
"Apa papa yakin mau ngejodohin Zalfa, papa tau sendiri Zalfa gimana dan mama yakin dia gakakan terima.” tanya Zahira menatap tak percaya.
"Maa, papa udah ambil keputusan dan keputusan papa udah paling tepat, papa sudah menyeleksi semua calon untuk Zalfa, cuma dia yang pantas untuk Zalfa , dia anak yang baik dan bertanggung jawab, lagipula dia anak dari sahabat baik papa ketika di Amsterdam dulu, sahabat seperjuangan papa.” jawab Pradipta tegas, ia meyakinkan Zahira agar Zahira mendukungnya dalam perjodohan ini.
"Paa, mama gak habis pikir dengan jalan pikiran papa, bisa bisanya papa egois begitu, kenapa papa langsung ambil keputusan tanpa bertanya sama Zalfa, coba pikirkan perasaan Zalfa paa.” ucap Zahira kesal.
"Maa, tolong jangan bantah papa, aku ini kepala rumah tangga, aku tau yang terbaik buat keluarga kita dan terutama anak anak kita.” sahut Pradipta dengan suara lantang.
"Paa ,mama gak nyangka papa bisa berfikiran seperti itu.” ujar Zahira menahan air mata dan emosi, ia tidak ingin dikuasai oleh amarahnya.
"Pa, apa penderitaan yang Zalfa alami selama bertahun tahun ini masih belum cukup menyakitinya.” ucap Zahira diiringi isak tangis, ia seakan memohon kepada suaminya agar tidak melanjutkan tindakannya, ia takut putrinya akan terluka kembali.
"Ma, Zalfa sudah dewasa dan dia sudah di nyatakan sembuh, kalau kita terus memikirkan tentang kejadian masa lalu, Zalfa akan terus melajang ma, dan Zalfa juga tidak akan pernah bisa bangkit, Zalfa akan terus menderita karna masa lalunya, papa hanya ingin Zalfa melupakan semua kejadian dimasa lalu termasuk traumanya dan memulai kembali sebuah hubungan dengan orang baru.” Pradipta tetap kekeuh dengan pendirian nya.
Zalfa mendengar semua perdebatan orang tuanya, dan itu membuatnya begitu terpukul, ia bagai merasakan ditusuk berulang kali tapi tidak mati. air mata mengalir deras dipipi Zalfa seolah mereka siap untuk menyerbu, Zalfa berlari kearah kamarnya sambil mengusap airmata yang berjatuhan tanpa henti.
"Kenapa papa seakan tidak peduli padaku,” ucap Zalfa terisak-isak dengan membekap mulutnya agar tidak ada yang mendengarnya menangis.
"Apa semua tragedi yang aku alami dulu harus terulang lagi, aku gak siap, benar benar gak siap.” ucap zalfa masih terisak dalam tangisnya, ia masih belum melupakan semua kejadian yang masih sangat lekat di ingatannya.
__ADS_1
*Flashback on *
"Gaa, kapan kamu mau ngelamar aku, hubungan kita udah berjalan 3 tahun, dan aku pengen kita nikah, biar cewek cewek pada ngejauhin kamu.” ucap Zalfa cemberut menunjukkan kecemburuannya.
"Iyaa sayang, aku bakal suruh orang tuaku buat ngelamar kamu yaa.” Aga mengelus pucuk kepala Zalfa mencoba menenangkan kekasihnya yang teramat ia cintai.
”Tapi kan kamu juga tau sendiri, orang tua kamu gak suka sama aku,gimana kalau lamaranku ditolak” sambung Aga lemah, kecemasan terlihat jelas di wajah tampannya.
"Kamu tenang saja, mama sama papa udah janji sama aku, mereka bakal restuin hubungan kita kalau kita udah lulus dan kamu serius ngelamar aku.” sahut Zalfa menatap lekat wajah Aga, ia memegang erat pipi kekasihnya itu sembari memberikan sebuah senyum, dan itu sukses membuat Aga menjadi lebih tenang.
"Nanti aku bakal kasih tau orang tua ku buat ngelamar kamu yaa.” ucap Aga mengecup kening Zalfa lembut.
Zalfa merasa bahagia mendengar ucapan Aga, keraguan akan hubungan yang tidak pasti lenyap begitu saja, ia merasa menjadi perempuan yang sangat istimewa jika benar benar bisa menikah dengan Aga, bagaimana tidak, Aga adalah lelaki incaran semua wanita di SMA Budi Bangsa, Aga adalah anak yang baik, sopan, pintar, jago basket, dan tajir, paket komplit pokoknya.
Selang beberapa bulan setelah lamaran ,Zalfa dan aga melangsungkan akad nikah di kediaman Pradipta.
"Maa , Afa udah cantik belum.” tanya Zalfa gugup, ia begitu nervous karna sebentar lagi ia akan menjadi istri sah Aga Perwira, lelaki yang sangat ia cintai selama 3 tahun, manis pahit sudah mereka rasakan, hubungan yang tidak direstui, pacaran diam diam, dan masih banyak lagi, tapi semua itu sudah berakhir karna hari ini status mereka akan segera berubah menjadi pasangan sah.
"Sayang, dengerin mama yaa, diseluruh jagat raya ini kamu yang tercantik, anak dari Zahira Pradipta, dan hari ini semua orang akan terkagum kagum melihat kecantikan kamu sayang, kamu itu bagaikan bidadari yang diutus kebumi untuk menjadi pengantin untuk Aga, dan mama yakin Aga tidak akan berkedip ketika melihatmu.” ucap Zahira menenangkan putrinya, Zahira menyentuh kedua pipi putrinya dan mencium kening putrinya untuk mengurangi rasa gugup anaknya itu.
__ADS_1
"Makasih yaa maa, mama yang terbaik.” Zalfa melayangkan pelukan kepada Zahira.
"Tok..tok...”
"Iyaa masuk.” ucap Zahira dari dalam tanpa tahu siapa yang mengetuk pintu.
”Sayang Aga mana, penghulu udah datang daritadi, kenapa Aga dan keluarganya masih belum sampai.” tanya pradipta tergesa gesa, kepanikan terlihat jelas di wajahnya walau ia berusaha menutupi.
"Sebentar ya paa aku telfon dulu.” ucap Zalfa mengambil telfon di nakas, ditekannya kontak Aga dan dihubungi nya kontak tersebut.
"Tuttt .tuttt,.” suara bunyi telfon yang tidak tersambung, Zalfa mencoba menelfon berkali kali , tapi jawabannya tetap nihil.
"Paa, gak tersambung.” kata Zalfa mulai gelisah dengan keberadaan Aga, pikiran nya sudah tidak berpikir dengan baik, dan rasa khawatir yang berlebihan membuatnya berpikir yang tidak tidak.
"Yaudah coba sekali lagi” pinta Pradipta mencoba santai walau hatinya sudah sangat tidak tenang.
"Maaf ,nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan” suara dibalik telfon nyaris membuat Zalfa terkulai lemas, ia betul betul merasa khawatir dengan calon suaminya ,ia takut sesuatu yang buruk telah menimpa Aga.
"Sayang kamu tenang yaa ,semua baik baik aja kok, kita tunggu sebentar lagi yaa, mungkin aga terkena macet, dan baterai handphone habis.” ujar Zahira mencoba menenangkan putrinya yang sudah terkulai lemas dilantai, Zahira memeluk erat putrinya dengan sesekali melayangkan ciuman di kening putrinya itu, ia merasakan kekhawatiran yang dirasakan putrinya.
__ADS_1
”Paa gimana, udah bisa dihubungi.” tanya Arash putra sulung Pradipta yang baru masuk.
"Belum Rash, Zalfa udah coba hubungin Aga tapi telfonnya gak aktif.” ucap Pradipta dengan ekpresi cemas, apalagi melihat putri kesayangannya terkulai lemas tak berdaya.