
*Beberapa menit sebelumnya*
Zalfa keluar dari dalam cafe elite tersebut. Ia merasakan aura dingin yang sangat kuat di sampingnya, baru sedetik ia menoleh, pergelangan tangannya sudah ditarik dengan kuat oleh seseorang.
"Ikut aku," ajak lelaki yang menarik pergelangan tangannya, lelaki yang tak lain adalah Arion. entah bagaimana ia bisa berada di cafe tempat Zalfa makan malam.
"Arion sakit, aku bisa jalan sendiri," ucap Zalfa merengek, berulang kali ia menepis tangan Arion tapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga Arion.
"Jangan membantahku, atau kau tau apa yang akan aku lakukan," ancam Arion dengan tatapan membunuh.
Zalfa hanya mengikuti kemauan Arion tanpa ingin membantahnya lagi, ternyata ancaman Arion sangat ia takuti. Arion membawa Zalfa menuju mobilnya dan menyuruhnya masuk. Zalfa dengan penurutnya mengikuti setiap arahan Arion.
Didalam mobil Arion dan Zalfa hanya diam tanpa ada satupun yang ingin berbicara satu sama lain. Zalfa menggenggam erat bajunya, berulang kali ia menoleh menatap Arion ingin melayangkan pertanyaan, tapi keberanian tak muncul dalam dirinya saat ini.
"Arion," panggil Zalfa pelan, ia sangat berhati-hati, takut harimau di sampingnya itu akan mencakarnya habis-habisan.
"Papamu yang memberitahuku kau pergi berkencan dengan seorang laki-laki, dan aku juga menyaksikan sebuah drama konyol disana," jelas Arion sebelum Zalfa bertanya padanya.
"Apa kau sudah puas dengan penjelasanku," tanyanya menatap sekilas Zalfa, lalu tatapannya kembali terarah ke jalanan.
"Iya," jawab Zalfa singkat.
Tiba-tiba Arion menghentikan mobilnya di pinggir jalan, suasana sedikit sunyi dan Zalfa mulai berpikir yang tidak-tidak, apakah Arion akan membuangnya di jalan atau menyakitinya.
Arion turun dari dalam mobil. Kemudian berjalan membuka pintu satunya lagi untuk Zalfa, lalu memintanya untuk turun juga. Zalfa turun dalam keadaan was-was.
"Apa yang kau lakukan dengan Adrian?" tanya Arion penuh selidik, menatap tajam wanita berjilbab di hadapannya. Ia mengingat betul bagaimana Adrian panik dan memapah tubuh calon istrinya itu.
"Aku tak melakukan apa-apa," jawab Zalfa menatap heran Arion. Zalfa berjalan, berusaha menjauh dari Arion tapi Arion sudah terlebih dulu menarik lengannya. Dan benar saja, tubuh Zalfa kini berada dalam rengkuhan badan Arion.
"Tolong seperti ini sebentar saja," pinta Arion memejamkan matanya, ada tetasan bening yang jatuh dari pelupuk matanya, entah mengapa ia bersikap begitu di hadapan Zalfa.
Zalfa membeku dengan perilaku Arion, ia tau apa yang sedang terjadi saat ini kesalahan besar. Tetapi, hatinya juga sakit melihat Arion yang seakan terluka ketika ia bersama dengan lelaki lain.
"Aku hanya makan malam dengannya, tidak ada yang istimewa" jelas Zalfa yang berada dalam pelukan lelaki dingin itu. Arion terdiam ketika mendengar penjelasan Zalfa, ia tak ingin membantah atau apapun, yang saat ini ia inginkan adalah mendekap erat wanitanya itu.
"Kenapa begitu sulit mencintaiku?" tanya Arion dengan suara agak berat. Arion masih memeluk tubuh wanita berhijab itu. Zalfa masih menutup rapat mulutnya ketika mendengar pertanyaan Arion.
__ADS_1
"Jawab aku, kenapa begitu sulit mencintaiku?" ulangnya lagi melepaskan pelukannya dan menatap Zalfa lekat
"Arion. Aku belum tahu dengan jelas bagaimana perasaanku sebenarnya kepadamu," jawab Zalfa yang pelan-pelan menjauh dari Arion. Zalfa menghentikan taxi yang lewat di hadapan mereka, ia menaiki taxi tersebut. Arion tak menghentikan Zalfa, ia sudah cukup terpaku dengan jawaban yang diberikan oleh Zalfa. Ternyata benar seperti perkiraannya, Ia tak akan pernah ada di hati wanita yang ia cinta itu.
Taxi kian menjauh dan lama-kelamaan menghilang dari pandangan mata Arion. Arion mengepal erat tangannya dan memukul kaca mobilnya dengan keras, darah berceceran dimana-mana, tapi apa pedulinya, hatinya jauh lebih berdarah melebihi tangannya.
Ia masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan.
Kini ia berada di sebuah rumah tua di sebuah desa terpencil yang mungkin tak ada satu orangpun yang tahu menahu tentang tempat itu. Arion masuk ke dalam rumah tua tersebut dan duduk di sofa. Ia melihat dengan seksama tangannya, tak ada niat sedikitpun untuk mengobati lukanya. Malah ia sangat bahagia, ketika menatap lukanya yang sudah dipenuhi darah berwarna merah pekat itu melumuri tangannya.
"Kau tak separah hatiku, jadi jangan memintaku untuk mengobatimu," ucapnya tertawa mengejek menatap tangannya yang penuh dengan darah segar.
"Apa kau tahu, sebesar apapun lukamu ia tetap tak akan mencintaimu," sambungnya masih dengan tawa yang semakin kuat, ia mengepal erat tangannya yang terluka.
"Mulai saat ini, kau harus menguburnya di dasar yang paling dalam" titah Arion kepada dirinya sendiri.
"Apa gunanya mencintai orang yang tak mencintaimu. Kau memang bodoh Arion, benar-benar bodoh," ucapnya mengatai diri sendiri. Ia berkali-kali merutuki kebodohannya karena mencintai wanita yang tak mencintainya.
"Sekarang berjalanlah dengan semestinya, tanpa peduli padanya".
Selesai meratapi lukanya, ia masuk ke kamar rumah tua tersebut dan mengganti pakaian nya kemudian ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidur di sana.
Ketika sedang di perjalanan, Zalfa mendapatkan kiriman pesan dari nomor yang tak dikenalnya.
Pesan:
Temui aku di cafe biasa
Aga
Pesan:
Ada hal penting yang ingin ku beritahukan padamu.
Zalfa berpikir sejenak, tak berapa lama ia menyuruh supir taxi untuk memutar haluan ke sebuah cafe yang diminta oleh Aga.
Taxi yang ditumpangi Zalfa sampai di cafe yang ingin di datanginnya.
__ADS_1
Zalfa turun dari taxi dan berjalan masuk kearah pintu cafe pelangi. Disana ia mencari sosok lelaki yang memintanya untuk datang. Zalfa melihat lambaian tangan dari lelaki itu dan berjalan menghampirinya.
"Duduk lah, aku sudah memesan minuman kesukaanmu," titah Aga menyuruhnya duduk sembari melayangkan senyum.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Zalfa tanpa ingin basa-basi.
"Aku hanya ingin memberitahu mu kebenaran tentang kepergianku dulu," ujar Aga menatap lurus manik bola mata Zalfa.
"Sudahlah Aga, aku ingin melupakan semua yang sudah berlalu" titah Zalfa menatap malas Aga di hadapannya.
"Lihatlah ini terlebih dahulu," Aga memberikan handphonenya kepada Zalfa, dan memutar sebuah video yang berdurasi 24 menit, Zalfa terkejut ketika menyaksikan apa yang ada di dalam video tersebut. Badannya gemetaran, tatapannya lurus menatap layar handphone di tangannya itu, dan akhirnya video tersebut ia jeda karena ia tak sanggup lagi untuk meneruskannya. Tatapannya kini beralih, menatap lelaki yang sedang berkaca-kaca matanya ketika melihat wanitanya ikut menderita menyaksikan isi video tersebut.
"Maafkan aku," ucap Zalfa menatap sedih lelaki di hadapannya itu.
"Kau tak bersalah, aku yang bersalah," sahut Aga menitikkan air mata. Ada rasa bahagia yang menghampirinya, karena Zalfa sudah mengetahui semua kebenaran tentang kejadian di masa lalu.
"Aku tak mempercayaimu, aku pikir kau memang sengaja meninggalkanku dan mempermalukan keluargaku," ujar Zalfa menunduk, ia tak berani lagi menatap Aga yang berada tepat di hadapannya.
"Tatap aku," titah Aga menatap lekat Zalfa. Zalfa menaikkan wajahnya dan menatap Aga seperti permintaan Lelaki tampan itu.
"Kau akan selalu ada disini, jadi tak ada alasan untukku meninggalkan kamu," ucap Aga serius, ia memegang dadanya berusaha meyakinkan Zalfa bahwa Zalfa memang tidak akan pernah lenyap di hatinya.
"Sekali lagi maaf," ucap Zalfa lagi
"Berhentilah meminta maaf. Ini bukan lebaran, sampai kau berulang kali meminta maaf," ucap Aga berusaha untuk membuat candaan. tapi bukannya tertawa Zalfa malah manyun sembari menatap kesal lelaki itu.
"Garing banget sih," sahut Zalfa mengernyitkan dahinya.
Aga menopang dagunya menggunakan kedua tangan, matanya menatap lurus wanita berjilbab itu tanpa berkedip sedikit pun.
"Berhentilah menatapku," titah Zalfa garang menatap tajam Aga. Aga tersenyum melihat wajah Zalfa yang bersemu merah karena salah tingkah.
"Kau masih wanitaku yang dulu, tak pernah berubah sedikitpun," ucap Aga masih menatap Zalfa. Ia seolah tak rela untuk mengalihkan pandangannya untuk tak menatap ciptaan Allah yang sangat indah itu.
Zalfa terdiam tanpa bersedia untuk membuka kata. Sungguh ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini, dan apakah benar yang diucapkan lelaki itu bahwa ia masih sama. Tetapi, ia pun tak begitu yakin bahwa hatinya masih sama seperti saat dulu.
'Aku memang tak berubah. Tapi kurasa, hatiku saja yang berubah dan beralih arah' gumannya dalam hati.
__ADS_1
Zalfa tersenyum menatap Aga yang terus-menerus mengingatkannya, tentang semua masa-masa indah mereka ketika bersama dulu. Zalfa juga sesekali melayangkan tawa, dan terkekeh geli membayangkan satu persatu kejadian yang pernah mereka lalui bersama. Keduanya sangat bahagia ketika mengingat kisah cinta mereka di masa lalu.
Tapi ingatlah satu hal. Masa lalu akan selamanya menjadi masa lalu.