
Zalfa dan Arion turun dari mobil berjalan menuju lobi, mereka begitu tampak mesra walau tidak bergandengan tangan, siapa yang melihat pasti merasa yakin dengan pemikiran mereka yang menyatakan kalau memang ada hubungan di antara mereka. terlalu banyak mata yang memandang mereka, pandangan mereka bukan pandangan benci atau pun iri, tetapi pandangan takjub dan kagum, karna ada seorang wanita yang berjalan berdampingan dan wanita itu juga wanita yang dikagumi banyak karyawan di perusahaan tersebut, Arion dikenal dengan sifat dingin dan tak terlalu suka basa basi tetapi berbeda dengan Zalfa yang dikenal begitu ramah serta baik hati dan Sholehah, Arion sangat risih ketika banyak lelaki yang memandang Zalfa dengan tatapan takjub dan terpesona, dengan cepat ia melirik karyawan lelaki tersebut dengan tatapan membunuh dan itu sukses membuat nyali mereka ciut. Zalfa berjalan menuju lift dan tanpa ia sadari Arion terus mengikutinya, ia menekan tombol lift dan masuk kedalam lift, Zalfa menatap heran Arion yang menaiki lift karyawan bersamanya.
"Kenapa kamu naik lift karyawan, kan lift mu kosong.” tanya Zalfa menatap heran Arion yang berdiri dengan santai di sampingnya.
"Terserah aku dong, kan ini perusahaan ku, mau aku naik lift karyawan ataupun lift khusus presdir juga gak masalah.” sahut Arion enteng sambil melonggarkan dasinya, sahutan Arion cukup membuat Zalfa naik darah.
Gak dirumah gak disini ketemu orang kaya sombong semua, mentang mentang bos bisa ngomong seenaknya. gerutu Zalfa kesal didalam hati, ia menatap tak suka Arion yang melihatnya sambil tersenyum.
Arion serta Zalfa keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan masing masing, belum juga Zalfa menduduki kursinya panggilan telfon sudah terdengar nyaring di dalam tasnya.
Astaghfirullah, sabar Zalfa sabar, ucap Zalfa menenangkan dirinya yang hampir dikuasai emosi, jangan tanya mengapa ia emosi, penyebab emosinya adalah calon suaminya itu, belum 5 menit mereka berpisah tapi penggilan telfon sudah nyaring terdengar.
"Iya bapak presdir ada apa.” tanya Zalfa sopan sembari menetralkan emosinya.
"Zalfa buatkan saya kopi, jangan terlalu manis, saya tunggu dalam 5 menit. tuttt tuttt.” ucap Arion tanpa basa basi sebelum memutuskan sambungan telepon sepihak. lagilagi Zalfa harus menahan kesal dengan tingkah Arion yang semakin semena mena terhadap nya.
"Aku ini staff marketing bukan OB, dan kenapa juga aku harus nurut permintaan nya, sedangkan ob banyak di perusahaan ini,” gerutu Zalfa kesal, Zalfa meraih telfonnya dan menelfon salah satu OB lelaki, ia menyuruh OB tersebut untuk membuatkan kopi dan membawanya ke ruangan presdir Arion.
__ADS_1
Zalfa memeriksa beberapa berkas dan memulai desain salah satu proyek yang akan di pegangnya untuk bulan depan. tangannya begitu lihai mendesain produk yang akan di tawarkan untuk perusahaan besar di luar negeri, ia juga begitu teliti dalam mengerjakan desain tersebut, otak dan hatinya ia jadikan satu agar desain tersebut menjadi sempurna, karna menurut nya jika otak dan hati menjadi satu maka segala sesuatu yang dikerjakan akan nampak sempurna.
"Drtttt... drttttt.....” lagi-lagi Arion mengganggu konsentrasi Zalfa, dan kali ini Zalfa tidak kesal karna ia tau Arion pasti ingin memarahinya.
Zalfa mengangkat telefon dengan menahan tawa.
"Keruangan saya sekarang juga.” teriak Arion tak karuan, telinga Zalfa seakan dibuat pecah oleh teriakan kemarahan Arion.
"Iya iyaa gak usah teriak juga kali, emang aku budeg apa." sahut Zalfa ketus, Zalfa mematikan telfon sebelum mendengar jawaban dari Arion, ia mengusap telinganya yang sakit karna teriakan Arion.
"Tok...tok.....” Zalfa masuk setelah mengetuk pintu walau ketukan tersebut tidak disahut oleh Arion.
"Pergi buatkan saya kopi sekarang juga, gak pake lama” perintah Arion dengan suara meninggi.
"Baik pak.” jawab Zalfa cepat.
Zalfa sudah kembali dengan segelas kopi di tangannya, ia menaruh kopi tersebut dia atas meja, Arion hanya melirik kopi tersebut tanpa meminumnya, ia menatap Zalfa sekilas sebelum mengusirnya pergi.
__ADS_1
"Ngapain lagi kamu disini, keluar,” usir Arion menatap kesal Zalfa, Zalfa menatap tak percaya Arion ia marah hanya karena Zalfa menyuruh OB mengantarkan kopi untuknya. sebenarnya bukan itu penyebab kemarahan Arion ia marah karna yang mengantarkan kopi untuknya adalah OB bukan OG.
*10 menit yang lalu*
"tok tok,,,,,,”
"Masuk.”
"Ini pak kopinya,” ucap OB menaruh kopi tersebut di atas meja Arion, Arion dibuat kaget dengan wajah lelaki di hadapannya, yang ia harapkan adalah wanitanya bukan OB.
"Siapa yang nyuruh kamu buatin saya kopi,” tanya Arion ketus menatap tajam OB tersebut. OB tersebut dibuat gemetar karna pertanyaan dan tatapan tajam Arion.
"Ibu Zalfa yang menyuruh saya untuk membuat kopi ini untuk bapak dan mengantar kannya kesini pak.” jawab si OB jujur dengan suara gemetar, Arion begitu kesal mendengar jawaban dari OB di depannya itu.
"Bawa kopi ini pergi, saya tidak meminta dibuatkan kopi,” perintah Arion menatap kesal OB di depannya.
"Baik pak,” jawab OB itu sebelum keluar dari ruangan Arion.
__ADS_1
"Benar benar keterlaluan kamu Zalfa, beraninya menelfon lelaki lain di perusahaan ku, dan menyuruhnya membuat kan kopi untukku.” gerutu Arion kesal, tangannya mengepal erat, ia membayangkan ekspresi wajah Zalfa ketika menelfon OB tersebut dan pastinya keramahan ia tampilkan ketika menghubungi ob yang telah membawa kopi untuknya.
Begitulah orang yang di mabuk cinta, kecemburuan selalu menghampiri bahkan tidak mengenal tempat dan waktu. jadi buat readers jangan suka cemburu ya wkwkwk, kasihanilah hati kalian, karena terlalu cemburu dapat mengakibatkan serangan jantung dan mati muda wkwkwk.