
Rasa bahagia muncul di lubuk hatinya saat melihat kecemburuan yang terpampang jelas dari raut wajah Arion.
"Ayo kita pulang calon suamiku!" ajak Zalfa tersenyum menggoda menatap Arion yang masih dengan rasa kagetnya setelah mendengar perkataan manis yang keluar dengan mulus dari mulut wanita cantik di hadapannya saat ini
"Tolong ulangi sekali lagi!" titah Arion masih tak percaya
"Ayo kita pulang calon suamiku!" ulang Zalfa penuh penekanan di akhir kalimat, ia terkekeh geli setelah mengulang kembali kata-kata yang membuatnya bersemu merah karena rasa malu, Arion mengenggam tangan Zalfa erat dan membawanya menuju mobil, sepanjang perjalanan hanya senyuman yang terukir di bibir Arion, peristiwa itu hampir membuat Zalfa bergidik ngeri karena lelaki ini seperti orang kesurupan jin baik.
______________________
Hotel Grand Felt
"Putri bungsu mama cantik sekali," ucap Zahira berkaca-kaca, hatinya sedih bercampur bahagia karena di satu sisi ia akan melepaskan putrinya di satu sisi ia bahagia karena sang putri bahagia.
"Kan aku anak mama, wajar kalau aku cantik," sahut Zalfa tersenyum, ia memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkannya. Di hatinya juga terselip kesedihan karena beberapa menit lagi ia akan bergelar istri dari Presdir yang sempat di bencinya. Namun, ia berusaha menguatkan diri karena ia tahu kebahagiaan sudah menunggunya.
"Jadi cuma mama aja yang dipeluk, papa enggak nih," ujar Pradipta murung, ia bersandiwara sedikit untuk menggoda sang putri yang amat ia cintai, kebahagiaan terpancar jelas di wajah Pradipta karena lelaki ini memang sangat menantikan hari bahagia yang sudah ia rencanakan bersama sahabatnya sejak lama.
"Papa," panggil Zalfa menghamburkan diri ke tubuh Pradipta, ia menangis tersedu-sedu mengingat bagaimana pengorbanan sang papa agar ia bisa menata kebahagiaan yang kini akan di milikinya
"Berbahagialah sayang karena ini hari bahagiamu, hapus air mata yang ada di pipimu, jangan pernah ada lagi air mata yang akan menghampirimu kedepannya karena kami telah memberikan kebahagiaan yang benar-benar nyata untukkmu saat ini," ucap Pradipta berkaca-kaca, sebenarnya ia tak kuasa menahan bendungan yang hampir pecah di pelupuk matanya tapi harus ia tahan cukup ia saja yang tau kesedihan mendalam mengerubuti hatinya.
"Ia pa, Afa akan bahagia selamanya karena papa sudah memberikan kebahagiaan yang terindah untuk Afa, Afa janji Afa gakakan menangis tapi Afa akan selalu tersenyum dan tertawa untuk kebahagiaan Afa," sahut Zalfa menghapus air mata yang sedari tadi mengalir deras di pipi mulusnya. Saat sedang dalam rasa haru yang menyelimuti mereka tiba-tiba biang kerok yang selama ini membuat Zalfa sering kesal datang.
"What's the hell, mengapa hari bahagia seperti hari berkabung saja," gerutu Arash kesal melihat air mata di pipi mungil adiknya serta ibunya.
"Kakak," teriak Zalfa pecah dalam tangisan, mungkin sedari tadi ia tersedu tanpa mengeluarkan suara, tetapi, melihat sosok sang kakak yang telah menemaninya apalagi di saat-saat keterpurukannya, membuat Zalfa tak mampu menahan segala kesakitan karena harus berpisah dengan sang kakak.
"Kak Arash, aku sangat menyayangi kak Arash, Terimakasih karena kakak selalu menjadi yang terbaik untukku dan selalu ada disaat aku terjatuh," ucap Zalfa dalam tangisannya yang semakin menjadi-jadi
"Apa kau ingin merusak riasanmu hanya karena ucapanmu itu, apa kau tahu Arion akan mencari wanita lain kalau ia melihat penampilanmu sangat ini, benar-benar buruk," celetuk Arash berusaha menahan diri, ia bersikap cuek dan tak mau peduli dengan tangisan adiknya, padahal hatinya pun ikut menangis karena sebentar lagi ia akan benar-benar melepas sang adik untuk sahabatnya, namun kekuatan yang ia punya saat ini mampu membuatnya bersikap biasa saja
__ADS_1
"Kakak." tangis Zalfa pun semakin kencang saat ia harus merasakan omelan sang kakak dihari bahagianya
"Sudah, sudah, hapus air mata dan perbaiki make up mu, Arion sudah sudah sampai dan menunggumu untuk ijab kabul, mama sama papa juga harus turun, jadi kamu siap-siap!" titah Arash dalam ketegasannya, Zalfa belum pernah melihat sang kakak yang begitu tegas terhadapnya namun omongan kakaknya juga ada benarnya. Ia melepaskan pelukannya dan Kembali ke meja rias, di sana sudah ada Mua yang akan menangani riasannya.
Pradipta dan Arash keluar dari ruang rias tersebut, Zahira tetap berada di samping putrinya karena ia harus mendampingi sang putri untuk hari bahagianya.
"Papa tau kau sangat sedih karena akan ditinggalkan adikmu tapi kau berusaha kuat, sekarang menangis lah di pelukan papa!" titah Pradipta menatap tersenyum putra sulungnya saat ini, dan benar saja Arash menangis terisak-isak di pelukan sang ayah, ia tak kuasa harus melepaskan wanita yang amat dicintainya kepada orang lain, tapi ia harus melakukan itu, karena ia ingin melihat Zalfa bahagia.
Arion mondar-mandir kesana kemari untuk menetralkan rasa gugupnya sembari menunggu sang pengantin wanita keluar, rasa gugup menerpanya saat ini, ia belum pernah segugup ini bahkan saat bertemu dengan klien terberat sekali pun ia akan santai, tapi kali ini yang tak bisa sedikitpun untuk bersikap santai. Ia terus menerus menghela nafasnya sampai sang sahabat datang memeluknya dan memberinya semangat.
"Santai saja, lo pasti bisa melewati hal paling menegangkan seumur hidup lo Rion, dan tolong jangan pernah kecewakan gue yang udah dengan ikhlas merelakan wanita yang paling gue cintai," ucap Arash berusaha tersenyum, Arion mengerti apa yang dirasakan oleh Arash, kini ia balik memeluk sang sahabat dan memberi Arash kekuatan untuk melepaskan adik tercintanya
"Percayakan Zalfa sama gue Rash, gue akan bahagiain dia, dan dia akan tetap jadi adik lo dan wanita yang paling lo cintai, gue gak akan rebut cintanya untuk lo, percayalah sama gue," sahut Arion tenang, ia serius dalam ucapannya, mungkin rasa nervousnya tidak sebanding dengan rasa sedih karena harus kehilangan harta yang paling berharga dalam hidup sahabatnya.
"Thanks bro, semoga ijab kabul dan resepsinya berjalan lancar," ucap Arash mendoakan sang sahabat
"Aamiin, semoga saja berjalan seperti yang kita harapkan,"
Saat sedang bersenda gurau dengan sang sahabat mata Arion kini terbelalak menyaksikan wanita yang memakai gaun putih dengan permata yang berkilau di seluruh tubuhnya, tanpa permata saja ia sudah berkilau tapi kini Kilauannya mampu memusatkan seluruh perhatian padanya. Zalfa menuruni anak tangga dengan di dampingi oleh Zahira dan Zara sahabatnya, mereka memegang tangan Zalfa dengan sigap agar mempermudah ia berjalan dengan gaun mewah yang dipakainya saat ini, wajahnya tak kalau cantik dengan gaun yang ia gunakan dengan riasan yang sempurna dan lipstik yang sedikit menyala untuk menambah kesan mewah dari keseluruhannya.
"Ananda Arion binti Xavarius, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Zalfa Ananda binti Pradipta dengan mas kawin berlian 99 karat dibayar tunai," ucap Pradipta sambil mengenggam tangan Arion
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Zalfa Ananda binti Pradipta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," sahut Arion dalam sekali tarikan nafas, semua tamu undangan pun kini menghela nafas lega saat menyaksikan Arion mengucapkan ijab kabul dengan benar tanpa ada kesalahan.
"Bagaimana para saksi sah?" tanya pak penghulu
"Sah," jawab semua orang serentak
Zalfa meneteskan air mata saat mendengar kata sah dari seluruh tamu yang datang di acara tersebut, Arion segera menghapus air mata wanitanya dan mencium kening Zalfa dengan lembut
"Bimbing aku agar selalu menjadi suami yang terbaik untukmu," ucap Arion setelah mendaratkan sebuah kecupan di kening Zalfa
__ADS_1
"Ia, bimbing aku juga ketika aku salah arah, dan hukum aku ketika aku tidak berbakti padamu," sahut Zalfa, kini mereka sudah dalam keadaan berpelukan, pelukan yang sedikit lama sampai deheman Pradipta menghentikan pelukan tersebut, mereka berdua menjadi malu dan langsung menjauh satu sama lain, sedangkan semua orang yang ada di situ tertawa melihat tingkah konyol dua insan tersebut, tingkahnya seperti dua sejoli yang tertangkap basah, padahal baru saja kalimat sah terdengar menggema di Hotel Grand Helt tersebut.
Zalfa dan Arion bergandengan tangan menuju pelaminan, dengan di dampingi keluarga kedua belah pihak, Senyum cerah mengambang di sudut bibir mereka, hari yang benar-benar di nanti Arion akhirnya terjadi, ia kini resmi bergelar sebagai suami dari wanita yang di cintainya. Mereka sudah duduk di pelaminan dan mereka menyalami satu persatu tamu undangan, sampai pada akhirnya datang tamu yang tak terduga
"Selamat Fa, semoga ini adalah awal kau meniti kebahagiaan yang dulu sempat aku runtuhkan," ucap Aga menabur senyum di atas luka yang ia rasakan, ia belum rela untuk melepaskan Zalfa tapi ia tau takdir takkan berpihak padanya kali ini
"Terimakasih, semoga kau juga menemukan kebahagiaan Ga," sahut Zalfa membalas senyum
"Jaga Zalfa, jangan kecewakan dia seperti aku dulu!" titah Aga menepuk pundak Arion sambil berpelukan
"Pasti, dan terimakasih karena telah mengecewakannya dulu, kalau bukan karena kau mungkin aku takkan berada disini," sahut Arion tersenyum, Aga tersenyum paksa dan meninggalkan Pelaminan tersebut sebelum ia terluka lebih dalam.
"Selamat Fa, akhirnya aku bisa melihatmu menjadi ratu sehari," celetuk Adrian tertawa kecil, tanpa melihat ekspresi wajah masam Arion, ia terus menerus memuji kecantikan Zalfa sampai membuat Zalfa malu.
"Kau memang keterlaluan, di hari bahagiaku kau membuatku malu karena pujianmu Dri," ucap Zalfa jengkel, wajahnya cemberut tapi sesaat tertawa melihat Adrian
"Kau berhasil Arion, dulu aku ingin berada di posisimu tapi aku tau aku tak mampu, maka dari itu aku biarkan Zalfa bersamamu," ucap Adrian serius
"Aku memang selalu menjadi pemenang dalam hal apapun, apalagi untuk cintaku, aku tidak mudah menyerah seperti kau, tapi terimakasih karena sudah menjadi rival yang baik," sahut Arion sedikit menohok tapi sesaat ia memeluk tubuh Adrian dan tertawa, semua orang yang melihat pun ikut tertawa, hampir saja terjadi ketegangan namun kemudian kembali lagi tawa yang di nantikan
"Fa, aku akan kehilangan kamu seutuhnya, apalagi kamu sudah jadi istri pak Presdir, pasti ia tak rela membagimu denganku," ucap Zara sedih sambil memeluk Zalfa, ia meneteskan air mata saat mengatakan hal tersebut walau hanya bentuk candaan
"Kamu tidak akan kehilangan Zalfa, karena Zalfa akan tetap menjadi Zalfa yang selalu ada sebagai sahabatmu, dan aku tidak sekejam itu untuk tak membiarkan istriku bergaul dengan orang lain," jawab Arion tegas lalu menatap Zalfa tersenyum, Zalfa tersenyum dan berkata
"Terimakasih suami terbaikku,"
Kini tiba di penghujung acara, semua keluarga berkumpul dan berfoto termasuk Adrian dan Zara, sudah bermacam gaya di coba oleh mereka sekeluarga sampai di foto terakhir, Arion mengangkat tubuh Zalfa bak bridal style dan semua menatap kaget Arion, itulah sesi foto terbaik yang ada dan akan menjadi foto terbaik di dinding kamar mereka kelak.
Tamat
___________
__ADS_1
Terimakasih kepada teman-teman karena telah sudi membaca karya saya yang buruk ini🙂 dan beribu-ribu terimakasih telah meluangkan waktu kalian untukku, mungkin sedikit terburu-buru novel ini aku tamatkan tapi inilah akhir bahagia dari kedua sejoli tersebut.
Sampai berjumpa di lain waktu😍😘semoga kelak aku akan menjadi lebih baik dan novel-novel ku akan menjadi obat untuk kejenuhan kalian🖤🖤Bye🖤