
Malam menunjukkan pukul 19.30 keluarga Pradipta sudah siap untuk menyambut keluarga Xavarius, hal ini dibuktikan dengan giatnya Zalfa serta Zahira menyiapkan semua menu andalan mereka. Sedangkan Pradipta dan Arash, lebih memilih berbincang dengan serius di taman belakang rumah mewah tersebut, entah apa yang mereka bicarakan, hanya mereka saja yang tahu.
Ketika sudah siap dengan hidangan mereka Zahira dengan segera menyuruh Zalfa bersiap dan berdandan untuk menyambut kedatangan tamu spesial mereka.
"Sayang biar mama yang siapkan semua, kamu siap-siap aja sana!" titah Zahira menatap tersenyum wajah cantik putri bungsunya itu, Zalfa pun melepaskan celemek yang di gunakannya, lalu mencuci tangannya dan pergi berjalan menaiki setiap anak tangga dengan riang berjalan menuju kamar miliknya. Tak butuh waktu yang begitu lama untuk ia bersiap, ia kini sudah selesai dengan gaun muslimahnya namun tetap fashionable. Dan hijab yang senada, tak lupa dengan sedikit polesan make up dan lipstik untuk bibirnya agar terlihat lebih fresh. Saat sedang ingin mengambil handphonenya di atas meja rias, Arash mengetuk pintu dari luar, meminta izin kepada Zalfa agar membiarkannya masuk.
"Fa, bolehkah Kakak masuk?" tanya Arash masih di balik pintu.
"Boleh Kak, masuk saja!" jawab Zalfa yang berada di dalam kamar, Arash menekan handle pintu dan masuk ke dalam. Di sana ia mendapati Adik bungsunya yang sedang terlihat sedikit gugup menanti kedatangan calonnya serta menanti keputusan yang akan di utarakan oleh papanya, sungguh, kini ia sedang berada dalam posisi dilema.
"Mengapa kau keringatan? bagaimana kalau make up luntur sebelum Presdir Arion datang?" tanya Arash mencoba menahan tawa melihat wajah adiknya yang sedikit memunculkan keringat di keningnya.
"Hah?? aku keringatan? tanya Zalfa menatap tak percaya Arash
"Bagaimana bisa aku keringatan, padahal baru selesai make up," tanya Zalfa kepada dirinya, ia cukup panik melihat keningnya yang sudah sedikit berkeringat.
"Hehehe, Kau sangat cantik malam ini, ia pasti akan terpesona melihat wajah cantikmu," ucap Arash menepuk pundak Zalfa, ia memposisikan dagunya di atas bahu Zalfa, menatap ke arah kaca dari meja rias yang berada di hadapan mereka.
__ADS_1
"Andai kau bukan adik kandungku, mungkin aku akan jatuh cinta padamu, kau terlalu sempurna untuk dijadikan istri," kata Arash memeluk posesif adiknya dari belakang
"Dan sayangnya, aku tak akan pernah tergoda dengan wajah tampanmu itu kak, walaupun kau bukan kakakku," sahut Zalfa ketus, mengerutkan dahi menatap sinis kakaknya sembari membalikkan tubuhnya. Arash memanyunkan bibirnya merasa kesal dengan sahutan ketus yang keluar dari mulut adiknya itu.
"Hahahaha," tawa Zalfa dengan kencang, perutnya sedikit sakit melihat raut wajah lelaki tampan di hadapannya, sungguh kekanak-kanakan dan menggemaskan.
"Aku hanya bercanda, kenapa kakak begitu serius,"
"Percayalah kak, aku mencintaimu sangat mencintaimu, dan ikatan kita jauh lebih kuat di bandingkan siapapun," jelas Zalfa mencoba menjelaskan bercandaan yang hampir membuat kakaknya merasa sedih. Zalfa berjalan mendekat dan memeluk Arash erat
"Doakan Zalfa ya kak, agar Zalfa selalu bahagia!" titah Zalfa masih memeluk Arash, Saat sedang berpelukan, tiba-tiba Zahira masuk dan sedikit kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Apa yang mama katakan, dia adalah adik kecilku, dan selamanya akan jadi adik kecilku," Sahut Arash tak menunggu waktu lama, Zahira memang berniat menggoda putra dan putrinya, ia tahu betul bahwa Arash sangat menyayangi Zalfa, bahkan melebihi nyawanya sendiri. Zahira terkekeh melihat putranya yang seakan tak ingin ia salah paham dengan apa yang ia lihat
"Baiklah, baiklah. Mama hanya bercanda, Sebaiknya kalian turum kebawah, tamu yang kita tunggu sudah sampai dan kini berada di ruang tengah," terang Zahira memberi tahu anak-anaknya dengan kedatangan tamu yang sangat dinantikan mereka.
"Iya ma kami akan turun," jawab Zalfa dan Arash serentak, Setelah menyampaikan pesan tersebut kepada anak-anaknya Zahira pergi meninggalkan mereka, lalu menuju ruang tengah dimana tamunya berada.
__ADS_1
Zalfa dan Arash kini berjalan menuruni anak tangga satu persatu, Arash memegang tangan adiknya dengan lembut, membantunya untuk turun dengan perlahan karena gaun yang dikenakan Zalfa sedikit menyuntai ke lantai. Saat Arash dan Zalfa sudah mendekati ruang tengah, mata Arion langsung teralihkan kepadanya, yang tadinya Arion sedang sibuk berbincang perihal bisnis dengan Pradipta. Kini, fokusnya hanya satu, yaitu wanita yang sebentar lagi akan dipersunting olehnya. Zalfa sedikit tersipu malu ketika Arion tak mengedipkan mata sedikit pun menatapnya, Arash menyaksikan pemandangan itu. Iya tau adik kesayangannya sedang tersipu, ia pun dengan senang hati menggoda kedua pasangan itu yang tak lama lagi akan menjadi pasangan halal.
"Apakah kecantikan adik saya mengalahkan Miss Universe sampai Presdir Arion tak mampu mengalihkan pandangan sedikitpun darinya," ucap Arash sedikit lantang, tiba-tiba semua mata memandang Arion dan Zalfa secara bergantian, lalu mereka menatap Arion dengan tatapan menahan tawa, dan itu sangat mampu untuk membuat Arion malu dan canggung
"Arash kurang ajar, beraninya dia mempermalukanku di depan keluarganya dan di depan Zalfa," gerutu Arion di dalam hati, wajahnya kini menunduk ke bawah merasa malu karena seluruh keluarga memperhatikannya. Zalfa juga menyaksikan hal tersebut, ia menatap Arash tajam dan mencubit kulit perut Arash di hadapan semua orang.
"Aww sakit, apa aku bukan kakakmu sampai kau menyakitiku," ringis Arash kesakitan dan sedikit berpura-pura agar semua perhatian teralih pada mereka.
"Kakak tau, kau tak menyayangi kakakmu lagi semenjak kau memilih dia," ujar Arash sedih menunjuk ke arah Arion. Arion membesarkan bola matanya dan memberikan tatapan tajam bahkan tatapan tersebut mampu membunuh lawannya, Arash sedikit canggung setelah menerima tatapan itu, tapi bukan Arash kalau tak licik.
"Lihatlah, belum menjadi iparku saja dia sudah membenciku, tatapannya itu sangat mengerikan," ujar Arash kembali, kini tubuhnya sudah bersembunyi di balik punggung Zalfa seakan memang ketakutan terhadap Arion. Ingin sekali Arion memberi pelajaran sahabatnya itu, tapi ia tahan untuk terlihat baik di depan keluarga Zalfa.
Pradipta dan Xavarius tertawa menyaksikan semua itu, Arash menatap heran keduanya, apa yang mereka tertawakan. Zalfa juga sedikit heran dengan tingkah semua orang
"Kau memang kekanak-kanakan Arash, bagaimana bisa kau menggoda adik iparmu di hadapan kami," ucap Pradipta tertawa kecil, wajah arash cemberut akibat godaannya di ketahui oleh sang ayah.
"Yaa, aku hanya ingin mencairkan suasana yang agak membosankan ini pa," sahut Arash jengkel, ia menarik lengan Zalfa menuntunnya untuk duduk, Arash menyuruh Zalfa untuk duduk di sampingnya. Sedangkan ia duduk berdekatan dengan Arion, ia tak membiarkan adiknya untuk duduk dekat dengan Arion. Hal itu sungguh membuat Arion semakin geram terhadap sahabatnya. Arash hanya tersenyum sinis menatap Arion, lalu mengalihkan pandangannya dan sedikit berbincang dengan Xavarius.
__ADS_1
Perbincangan mereka kini hampir memasuki tahap perbincangan yang begitu serius, Raut wajah Arion dan Zalfa tiba-tiba tegang, saat Pradipta membuka suara ketika bertanya maksud dari keluarga Xavarius datang ke rumahnya.