CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 3


__ADS_3

Di telinga Clair-de-Lune, musik itu penuh kerinduan—kerinduan yang begitu lembut tapi menyengat, sampai-sampai bisa menghancurkan hatinya. Musik itu seakan-akan meminta sesuatu dari dirinya, yang ia sendiri ingin memberi. Tapi ia tidak tahu apa yang diminta itu, dan bagaimana cara memberinya.


Ketika akhirnya Mr Sparrow berhenti bermain, hati Clair-de-Lune terasa begitu penuhnya sehingga untuk sesaat ia merasa terbangun dari suatu sihir, dan merasa, bila ia membuka mulutnya, ia akan bisa bicara.


Mula-mula, agar bisa mendengar, ia duduk di lantai berpura-pura sibuk dengan pita sepatunya, mengikat lalu membukanya lagi berulang-ulang. Tapi, tak lama kemudian ia lupa berpura-pura. Sementara Mr Sparrow terus bermain, semakin lama semakin piawai, pelan-pelan ia melepaskan pita itu, beringsut maju, berdiri… lalu melangkah menyeberangi ruangan ke arah piano.


Air mata menggenang di matanya; tumpah dan mengalir di pipinya. Ia berdiri di sisi piano, membungkuk sedikit dengan penuh gairah, dan


menarik napas seakan-akan ingin bicara.


Tapi, Mr Sparrow hanya duduk, diam dan tenang, menatap piano; terhanyut dalam kesedihannya sendiri. Sesaat kemudian, tanpa sadar akan


kehadiran Clair-de-Lune, ia menutup pianonya. Lalu ia bangkit, mengambil mantelnya dari gantungan, memasukkan tangan ke saku, bahu merunduk, melangkah menuju pintu dan ke luar.


Untuk sekejap, hanya ada keheningan di dalam ruang kayu yang panjang dan berdebu itu.


Clair-de-Lune berdiri membeku di dekat piano. Tadinya ia ingin mengucapkan terima kasih; dan bertanya musik apa yang dimainkannya. Mr Sparrow tampaknya sedih; ia tidak tahu ada yang mendengarkan. Clair-de-Lune begitu ingin memberitahu, hanya memberitahu, bahwa ia ada, dan ia mendengarkan…


Ruangan itu kosong. Semua telah pergi. Clair-de-Lune merangkak ke pojok berdebu di belakang piano, melipat dirinya dalam gaun latihannya yang putih, dan mulai—tanpa suara—menangis seakan-akan hatinya hancur.


Tapi, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang


benar-benar hening; termasuk anak yang bisu. Tangis Clair-de-Lune bukannya tanpa suara, hanya saja suara itu begitu pelannya hingga hanya seekor tikus yang bisa mendengarnya.


Di sudut belakang ruang latihan balet yang besar,


panjang, dan berdebu itu, ada sebuah lubang tikus. Dan kalau ada kucing yang bisa melongok ke dalamnya, tentulah ia akan terkejut melihat pemandangan di situ.


Lubang tikus itu adalah tiruan kecil ruang yang ada di luarnya. Di sepanjang dindingnya terletak cermin-cermin ukuran tikus, yang direkat-rekatkan dari cermin bedak padat yang telah dibuang. Di sepanjang kedua sisi ruang ada barre ukuran tikus yang dibuat dari tusuk gigi. Di sisinya, dalam posisi pertama, berdiri seekor tikus.


Begitu musik berakhir, ia melakukan gerakan salut yang gemulai di hadapan bayangannya sendiri di cermin. Lalu, dengan gerakan rapi, disiplin, dan luwes seperti penari balet, ia melompat-lompat menuju kursi kecil di sudut lubang tikusnya, tempat ia meletakkan handuknya yang lusuh. Ia mengeringkan keringat dari bulunya, melipat handuk itu dengan rapi, menyampirkan di sandaran kursi, dan memakai jubah dan skarfnya agar otot-ototnya tidak menjadi dingin dan kaku dan ia tidak kedinginan. Baru saja ia akan berangkat mencari makanan, didengarnya suara tangisan.


Tikus penari itu mengeluarkan hidungnya ke ruang di

__ADS_1


luar lubangnya. Kumisnya bergerak-gerak. Ia perlu berhati-hati. Bagaimanapun, ada kucing yang tinggal di bangunan itu.


Ia segera melihat Clair-de-Lune. Tanpa dicarinya pun,


dari pendengarannya saja, ia sudah tahu di mana gadis itu berada.


Ia ragu-ragu, telinganya bergerak-gerak saking


herannya.


Lalu, dengan takut-takut, ia berlari ragu di sepanjang


tepi dinding, menghampiri Clair-de-Lune. Ia berhenti sekitar lima belas senti dari tepi rok Clair-de-Lune, pikirnya jarak itu dibutuhkan kalau-kalau ia perlu


berlari menjauh bila sikap gadis itu tidak bersahabat.


Biasanya, ia takkan berani berbicara dengan


Tapi, dari semua murid tari—dan ia telah mengawasi


masing-masing dalam beberapa minggu—gadis inilah yang paling disukainya. Ia yang paling hati-hati, paling disiplin, paling serius di antara semuanya. Ia memahami semua instruksi.


Tikus itu suka menari lebih dari apa pun di dunia.


Menari membuatnya sangat bahagia. Ia tidak mengerti mengapa seseorang yang bisa menari seindah Clair-de-Lune bisa merasa begitu sedih.


Hidup, bagi para tikus, sangat sederhana.


Ia berdeham.


“Mademoiselle,” katanya lembut, “maaf, mengapa kau menangis?”


Clair-de-Lune segera berhenti menangis.

__ADS_1


Sesaat, Clair-de-Lune duduk terpaku.


Lalu, pelan-pelan, ia mengangkat kepala.


Ia menatap tikus itu lekat-lekat.


Tikus itu memutar bola matanya dan menepuk dahinya dengan cakarnya yang kecil. “Ah! Maafkan aku, kumohon. Mengapa aku begitu ceroboh, begitu lancang bertanya. Tolong izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Bonaventure. Artinya kesempatan baik, nasib baik! Nama ini meng-angkat


semangat dan meringankan beban di hati, sekalipun hanya aku yang mengakuinya. Ah, tapi berusaha hidup sesuai nama itu—itu dia! Aku, sebagaimana kaulihat, adalah tikus—tapi tikus penari… Memang mudah untuk lupa memperkenalkan diri pada orang yang serasa sudah dikenal baik—aku sudah sering menonton kau menari, Mademoiselle. Aku sangat mengagumi tarianmu—dan kurasa begitu pula Monsieur Dupoint!”


Clair-de-Lune membelalakan mata; menelan ludah; dan membungkukkan kepala, memberi hormat dengan bingung.


“Keberatankah kau, kalau aku menyanyikan lagu


pengantar tidur?” tikus itu menawarkan. “Ibuku dulu pandai sekali menyanyikan lagu pengantar tidur. Memang jarang orang tahu bahwa tikus bisa menyanyikan lagu pengantar tidur yang paling merdu di dunia… Lagu-lagu kami bertema laut.


Tahukah kau, aku dilahirkan di tepi laut, di pondok nelayan? Ranjangku, yang kutiduri bersama sembilan saudaraku—adalah kerang laut, bayangkan saja! Aku selalu membaui ikan—dan sadarkah kau, di sini selalu tercium bau ikan? Nyonya tua yang tinggal di nomor 12 itu memelihara kucing. Hanya dengan membaui ikan sekilas, atau sepotong kerang, semua kenangan masa kecilku akan kembali


teringat. Pendek kata, ketika tumbuh besar aku ingin melihat dunia! Menjadi artis! Jadi, aku melompat naik ke sebuah kereta dan akhirnya sampai di sini…”


Ia berhenti bicara, memerhatikan gadis itu.


“Ada apa?” tanyanya lembut, sementara Clair-de-Lune menatapnya tanpa daya. “Kau tidak tahu?”


Tiba-tiba kumisnya bergetar.


“Kau tidak tahu tentang rumah ini, kan? Di sini tidak


mungkin terjadi apa-apa. Sungguh tidak mungkin, selamanya tidak. Bagaimanapun buruk kelihatannya.”


Clair-de-Lune menatapnya keheranan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2