Cintanya Untukku Dan Cintaku Untukmu

Cintanya Untukku Dan Cintaku Untukmu
episode 49


__ADS_3

"Andaikan aku tidak menganjurkan ide gilaku," teriak Arash mengacak-acak rambutnya frustasi, raut wajah Arash memancar sinar kesedihan dan penyesalan. Ia sangat mencintai adik bungsunya. Namun, hanya karena ingin mengerjai sang adik ia kembali membuat adiknya dalam masalah.


"Ini bukan salahmu Rash, ini salah Papa," ucap Pradipta mendekati sang Putra, ia menepuk pundak anak lelakinya seakan memberi kekuatan yang sebenarnya kekuatan tersebut pun ia tak punya. Arion semakin tak tega melihat sang sahabat serta calon mertua yang tak henti-hentinya menyalahkan diri mereka sendiri


"Tak ada yang salah dari kalian, aku yakin Zalfa akan baik-baik saja setelah ini," ujar Arion penuh keyakinan menatap kedua lelaki yang berada tak jauh darinya, Arion melangkahkan kakinya berjalan menuju ruang rawat inap VIP, begitu juga dengan keluarga Pradipta mereka mengikuti Arion untuk masuk ke dalam.


Ketika mereka sudah sampai di dalam kamar inap tersebut, mata mereka langsung tertuju pada sosok seorang wanita yang tertidur lemah tak berdaya, wajahnya pucat dan tubuhnya terlihat begitu kurus serta nampak wajah yang begitu penuh kesedihan. Andai saja piala Oscar belum berlangsung, sudah pasti piala tersebut jatuh ke Zalfa, aktingnya sangat bagus dalam mengelabui orang tuanya serta sang kakak.


"Sayang, maafkan papa," pinta Pradipta dengan setetes air bening yang mengalir tanpa ia sadari, wajar saja, ia pernah mengalami situasi yang seperti ini sebelumnya.


Zalfa merasakan tetesan bening itu jatuh mengenai pipinya, ia dengan perlahan membuka matanya, tak tega menyaksikan kesedihan yang mendalam pada lelaki paruh baya di hadapannya. Ia tak tau bahwa sandiwaranya akan membuat orang tuanya begitu terpukul.


Zalfa bangun dan dengan cepat memeluk sang papa, tak tahan harus melanjutkan sandiwara tersebut


"Pa, Zalfa baik-baik saja, jangan menangis lagi ya!" titah Zalfa mengusap air mata yang masih mengalir di pipi lelaki paruh baya itu, ia mencium kedua pipi papanya.


"Ma, kak Arash," ucap Zalfa saat melihat ibu dan kakaknya yang juga meneteskan air mata. Mereka mendekati Zalfa dan memeluk Zalfa, kini mereka berempat saling berpelukan. Arion tersenyum ketika menyaksikan hal yang begitu manis terjadi di hadapannya.

__ADS_1


"Kakak janji kalau kakak gak akan ngerjain kamu lagi, tapi kamu harus selalu baik-baik saja, apa kamu dengar itu!" ucap Arash memberi peringatan kepada sang adik, ia menatap tajam Zalfa tapi air mata tetap menetes di sela tatapannya itu, Zalfa tertawa geli melihat sang kakak yang sedang mengomeli dirinya.


"Kak, aku sebenarnya tidak apa-apa kok, aku hanya membalas sandiwara kalian," bisik Zalfa pelan dan sangat berhati-hati, bisikannya masih terdengar jelas di telinga semua orang. Ia langsung menutupi dirinya dengan selimut, takut bahwa Arash atau pun Zahira akan mengomelinya


Arash, Zahira serta Pradipta kaget dengan apa yang telah di ucapkan wanita yang terlihat lemah di hadapan mereka saat ini,


benar-benar tak menyangka bahwa semua yang telah terjadi hanyalah sebuah sandiwara.


"Kenapa kamu melakukan ini sayang, apa kau tidak peduli bagaimana menderitanya kami menyaksikan putri tercinta kami terbaring lagi di ranjang rumah sakit, apa kau begitu membenci kami sayang?" tanya Zahira menangis terisak-isak, ia semakin tak mampu untuk menahan isakannya, ada rasa bahagia ketika mengetahui bahwa putrinya baik baik saja, tapi terbersit juga kekecewaan bahwa sandiwara putrinya sedikit menyakiti mereka


"Maaf ma, Zalfa bersalah," sahut Zalfa memeluk sang ibunda sekuat tenaga, ia pun kini meneteskan air mata saat melihat sang ibunda menangis terisak akibat ulahnya


"Bagaimana keadaannya?" tanya Fita panik saat melihat Zalfa dan Zahira penuh air mata. Fita mendekati Zalfa dan langsung memeluknya tanpa aba-aba


"Mama begitu khawatir jika kamu kenapa-kenapa nak," ucap Fita mengusap air mata yang ada pada Zalfa, Zalfa membalas usapan Fita tersebut dengan sebuah senyuman


"Aku baik-baik saja tante," sahut Zalfa agak sungkan, Fita tersenyum melihat sifat pemalu yang ada pada Zalfa, membuatnya semakin tak rela ketika harus menunggu waktu lama untuk menjadikan Zalfa menantunya

__ADS_1


"Sayang. Lekaslah sembuh, agar kalian bisa langsung bertunangan lalu menikah," ucap Fita menatap dengan lembut Zalfa lalu mengalihkan pandangannya ke Arion, sang lelaki yang akan menjadi pendamping hidup Zalfa


"Malam ini juga kalian akan bertunangan, di sini dan detik ini juga!" titah Pradipta begitu kekeh dengan ucapannya. Tersirat sejuta keseriusan dari wajahnya, tanpa ada keraguan sedikitpun.


Semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut mendengar ucapan Pradipta, tak terkecuali Arion, hal inilah yang sangat di nantikan olehnya tanpa ingin menunda untuk waktu yang lebih lama


"Aku setuju dengan Pradipta," ujar Xavarius tersenyum sumringah.


Ia mendekati putra sematang wayangnya, memberikan sebuah kotak yang berisi cincin. Namun Arion menolak kotak tersebut, ia mengisyaratkan kepada sang ayah bahwa ia sudah punya persiapan sendiri. Xavarius mengangguk mengiyakan isyarat Arion.


Arion mendekati Zalfa dan langsung mengeluarkan cincin berlian yang sudah mereka beli di toko perhiasan. Ia memakai kan cincin berlian tersebut dengan perlahan sambil beradu mata dengan wanitanya. Keduanya tersenyum saat cincin sudah terpasang dengan sempurna di jari manis Zalfa. Kini, Zalfa lah yang memakaikan cincin di jari manis Arion, rasa bahagia begitu jelas terpampang di raut wajah semua orang yang ada di ruang rawat inap tersebut. Semua kebahagiaan akan menghampiri Zalfa dan Arion dalam beberapa minggu ke depan, karena Pradipta dan Xavarius sudah memutuskan bahwa ia akan mengadakan acara pernikahan beberapa minggu ke depan. Mereka tak ingin menghancurkan kebahagiaan sang anak dengan memperlambat pernikahan mereka.


________________________


"Aku tak pernah rela kau menjadi miliknya," teriak seorang wanita melempar botol wine ke tembok, ia terlihat begitu depresi karena membayangkan bahwa sang lelaki yang begitu di cintainya dengan sangat dalam akan bertunangan dalam waktu dekat.


"Aku akan menghancurkan wanita yang kau cintai, karena dia tak pernah pantas untukmu, yang pantas hanyalah aku," ucapnya tertawa terbahak-bahak, alkohol sudah terlalu menguasainya sampai ia tak tahu bahwa lelaki yang di impikannya sudah bertunangan beberapa menit yang lalu. Ia mengambil ponselnya yang terus berbunyi di atas meja, kemudian mengangkatnya dan mendengarkan seseorang menyampaikan sebuah berita yang begitu tak mengenakan.

__ADS_1


Ia melempar handphonenya dengan kasar bahkan belum sempat untuk menutup sambungan telepon tersebut.


"Tunggu saja, aku akan buat hari bahagiamu menjadi hari paling menyedihkan seumur hidupmu,"


__ADS_2