CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 1


__ADS_3

Dahulu kala—seratus lima puluh tahun yang lampau—ada seorang gadis bernama Clair-de-Lune, yang tidak bisa berbicara.


Ia tinggal bersama neneknya di ruang bawah atap sebuah bangunan yang tinggi, sempit, dan tua, berlantai enam dengan dua belas deret anak tangga curam di antara setiap lantai. Mereka sangat miskin. Tetapi, mereka juga sangat ningrat, artinya nenek


Clair-de-Lune sangat peduli akan etiket makan dan perilaku sopan seorang wanita, dan lebih rela mati kelaparann daripada dianggap tidak tahu sopan santun.


Pada musim dingin, tempat tinggal mereka itu dingin, dan angin berembus melalui retakan-retakan di sekitar kusen jendela, dan salju melayang turun melalui langit-langit. Tapi, pada musim semi dan panas, burung-burung gereja, layang-layang, merpati, dan dara berbondong-bondong masuk melalui jendela, dan Clair-de-Lune biasanya terbangun di pagi hari mendengar bunyi merdu kepak sayap


burung-burung itu.


Nenek Clair-de-Lune dulu seorang balerina, dan begitu pula ibunya. Jadi, tak mengherankan bila setiap pagi, dari Senin sampai Sabtu, Clair-de-Lune berada di sebuah ruangan yang lebar dan panjang, tiga lantai di bawah tempat tinggalnya. Bersama-sama dua puluh anak-anak perempuan dan laki-laki lainnya mereka berlatih balet pada seorang pelatih yang tegas bernama Monsieur Dupoint. Pada siang hari ia belajar Ilmu Bumi, Sejarah, bahasa Prancis, dan Italia, atau pergi ke pasar, berbelanja untuk neneknya, yang sudah sangat rapuh (meski pun tubuhnya ramping dan tegak bagaikan wanita muda), dan jarang keluar dari tempat tinggalnya. Pada hari Minggu, Clair-de-Lune pergi ke gereja, tempat ia membuka mulutnya sesuai dengan lagu-lagu yang dinyanyikan, tapi tidak


menyanyi.


Mengapa Clair-de-Lune tidak bisa bicara? Ah! Tak ada yang tahu. Ibunya meninggal ketika ia masih bayi, dan konon kejadian itu ada sangkut pautnya dengan keadaan tersebut.


Ibu Clair-de-Lune—yang dikenal sebagai La Lune, artinya Bulan—merupakan balerina tak terlupakan karena suatu gerakan tarian pas seul terkenal di akhir tarian balet yang tragis dan indah tentang


angsa-angsa, yang, konon, bisu sampai saat terakhir kehidupan mereka, dan pada saat itulah mereka menyanyikan lagu-lagu yang terindah.


Bertahun-tahun sebelum pementasan pertama tarian Swan Lake, dan bertahun-tahun sebelum Anna Pavlova menguasai dunia tari dengan tarian The Dying Swan, La Lune memainkan peran seekor angsa yang terluka oleh panah seorang pemburu, mengenakan tutu putih yang terbuat dari berlapis-lapis kain tulle dan bulu angsa. Dan sekalipun La Lune tidak mengeluarkan suara, karena memang begitulah kebiasaan balerina, suatu malam para penonton bersumpah mereka mendengarnya

__ADS_1


menyanyikan lagu yang paling aneh; seolah-olah tariannya begitu indah sehingga bisa terdengar. Malam itu, ketika ia menjatuhkan diri di panggung di akhir tariannya, melipat dirinya seperti burung, ia menumpukan kepalanya di antara tulle dan bulu burung di roknya, dan tidak bangkit lagi.


“Brava! Brava!” terdengar teriakan para penonton. Tepuk tangan dan sorak sorai mereka bergemuruh laksana petir. Mula-mula, tak seorang pun menyadari apa yang terjadi. Beberapa saat berlalu sebelum para penonton merasa bingung dan


kemudian terdiam; sebelum layar ditutup cepat-cepat dan seorang dokter didatangkan; sebelum penonton mulai berbisik-bisik, lalu saling bergumam. Kemudian terdengar pengumuman dari pimpinan pertunjukan, diselingi isak tangis:


“Hadirin sekalian, La Lune meninggal! Kata dokter jantungnya lemah—terlalu lemah untuk menari—seandainya saja kami mengetahuinya…!” Hadirin pun


terisak-isak, dan bunga-bunga berdatangan dari seluruh negeri selama berminggu-minggu.


Beberapa orang yang berada di belakang panggung pada malam kematian La Lune mengatakan bukan nyanyian yang mereka dengar, melainkan kalimat; bahwa La Lune, si angsa bisu, si balerina, meninggal setelah mencoba mengatakan sesuatu.


Mengenai Clair-de-Lune—penggemar La Lune bahkan tidak mengetahui keberadaannya. Tapi ia pun ada di belakang panggung malam itu, dan


Apakah Clair-de-Lune tidak ingin berbicara? Ah,


pembaca! Kelihatannya, Clair-de-Lune, dengan berlalunya hari, dadanya semakin berat menanggung kata-kata yang tidak terucapkan.


# # #


Setiap pagi, panas maupun hujan—bahkan pada musim dingin ketika salju turun ke bumi—Clair-de-Lune berlutut di kursinya di dekat jendela, membuka jendela, meletakkan siku di birai jendela, menatap keluar, mencoba bicara.

__ADS_1


Kadang-kadang, bila matahari bersinar, atau bahkan


hujan turun rintik-rintik, ia merasa bahagia duduk di kursinya. Rasanya damai ketika menatap ke luar jendela, nyaman berada sendirian dan tidak terganggu. Tiba-tiba ia sendirian saja menatap pemandangan, dan pemandangan itu seakan-akan balas menatapnya, menyukainya, dan tidak peduli ia bisu.


Tapi, lebih sering ia merasa sedih, karena ingin bisa


bicara. Namun, bagaimanapun ia mencoba, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia menatap atap-atap rumah yang merah kecokelatan—sebab hanya itu yang bisa tampak dari jendelanya—atap rumah dari batu merah kecokelatan dengan kemiringan yang tidak rata, saluran air, menara di kejauhan; seekor kucing hitam sedang memanjat di atap seberang; cerobong asap; burung-burung dara;


burung-burung gereja; burung layang-layang; merpati dan sebuah bujur sangkar warna biru—pada hari cerah—yang merupakan langit. Sementara ia menatap, muncul rasa rindu, sampai air mata muncul dari matanya, menggenang, dan atap-atap


merah itu pun tampak kabur.


Lalu neneknya akan memanggil dan menyuruhnya


cepat-cepat berganti pakaian, karena ia harus masuk kelas pada pukul sembilan; dan ia pun akan menarik mundur kepalanya dan menuruti perintah neneknya.


Untuk menghadiri kelas setiap pagi, Clair-de-Lune


mengenakan stoking warna merah muda, sepatu latihan, gaun putih terbuat dari bahan muslin yang berpinggang ramping, dan celana yang serasi, yang panjangnya tiga inci di bawah rok sepanjang betis. Gaun itu bermodel decolettee—artinya terbuka di bagian leher dan bahu—dan sebagaimana gadis-gadis lain, ia menata rambutnya dengan belahan tengah lalu disanggul kecil di tengkuknya. Sebuah jaring rambut hitam membuat rambutnya selalu rapi. Seluruh pakaiannya merupakan kompromi antara kesederhanaan dan kepraktisan,


agar sebanyak mungkin bagian tubuh bisa tampak saat menari. Namun, yang lebih menonjol adalah kesederhanaan. Saat itu Clair-de-Lune sedang belajar menari en pointe—menari di atas ujung jari kaki—sehingga ia membawa sepatu pointe-nya ke kelasnya dalam tas bertali, bersama sehelai saputangan bersih. Seperti kebiasaan penari-penari masa itu, ia memperkuat sendiri sepatu pointe-nya dengan jahitan tambahan dan lapisan kain muslin yang dikanji pada bagian jari-jari kakinya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2