
“Ia menjahitnya di dalam tutu, di dekat jantungnya,”
kata Clair-de-Lune dengan mata menerawang, seakan-akan mengisahkan cerita yang baru pertama kalinya didengarnya. Dan sambil bercerita, ia membayangkan ibunya menjahit dengan canggung, air mata bercucuran di pipinya, takut kalau-kalau
Madame Nuit memergokinya. “Foto Ayah!”
“Ia memang minta satu fotoku, tepat sebelum ia
berhenti menemuiku…”
“Ia memakainya pada malam ia meninggal…”
“Dan ada seorang anak!” bisiknya. “Ia… ia…”
“Ia mencoba mengatakan sesuatu. Tahukah, Ayah, apa yang coba dikatakannya?”
“Apa yang coba dikatakannya?” tanya Bruder Inchmahome sambil membelai wajah dan rambut Clair-de-Lune.
“Ia mencoba mengatakan, ‘Aku cinta padamu’. Mungkin ia tahu Ayah ada di sana. Mungkin ia mengira Ayah akan mendengar. Dan ia tahu Ayah
tidak tahu. Ia meninggal,” kata Clair-de-Lune, “dengan hati hancur, karena mereka tak mengizinkannya berada di sisi Ayah. Dan aku kehilangan ibuku dan ayahku. Tapi kini,” tambahnya lembut, “segalanya baik-baik saja sebab aku telah
menemukan Ayah.”
Sekali lagi ia mengulurkan lengan dan Bruder
Inchmahome mengangkat dan memeluknya seolah-olah tidak akan melepaskannya lagi.
# # #
Tidak sampai tiga meter dari tempat Clair-de-Lune dan ayahnya berpelukan, nenek Clair-de-Lune terombang-ambing antara tidur dan bangun.
Hari sudah pagi. Ia harus bangun. Banyak pekerjaan,
banyak tugas menanti…
Tapi, ia tetap berbaring, mengambang, mengambang, terlalu lelah, juga terlalu bahagia untuk bangkit.
Didengarnya suara Clair-de-Lune, kecil seperti anak
ayam, tapi juga seperti suara anak ayam yang penuh dengan semangat hidup, dan ia tahu anak itu akan hidup, bisa bicara, dan burung itu ternyata telah
kembali.
Napas nenek Clair-de-Lune semakin lama semakin pelan. Tidak, cucunya tidak akan mati. Ia akan menjadi penari besar—dan Madame Nuit melihat
pementasannya, pengumumannya, bunganya, dan mendengar suara seruan penonton ketika tirai ditutup. Semua ini seperti berbaris di depan matanya—cucunya akan menari tidak seperti yang dilakukan orang lain sebelumnya, bahkan ibunya
sekalipun.
Cucunya tidak akan mati. Dan tidak ada pria yang tak layak; tidak ada patah hati. Nenek Clair-de-Lune mendengar suara lembut Bruder Inchmahome dan tersenyum. Anak itu aman. Segalanya baik-baik saja.
Nenek Clair-de-Lune merasa dirinya mengapung,
mengapung di laut biru yang tenang menuju pulau yang indah. Kewajibannya sudah tuntas.
Ia telah melakukan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Sekarang tiba waktunya… waktunya…
Untuk beristirahat.
Dan, dalam sinar matahari pagi yang lembut, gumpalan logam di perapian yang dingin itu—yang dulunya sangkar burung—kini tampak mirip hati.
# # #
__ADS_1
Di dalam lubang tikus Bonaventure, tiga lantai di
bawah mereka, kedua puluh empat anggota perusahaan tari Bonaventure duduk berduka.
Beberapa di antara mereka bergenggaman tangan atau saling bersandar dengan mata menerawang. Yang lain terisak-isak dan menghapus air mata dengan saputangan kecil.
Sudah empat hari mereka berkumpul seperti ini, dan
tidak tahu harus berbuat apa.
Sementara berita kematian Bonaventure menyebar ke seluruh komunitas tikus, tikus-tikus—tidak hanya yang berkaitan dengan sekilah dan perusahaan tarinya, tapi juga mereka yang secara tidak sengaja mengenalnya, bahkan mereka yang belum pernah berjumpa dengannya—datang ke situ, sendiri,
berdua atau bertiga, membawa bunga musim semi yang dikumpulkan dari mana pun bunga bisa ditemukan, dan potongan-potongan kecil lilin. Lubang tikus itu lama-kelamaan penuh dengan bunga-bunga dan lilin-lilin kecil, dan berubah
menjadi gua ajaib yang bisa saja menjadi latar belakang salah satu ciptaan Bonaventure.
Tapi, tak seekor tikus pun menari sejak pagi
kematiannya.
Malam itu, mengikuti tradisi tikus, mereka diam-diam berbaris ke lantai enam untuk mengambil jenazahnya—sementara yang lainnya—Leonard
dan Virginia, beberapa tikus dari bangunan Duke of Wellington dan tikus yang tinggal di dalam organ Gereja St. Mary—membuat rakit dari ranting-ranting
pohon. Mereka meletakkan Bonaventure di atasnya dan meluncurkan rakit ini ke sungai yang mengalir di bawah jalan di depan bangunan, dan bermuara di laut. Demikianlah Bonaventure mengawali perjalanan pulangnya.
Tapi bagaimanapun mereka tahu, arwahnya masih berada di antara mereka.
Juliet memimpikannya setiap malam.
Mungkin karena itulah, akhirnya, Rudolph bicara.
Ia sedang duduk di pojok, di bawah gambar Arabella
“Mesdames, Messieurs—Nona-nona, Tuan-tuan, aku yakin bukan begini yang dikehendaki guru kita. Pastilah ia berkata, ‘Pertunjukan harus berjalan terus!’ Benar tidak?”
Mereka semua menatapnya.
“Kau benar, sayangku,” ujar Margot. Ia telah mengganti pita merah mudanya dengan pita hitam, sebagai tanda berkabung. “Serasa aku
mendengarnya berkata begitu.”
Secara tak sadar Rudolph membenahi letak kacamata di hidungnya.
“Tadinya aku tidak berminat belajar menari,” ia
melanjutkan dengan rendah hati, “tapi Bonaventure membuatku bersemangat, dan sekarang,” sambil berkata begitu ia menatap Margot, yang membalas tatapannya dengan senyum sendu. “Tari adalah hidupku.”
“Dan hidupku juga,” ujar Margot lembut.
“Bonaventure adalah seniman sejati—bukan hanya karena ia berdedikasi, rajin, dan memiliki visi yang baik—tapi juga karena ia terinspirasikan oleh Cinta. Mesdames, Messieurs—seni yang tidak terinspirasikan oleh Cinta—misalnya seni yang didorong oleh harapan akan kemasyhuran dan nama
besar—adalah seni yang tidak berharga! Bonaventure mencintai Tari, dan ia mencintai kita semua—itu sebabnya ia ingin berbagi dengan kita. Baginya, Cinta adalah hal terpenting di dunia. Tapi ia tahu tari juga penting, karena tari adalah salah satu cara untuk mengekspresikan cinta.”
“Kita menunjukkan cinta kita padanya dengan berduka, Mesdames dan Messieurs. Tapi kita juga bisa menunjukkan cinta kita padanya dengan melanjutkan pekerjaannya. Ia memberi pada
kita, cintanya pada Tari. Sekarang kita harus membaginya dengan yang lain.”
“Aku mengusulkan,” kata Rudolph dan menghimpun segenap keberaniannya. “Aku menyarankan agar kita melanjutkan pementasan ini, sebagai kenang-kenangan dan penghormatan pada guru kita yang tercinta, Maestro Bonaventure.”
Mula-mula mereka terdiam. Lalu, mendadak mreka bertepuk tangan. Cakar-cakar mereka yang kecil
saling menepuk dan terdengar bagai gerimis kecil. Rudolph mengangguk sekali dua kali, menanggapi apresiasi mereka, lalu duduk lagi, gemetar penuh emosi. Margot menyelipkan cakarnya ke dalam cakar Rudolph dan menatapnya penuh cinta. Tidak pernah ia merasa begitu bangga akan seseorang.
__ADS_1
Tepuk tangan tikus-tikus itu berlangsung lama. Ketika akhirnya berhenti juga, suasana menjadi hening. Lalu:
“Tapi…” kata tikus dari Duke of Wellington, “bukannya
aku mencari-cari kesulitan, dan sungguh, aku menghargai niatmua dengan sepenuh hatiku—masalahnya adalah, kalaupun kita melanjutkan pementasan—sekalipun kita mencoba…”
“Kita tidak punya Pangeran!” sela Juliet, polos. “Dan
apa artinya Perburuan Pangeran kalau tidak ada pangerannya?”
Dan mereka semua mengeluh, mengiyakan. Beberapa di antara mereka mulai menangis lagi.
Tapi, Rudolph tidak putus asa.
“Kalau begitu,” katanya, “Maestro pasti akan
mengatakan, kita harus mencarinya. Tapi—yah—ia tentunya akan menjadi—dirinya sendiri.”
Tepat pada saat itu terdengar ketukan di lubang tikus.
Mereka semua menengadah.
Seekor tikus asing berdiri di ambang pintu. Ia kurus,
lelah, dan lusuh karena baru saja tiba dari perjalanan jauh. Tapi bulunya seperti sutra hitam—dan semangatnya yang menyala-nyala memancarkan sinar tersendiri.
“Permisi,” katanya, “bukankah ini sekolah Tari
Monsieur Bonaventure, guru sekolah tari khusus untuk tikus?”
“Ya, benar,” kata Rudolph lembut. “Tapi…”
“Ah,” kata tikus itu sambil melangkah masuk. “Kalau
begitu, akhirnya aku sudah menemukan kalian. Aku berkelana ke kota ini dengan satu mimpi—untuk menjadi tikus penari! Tapi—bila aku terbukti kurang layak menjadi penari—bagiku tidak ada konstribusi yang terlalu rendah. Kalau kalian mengizinkan aku membantu dalam pekerjaan apa pun yang mampu kulakukan, aku akan senang sekali, lebih senang dari yang bisa kuungkapkan! Karena aku berniat
mengabdikan hidupku pada tari khusus tikus.”
Ia berdiri dan menatap ke sekelilingnya, matanya yang hitam bersinar. Sosoknya yang gelap lagi anggun bagaikan pangeran membentuk
bayangan di pintu. Ia kelihatan begitu gagah bagaikan ksatria, dan semangat hidup yang memancar dari dirinya tampak begitu indah, sehingga mereka segera tahu bahwa bintang baru telah muncul, dan akhirnya mimpi besar Bonaventure akan menjadi kenyataan.
# # #
Clair-de-Lune dan Bruder Inchmahome berdiri
berbimbingan tangan di ambang pintu baru. Dan seluruh dunia terbentang di hadapan mereka! Tapi dunia tampak begitu luas, hingga sejenak mereka ragu-ragu.
“Kita akan ke mana?” kata Clair-de-Lune sambil menatap wajah Bruder Inchmahome, seakan-akan pertanyaan itu belum pernah terpikirkan olehnya.
Bruder Inchmahome mengenakan mantel hitam di atas celana abu-abu muda, kemeja putih dengan kerah tinggi, rompi bersulam dan dasi ungu. Tidak terlalu serasi, karena semuanya itu pinjaman; tapi rambut di kepalanya telah tumbuh kembali, dan ia kelihatan muda—hampir semuda wajahnya di foto di dalam bandul. Ia menatap lembut ke arah Clair-de-Lune, yang rambut pirangnya tampak keperakan di atas gaun berkabung dan topinya. Bruder Inchmahome mencari jawaban yang tepat bagi si gadis kecil.
“Kurasa,” katanya akhirnya, “tidak penting ke mana
kita pergi, asalkan kita bersama-sama.”
“Aku setuju,” kata Clair-de-Lune. Dan mereka pun
melangkah ke luar, ke dunia, bersama-sama.
Karena impian telah berakhir; dan hari baru telah
dimulai. Dan Pulau Siang di Samudra Mimpi sungguh sangat terang.
__ADS_1
# # # T A M A T # # #