CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 20


__ADS_3

Bruder Inchmahome bangkit dengan pelan, dan duduk di sisi Clair-de-Lune di batu karang.


“Tapi,” kata Bruder akhirnya, dengan wajah yang sangat serius, pikiran-pikirannya seolah tertulis di wajahnya dengan jelas dan manis, “kalau kau tidak bicara, tak ada orang yang akan sungguh-sungguh menyukaimu."


"Seperti katamu, tak ada orang yang akan sungguh-sungguh suka, atau benci, apa yang tidak dikenalnya. Kurasa, yang jadi masalah adalah, apakah kau merasa perubahan ini cukup berharga untuk ditempuh, karena kau bisa saja kalah. Tapi ini pertaruhan yang agung, Clair-de-Lune: pertaruhan yang perkasa! Kurasa lebih baik pernah mencinta tapi kehilangan apa yang kita cintai, seperti yang dikatakan Tennyson, kan?” Setelah berkata begitu Bruder Inchmahome terdiam sejenak, matanya menerawang. “Tapi itu,” lanjutnya kemudian, “adalah keputusan yang harus kauambil sendiri.”


“Dan, Clair-de-Lune,” tambahnya, “sementara kau mengambil keputusan,”—matanya berbinar penuh humor—“jangan lupa bahwa setiap orang yang selama ini telah kauajak bicara menyukaimu. Kuanggap itu suatu prestasi yang gemilang!”


Clair-de-Lune tidak tahan untuk tidak tersenyum mendengarnya, sebab ia tahu ia baru saja berbicara dengan satu orang, yaitu Bruder Inchmahome sendiri.


“Tapi aku juga punya satu pertanyaan untukmu,” lanjut Bruder. “Apakah sebutir benih yang masih terbenam di dalam tanah bertanya pada dirinya sendiri apakah orang-orang kelak akan menyukainya ketika ia muncul di bumi dan berbunga? Dan haruskah ia bertanya begitu?”


Clair-de-Lune menatap kolam batu itu, sibuk berpikir.


Ia memikirkan gadis-gadis lain di kelasnya, dan bagaimana mereka membencinya.


Ia membayangkan gambar dari kapur itu—apakah aku sejelek itu di mata mereka?


Pikirnya—dan tulisan di bawah gambar itu. Ia mendengar kata itu diucapkan,


“Sombong!” Lalu matanya basah karena ia memikirkan hal lain.


Oh, Bruder Inchmahome, katanya dengan suara anak burung yang merintih, kalau seseorang berbicara, ia mungkin melukai orang lain! Kalau aku bicara dan melukai orang lain—bagaimana?

__ADS_1


Bruder Inchmahome menoleh dan menatapnya dengan ramah, dan berkata dengan sangat serius.


“Tapi melalui pembicaraan, kita juga bisa menghibur orang lain, Clair-de-Lune. Kalau kau tidak pernah bicara, kau juga tidak bisa menolong orang lain melalui pembicaraan.”


Clair-de-Lune menatapnya dengan takjub. Mungkinkah


ia-- Clair-de-Lune dan bukan siapa-siapa—bisa menolong orang lain?


“Clair-de-Lune,” kata Bruder Inchmahome, “sudahkah kauputuskan untuk melanjutkan pelajaranmu?”


Clair-de-Lune menatapnya dengan khidmat; kemudian mengangguk pelan.


“Kalau begitu bolehkah aku memberimu tugas lain Kurasa masih ada beberapa alasan lain mengapa kau tidak bisa bicara. Beritahu aku besok.”


Hari Minggu Clair-de-Lune tidak menari. Hari Minggu ia pergi ke gereja. Pada hari Minggu itu terjadi sesuatu yang telah sekian lama dicemaskan neneknya. Clair-de-Lune mendengar sesuatu yang subversif di gereja.


Pagi itu, sebagaimana biasa Clair-de-Lune mengenakan busana terbaiknya ke gereja. Semua pakaian Clair-de-Lune merupakan daur ulang pakaian bekas ibunya. La Lune memiliki banyak pakaian indah pada masa jayanya, dan nenek Clair-de-Lune merawatnya baik-baik. Ia belum pernah membeli sesuatu yang baru bagi Clair-de-Lune sejak bayi. Dan ia berharap pakaian-pakaian itu—yang disimpannya dengan baik di dalam peti—akan bertahan sampai Clair-de-Lune berusia lebih dari enam belas tahun dan dapat mencari uang sebagai penari. Jadi, Clair-de-Lune selalu berpakaian layak—sekalipun, kadang-kadang, agak aneh.


Busana latihan Clair-de-Lune dibuat dari gaun malam ibunya. Pakaian siangnya yang kelabu bergaris-garis dengan ikat pinggang merah muda dibuat dari bekas pakaian siang La Lune yang serupa. Ada juga pakaian-pakaian—gaun malam dan sebagainya—yang tidak bisa dimanfaatkan karena bahannya terlalu mewah. Nenek Clair-de-Lune menyimpan semuanya, karena pikirnya kalau suatu ketika kehabisan uang, ia masih bisa menjualnya. Paling tidak hidup mereka bertahan sedikit lebih lama. Namun, sampai saat ini, ia belum sampai harus menjual pakaian bekas La Lune.


Clair-de-Lune selalu senang memakai pakaian bekas ibunya, karena dengan begitu ia merasa lebih dekat dengannya. Ia begitu mengagumi ibunya sehingga rasanya ia tak cukup berharga menjadi anaknya. Tapi bila diingatnya ia memakai pakaiannya, ia merasa adanya suatu ikatan dengan ibunya, seakan-akan ibunya masih hidup; bahkan ia merasa di antara mereka berdua ada kemiripan. Uniknya, dalam pikiran Clair-de-Lune, rasanya seakan-akan La Lune terdiri atas dua orang—Penari Sempurna yang dibacanya dalam kliping-kliping surat kabar dan cerita-cerita neneknya, dan wanita yang dulu memakai pakaian yang, bahkan setelah lama mati, masih bisa dipermak dan menghangatkan tubuh anaknya.


Ada satu pakaian yang membuat Clair-de-Lune merasanpaling dekat dengan ibunya. Pakaian itulah yang hari ini dipakainya ke gereja.

__ADS_1


Gaun ini berwarna ungu, dengan ikat pinggang besar hijau zamrud dan kerah renda serta manset. Ia juga punya topi yang serasi, berpinggiran renda putih, dengan pita hijau yang diikat di bawah dagunya, dan sarung tangan mungil berwarna perak kehijau-hijauan. Itulah setelannya yang paling cantik, walaupun mungkin tidak memenuhi selera orang lain. Tapi bila memakainya, Clair-de-Lune, merasa seakan-akan berada di tengah-tengah sekelompok bunga violet—dan ibunya pun berada di sana bersamanya.


Gaun ini mungkin dulunya gaun favorit ibunya pula.


Tapi tentang hal itu, neneknya belum pernah memberitahu Clair-de-Lune.


Pada hari Minggu itu, ketika Clair-de-Lune sedang mengikat pita topinya dan menatap bayangannya di cermin kuno yang dipakainya bersama neneknya, tiba-tiba muncul pikiran di kepalanya.


Dulu, tentu ibunya pernah seusia Clair-de-Lune. La Lune tentunya pernah berusia dua belas tahun.


Selama ia terbiasa menganggap ibunya hanya sebagai penari dewasa; karena hanya bagian itulah dari hidup ibunya yang pernah diceritakan neneknya kepadanya. Ini bukan untuk pertama kalinya Clair-de-Lune memikirkan ibunya sebagai seorang anak. Tapi entah mengapa, belum pernah pikiran seperti itu muncul sedemikian tajamnya.


Apakah tingginya sama dengan Clair-de-Lune—atau lebih tinggi?


Apakah kulitnya sepucat dia—atau lebih pucat?


Apakah ia memiliki teman sebaik Bonaventure, atau Bruder Inchmahome?


Tapi kemudian Clair-de-Lune mendengar suara itu lagi, suara yang teredam lapis demi lapis bahan yang tidak dikenalnya, mencoba memberitahunya sesuatu. Ia hampir saja menghentikannya, sebagaimana biasanya, dengan cara sesegera mungkin.


Tapi hari ini ia merasa dirinya begitu kuat, begitu berani dan avonturir sehingga ia berhenti berpikir sejenak, tetap menatap cermin dan kembali ke pikiran semula.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2