
Zalfa sudah rapi dengan pakaian kantornya. Tak lupa ia memakai lipstik nude dan sedikit memadukan warna merah di bibirnya untuk membuatnya nampak lebih fresh.
Zalfa keluar dari kamarnya setelah bersiap-siap selama kurang lebih 20 menit.
Ketika menuruni anak tangga ia melihat kedua orang tuanya sudah duduk manis menunggunya untuk kumpul sarapan bersama.
"Selamat pagi ma, pa," sapa Zalfa berjalan mendekat ke arah meja makan.
"Pagi kembali sayang," sahut Zahira dan Pradipta bersamaan. Zalfa menarik kursi dan duduk dengan rapi layaknya anak TK.
Zahira mengambil piring yang sudah ia letakkan di hadapan Zalfa, ia mengisi nasi goreng dan ayam goreng ke dalam piring kosong tersebut.
"Makanlah yang banyak!" titah Zahira menyerahkan piring tersebut untuk putrinya.
"Siap bu boss," sahut Zalfa terkekeh ke arah wanita paruh baya itu.
Zalfa dan kedua orang tuanya makan dalam keadaan tenang, tidak ada percakapan untuk hari ini. Setelah selesai dengan sarapan mereka, Zalfa segera berpamitan kepada kedua orangtuanya. Ketika Zalfa ingin melangkah pergi Pradipta terlebih dahulu menghentikan langkah putrinya.
"Zalfa, tunggu nak!" panggil Pradipta menyuruhnya untuk berhenti.
"Kenapa pa?" tanya Zalfa menatap Pradipta.
"Papa akan mengantar mu, papa ingin bertemu dengan Arion, ada beberapa hal yang ingin papa bincangkan dengannya," ujar Pradipta sembari meraih kunci di atas nakas.
Pradipta dan Zalfa berpamitan kepada Zahira, mereka berjalan keluar dari rumah mewah itu. Pradipta dan Zalfa kini menuju garasi mobil dan masuk kedalam mobil, tak lama mobil tersebut menghilang dalam lajuannya.
Di dalam perjalanan menuju perusahaan Mentari Angkasa, Pradipta banyak melayangkan pertanyaan untuk putrinya yang duduk manis di sampingnya.
"Sayang, kapan kamu dan Arion akan bertunangan?" tanya Pradipta serius menatap putrinya.
Zalfa terdiam ketika mendapatkan pertanyaan dari lelaki paruh baya di sampingnya itu. Ia menatap sekilas papanya dan mengalihkan pandangannya keluar dengan cepat.
"Zalfa belum tahu pa, Zalfa ingin mengenal Arion lebih jauh tanpa terburu-buru," jawab Zalfa tanpa menatap.
__ADS_1
"Fa. Percayalah, bahwa pilihan orang tua adalah yang terbaik untuk anaknya," tegas Pradipta menatap putrinya dengan wajah serius.
"Papa tahu, sulit bagi kamu untuk melupakan masa lalumu. Tetapi, Jika kamu terus terbuai dalam kenangan masa lalu, kamu akan semakin terkubur di dalamnya dan tak akan bisa untuk keluar," ucap Pradipta memperingatkan anaknya.
"Iya pa, Zalfa tahu. Tapi, Zalfa juga bingung bagaimana dengan perasaan Zalfa sendiri," sahut Zalfa menatap sedih Pradipta yang tetap fokus menyetir.
"Istikharah sayang, tanya pada sang pemilik hati. Dan yakinkan juga hatimu, apa benar kau tidak mencintainya sedikitpun." Pradipta mengusap pelan kepala putrinya. Ia melayangkan senyum untuk putrinya yang sedang dilanda bimbang.
"Iya pa," ucap Zalfa tersenyum tipis.
Pradipta memarkirkan mobilnya di parkiran kantor ketika sudah sampai di Mentari Angkasa. Zalfa keluar lebih dulu dari mobil, ia tahu identitasnya masih tertutup rapat di perusahaan jadi ia tak ingin kecolongan.
Zalfa berjalan melewati lobi dan mengarah ke lift, ketika pintu lift terbuka ia segera masuk dan mengangkat tangannya untuk menekan tombol lift. Tetapi, belum sempat ia menekan tombol, ia sudah mendapati Arion dan Ardi berada di sampingnya. Suasana begitu canggung ketika mereka berada dalam satu lift. Tak ada salah satu dari mereka yang membuka suara, bahkan untuk menyapa saja terasa enggan.
Pintu Lift terbuka kembali di lantai paling atas. Lantai dimana ruangan Arion dan Zalfa berada, mereka berjalan ke arah ruangan masing-masing. Zalfa melihat dengan jelas bagaimana punggung Arion perlahan menghilang dari pandangannya, seketika ia merasakan sakit di hatinya, ketika Arion bersikap acuh dan tak menyapanya. berulang kali ia memaksa otaknya untuk berpikir apa yang telah terjadi.
Dan sekilas ia teringat kejadian tadi malam, dimana ia meninggalkan Arion sendirian dan pergi menemui Aga.
Zalfa berjalan menuju ruangannya, ia berusaha mengalihkan konsentrasinya dengan berkutat pada pekerjaan. Tapi, lagi-lagi hatinya tak bisa diajak kompromi, beribu pertanyaan muncul di pikirannya tentang tingkah Arion yang seakan tak peduli padanya. Ia semakin teringat akan kata-kata papanya tadi ketika di mobil bahwa ia harus meyakinkan dirinya sendiri tentang perasaannya terhadap Arion.
Pradipta sudah berada di depan ruangan Arion, ia mengetuk pelan pintu ruangan Arion.
"Tok,, tok,,," suara ketukan yang sedikit nyaring terdengar di telinga Arion.
"Masuk,"
Pradipta masuk ke ruangan Arion dengan gagahnya, Arion terkejut dengan kedatangan Pradipta. Ia segera bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Pradipta.
"Apa yang membawa papa Pradipta kesini?" tanya Arion sembari menyerahkan uluran tangannya. Pradipta menerima uluran tangan Arion dan mereka berjabat tangan.
"Ada hal yang ingin papa bicarakan dengan kamu, apa papa menggangumu?" tanya Pradipta balik menatap serius Arion
"Tidak, aku tidak sibuk pa, Silahkan duduk," pinta Arion mengajak Pradipta kearah sofa
__ADS_1
"Kalau begitu saya undur diri dulu Presdir," ucap Ardi menatap Arion sembari mengambil berkas-berkas yang diperlukannya.
"Iya," jawab Arion singkat
"Langsung saja, papa tidak ingin berbasa-basi lagi," ucap Pradipta menatap Arion.
"Sepertinya sangat penting ya pa, sampai papa menemuiku," sahut Arion cepat.
"Papa ingin kamu dan Zalfa untuk segera bertunangan!" ucap Pradipta serius menatap lurus Arion yang sudah membeku ketika mendengar ucapan Pradipta.
"Maaf pa, aku tidak bisa bertunangan dengan Zalfa, dan aku ingin membatalkan perjodohan ini," sahut Arion menunduk, ia bahkan tak berani untuk menatap wajah lelaki paruh baya di depannya itu.
"Membatalkan perjodohan?" ulang Pradipta kaget dengan apa yang didengarnya.
"Pa, pernikahan itu butuh cinta. Dan aku tahu, Zalfa tak mencintaiku, aku tidak ingin dia menderita ketika kami sudah menikah nanti,"
"Dan satu lagi, Bukan aku dihatinya tetapi lelaki lain," ucap Arion menatap Pradipta yang sedang terdiam dengan ucapannya.
"Siapa lelaki itu?? Aga perwira?" tanya Pradipta
"Iya pa. Ketika aku melihat senyum yang terpancar di wajah Zalfa saat menatap Aga. Aku tersadar, memang dialah yang Zalfa butuhkan, bukan aku. Dia mampu membuat Zalfa merasa bahagia dan tenang," ucap Arion sedih, ia bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah jendela. Menatap padatnya kota melalui jendela kaca tersebut.
Pradipta terdiam tanpa kata, begitu juga Arion, senyum kecut dan perih yang melanda hatinya semakin kuat, ketika kata yang tak ingin di ucapkannya itu terpaksa ia keluarkan.
Dari luar ruangan tersebut, berdiri seorang wanita yang sudah sedari tadi merasakan sesak dihatinya, ketika mendengar pengakuan Arion. Tetasan bening di pelupuk mata seakan menertawainya dengan segala kebodohan yang ada. Mereka seolah berkata, apa gunanya kau menangis, kaulah yang memaksanya untuk pergi.
______________________________________________
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komen ya readersku tercinta❤ like dan komen kalian sangat membantu author untuk terus semangat upnya❤😘
Happy Reading guys
Dan untuk pembacaku yang sedang ulang tahun, Happy birthday buat kamu. Kamu minta kado up Novel, sudah aku kabulkan, semoga tidak mengecewakan yaa❤😘😘
__ADS_1