
Zalfa memasuki halaman rumahnya dan membuka pintu lalu berjalan masuk menuju arah kamar, ketika sedang di dalam perjalanan ke kamar ia terkejut saat melihat
seorang lelaki yang sedang menatapnya tajam dari ujung kaki hingga ujung
kepala.
“Kak Arash,” teriak Zalfa lantang, suaranya menggema ke seluruh isi rumah
“Gak usah teriak-teriak, heboh banget deh,” ujar Arash kesal membekap mulut Zalfa mengggunakan kedua tangannya
"Kapan kakak kembali ke Indonesia," tanya Zalfa cepat
"Tadi siang kakak sampai di Indonesia," jawab Arash melirik kuku tangannya, tubuhnya ia sandarkan di dinding
“Aku rindu kak Arash,” ucap Zalfa langsung memeluk Arash tanpa aba-aba
“Kakak juga rindu adik kakak yang cantik ini,” sahut Arash mencubit gemas pipi adiknya
“Sakit kak,” ucap Zalfa manja, Arash semakin gemas melihat tingkah adik bungsunya itu,
Arash mendekati Zalfa dan memegang wajah Zalfa lalu melayangkan sebuah kecupan di kening Zalfa.
“Kakak sangat menyayangimu, kakak berada di sini untukmu. Dan kakak berjanji bahwa
kebahagian akan datang kepadamu secepatnya,” ucap Arash serius mengusap pelan pipi wanita di hadapannya itu.
“Terima kasih kak, aku juga sangat menyayangi kakak. Kakak ada di sini saja sudah cukup membuatku bahagia,” sahut Zalfa tersenyum tipis, terbersit kesedihan di wajahnya ketika mengucapkan kata bahagia. Apakah ia benar-benar bahagia atau hanya omongan saja yang mudah dalam berucap kata bahagia
“Kakak tau apa yang kau rasakan Fa, maafkan kakak karena kakak juga ikut ambil andil
dalam rencana ini, kakak harap setelah semua rintangan yang akan kamu alami ke
depannya kamu akan benar-benar bahagia,” ujar Arash dalam hati.
“Kakak ingin bercerita banyak sama kamu, dan kamu juga harus jelasin ke kakak tentang perjodohanmu!” titah Arash menatap tajam Zalfa, Zalfa memperlihatkan wajah cengegesan ketika melihat
kakak lelakinya tersebut menatapnya tak bersahabat.
__ADS_1
“Baiklah, ayo ikut aku ke kamar” ajak Zalfa menarik pergelangan Arash, mereka berjalan
memasuki kamar dan Arash dengan cepat merebahkan tubuhnya ke ranjang ketika
sudah berada di dalam kamar wanita berhijab itu
‘Sudah lama banget gak ngerasain tidur di ranjang ini’ gumam Arash menyentuh ranjang milik adiknya
Zalfa hanya geleng kepala menyaksikan kekonyolan yang dilakukan oleh kakaknya,
berulang kali Arash guling-guling dan sesekali ia melompat layaknya seorang balita yang sedang senang karena mendapatkan mainan baru.
“Kak Arash norak banget sih, kayak gak pernah tidur di ranjang mahal aja,” ucap
Zalfa geram sembari berkecak pinggang
“Kakak udah biasa banget tidur di ranjang yang lebih mahal dari ini. Tapi, ranjang ini
sunguh-sungguh membuat kakak rindu, kenangan serta kebersamaan kita banyak
banget di ranjang ini dan terlebih khusus di kamar ini,” ucap Arash tersenyum ketika mengingat-ingat semua kenangan masa kecil yang telah mereka lalui bersama.
itu sudah berada di ranjangnya dan memeluknya erat, bahkan momen hangat
tersebut hilang ketika Zalfa sudah berumur 17 tahun, disaat itulah Zalfa dan Arash tidak tidur seranjang lagi, bahkan ketika Zalfa terbangun dari tidurnya, dikarena ketakutan oleh suara petir. Arash akan memilih tidur di sofa untuk menemani Zalfa agar ia bisa tertidur kembali.
“Fa, sebentar lagi kamu akan menikah dan menjadi seorang istri, mungkin kamu akan
melupakan kakakmu ini karena kamu telah menemukan lelaki yang lebih hebat melebihi kakak,” ucap Arash sedih, matanya sudah berkaca-kaca ketika mengatakan hal tersebut, Sebenarnya hati Arash gusar ketika mengingat adik kecilnya ini akan benar-benar menikah, apalagi ia akan menikahi sahabat dari kakaknya sendiri.
Ia takut Zalfa akan benar-benar melupakannya, mungkin salah, jika ia terlalu
posesif terhadap adik kecilnya tetapi ia pun tak ingin adiknya menjadi milik orang lain seutuhnya. Dan sekali lagi, apa boleh buat kalau kebahagian memang sudah ditakdirkan saat Zalfa sudah menikahi sahabatnya itu. Zalfa melihat dengan jelas raut wajah Arash yang berubah sendu ketika kalimat itu terucap dari bibirnya, dengan cepat Zalfa mendekati Arash lalu ia menyederkan kepalanya di bahu lelaki tampan itu, Zalfa juga memegang tangan Arash menyentuhnya lembut dan berkata.
“Kakak akan selalu menjadi lelaki yang terhebat di hati Afa dan apapun yang akan
terjadi nantinya Zalfa tidak akan pernah melupakan kakak.” Zalfa melepaskan senderannya lalu memegang wajah Arash dan tersenyum sembari berucap “Zalfa
__ADS_1
sayang kakak dan selamanya menyanyagi kakak, jadi percayalah pada adikmu yang
cantik melebihi Ariana Grande ini.” Zalfa tertawa lepas setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Arash pun ikut tersenyum melihat adik kesayangannya tertawa begitu lepas seperti tak menyimpan beban. Walau Arash sebenarnya mengetahui beban yang sedang menyerbu adik bungsunya.
___________________________________________
Di kediaman Xavarius ada seorang lelaki yang sedang sibuk menyiapkan mentalnya, Ia harus kuat untuk menjalankan misinya besok, Ia mondar-mandir kesana kemari ketika mengingat apa yang akan terjadi seterusnya bila misi tersebut gagal, hatinya begitu resah dan ketakutan saat membayangkan bahwa ia akan melanjutkan rencananya dalam menaklukkan sang pujaan
hati. Ketika sedang beradu argumen antara pikiran dan hati, tiba-tiba suara teriakan dari seorang lelaki paruh baya mengagetkannya.
“Arion, Arion,” teriak Xavarius memasuki rumahnya dan berjalan menuju ruang keluarga, entah apa yang membuat Xavarius begitu emosi ketika mengeluarkan teriakan nama anak semata wayangnya itu. Fita dan Arion segera keluar dari kamarnya dan turun
menuju ruang keluarga ketika mendapati sebuah teriakan yang sangat keras menggema di telinga mereka.
“Apa yang terjadi, kenapa papa teriak-teriak?” tanya Arion polos tanpa tahu penyebab
emosi lelaki paruh baya di hadapannya
“Plaakkkkk.” Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Arion
“Anak kurang ajar, kau benar-benar tak tahu diri,” ucap Xavarius penuh emosi, Fita begitu terkejut ketika menyaksikan adegan kekerasan di depan matanya itu. Sedangkan Arion hanya terdiam mendapatkan tamparan sekaligus ucapan kasar dari lelaki tersebut.
“Apa kamu tahu kesalahanmu?” tanya Xavarius dengan nada membentak. Arion dengan cepat memutar otaknya, mengingat kesalahan apa yang telah ia lakukan, dan seketika ingatan tersebut menyerangnya.
“Ya, aku tahu,” jawab Arion singkat. Jawaban Arion yang begitu apa adanya sungguh
membuat darah di tubuh Xavarius mendesir sampai ke ubun-ubun
“Kau begitu santai dengan jawabanmu, apa kau pikir anak orang itu mainanmu?” tanyanya lagi
“Pa, Arion tau betul dengan keputusan Arion. Arion harap papa dapat memaklumi keputusan Arion,” Jawab Arion lalu beranjak pergi meninggalkan Xavarius dan Fita yang membeku dengan jawaban putra mereka
“Lihatlah putramu itu, dia sangat menghormatiku. Dia mempermalukanku di depan sahabatku,” ujar Xavarius mengejek sembari menunjuk ke arah Arion yang sedang berlalu menuju kamar pribadinya.
"Sudahlah jangan terlalu emosi, aku rasa Arion tidak akan mengambil keputusan yang salah” ucap Fita berusaha menenangkan suaminya. Ia mengajak Xavarius untuk duduk dan menceritakan masalah yang sebnarnya terjadi antara Arion dan keluarga Pradipta.
Xavarius menjelaskan secara detail permasalahan yang terjadi, Fita begitu syok
__ADS_1
ketika mengetahui putranya membatalkan pertunangan dengan wanita yang dicintainya, ia berpikir keras apa yang terjadi sampai putranya mengambi keputusan tersebut.