
Sang Mentari memaksa masuk melalui celah tirai jendela sebuah kamar milik seorang wanita. Wanita yang masih enggan untuk bangun dari ranjang yang sedang ia tempati, tetapi alarm jam weker di atas nakas seakan tak peduli dengan rasa enggan nya yang masih malas untuk beralih menuju kamar mandi. Jam weker tersebut berulang kali ber gemerincing untuk memaksanya meninggalkan ranjang tersebut. Wanita itu sudah dibuat kesal oleh bunyi jam weker di atas nakas itu, tanpa ingin adu mulut ia bergegas masuk ke kamar mandi dan menjalankan ritual mandi nya. selesai dengan ritual nya ia segera menuju lemari pakaian disana ia memilih baju yang memang cocok dipakai untuk ngantor.
Setelah 10 menit bersiap-siap wanita itu turun dari apartemen dan berjalan mendekati taxi online yang sudah dipesan tadi. Ia masuk kedalam taxi dan menyuruh supir taxi untuk mempercepat laju mobil nya supaya ia tidak terlambat sampai ke perusahaan.
mereka sampai dalam waktu 20 menit, Zalfa membayar biaya taxi sebelum turun dari taxi tersebut, ia berlari kecil menuju lobi dan langsung mengarah ke arah lift, ia masuk ke dalam lift dan beberapa menit kemudian lift sampai di lantai yang ia tuju.
Zalfa berjalan dengan tergesa-gesa ketika menuju ruangannya, ia langsung duduk di kursi milik nya begitu sampai di ruangan tersebut, tangan kini beralih mengambil berkas-berkas yang perlu di pelajari nya.
"Drrrrtt....drrtt....."
"Halo assalamualaikum" sapa Zalfa lembut kepada si penelfon.
"Keruangan saya sekarang!" pinta si penelfon tanpa membalas sapaan dan salam dari Zalfa.
"Baik pak" jawab Zalfa sebelum Arion benar-benar mematikan sambungan telepon. Zalfa mengelus dadanya sebelum masuk menemui Arion di dalam ruangannya, ia berusaha memperkuat mental nya agar sanggup menghadapi sikap Arion yang terkadang semena-mena.
"Tok... tok..." suara ketukan terdengar jelas di telinga Arion dan ia sudah tau siapa yang akan datang menemui nya.
"Masuk" jawab nya singkat.
"Ada keperluan apa pak, bapak memanggil saya?" tanya Zalfa dengan suara selembut mungkin, hari ini ia tidak ingin mencari masalah dengan Presdir nya itu.
"Nih,,," ucap Arion melempar sebuah berkas ke arah Zalfa. Zalfa terkejut melihat tingkah Arion yang begitu tak manusiawi menurut nya.
Zalfa berjongkok untuk mengutip berkas yang sudah berserakan di lantai akibat lemparan Arion.
"Ya Allah, kuatkan hambamu ini ya allah,” lirih Zalfa di dalam hati tanpa iya sadari ada yang menetes melalui pelupuk mata nya. dengan cepat ia menghapus air matanya yang sudah mengalir di pipi.
__ADS_1
"Kamu baca dan kamu teliti berkas itu, apakah ada kesalahan di dalamnya, kalau ada segera perbaiki!' pinta Arion ketus
"Baik pak, kalau begitu saya permisi," pamit Zalfa berjalan ke arah pintu.
"Tunggu!" teriak Arion
"Ada apa lagi pak?” tanya Zalfa berusaha tersenyum walau hatinya teramat sakit diperlakukan dengan tidak baik.
"Saya mau kamu yang bertanggung jawab atas proyek dengan perusahan DK group. Dan saya mau hasil desain sebagus dan semenarik mungkin, karna ini proyek besar, saya gak mau kamu gagal. kalau sampai kamu gagal siap siap angkat kaki dari kantor ini, dan saya mau kamu selesaikan hasil desain kamu besok ,yasudah hanya itu saja, kamu boleh pergi!” ujar Arion memberitahu tanpa menatap Zalfa. Arion masih belum bisa menatap Zalfa ia takut emosi semakin tak terkendalikan, akibat kekesalan nya melihat Zalfa dan Adrian bersama.
"Baik pak, saya permisi," Zalfa meninggalkan ruangan Arion dan berjalan menuju ruangannya.
Zalfa masih terus bergulat dengan pekerjaan setelah berkas yang dilemparkan Arion berada di tangannya. Setelah berkas tersebut selesai, ia beralih mengerjakan desain yang di minta Arion untuk proyek besar yang akan di tangani nya langsung.
______________________
Zara masuk keruangan Zalfa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mungkin sudah jadi kebiasaan nya masuk tanpa mengetuk pintu. Wajar saja toh Zalfa sendiri tidak pernah mempermasalahkan nya.
"Ayuk. tapi ini belum selesai gimana dong, nanti yang ada aku di omelin tuh sama si presdir," ucap Zalfa sedih sembari menunjuk ke arah layar laptop nya.
"Udahlah tinggalin aja sebentar, nanti kamu kerjain lagi. Dan kalau kamu paksain, kamu kelelahan terus pingsan. Apa desain itu bakalan selesai? enggak kan?" tanya Zara menatap tajam Zalfa di hadapannya.
"Iya bener juga sih" jawab Zalfa cengengesan, ia menutup laptop dan merapikan berkas nya di atas meja serta mengambil mukena di laci dan mendekati sahabat nya.
"Yaudah, jom kita berangkat," ajak Zalfa riang dan mengandeng lengan Zara dengan manja.
"Ok jom"
__ADS_1
Zalfa dan Zara sampai di kantin kantor. mereka memilih duduk di kursi paling pojok setelah mengisi piring mereka dengan makanan, mereka makan sambil berbincang-bincang dan sesekali tertawa. Selesai makan mereka ke mushola dekat kantin untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah melaksanakan shalat mereka kembali ke devisi masing.
"Yaudah gue masuk keruangan gue dulu yaa,” pamit Zara pergi meninggalkan Zalfa
"Ok" sahut Zalfa cepat
"Brughhh"
"Aawww" lirih Zalfa kesakitan.
"Sorry, saya gak sengaja"
"iyaa gakpapa"
"Kamu karyawan disini?" tanya lelaki yang telah menabraknya
"Iyaa" jawab Zalfa singkat
"Kenalin gue Putra, dari devisi perencanaan," ucap Putra mengulurkan tanganya untuk berkenalan.
"Saya Zalfa, dari devisi desain," sahut Zalfa sembari tersenyum tanpa membalas jabatan tangan Putra
'Ya ampun, cantik banget ni cewek. penampilannya sholehah banget lagi, udah kayak bidadari surga,' gumam putra didalam hati
"Yasudah kalau begitu saya permisi," pamit Zalfa berjalan meninggalkan Putra seorang diri
"Iya," ucap Putra pelan. Iya melihat punggung Zalfa yang semakin menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 17.15. Para karyawan sudah banyak yang meninggal kan gedung tinggi itu, tetapi berbeda dengan Zalfa, Ia masih setia mengerjakan desain untuk proyek yang akan diterimanya. Walau sudah berusaha sekuat tenaga desain itu tak kunjung selesai, Zalfa mengambil inisiatif untuk mengerjakannya kembali dirumah.
Ia membereskan barang-barangnya dan menyimpan desain yang masih di laptop ke dalam flashdisk. Setelah semua selesai Zalfa bergegas meninggalkan ruangannya dan juga perusahaan.