
“Betul, kan, ujar Bonaventure pada Clair-de-Lune, “biara ini dekat!” dan menengok pada bruder itu ia berkata, “Aku mengajak nona ini untuk bertemu dengan Bruder Inchmahome. Tolong katakan, ia ada di mana pagi ini?”
“Ada di ruang belajarnya, Saudara Tikus,” ujar pria itu, dan ia menurunkan tikus itu dengan hati-hati ke lantai, lalu—sebelum Clair-de-Lune sempat memberi hormat pada si biarawan—tikus itu berlari dengan lincah di sepanjang koridor, melewati jalan batu di mana ada sebuah patung Bunda Maria berkerudung biru, dan melewati beberapa jendela besar yang berhadapan dengan laut.
Tapi, biarawan tua itu tersenyum menatap punggung Clair-de-Lune, seakan-akan ia mengenalnya, atau sudah lama menunggu kedatangannya.
Di ujung koridor tampak pintu terbuka. Bonaventure bergegas masuk ke dalamnya. Clair-de-Lune mengikutinya dengan malu-malu; dan tahu-tahu ia sudah berada di ambang pintu sebuah ruangan batu indah yang dikelilingi rak-rak buku. Ada satu lagi pintu terbuka menuju kebun yang penuh bunga dan tetumbuhan, yang berakhir di jurang menuju laut. Di tengah-tengah ruangan itu, di meja batu, duduk dengan tenang dan diam seorang pria.
Pria ini kurus, tulangnya halus, rambutnya keriting dan sangat kelam, dan mata kelabunya separuh tersembunyi di balik sepasang kacamata. Batok kepalanya dicukur—karena ia biarawan—dan ia mengenakan jubah biarawan berbahan kasar warna cokelat, yang diikat di pinggang dengan seutas tambang, dan sandal cokelat.
Bentuk kepalanya bagus seperti telur ayam; garis rahangnya seolah dilukis oleh kuas pelukis, bersih dan halus, dagunya runcing—dan terbelah di tengah—dan dahinya sangat tinggi (seperti halnya sebutir telur) sehingga rambutnya seolah-olah tumbuh di atas gundukan yang merupakan batas atas dahinya, dan berjarak jauh dari matanya.
Rambutnya tumbuh menjadi dua gundukan bundar, membuat wajahnya yang berdagu runcing itu berbentuk hati. Kulitnya, yang agak kecokelatan dibakar matahari, memancarkan sinar hangat yang lembut, dan—sekalipun ia bercukup rapi—bagian bawah wajahnya dihiasi titik-titik hitam bekas cukuran janggutnya.
Hidungnya mancung dan kelihatan cerdas, mulutnya ramah, dan giginya putih besar-besar. Wajahnya menyenangkan, tampan, dan lembut. Tapi mungkin, ekspresinyalah yang paling mengagumkan; juga matanya.
Dibalik kejernihan mata kelabunya—bukan kelabu-biru, bukan kelabu-hijau, tapi kelabu air yang mengalir di atas batu—tersimpan sesuatu, karena mata itu seolah tersembunyi malu-malu dibalik kacamatanya. Dan ekspresi wajahnya…
__ADS_1
Saat ini ia sedang tekun mengamati batu berbentuk oval yang besar dan halus, yang terletak di atas meja. Ada buku besar terbuka di sisinya, dan halaman buku di bawah tangannya yang kurus itu sudah separuh terisi dengan tulisan tangannya yang kecil, keriting, dan halus; tapi saat ini ia telah berhenti menulis, dan menatap batu itu dengan ekspresi yang sangat tenang dan bahagia. Seakan-akan ia tengah menatap benda yang paling indah di dunia.
Inilah Bruder Inchmahome, yang matanya selalu tampak seakan-akan menatap benda yang paling indah di dunia.
Selain buku-buku, ruangan itu kosong, tapi batu kelabu yang melapisi dinding dan lantainya begitu indahnya, kebun di luar begitu menakjubkan, dan Bruder Inchmahome begitu tenang dan bahagia sehingga bagi Clair-de-Lune, ruangan itu adalah tempat terindah yang pernah dilihatnya.
Sementara itu, Bonaventure telah naik ke lengan Bruder Inchmahome dan menggelitikinya dengan kumisnya, sedikit di bawah telinganya.
Bruder Inchmahome tidak bergerak. Dengan mata masih menatap batu, ia berkata dengan suara lembut dan penuh humor, “Selamat pagi, Bonaventure.”
“Bruder Inchmahome,” kata tikus itu, “aku mengajak seseorang untuk bertemu denganmu. Ia penari andal—ia menari seindah tikus!—tapi ia sedang bersedih hati. Sungguh misterius, bukan? Tapi aku tahu Bruder—yang tertarik pada siapa pun dan apa pun, dan sangat bijak—bisa memecahkan persoalannya!”
Bolehkan aku tahu, mengapa?”
Clair-de-Lune balas menatap Bruder Inchmahome dengan takjub. Ia belum pernah ditatap seperti ini. Semua orang menatapnya seakan-akan sudah tahu apa yang akan mereka lihat—neneknya, Monsieur Dupoint, murid-murid tari lainnya, bahkan juga Bonaventure yang begitu ramah, lucu, dan baik hati.
Tapi Bruder Inchmahome menatapnya seakan-akan ia baru menemukan sebuah negeri yang baru, yang gunung dan sungai, pepohonan dan binatangnya, musim dan bahayanya, masih belum dikenalnya. Ia kelihatan sepenuhnya tertarik akan apa yang bakal ditemukannya, tak peduli apa itu. Dan tampaknya bagi Clair-de-Lune—yang, patut diingat, baru saja menemukan gunung, laut, dan langit di dalam bangunan itu—ini adalah hal paling menakjubkan sepanjang pagi itu.
__ADS_1
Dihadapkan dengan minat seperti itu, ia hampir tidak tahu harus berbuat apa. Tapi belum sempat ia merasa canggung Bruder Inchmahome sudah berkata lagi.
“Ah,” katanya lembut. “Kau sedih karena tidak bisa bicara.”
Mata Clair-de-Lune melebar saking takjub.
Bonaventure sedang melompat-lompat di atas meja dan mencicit-cicit. Ia begitu kegirangan sehingga aksen tikusnya jadi begitu nyaring dan sulit dipahami Clair-de-Lune.
“Ah, aku tikus yang bodoh sekali!” ujarnya. “Mengapa
tidak terpikir olehku! Mademoiselle ini tidak bisa bicara! Memang, ini suatu kemalangan yang luar biasa! Bahkan menari, tentunya, tidak bisa menandingi kemampuan bicara. Paling tidak, tidak terlalu bisa menandingi. Coba lihat, bukankah Bruder sangat bijaksana?” tambahnya dengan bangga pada Clair-de-Lune, setelah ia lebih tenang.
“Oh, itu bukan kebijaksanaan!” kata Bruder Inchmahome.
“Aku hanya mendengarkan. Dan kau, Bonaventure sayang,” tambahnya dengan tegas,
“sama sekali tidak bodoh, kuharap kau tahu itu!” Sambil berkata begitu, ia berpaling pada si tikus dengan penuh perhatian sehingga Clair-de-Lune merasa sedih, seakan-akan dirinya sudah dilupakan.
__ADS_1
Tapi sesaat kemudian Bruder sudah memerhatikan Clair-de-Lune lagi. “Mademoiselle, aku harus memberitahumu sesuatu. Tahukah kau, para biarawan di sini berusaha diam sebanyak mungkin, dan bahwa di malam hari—sejak akhir doa malam sampai awal doa pagi—keheningan itu hanya boleh diganggu bila ada keperluan yang sangat mendesak? Kami menyebutnya Keheningan Besar. Tahukah kau, keheningan itu bagus, karena keheningan membantu orang untuk mendengarkan. Keheningan bisa mengungkapkan lebih dari seribu kata.
Bersambung...