
Alunan alarm berbunyi merdu di atas nakas, hampir saja sang Presdir muda itu dibuat tuli. Ia sungguh tidak tidur nyenyak malam tadi, usikan dari alarm tersebut membuatnya semakin menggeram kesal. Dengan malas ia bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi, disana ia melakukan aktivitas yang memang biasa dilakukan oleh orang-orang sesudah bangun tidur.
Setelah selesai bersiap sang Presdir berjalan keluar dari rumah milik orang tuanya. Ia mengendarai mobilnya dengan santai, disaat yang sama Zalfa dan Arash sedang bersenda gurau di dalam mobil, Arash mengemudikan mobilnya menuju Mentari Angkasa.
Pagi tadi Arash begitu ngotot untuk mengantarkan Zalfa ke tempat ia bekerja, selain alasan untuk melihat perusahaan Mentari Angkasa, Arash juga punya sebuah rencana bagus yang akan ia jalankan tanpa sepengetahuan Arion dan Zalfa.
Zalfa dan Arash sampai ke Mentari Angkasa sedikit lebih cepat dari jarak tempuh yang sebenarnya. Zalfa turun dari mobil dan berjalan keluar. Ketika hendak menuju lobi tangannya tiba-tiba ditahan oleh Arash.
"Ayo, aku ingin mengenal calon suamimu, ajak aku menemuinya!" pinta Arash menatap kedepan tanpa memperdulikan raut wajah pucat Zalfa
"Kak Arash, gimana kalau ketemunya kapan-kapan aja?" tanya Zalfa tersenyum sumringah
"Gak mau, pokoknya sekarang!" titah Arash kekeh dengan permintaannya
"Gak bisa kak, Arion lagi sibuk saat ini," bantah Zalfa merasa takut dengan apa yang belum terjadi
"Apa yang kamu sembunyikan dari kakak?" tanya Arash kesal
"Tidak ada," jawab Zalfa sedikit gelagapan tapi tetap dengan pengontrolan yang baik
"Ayo, biar kakak yang bimbing kamu masuk ke perusahaan," ajak Arash menggenggam paksa tangan Zalfa, Zalfa tak berdaya. Ia dengan terpaksa menyetujui ajakan kakaknya.
Tatapan mata karyawan di lobi semua terarah ke Arash dan Zalfa, tak terkecuali Arion, yang memang sedari tadi menatap tak suka Arash ketika tangan Arash menggenggam erat tangan Zalfa.
Zalfa menatap takut Arion yang memberikan pandangan tajam terhadapnya. Ia menundukkan wajahnya, tak berani untuk beradu mata dengan sang Presdir di hadapannya itu. Arash pun dengan senang hati memanfaatkan momen indah tersebut. memang indah momen yang seperti ini, tetapi, itu menurut Arash tidak dengan Zalfa dan Arion. Zalfa berulang kali ingin melepas gengaman tangannya, bukannya terlepas bahkan genggaman tersebut semakin erat
__ADS_1
Arash juga merangkul bahu Zalfa seperti hendak memeluk. Arion semakin di buat mendidih oleh kelakuan iseng Arash. Arion melotot ke arah Arash, memberi isyarat kepada Arash , Arash acuh tak acuh menyaksikan kekesalan Arion.
"Kenalkan saya Arash," ucap Arash tersenyum licik sembari menyerahkan uluran tangannya.
"Arion, Presdir Mentari Angkasa," sahut Arion penuh penekanan di setiap kata
"Sayang, kamu kerja aja gih, kakak mau ngobrol sebentar dengan Presdir Arion!" titah Arash membelai kepala Zalfa
"Tapi kak," sahut Zalfa ketakutan
"Udah, kakak hanya ingin berkenalan saja, percaya sama kakak ya," ucap Arash mencium kening Zalfa, adegan itu tak lepas dari pandangan Arion yang berada di hadapan mereka, hampir saja Arion melayang kan tinju ke wajah Arash ketika ia mencium kening wanita miliknya, tapi ia tahan, ia tak ingin rencananya gagal karena ulah sahabatnya itu.
"Kakak," ucap Zalfa kaget dengan perilaku Arash, Zalfa menatap Arion yang sedari tadi menatap adik kakak itu penuh dengan kemesraan. Zalfa segera mengalihkan pandangannya ketika tatapan mata Arion terfokus padanya. dengan cepat ia berlalu berjalan mengarah ke lift karyawan dan memasuki lift tersebut.
"Ikut aku!" titah Arion menarik lengan Arash dengan kasar
"Jangan sampai lo pulang hanya tinggal nama!" Ancam Arion dengan tatapan membunuh
Arash di buat menciut dengan ancaman Arion, ia segera mengikuti Arion masuk ke dalam lift, setelah sampai di lantai paling atas Arion dan Arash bergegas menuju ruangan Arion. Arion berjalan lebih dulu dan langsung duduk di kursi kebesarannya, baru saja ia menduduki kursinya, sebuah berkas ia lempar tepat menuju ke arah Arash berada, untung Arash cepat menyadari benda terbang tersebut
"Apa lo gila? lo mau celakain gue?" teriak Arash menatap tajam Arion yang memasang raut wajah dingin. Arash tau letak kesalahannya dimana, tetapi, ia dengan sengaja melakukan itu semua.
"Sekali lagi lo berani nyentuh calon istri gue, jangan harap tangan lo itu tetap utuh!" ancam Arion dengan wajah datarnya. Arash terkekeh geli melihat kebucinan sahabatnya terhadap sang adik
"Gue itu punya hak yang lebih besar dari lo, jadi tolong kurangi posesif lo itu," ucap Arash mengeryitkan dahinya. Arash mengambil majalah yang ada di meja dan duduk di sofa ruangan tersebut. Ia membuka majalah itu dan sesekali mengintip Arion yang sedang kesal menatap telepon gengam miliknya.
__ADS_1
"Sebentar lagi gue ada meeting sama Zalfa, gue harap rencana licik lo ini membuahkan hasil," ucap Arion tenang sambil memutar-mutar kursinya
"Gue yakin lo bakalan berhasil, tapi ingat satu hal. Jangan sampe adek gue nangis gara-gara lo. Kalau sampe itu terjadi gue gak bakalan terima lo jadi adik ipar gue!" titah Arash menatap tajam sahabatnya dengan bibir yang tersungging.
"Rencana ini lo yang ngasih, kenapa lo seakan nyalahin gue akan konsekuensi kedepannya," ucap Arion sedikit kesal dengan apa yang ia dengar dari mulut Arash
"Gue memang yang buat rencana ini, tapi gue gakmau ada air mata yang jatuh dari pipi adek gue, dan gue berharap banyak sama lo, semoga setelah ini semua berlalu. Lo bisa gue percaya untuk ngejaga Zalfa," ucap Arash tersenyum tipis senyuman yang hampir tak terlihat. Arion tahu bahwa sahabatnya itu sangat menyanyangi wanita yang ia cintai, ia merasa senang karena Zalfa memiliki kakak seperti Arash. Arion bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah sofa. Ia duduk di samping Arash dan menepuk pundak sahabatnya itu.
"Gue janji sama lo, demi persahabatan kita dan demi cinta gue, gue akan jaga Zalfa dan gak akan nyakitin dia. Tapi, kalau untuk rencana ini gue belum bisa janji ini gak nyakitin dia," ucap Arion sedih ia menundukkan wajahnya menatap kebawah
"Gue percaya sama lo, dan ini memang jalannya supaya kalian sama-sama yakin akan cinta kalian," sahut Arash tersenyum, Arash merengkuh tubuh Arion dan memeluknya.
"Gue percayakan adik gue sama lo. Tolong yakinkan dia bahwa dia memang cinta sama lo dan lo yang paling pantas untuk dia!" pinta Arash dengan suara sedikit serak.
"Iya gue akan buat Zalfa sadar akan cintanya," ucap Arion penuh keyakinan.
Arion dan Arash melanjutkan perbincangan mereka, kali ini, pembahasan mereka mengenai strategi dalam menjalankan perusahaan dan juga produk dalam menarik minat klien. Pembicaraan mereka begitu serius. Ketika sudah lama dalam perbincangan Arash pamit kepada Arion untuk pergi, ia ada meeting dengan salah satu klien yang berada di Indonesia. Arion mengantarkan sahabatnya sampai ke lobi. Disana mereka berpisah ketika Arash sudah benar-benar keluar dari perusahaan. Arion segera pergi ke ruangannya, setelah melihat Arash sudah benar-benar menghilang dengan mobil mewahnya.
_____________________
Hai readersku apa kabar semuanya 🤗❤
Author hanya ingin mengucapkan Minal Aizin Wal Faizin, Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga amal ibadah kita selama sebulan penuh ini diterima oleh allah
__ADS_1
Dan kita kembali fitrah setelah ujian menahan lapar dan nafsu terjalankan dengan baik.
Salam sayang dari Author❤❤❤