
Mudah bagi Clair-de-Lune untuk mempelajari tarian ibunya: begitu mudahnya hingga terasa menakutkan. Rasanya seakan-akan ia sudah mengenal tarian itu.
Tapi bukan itu yang menyebabkan ia menari sedemikian baiknya.
Penyebabnya adalah, seumur hidup ia belum pernah
berkonsentrasi seperti itu; belum pernah memikirkan ritme dan gerakan secara begitu ekslusif, dan tidak memikirkan apa-apa lagi di luar itu. Ia telah menjadi boneka penari! Karena ia tahu, begitu ia berhenti berkonsentrasi dan berubah menjadi gadis hidup yang bernapas lagi, ia akan tersesat.
Yang paling sulit adalah bagian akhirnya.
“Turun, turun, turun—meluncur ke depan, ya,
betul—kepala pelan-pelan… merunduk, dan diam. Angsa ini sekarat, tapi lihat saja, sampai pada akhirnya, ia tetap berjuang. Ia ingin hidup. Penting diingat, Clair-de-Lune. Angsa ini hampir mati, tapi ingin hidup.”
Dan sampai saat ini, Monsieur Dupoint begitu terlibat dalam latihan, dalam melatih gadis itu, sehingga ia tidak ingat lagi tentang ibunya—hanya tentang tarian itu saja—hampir seakan-akan tarian itu tidak memiliki sejarah dan diciptakan untuk pertama kalinya khusus untuk Clair-de-Lune di sini, di hadapannya.
Tapi, Clair-de-Lune tidak melupakan sejarah tarian
itu, dan upayanya untuk tidak mendengarkan—paling tidak hanya mendengarkan pikirannya, bukan hatinya—saat ini hampir tidak tertahankan.
Ketika akhirnya latihan selesai dan musik berhenti,
Clair-de-Lune pucat pasi seperti mayat.
“Bagus!” kata Monsieur Dupoint, begitu gembira melihat perkembangan muridnya sehingga ia tidak memerhatikan keadaannya. “Kau mewarisi bakat ibumu, anakku. Sekarang pulanglah dan makan yang banyak. Lalu istirahat. Kau boleh istirahat setenang para malaikat.”
Tapi, ketika Clair-de-Lune melakukan gerakan
révérence-nya, mula-mula kepada Monsieur Dupoint dan kemudian kepada Mr Sparrow yang berada di piano, sekilas Monsieur Dupoint merasa dirinya merinding ketakutan. Tiba-tiba suasana hatinya memburuk lagi. Ia menatap garang pada Mr
Sparrow. Cepat-cepat Mr Sparrow membenahi kertas musiknya, menutup piano, dan mengikuti Clair-de-Lune keluar dari pintu.
Monsieur Dupoint sendirian di ruang kelasnya, menatap kesal ke luar jendela.
__ADS_1
Dan Bonaventure, yang menyaksikan segalanya dari
lubang tikusnya, mencoba memahami apa yang terjadi.
Sementara itu di tangga, persis di belokan antara
deretan anak tangga pertama dan kedua setelah lantai sekolah tari itu, Clair-de-Lune meringkuk, gemetar dan terisak pelan.
Akan makan waktu berminggu-minggu. Bagaimana mungkin ia bisa tahan?
Tapi ia bertahan, karena (bukankah sudah dijelaskan) Clair-de-Lune memiliki tekad sekuat baja. Ia tidak bisa membantah neneknya; ia tidak bisa mengecewakan Monsieur Dupoint dan Perusahaan Tari; ia tidak bisa mengecewakan memori tentang ibunya.
Namun, dengan berjalannya waktu, kelihatan seakan-akan hatinya hancur. Sebab, agar bisa bertahan dengan semua ini, agar bisa bertahan
hidup, ia terpaksa mengkhianati sesuatu yang lain. Dan hal yang dikhianatinya itu jauh lebih penting.
Sementara siang berganti malam, dan berkembang menjadi hari lagi; Clair-de-Lune menjalani hari-harinya: tidur, mengunjungi Bruder Inchmahome,
masuk kelas, berlatih tarian ibunya, berbelanja ke pasar, dan tidur lagi. Ia makan hanya sedikit dan tubuhnya semakin lama semakin kurus; dan ia tidak
Monsieur Dupoint kagum melihat kemajuannya. Tetapi sementara tanggal pementasan semakin dekat, ia melihat ada sesuatu yang hilang. Bukan hanya itu; ia tahu apa yang hilang.
“Ia telah membekukan dirinya,” katanya ketika
menyaksikan Clair-de-Lune menari suatu siang. “Ia membekukan dirinya terhadap rasa sakit itu. Secara teknis ia hebat sekali untuk usianya. Tapi ia menari
tanpa perasaan. Sementara ibunya,” kenangnya, “menari dengan penuh perasaan.”
Tapi sekalipun tarian itu sangat penting baginya, dan
ia tahu Clair-de-Lune dapat melakukannya lebih baik lagi, kemajuan Clair-de-Lune membuatnya senang, dan kecemasannya mulai berkurang. Sebab kalau
Clair-de-Lune dapat menyelesaikan pementasan ini dan hanya melakukan gerakan-gerakannya saja (seperti sekarang ini)—yah memang hanya itulah yang bisa diharapkan dari seorang anak—ia tahu Clair-de-Lune aman.
__ADS_1
Ia membayangkan mudah menari dengan cara ini, tanpa perasaan. Tapi ia tidak tahu betapa banyaknya tenaga yang terserap. Dan yang
paling kejam, bagi Clair-de-Lune, adalah kenyataan bahwa ia tidak dapat berbicara lagi pada Bruder Inchmahome—bahkan dalam suara anak burung
sekalipun—atau setidaknya, ia tidak dapat menyatakan apa yang terpendam dalam hatinya.
Karena memang benar. Kalau seseorang tidak bisa
mendengarkan, ia juga tidak bisa bicara.
# # #
Sementara Clair-de-Lune berlatih untuk pementasan
profesional pertamanya, Bonaventure sedang berupaya menampilkan pementasan pertamanya pula. Ia mengambil kesempatan ulang tahun Perusahaan yang keseratus sebagai tanggal pementasan balet pertamanya, dan bersama para penari ia berusaha sekuat mungkin. Ia melatih, merevisi—karena sering kenyataan di lapangan berbeda dengan apa yang ada dalam pikirannya—dan juga, bila ia menemukan kekuatan dalam diri seseorang, ia suka memanfaatkannya dan segera
merancang peran baru baginya.
Misalnya, ketika dilihatnya Rudolph muda bias melompat demikian tingginya, Bonaventure segera mengembangkan plot tambahan pada tarian
baletnya. Ceritanya, Pangeran memiliki seorang Teman Setia yang akan menyertainya dalam perjalanan! Dan ketika dilihatnya Margot bisa begitu ekspresif dengan gerakan kumisnya, ia menciptakan tarian tunggal khusus untuknya: ia menjadi Dayang-Dayang Lady Vivacious.
Ia ragu-ragu menciptakan peran untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya ia hanya ingin bertindak sebagai sutradara, dan pikirnya, itu pun akan membuatnya sangat kerepotan. Tapi perusahaannya telah memutuskan. Tak satu pun, kata mereka, yang bisa memerankan Pangeran Tikus sebaik dirinya. Jadi, ia pun menyerah pada pertimbangan mereka, dan memerankan peran itu dengan segenap
hatinya. Putri Tikus akan dimainkan oleh Juliet kecil dari percetakan. Ia memang yang paling anggun dari semuanya, dan memiliki ekor yang paling gemulai
dari semua muridnya. Ekor Juliet, Bonaventure yakin, punya kemampuan sendiri untuk bercerita pada penonton.
Lembaran musik untuk Perburuan Pangeran ditulis oleh tikus tuli yang cerdas, yang tinggal di dalam organ di Gereja St. Mary. Ia telah mengarangnya sendiri di dalam pikiran, dan berlatih di piano mainan yang ditemukan Bonaventure di toko mainan. Uang tidak penting bagi tikus, tapi tikus selalu tahu di mana uang bisa ditemukan: selalu ada uang receh yang jatuh ke dalam selokan, tercecer di belakang perabot rumah, atau tersembunyi di bawah
lantai kayu. Bonaventure berhasil mengumpulkan cukup uang dari murid-muridnya—dan dari hasil pencariannya sendiri—untuk membayar harga piano
itu dan meletakkan uangnya di atas raknya di toko, sebelum ia dan beberapa teman yang kuat memindahkannya di malam hari dan mengangkutnya dengan susah payah naik ke tangga, ke tempatnya yang baru.
__ADS_1
Bersambung...