
Adrian sampai setelah Zalfa benar-benar sudah berada di depan gerbang rumah. Adrian menghentikan mobilnya, dan keluar dari mobil berjalan mendekati Zalfa yang juga berjalan ke arahnya.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Adrian menatap Zalfa tanpa berkedip, Adrian terpukau akan kecantikan Zalfa malam ini. Padahal tadi ia sudah memperingatkan Zalfa untuk tak tampil cantik malam ini. Tetapi pesona yang Zalfa miliki memang tak dapat ia elakkan, tanpa polesan tebal saja ia sudah melebihi Miss Universe. Zalfa mengibaskan tangannya ke wajah Adrian berulang kali.
"Adrian," panggil Zalfa mengagetkan Adrian dari lamunannya.
"Ayo kita pergi!" ajak Adrian sedikit gelagapan, Adrian membukakan pintu mobil untuk Zalfa, ia seperti seorang supir yang sedang melayani majikan nya untuk masuk ke dalam mobil. Adrian mengambil posisi pengemudi, sedangkan Zalfa berada di sebelahnya.
Mobil melaju dengan cepat, Adrian tidak ingin membuang-buang waktu dengan perjalanan yang membosankan, sebab disana dia sudah menyiapkan sebuah jamuan spesial untuk wanita spesial yang berada di samping kursi kemudinya.
Adrian mendatangi sebuah Cafe elite, dimana Cafe tersebut banyak didatangi kalangan atas. Adrian dan Zalfa keluar dari mobil setelah memarkirkan mobil di parkiran yang disediakan oleh pihak Cafe. Mereka jalan beriringan ketika hendak memasuki Cafe tersebut.
Adrian membawa Zalfa ke ruangan khusus VVIP yang terdapat di lantai 2.
"Silahkan Tuan putri," ucap Adrian mempersilahkan Zalfa untuk duduk di kursi yang sudah di tariknya lebih dulu.
"Terimakasih atas pelayanannya Tuan," sahut Zalfa sedikit terkekeh dengan sikap Adrian.
Adrian duduk di kursi yang berhadapan dengan Zalfa, ia menepuk tangannya memberi isyarat kepada kepala pelayan yang ada di cafe elite itu. dalam satu detik chef dari restoran diikuti kepala pelayan datang membawa hidangan yang sudah di pesan Adrian lebih dulu. Chef dan kepala pelayan menyusun makanan tersebut dengan rapi, begitu banyak menu makanan dengan jenis yang bebeda tersaji di atas meja. ada juga Dessert yang memang di buat khusus oleh Chef hebat dari Cafe tersebut. Zalfa terpukau menyaksikan makanan yang begitu menyegarkan mata, serta membuat perutnya semakin keroncongan.
Setelah Chef dan kepala pelayan itu pergi Zalfa mulai membuka mulut untuk mengoceh.
__ADS_1
"Kamu yakin kita sanggup menghabiskan makanan ini semua?" tanya Zalfa sembari menunjuk makanan yang tersaji di depan matanya.
"Bukan kita, tapi kamu," jawab Adrian enteng.
"Aku?" tanya Zalfa menunjuk dirinya sendiri, ia masih belum mengerti betul apa maksud Adrian.
"Iya kamu" jawab Adrian tersenyum sembari menopang dagunya dengan kedua telapak tangan.
"Baiklah aku akan menghabiskan semua ini," ujar Zalfa menatap tajam Adrian yang masih tersenyum menatapnya.
"Hentikan senyuman mu itu!" perintah Zalfa dengan tatapan membunuh.
"Hahaha, aku tak menyangka akan mendapatkan tatapan itu darimu," ucap Adrian terkekeh.
"Baiklah, Selamat makan Tuan putri," ucap Adrian tersenyum dengan tatapan yang tak pernah teralihkan dari wajah wanita berhijab itu.
Adrian makan dengan pelan dan tatapannya masih terus berfokus pada Zalfa, namun berbeda dengan Zalfa. Ia sama sekali tak peduli dengan Adrian yang berada di depannya. ia lebih fokus menyantap segala jenis makanan yang terlihat enak di matanya. Zalfa mulai menyicipi satu persatu makanan di hadapannya, Ketika ia Ingin mengambil makanan yang agak jauh darinya, Adrian menghentikan gerakan tangan Zalfa.
"Tunggu dulu," ucap Adrian memegang tangan Zalfa. Adrian bangun dari tempat duduknya dan mendekati Zalfa yang masih duduk di kursinya.
"Kalau makan jangan belepotan, kayak anak TK aja," ucap Adrian mengelap sisa makanan di tepi bibir Zalfa dengan jempolnya. Zalfa dibuat mematung dengan perilaku Adrian yang tanpa aba-aba menyentuh tepi bibirnya.
__ADS_1
"Hmm, Aku permisi ke toilet sebentar," pamit Zalfa tanpa menatap Adrian. Zalfa berjalan dengan buru-buru menuju toilet.
"Kenapa Adrian melakukan itu, aku begitu malu dengan diriku sendiri," ucap Zalfa frustasi, ia meremas ujung cardigannya dan berjalan menuju toilet. Di toilet Zalfa hanya mondar-mandir bagai orang kesetanan, ia sedang memikirkan cara bagaimana bertemu Adrian, apakah suasana akan menjadi canggung setelah adegan tak diinginkan seperti tadi. Pikiran Zalfa sudah melayang kemana-mana, cukup lama ia berdiam diri di toilet, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk keluar dan berjalan menuju ruangan VVIP dimana Adrian berada.
"Brruggghhhkk." seseorang menabrak Zalfa dengan keras sampai Zalfa terjatuh di lantai, siku nya mengenai lantai dan sedikit berdarah, Zalfa meringis kesakitan sembari memegang sikunya.
"Zalfa," panggil Adrian berlari ke arah Zalfa. Adrian sangat panik ketika melihat Zalfa tersungkur di lantai, ia mendekati Zalfa dan menyentuh siku Zalfa lalu meniupnya pelan, sikapnya begitu antusias. berulang kali ia meniup siku Zalfa dan menatap Zalfa yang meringis di hadapannya.
"Ayo kita kerumah sakit," ajak Adrian berusaha membangunkan Zalfa dari lantai yang sudah didudukinya sesaat. Pemandangan ini tak luput dari pandangan seseorang yang terus-menerus memperhatikan Adrian dan Zalfa bergantian.
Adrian ingin memapah Zalfa tapi Zalfa langsung menolak Adrian. namun bukan Adrian namanya kalau tak keras kepala, ia memarahi Zalfa dan memaksa memapah Zalfa. Ketika Adrian dan Zalfa berjalan pergi, langkah mereka harus terhenti karena sebuah teriakan.
"Adrian," panggil seseorang sedikit berteriak.
Adrian menghentikan langkahnya, tetapi ia tidak menoleh sedikitpun mencari tahu siapa yang memanggil namanya, Zalfa merasa heran dengan raut wajah Adrian yang tiba-tiba berubah. Zalfa menoleh ke belakang, disana ia melihat seorang wanita dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Zalfa semakin bingung apa penyebab orang itu menangis.
"Apa kau begitu membenciku, bahkan untuk menoleh menatapku saja kau enggan," tanya wanita itu lagi. Zalfa semakin bingung dengan situasi yang sedang di hadapinya. ia menatap Adrian dan ingin bertanya namun tiba-tiba.
"Ayo kita pergi," ajak Adrian masih memapah Zalfa, Adrian semakin mempercepat langkahnya namun lagi-lagi langkahnya terhenti.
"Apa wanita itu lebih baik dariku? sampai kau tak melepaskan pandanganmu darinya ketika ia terluka," tanya wanita itu berteriak. Adrian menatap Zalfa yang sudah menunduk, raut wajah Zalfa tiba-tiba berubah menjadi datar. Ia sudah tau apa penyebab wanita itu menangis, sejak wanita itu membuka suara dan bertanya kepada Adrian.
__ADS_1
"Biarkan aku pergi," ucap Zalfa dingin, ia segera melepaskan papahan Adrian, dan berjalan menjauhi Adrian, Adrian memegang tangan Zalfa sebelum ia benar-benar menjauh tapi Zalfa segera menepisnya dengan kasar.
"Urus wanita itu, dan jangan biarkan dia salah paham padaku," ucap Zalfa tanpa menatap Adrian, dan benar saja kali ini Zalfa benar-benar menghilang dari pandangan Adrian.