Cintanya Untukku Dan Cintaku Untukmu

Cintanya Untukku Dan Cintaku Untukmu
episode 25


__ADS_3

Sejak kejadian semalam ,Arion dan Zalfa tidak berbicara satu sama lain ,begitu juga dengan dikantor ,tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka kata ,sampai akhirnya Arion memberanikan diri memanggil zalfa ke ruangannya


Drrrrtt.....drrtttt...


"Keruangan saya sekarang”


"Baik pak”


Zalfa berjalan menuju ruangan Arion,kini ia sudah berada di depan pintu ,dengan berat hati ia masuk ke ruangan itu, Zalfa menatap kaget kondisi ruangan Arion yang berantakan , berkas berkas berhamburan ,dan tak kalah kagetnya kemeja yang digunakan Arion nampak lusuh ,begitu juga dengan dasi yang sudah terlepas


"Astaghfirullah ,ada apa ini pak" Tanya zalfa cemas sembari membereskan berkas berkas yang berantakan


"Hmmm ,apakah aku begitu buruk zalfa ?” tanya Arion dengan mata yang berkaca kaca,tersirat kesedihan yang mendalam di matanya,Zalfa merasa bingung dengan pertanyaan Arion, apalagi semenjak kejadian semalam mereka tidak berbicara sepatah katapun


"Saya minta maaf ,tapi saya belum punya jawaban dari pertanyaan bapak ,saya permisi” jawab Zalfa bergegas keluar


Maafkan aku Arion,Bukan aku berniat menyakiti, aku tidak ingin menerima kembali rasa sakit yang pernah aku terima , mungkin kamu berfikir aku kejam dan hanya mempermainkan, tapi percayalah aku juga tidak ingin kau berada di dasar jurang yang tak bertepi seperti ini.


Zalfa masuk ke toilet ,disana ia menangis sejadi jadinya , ada rasa bersalah yang menghampiri nya ,dan rasa sakit harus melihat Arion terluka karnanya.


Andai waktu bisa kuulang kembali ,aku hanya ingin bertemu kamu saja di dunia ini ,tanpa bertemu dia yang menyakiti ku dulu ,mungkin saja kamu tidak akan merasa sakit begini, gumam Zalfa sembari menghapus air mata yang sudah sedari tadi mengalir


Mengapa harus sesakit ini untuk membuka hati, gumamnya lagi ,Zalfa terkulai lemas dilantai dengan mendekap erat kedua kakinya dengan menenggelamkan kepalanya ,jilbab yang tadi kering sudah basah ,air mata seakan membanjiri ingin keluar pergi , mereka tidak pernah bisa diajak kompromi disaat seperti ini.


"Faa,, Faa,,, panggil Zara panik yang tidak disahut Zalfa”


"Fa bangun jangan bikin aku panik ,faa ” ulangnya lagi , saat ini Zara benar benar panik melihat kondisi Zalfa ,ia takut sahabatnya ini kambuh lagi.

__ADS_1


"Iyaa ra ,aku denger kok” ucap zalfa tenang , ia mendongak kan wajahnya ke wajah Zara yang sudah panik


"Dasar manusia jahannam” teriak Zara marah dengan memukul keras lengan Zalfa ,Zalfa meringis kesakitan


"Aww, sakit Raa ,kamu ini perempuan atau laki sih ,kasar banget deh sama sahabat sendiri” gerutu zalfa kesal


"Heh nona Pradipta yang terhormat ,salah sendiri mengapa anda dilangkai sambil meringkuk begini,kan saya pikir anda kenapa napa” gerutu Zara sambil berkacak pinggang


"Iyaiyaa aku salah ,aku gakpapa kok ,aku nyaman aja gini”ujar zalfa berbohong soal kondisinya


"Yaudah bangun ,ngapain masih ringkung disitu” bentak Zara kasar , emosi nya hampir membludak mengingat tingkah sahabatnya itu


"Iyaiyaa ibuk kos , jangan galak galak dong” ucap zalfa terkekeh


"Maaf raa ” ujar nya memelas , ia tau sahabatnya kini tengah naik pitam karna tingkahnya


”Raa bukan gitu ,maaf ,aku gak cerita bukan karna kamu asing atau apa , aku mau beban ku cukup aku yang tanggung” terang Zalfa ,wajahnya menatap lekat sahabatnya itu , dipeluknya tubuh Zara erat , ada kesedihan yang mendalam yang dirasakan Zalfa ,terkadang ada hal yang cukup kita pendam saja tanpa perlu kita luahkan , apalagi rasa sakit yang kita rasakan cukup kita saja yang tau tanpa harus melibatkan siapapun.


"Hmmm baiklah aku tau ,tapi kalau kamu sudah siap ceritakan ok , aku ini sahabat kamu sahabat bukan orang asing, ucap Zara penuh penekanan di kata sahabat, Zalfa tersenyum lebar melihat sahabatnya itu.


"Yaudah kita balik yuk ” ajak zara memeluk lengan Zalfa erat


"Aku dengar sih dulu ada yang bunuh diri di toilet ini ,dan arwahnya gentayangan”terang Zara bergedik ngeri


"Dasar penakut , yang ada ditubuh kamu tu hantu semua”sahut zalfa cepat dengan menjitak kening sahabat satu satunya itu.


"Seneng ya liat orang ketakutan” geram Zara matanya menatap tajam Zalfa menyemburkan aura membunuh disana

__ADS_1


"Iiiii takutt” balas Zalfa tertawa sambil berlari keluar toilet


"Dasar sahabat penghianat , udah baik gue malah lo tinggal” gerutu Zara kesal diikuti langkahnya keluar toilet


Zalfa masih saja tertawa ,hingga sampai di depan ruangannya . ya ampun kerjaan masih banyak ,otak lagi blank , uhh apes banget , gerutu Zalfa yang tak habis habis


Berselang beberapa jam , Zalfa sudah menyelesaikan tugasnya , kini Zalfa sudah bersiap siap untuk pulang kantor , badannya sudah terlalu Lelah karna bekerja seharian.


Zalfa berjalan menuju lift ,betapa terkejutnya ia ketika ada yang menarik lengan bajunya ,zalfa menoleh menatap si penarik tersebut, kini matanya dan mata si penarik itu sudah saling bertatapan ,malah tatapan mereka semakin dalam sampai mereka dikejutkan oleh dehemen seseorang.


"Eheemm ,,,ehemmm,,,,” suara deheman tersebut semakin meninggi sampai membangunkan kedua insan yang saling menatap lekat bola mata masing masing


"Ehh ,maaf ,ucap Arion salah tingkah”


"Iya gakpapa ,saya duluan” balas Zalfa yang sudah malu karna dilihat oleh Ardi , jangan tanya lagi bagaimana merahnya muka zalfa saat ini ,rasa malu sudah menggoroti mukanya sampai habis


"Zalfa tunggu” teriak Arion lantang, langkah Zalfa terhenti mendengar teriakan Arion yang menggema


"Kenapa ?” tanya Zalfa heran dengan menatap sekilas


"Saya antar kamu pulang” jawab Arion cepat


"Gak usah , aku bisa sendiri sahutnya tak kalah cepat”


"Gak ada penolakan , lagian udah kewajiban aku , dan ini juga permintaan papa Pradipta” jawab arion tak ingin kalah


"Hmm yasudahlah” pasrah zalfa

__ADS_1


Arion berjalan beriringan dengan Zalfa , diikuti oleh ardi di belakang mereka , banyak karyawan yang menyapa mereka , Arion hanya menunjukkan wajah datar dan dingin yang menjadi andalannya , berbeda dengan Ardi dan Zalfa mereka tersenyum ramah membalas sapaan para karyawan.


__ADS_2