
Adrian mematung di tempat yang sama ketika Zalfa meninggalkannya, ia tak mampu lagi mencegah langkah kaki Zalfa untuk tak pergi. Tatapannya terus terarah ke pintu, di mana Zalfa keluar dan menghilang tanpa bayang. Seorang wanita mendekatinya dan langsung memeluk Adrian dari arah belakang.
"Maaf," ucap wanita itu lirih, Adrian berusaha melepaskan pelukan sang wanita. Tapi wanita itu seolah tak rela, bahkan pelukannya semakin iya pererat.
"Lepaskan aku, jangan pernah berani menyentuhku!" teriak Adrian melepas paksa pelukan wanita itu dan mendorongnya kuat, Adrian berulang kali membersihkan bajunya yang terkena pelukan wanita itu.
"Hentikan Adrian. Aku bukan kotoran sampai kau merasa begitu jijik aku memelukmu," teriak si wanita dengan air mata yang menderai tak henti-henti.
"Kau jauh menjijikkan melebihi kotoran," ucap Adrian ketus menatap tak suka wanita di hadapannya.
"Aku menjijikkan, lantas bagaimana dengan wanita tadi?? apa dia begitu suci dari ku?" tanya si wanita meninggikan suaranya.
"Dia suci. Tidak seperti mu yang menjijikkan dan kotor," ujar Adrian menunjuk wajah wanita di hadapannya.
"Dan untuk kedua kalinya. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi, atau kau akan tau akibatnya!" ancam Adrian menatap tajam wanita yang sedang menangis tersedu-sedu. Adrian berjalan menjauh dari wanita itu, tapi ucapan yang keluar dari mulut wanita itu membuatnya menghentikan langkahnya untuk terus menjauh.
"Beri aku kesempatan kedua, aku akan memperbaiki semua, aku lebih pantas untukmu dibandingkan wanita itu," ucapnya lagi tanpa ada rasa malu sedikit pun walau Adrian sudah menyatakan ia tak sudi untuk melihatnya.
"Zalfa jauh lebih pantas untukku dibandingkan dirimu yang hina itu, sepertinya urat malu mu sudah hilang semenjak kau sering tidur dengan para lelaki hidung belang di luaran sana," ucap Adrian menohok, Adrian benar-benar sudah hilang akal menghadapi wanita di depannya itu, ia pergi meninggalkan wanita yang terus-menerus menangis meratapi nasibnya.
'Andai aku tak melakukan kesalahan itu. Mungkin sekarang, aku yang berada di sisi mu' gumamnya lirih menatap punggung Adrian yang semakin menghilang dari hadapannya.
*Flashback On*
__ADS_1
Washington, D.C
Adrian mendatangi sebuah toko bunga di negara Amerika serikat, disana ia membeli bunga lilac putih untuk kekasihnya. Suasana Hatinya begitu bahagia ketika menatap lilac putih yang ada di tangannya. Lilac putih yang mempunyai arti kemurnian dan kepolosan itu sangat cocok untuk karakter kekasihnya.
Adrian berjalan menuju mobil setelah keluar dari toko bunga tersebut. Ia melajukan mobilnya dengan sedikit cepat, ia sangat terburu-buru untuk bertemu kekasihnya. Rasa rindu begitu menggebu dan mendesaknya untuk segera mengatur temu dengan wanitanya.
Adrian sampai di apartemen milik kekasihnya, ia segera berjalan menuju apartemen dan memasukkan pin yang memang sudah ia hafal, karena pin tersebut berisi tanggal jadian mereka. Adrian berjalan dengan mengendap-endap takut langkah kakinya terdengar oleh wanita yang ingin ditemuinya, tapi seketika kakinya diam di tempat dan tak ada tenaga untuk bergerak.
"Ahhh,,, sakit,,, pelan-pelan," ucap seseorang mendesah, namun suaranya masih terdengar jelas di telinga Adrian.
Adrian berusaha untuk tenang dan berpikiran positif, ia memaksakan kakinya untuk terus melangkah menuju kamar. Dan benar saja, ia begitu syok ketika menyaksikan wanitanya sedang bercinta dengan lelaki asing yang tak dikenalinya.
"Calyaa," teriak Adrian menjatuhkan bunga lilac yang sudah digenggamnya erat.
"Adrian," ucap Calya tersentak ketika melihat Adrian berada tepan di pintu kamarnya. Calya segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun
"Adrian ini tidak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelaskan ini semua," ujar Calya gelagapan karena ketahuan selingkuh. Ia berjalan mendekati Adrian, namun tiba-tiba.
"Hentikan langkahmu! jangan mendekat!" Titah Adrian dengan intonasi meninggi, ingin rasanya Adrian membunuh lelaki dan wanita itu bersamaan tapi ia tau emosi sesaat hanya membuatnya kehilangan akal.
"Adrian. Maafkan aku, ini semua diluar nalarku," ucap Calya menitikkan air mata.
"Kau menjijikkan, aku tak pernah menyangka bisa mencintai wanita sepertimu," ucap Adrian menatap hina wanita di depannya itu.
__ADS_1
"Dan tangisanmu itu hanya kebohongan, selama ini aku yang bodoh karena mempercayaimu," tambah nya lagi. Adrian meninggalkan Calya dan teman bercinta Calya. Calya berlari mengejar Adrian dan memegang tangan Adrian memintanya untuk tak pergi.
"Dengarkan aku dulu, kumohon jangan pergi!" pinta Calya semakin dalam dengan isakannya, ia memegang erat pergelangan tangan Adrian.
"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu!" perintah Adrian menepis kasar tangan Calya. Calya menatap Adrian sedih.
"Berhentilah bersandiwara seakan kau yang tersakiti!" ucap Adrian menatap tajam Calya.
"Dan satu lagi, hubungan kita sudah berakhir. Kuharap aku tak akan pernah melihatmu lagi!" ucap Adrian berjalan keluar dari apartemen milik kekasihnya itu.
"Aku memang menjijikkan seperti perkataanmu," lirih Calya menangis.
"Sayang, aku ada disini. Jangan menangisi laki-laki itu, aku tak menyukainya!" ucap lelaki yang keluar dari kamar dan menghampiri Calya yang sedang menangis.
'Aku ingin sendiri, tolong tinggalkan aku!" titah Calya berjalan memasuki kamarnya, ia mengunci pintu kamarnya dan menangis sejadi-jadinya disana.
*Flashback Off*
'Aku memang pantas kau benci Adrian,' gumamnya lirih menatap Adrian yang sudah menghilang dari pandangannya.
Adrian memasuki mobilnya dan berulangkali menelpon Zalfa tapi tak kunjung terhubung. Adrian sudah diselimuti rasa panik, Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Adrian terus mencari keberadaan Zalfa, dan tiba-tiba saja Adrian mengerem mobilnya dengan mendadak ketika melihat sebuah mobil dengan dua sejoli di depannya.
"Dia memang lebih pantas untukmu," lirih Adrian menatap nanar Zalfa dan Arion yang berada di depan mobil tersebut. Dalam hal apapun Adrian selalu terlambat dibandingkan Arion.
__ADS_1
Adrian memutar arah mobilnya dan pergi menjauh dari Zalfa dan Arion. Hatinya semakin hancur ketika menyaksikan Arion yang begitu peduli terhadap Zalfa.