Cintanya Untukku Dan Cintaku Untukmu

Cintanya Untukku Dan Cintaku Untukmu
episode 48


__ADS_3

"Bolehkah aku bertanya? maksud dari kedatanganmu kali ini?" tanya Pradipta menatap Xavarius lurus, nampak jelas raut wajah serius yang terpancar di wajah Pradipta. Xavarius sedikit bingung bagaimana menjawab pertanyaan sahabat karibnya itu.


"Maksudku kemari adalah untuk melanjutkan yang belum selesai," jawab Xavarius seadanya namun dengan segala keseriusannya.


"Melanjutkan yang belum selesai?? apa itu?" tanya Pradipta lagi seolah tak tahu apa-apa maksud dari perkataan lelaki paruh baya di hadapannya. Arion menghela nafasnya kasar, sedikit gugup dengan apa yang akan terjadi, Xavarius melirik putranya dan sedikit kebingungan untuk memberi jawaban, Arion menatap Xavarius tersenyum seolah mengisyaratkan untuk tetap tenang kepada sang ayah.


"Maaf sebelumnya Pa, tapi maksud saya dan keluarga saya disini untuk melanjutkan perjodohan ini ke tahap selanjutnya, yaitu pertunangan, sebelum kami melangsungkan pernikahan," jawab Arion mengambil alih jawaban yang seharusnya di utarakan oleh orang tuanya, seluruh ruangan menjadi tegang karena dalam waktu yang sedikit lama mereka tidak mendengar sepatah katapun keluar dari mulut Pradipta. Pradipta hanya menatap remeh Arion tanpa mengeluarkan kata, ia mengambil kopi yang tersaji di atas meja, menyeruput kopi tersebut sedikit demi sedikit, seperti merasakan setiap sensasi dari kopi yang ia minum. Zahira terlihat menahan kesal dengan tingkah suaminya, suasana sudah mencekam ia masih dengan santainya menyeruput kopi yang ada di cangkir porselen itu, tanpa mau berbicara.


Zahira menyenggol lengan Pradipta dengan sikunya dan menatapnya sembari membesarkan kedua bola matanya. Zahira benar-benar tak percaya dengan suaminya, walaupun sudah ia beri isyarat Pradipta masih terlihat santai


Pradipta melirik ke arah Arion dan kembali melirik Zalfa, Arion menjadi begitu gugup karena tak kunjung mendapat jawaban, begitu juga dengan Zalfa ia sangat merasa khawatir.


"Baiklah. Aku minta maaf sebelumnya, tapi setahuku perjodohan ini telah di batalkan dan pertunangan tidak akan pernah terjadi dengan mu, tetapi dalam waktu dekat Zalfa juga akan bertunangan dengan anak dari sahabat Zahira." jawab Pradipta santai, ia duduk dengan menyilangkan kaki, lalu merapikan kemeja yang di pakainya. Arion, Zalfa dan seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu merasa kaget dengan apa yang di utarakan oleh Pradipta. Tapi, keterkejutan itu tak berefek pada Arash ia tampak biasa saja ketika mendengar hal tersebut.


"Pa, apa yang Papa katakan ?? aku akan bertunangan dengan anak dari sahabat Mama??" tanya Zalfa dengan intonasi meninggi, ia menatap tak percaya orang tuanya, bagaimana mungkin seenaknya membuat keputusan tanpa memberitahunya.


"Kenapa? Apa kau tak setuju? tapi sayangnya papa tak butuh persetujuanmu!" tukas Pradipta sinis, ia menatap Arion yang hanya diam


"Saya tidak pernah setuju Zalfa menikah dengan orang lain, apapun yang terjadi saya akan memperjuangkan cinta saya untuk Zalfa Om, saya minta maaf kalau saya lancang sama Om," sanggah Arion menatap lurus Pradipta dan seluruh keluarga yang berada di ruangan tersebut.


"Emang apa yang bisa kamu lakukan untuk memperjuangkan Zalfa??" tanya Pradipta semakin meremehkan. Arion menatap Pradipta serius mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya

__ADS_1


"Apapun itu, termasuk mempertaruhkan nyawa saya," Tegas Arion


"Sayangnya kamu terlambat, saat kau mengatakan memutuskan pertunangan. Aku pernah berkata jangan menyesali perbuatanmu, dan sekarang kau berada dalam penyesalan itu." Xavarius dan Fita hanya menyaksikan apa yang terjadi begitu juga dengan Zahira dan Arash, bukan tak ingin membantah tapi mereka tau betul bagaimana Pradipta.


"Papa hentikan!" teriak Zalfa menatap lurus Pradipta


"Kalau memang Papa gak izinin Zalfa sama Arion, sampai kapanpun Zalfa tidak akan menikah," teriak Zalfa lantang mengeluarkan air mata


"Kamu gak punya hak untuk berkata seperti itu, karena Papa lah yang berhak menentukan siapa yang baik untukmu," teriak Pradipta tak kalah lantang. Arion mengepal tangannya dengan erat saat Pradipta berteriak kepada Zalfa dan memarahinya.


Xavarius menahan Arion. Menatapnya tajam sembari membesarkan bola matanya memberi isyarat agar ia mampu mengendalikan diri.


"Siapa lelaki yang akan Om nikahkan dengan calon Istriku?" tanya Arion dengan nada dingin, Pradipta tersenyum mendengar pertanyaan Arion


"Papa, apa salah Zalfa? kenapa Zalfa harus selalu menurut apa yang papa mahu," lirih Zalfa berurai air mata ia mendekati Pradipta dan tiba-tiba saja tubuhnya lunglai tak berdaya


"Zalfa, Zalfa,," panggil Pradipta panik, begitu juga dengan yang lainnya. Arion pun tak kalah panik, ia dengan cepat menggendong tubuh Zalfa dan membawanya ke mobil dan segera menuju rumah sakit. Walau Pradipta sudah melarangnya, ia tetap tak peduli


Ia mengemudikan mobilnya dengan cepat agar tidak terlambat sampai ke rumah sakit, saat sedang di perjalanan tiba-tiba hal yang ta terbayangkan terjadi.


"Hahaha, sungguh seru bermain seperti ini" ujar Zalfa tertawa lepas, Arion kaget dan menepikan mobilnya. Ia mengerutkan dahi menatap Zalfa dengan kesal lali mencubit pipi wanita itu dengan geram

__ADS_1


"Kau sedang main-main?? apa kau tidak tau betapa paniknya aku," ucap Arion kesal, Zalfa terdiam namun dengan cepat ia berkata


"Aku melakukan semua agar masalahnya selesai, percayalah, setelah ini papa akan membiarkan kita bersama," sahut Zalfa menatap Arion, ia menundukkan wajahnya yang tampak murung


"Maaf, aku hanya terlalu takut hal buruk terjadi padamu," kata Arion dengan suara serak


"Tidak apa-apa, sekarang ayo kerumah sakit.


Kumohon bersandiwara lah. Sama seperti mereka bermain sandiwara!" Ucap Zalfa menahan kesal, ia meremas erat bajunya mengingat perkataan Pradipta


" Sandiwara? apa yang papamu katakan itu sandiwara?" tanya Arion tak percaya dengan yang di dengar


"Iya, aku juga baru tahu itu sandiwara saat papa mengkode kak Arash barusan, makanya aku pura-pura pingsan aja dan nangis. Aku juga udah WhatsApp dokter di salah satu rumah sakit untuk menipu mereka, jadi cepat lah bawa aku ke rumah sakit agar semua berjalan lancar," terang Zalfa kepada Arion, Arion merasa lega karena semua ini bukan kenyataan. Ia mengemudikan mobilnya kembali dan menuju rumah sakit yang telah diberitahu oleh Zalfa


Di dalam mobil Pradipta terus menerus merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia membuat putrinya sendiri Sampai pingsan. Ia berdoa di dalam hati agar putrinya baik-baik saja. Kini mereka sudah sampai di salah satu rumah sakit terdekat dimana Zalfa berada, Arash sudah menghubungi Arion saat mereka dalam perjalanan.


Mereka segera turun dari mobil dan terlihat begitu panik, berjalan mencari kamar yang telah diberitahu oleh Arion.


"Bagaimana keadaannya??" tanya Arash dan Pradipta panik, Zahira hanya menangis tanpa mampu lagi bertanya


"Aku juga tidak tahu, Zalfa sedang di tangani oleh dokter," jawab Arion seadanya, dokter pun keluar dari UGD setelah mereka bertanya pada Arion

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Pradipta buru-buru, rasa gelisah menyerbu dirinya


" Sebelumnya saya harus memberi tahu kepada bapak kalau kondisi Zalfa sedang tidak baik. Sepertinya, cedera psikis yang dulu mulai terangsang kembali dan itu membuat otak dan tubuhnya sedikit terganggu. Kalau terus-terusan di biarkan, saya takut akan berakibat fatal, jadi saya mohon pada keluarga supaya pelan-pelan mendekatinya, dan jangan membuatnya berpikir yang tidak-tidak dulu untuk saat ini!" ucap sang dokter sekaligus memberi peringatan. Pradipta dan Zahira begitu syok serta merasa bersalah. Begitu juga dengan Arash, karena ide gilanya sang adik harus di rawat kembali. Ia juga begitu terpukul karena jawaban sang dokter, Arion hanya memasang wajah sedih dan khawatir walau di dalam hati ia merasa puas sekaligus kasihan harus menipu calon mertuanya.


__ADS_2