksa suamimu ini, apa kamu tidak kasihan padaku"
Yura hanya tertawa melihatnya.
Dari kejauhan Hendra melihat Yura tertawa dengan Revan, dia baru meyadari kalau selama ini Hendra tidak pernah tertawa bersama-sama dengan anaknya. Dia kehilangan banyak momen bersama anaknya selama ini .Penyesalan kini datang menghampirinya. Kemana saja dia selama ini.
Sudahlah waktu tidak mungkin akan kembali, kini saatnya untuk memperbaiki diri. Dia pun mengetuk pintu kamar ruangan Yura.
tok
tok
tok
Mendengar ada yang mengetuk pintu Yura dan Revan pun menoleh. "Boleh papa masuk ?"
"Tentu saja masuk lah " ucap Revan
Hendra bersedih melihat keadaan putrinya. "Bagaimana keadaanmu Yura ?" tanya Hendra
"Yura ga baik pah, badan Yura sakit semua " ucapnya sedih
"Papa sedih melihatmu seperti ini Yura, seandainya papa tidak megajakmu bertemu mungkin kamu tidak akan seperti ini " sesal Hendra
"Ini bukan salah papa, ini semua udah kehendak Tuhan dan ga ada satu manusia pun yang bisa melawan kehendak-Nya." ucap Yura
Hendra mengangguk, ternyata putrinya sudah dewasa, putri yang tidak dia jaga dan rawat dengan sepenuh hati kini sedang terbaring lemah di depannya. Dia berjanji akan memperbaikinya mulai sekarang. Dia akan menjadi ayah yang baik untuk Yura, belum terlambat bukan....
***
Malem semuanya , maaf ya mimin baru sempet up karena hari ini kegiatan di dunia nyata banyak banget 😊🙏
__ADS_1