
Arion dan Zalfa serta Ardi sudah kembali ke kantor setelah meeting selesai dan kontrak disepakati oleh kedua belah pihak.
Zalfa sedikit menggeram kesal mengingat setiap kejadian di cafe tadi, Latisya tak henti-hentinya menceritakan bagaimana kedekatan dengan Arion dulu, darah Zalfa sangat mendidih ketika Latisya berusaha mengusap bekas makanan di tepi bibir Arion, untung ia dengan sigap menepis tangan Latisya. Karena hawa permusuhan terlihat jelas di kedua wanita itu, Arion dan Ardi dengan cepat menyelesaikan meeting dan kembali ke kantor. Semua rencana yang di pikirkan, tak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Kini, siasatnya telah hancur dengan sesaat akibat sifat posesif dari wanitanya.
"Ardi kau kembalilah ke ruanganmu, dan kamu Zalfa, ikut saya ke ruangan!" titah Arion memijat keningnya yang sedikit pusing akibat ulah wanita di hadapannya itu. Ia menatap Ardi, memberi kode kepada Ardi untuk meninggalkan berdua dengan Zalfa
"Baik Presdir, saya permisi," pamit Ardi beranjak meninggalkan Arion dan Zalfa yang masih mematung di depan ruangan
"Ayo masuk!" ajak Arion berjalan terlebih dahulu dan membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan tersebut
"Duduklah, aku ingin berbicara denganmu!" titah Arion sudah duduk di sofa, ia menepuk-nepuk sofa di sampingnya meminta wanitanya itu untuk duduk di sebelahnya.
Zalfa menuruti permintaan Arion, ia duduk di sebelah Arion, suasana hatinya sangat buruk saat ini, ingin sekali ia mencabik-cabik tubuh Presdir di hadapannya itu. Arion sedikit ketakutan melihat raut wajah suram Zalfa yang sedikit menyeramkan menurutnya.
"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Latisya, jadi jangan beranggapan yang tidak-tidak tentangku!" terang Arion sedikit menggebu dalam ucapannya, Zalfa menatap Arion yang sedang berbicara serius kepadanya. Memang benar ia sangat kesal dengan Latisya, Latisya bertingkah bahwa ia lebih mengenal Arion dari siapapun.
"Are you sure?" tanya Zalfa memiringkan sudut bibirnya, melirik sambil mengejek Arion, seolah tak percaya akan ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu
"Bukannya kamu bilang kamu mencintaiku? kalau memang benar kamu mencintaiku, kenapa kamu tak yakin denganku ??" Arion balik bertanya menatap dengan dalam sorot mata wanita di hadapannya tersebut.
__ADS_1
"Memang benar cinta dilandasi keyakinan, tapi, apakah kau akan yakin kalau ada seseorang yang baru kau kenal memamerkan kedekatannya dengan orang yang kamu cinta. Lantas, kalau kau tak memiliki sedikit rasa cemburu atau kurang percaya, apakah itu berarti cinta yang ada akan lenyap detik itu juga ??" tanya Zalfa lagi menatap tajam Arion, Arion membisu dengan ucapan Zalfa, mungkin benar yang di katakan wanita itu, kalau ia berada di posisi Zalfa pasti ia sudah sangat cemburu bahkan bisa lebih parah dari pada yang di alami Zalfa saat ini
"Baiklah, aku mengerti, tapi percayalah satu hal, aku dan dia hanya berteman saja. Sedikitpun tak menyimpan rasa," ucap Arion dengan penekanan di kalimat akhir
"Mungkin kau tidak, lantas bagaimana dengannya," sahut Zalfa menatap lurus Arion, sekali lagi Arion benar-benar di buat bisu oleh Zalfa. Kini, ia berpikir keras, memang benar rencananya untuk membuat Zalfa cemburu akan keberadaan Latisya, tapi apa yang telah terjadi tadi tak seperti perkiraannya, dan tatapan mata Latisya seakan memang punya maksud tersendiri di dalamnya
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu,"
"Tanyakan saja,"
"Apa kamu mencintaiku?? dan bersediakah kamu melanjutkan perjodohan ini?" tanya Zalfa menatap serius Arion di sampingnya.
"Baiklah, malam ini, ayo kita temui keluarga kita, membicarakan tentang pertunangan kita!" ajak Zalfa tersenyum lebar menatap Arion, hatinya begitu senang mendengar bahwa lelaki di hadapannya itu masih mencintainya.
"Kurasa aku telah gagal dalam rencanaku, baru saja aku ingin membuatnya merasakan apa yang kurasakan dulu, tapi ia sudah lebih dulu meluluh lantakkan pertahanan cintaku," gerutu Arion di dalam hati
"Ok, sekarang kembalilah bekerja, nanti pulanglah bersamaku!" titah Arion kemudian bangun dari duduknya, Zalfa pun beranjak pergi setelah mengucapkan kata yang mengejutkan.
"Aku menunggumu! selamat bekerja calon suamiku" ucap Zalfa terkekeh geli, ia berlari kecil meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Wajah Arion bersemu merah bagai kepiting rebus ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut wanitanya itu, berani sekali dia menggoda sang Presdir, sungguh Arion di buat malu karena Zalfa menyebutnya calon suami, kata-kata yang cukup manis. Sungguh, ia tak menyangka wanitanya pintar dalam berucap kata manis
"Kau semakin membuatku mencintaimu," ucap Arion tersenyum, ia benar-benar gila membayangkan ucapan Zalfa tadi.
Arion melanjutkan pekerjaannya, begitu juga dengan Zalfa, mereka berada di ruangan masing-masing. Yang anehnya, mereka sama-sama tidak konsen dalam bekerja, Arion dan Zalfa merasa frustasi membayangkan rindu yang menyusup ke relung mereka. Baru 5 menit mereka berpisah, tetapi, keinginan untuk menatap satu sama lain seakan mendesaknya untuk segera mengatur temu. Mereka bagai anak ABG yang sedang merasakan kasmaran, benar-benar dibuat gila oleh rasa cinta yang memabukkan.
Arion mengambil handphonenya dan menelpon nomor yang tertera di layar handphonenya.
"Halo, apakah kau sudah selesai?" tanya Arion to the point
"Belum, apa ada sesuatu?" Zalfa malah balik bertanya
"Ayo kita pulang, aku ingin mengajakmu memilih cincin pertunangan kita!" ajak Arion masih dalam sambungan telepon.
"Pekerjaan ku belum selesai," ucap Zalfa sedikit lemas
"Tidak apa-apa, tinggalkan saja, aku menunggumu di lobi, segeralah turun!" titah Arion mematikan sambungan teleponnya
Zalfa membereskan mejanya yang sedikit berantakan, memasukkan handphonenya ke dalam tas dan berjalan menuju lift, ia menekan tombol lantai paling bawah, lantai yang akan membawanya menuju lobi. Sesampainya di lobi ia melihat Arion dan Ardi yang sedang menunggunya, Ia berjalan cepat ke arah mereka dan terus melayangkan senyum untuk keduanya. Arion sangat senang melihat Zalfa menatapnya dengan tersenyum, hatinya mencair mengingat bagaimana dulu ia di acuhkan, tapi kini, ia sudah memenangkan hati wanitanya itu.
__ADS_1