Cintanya Untukku Dan Cintaku Untukmu

Cintanya Untukku Dan Cintaku Untukmu
episode 52


__ADS_3

"I am ok," jawab Zalfa dengan lirih. Ia membalikkan badannya dan menatap Adrian tersenyum


"Sepertinya aku kelaparan, apa kau tidak ingin mengajakku untuk makan terlebih dahulu sebelum ngobrol?" tanya Zalfa dengan raut wajah kesal, ia menggertakkan giginya dan menatap Adrian dengan sinis


"Baiklah aku akan mengajakmu makan, tapi dengan satu syarat," jawab Adrian tegas menatap tajam bola mata indah wanita di hadapannya


"Apa itu?" tanya Zalfa kembali


"Kau harus ceritakan padaku apa yang telah terjadi, dan ingat satu hal. Aku ini sahabatmu bukan orang asing!" jawab Adrian penuh penekanan di akhir kalimat, kemudian ia melepaskan senyum kaku setelah mengatakan apa yang memang ingin ia katakan


"Ok," ucap Zalfa dengan singkat padat dan jelas


Adrian dan Zalfa berjalan beriringan menuju sebuah mobil Pajero sport yang sudah terparkir rapi di antara deretan mobil-mobil lainnya, Zalfa mengiringi mobil tersebut dan membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya, ia duduk setelah selesai memasang seat belt pada badannya.


Mobil melaju dengan santainya, Adrian dan Zalfa berbincang-berbincang di dalam mobil, mereka tertawa jika dari pembicaraan mereka ada yang lucu, dan Adrian pun sering kali membuat guyonan yang mampu menggelitik perut Zalfa, tak berselang lama mereka sampai di salah satu cafe. Adrian dan Zalfa turun dari mobil lalu berjalan menuju cafe, mereka memilih tempat di pojokan, agar lebih leluasa untuk berbincang perihal yang sedang terjadi pada Zalfa


"Waiters" panggil Adrian menggerakkan tangannya kepada sang waiters yang sedang ingin beranjak ke tempatnya


"Mau pesan apa pak?" tanya waiters tersebut sesopan dan seramah mungkin

__ADS_1


"dua orange jus, satu sushi dan satu omelette udah itu aja," jawab Adrian memberikan buku yang tertera semua jenis makanan di dalamnya


"baik pak, mohon tunggu sebentar ya pak sebelum pesanannya datang" ucap sang waiters menabur senyum kepada Adrian dan Zalfa, setelah waiters tadi berlalu pergi, Adrian memberanikan diri membuka kata


"Ok, kamu mau mulai dari mana dulu nih?" tanya Adrian tak sabaran, terlihat jelas raut wajah penuh rasa penasaran dari lelaki yang bergelar CEO itu


"Mengapa kamu tiba-tiba jadi tukang rumpi Dri?" tanya Zalfa balik, ia menatap jengkel raut wajah Adrian, seakan seribu sesal telah mendatangi dirinya setelah menyetujui persyaratan lelaki di hadapannya kini


"Tolong ya. Putri bapak Pradipta yang terhormat, jangan membuat saya kesal karena anda melupakan persyaratan saya barusan!" titah Adrian mengulum senyumnya kasar. kini wajahnya berubah jadi masam melebihi asamnya jeruk nipis


"Haha, baiklah. Aku akan menceritakan semua," sahut Zalfa tertawa lepas menyaksikan raut wajah masam Adrian


"Jadi begini ceritanya,,," Zalfa mulai menceritakan setiap inci permasalahannya, mulai dari pertunangan dan juga masalahnya dengan Aga serta Arion, Adrian mendengarkan semua penjelasan Zalfa dengan seksama tanpa ingin membantah terlebih dahulu.


Adrian kini mengerti apa yang membuat wanita di hadapannya saat ini nampak sedih


"Yang pertama aku ucapkan selamat atas pertunangan kalian, dan yang kedua, lebih baik yakinkan hatimu sekali lagi. Apa benar kau telah melupakan Aga, dan yakinkan juga hati kamu, apa benar Adrion benar-benar ada di hati kamu atau tidak. Dan pastikan kamu tidak salah memilih untuk kamu jadikan penjaga hatimu kelak serta pasangan seumur hidupmu," ucap Adrian penuh keseriusan dalam ucapannya, ia melepaskan sebuah senyum sebagai tanda penyemangat untuk Zalfa agar ia mampu berbincang dengan hatinya sendiri


"Kamu benar Dri, aku harus menyakinkan hatiku sekali lagi, siapa yang memang benar-benar aku cintai dan ingin aku miliki untuk kehidupanku seterusnya," sahut Zalfa yang kini membalas senyuman seorang lelaki yang sudah ia anggap sahabat, mungkin terdengar aneh kalau mereka hanya sebatas bersahabat, tapi inilah adanya, Zalfa sudah menganggap Adrian sebagai sahabatnya tidak lebih dan tidak kurang, begitu pula dengan Adrian, ia sudah berhenti mengharapkan Zalfa, karena ia tak ingin memaksa seseorang untuk mencintainya, biarlah Lebel sahabat menjadi pengikat antara keduanya

__ADS_1


Saat Zalfa dan Adrian sedang menyantap makanan, tiba-tiba datang seorang lelaki menghampiri mereka.


"Aku begitu khawatir denganmu, sedangkan kamu malah tertawa bahagia bersama lelaki lain," ucap lelaki itu serak, wajahnya memancarkan aura permusuhan dan kebencian akan situasi yang sedang terjadi saat ini


"Arion," ucap Zalfa kaget melihat kedatangan bosnya itu yang sebentar lagi akan berganti gelar


"Apa aku begitu tidak berarti di mata kamu Zalfa, sampai kamu meninggalkan aku dan menemui lelaki lain, dan yang lebih menyakitkan kalian dinner bareng sambil tertawa lepas," gerutu Arion begitu kesal, ia tak mampu lagi menahan kekesalan yang menerpa hatinya, namun, ia juga mengontrol agar tak menyakiti hati wanita tersebut dengan ucapannya


"Ini gak seperti yang kamu lihat, aku dan Zalfa gak sengaja ketemu dan aku ngajak dia makan buat nenangin hatinya," jelas Adrian memberitahu Arion keadaan yang sebenarnya


"Nenangin hati Zalfa, kamu hebat sekali ya, kamu mampu untuk nenangin hati Zalfa sampai Zalfa tertawa bahagia. Sedangkan aku, aku tak mampu berbuat apa-apa," sahut Arion sinis sekaligus mempertegas bahwa ia kalah dari Adrian, terselip nada meremehkan dari perkataan Arion tersebut, Zalfa dibuat pusing oleh tingkah lelaki itu


"Kayanya kamu itu hobi banget ya salah paham sama aku," ketus Zalfa kesal, ia memakan makanannya tanpa ingin memperdulikan Arion


"Salah paham, apanya yang salah paham. Memang kenyataannya kamu lagi dinner sama dia dan kalian tertawa begitu bahagia. Sedangkan aku seperti orang kesetanan mencari keberadaan kamu, apa kamu tidak pernah berpikir seperti itu?" tanya Arion menatap tajam Zalfa, ingin sekali ia menarik paksa wanita di hadapannya, namun ia takut hal itu akan membuat Zalfa semakin membencinya


Zalfa lelah jika harus berdebat dengan lelaki keras kepala di hadapannya kini, ia meminum orange jus miliknya dan menyeruputnya tanpa sisa, setelah menghabiskan minumannya ia menatap Adrian dengan wajah memelas, seakan memintanya untuk tak menanggapi Arion


"Dri, sepertinya aku harus pergi. Aku takut akan terjadi perang dunia kalau aku tak kunjung pergi," ucap Zalfa izin pamit kepada Adrian. Adrian terkekeh mendengar ucapan Zalfa, sedangkan Arion di landa rasa cemburu saat melihat Adrian tertawa karena wanitanya

__ADS_1


"Baiklah, selesaikan masalah kalian secepat mungkin, dan ingat apa yang aku katakan tadi Fa!" ucap Adrian memperingati Zalfa, Zalfa mengangguk pelan, mengiyakan setiap perkataan Aga. Ia menarik lengan Arion untuk mengikutinya, saat mereka keluar dari cafe tersebut Zalfa tertawa kecil melihat raut wajah Arion yang masih saja cemberut dan penuh kekesalan.


Zalfa telah melupakan segala yang terjadi saat ia bertemu Adrian, Adrian telah membuka mindsetnya dalam berpikir jernih, kini ia sedang ingin meyakinkan hatinya terlebih dahulu tanpa ingin melanjutkan amarah yang datang padanya.


__ADS_2