CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 16


__ADS_3

Tapi, bagaimana menjelaskannya pada Bruder bahwa itu suatu yang menakutkan? Bagi seorang penari, ia tahu, seharusnya tak ada sesuatu pun yang lebih berarti daripada Tari. Tak sesuatu pun.


Aku penari jahat, katanya dengan suara lembut burung camar.


Lalu ia menatap Bruder, mendesah berat, dan merasa lelah. Karena ia tahu ada kejahatan lain, gua-gua, lembah-lembah gelap, dan dasar laut yang misterius di dalam dirinya. Ia tidak percaya akan dirinya. Ia merasa dirinya seperti peti yang belum dibuka seorang pun. Kalau ia hati-hati dan menutup diri, mungkin itu tidak membahayakan siapa pun.


Tapi, kalau ia membuka diri?


Gua-gua! Ujarnya sedih. Lembah kelam! Dasar


lautan!


“Clair-de-Lune!” kata Bruder Inchmahome.


Dan Clair-de-Lune menengadah menatapnya, terkejut.


Karena ia mendengar nada baru dalam suara Bruder, dan nada baru ini menghentikan pikiran sedihnya. Sekarang ia melupakan kesedihannya


dan duduk menatap Bruder dengan takjub.


“Clair-de-Lune,” ujar Bruder Inchmahome—dan matanya begitu ramah, begitu tenang, dan begitu seriusnya! Dan suaranya begitu hangat, lembut, dan yakinnya—“Kau tidak jahat. Di dalam hatimu, kau baik. Penuh dengan gunung dan lembah, laut dan gurun, langit luas dan dasar laut, yang berisi


kebaikan! Kita semua bisa berbuat kesalahan… kadang-kadang kesalahan besar. Dan kadang-kadang kita tidak tahu apa yang tidak perlu kita ucapkan. Tapi kau diberi jiwa—dan diberi suara. Berbicara—menyebutkan yang benar tentang dirimu,


apa yang kaupikirkan dan kaurasakan—tidak salah. Dan sama sekali tidak ada kejahatan yang mungkin keluar dengan berbicara seperti itu.”


Clair-de-Lune menatapnya.


Sama sekali tidak? Tanyanya dengan sinar matanya.


Bruder Inchmahome menggeleng dengan tegas.


“Sama sekali tidak,” katanya.


Clair-de-Lune menunduk menatap rumput, wajahnya tegang karena sibuk berpikir. Betapa menakjubkannya orang ini! Mungkinkah apa yang


dikatakannya itu benar? Tapi, pikirnya, tapi…


“Tapi sekarang,” ujar Bruder Inchmahome, “aku harus


memberimu tugas yang serupa. Segala yang kaukatakan padaku tadi bukan satu-satunya alasan mengapa kau tidak bisa bicara, Clair-de-Lune. Masih ada alasan lain. Untuk tugas besok, pikirkan alasan lain.”


# # #


Dalam lubang yang nyaman—sekalipun kadang-kadang ribut—di belakang papan pinggiran dalam pojok gelap percetakan tempat Bonaventure menyuruh poster-posternya di cetak, Leonard, si tikus yang mengelola percetakan itu sedang berdiskusi dengan istrinya.


“Bonaventure itu baik—cukup mengagumkan. Maksudku, aku sendiri tidak melihat masa depan sekolah tari itu, tapi setiap tikus harus punya mimpi—seperti kau dan aku, sayangku, ketika mencetak Kumpulan Karya Shakespeare untuk Tikus—dan aku mengagumi semangat dan ketekunannya. Sayang tak banyak tikus seperti dirinya. Tapi, mengenai


Juliet-ku…”

__ADS_1


“Mengenai Juliet…” ujar istrinya.


“Ia masih begitu muda,” kata Leonard.


“Memang,” kata istrinya.


“Dan menari balet tidak penting bagi pendidikannya—bukankah ia berbakat memeriksa naskah.”


“Memang tidak penting,” istrinya mengiyakan.


“Dan,” Leonard menyimpulkan, “ada Kucing di dalam


bangunan itu.”


“Cukuplah sudah,” istrinya menegaskan.


“Kurasa kita harus melarang,” kata Leonard. “Coba


tolong panggil dia, Virginia.”


“Juliet, Sayang?” panggil Virginia.


Juliet muncul dari sudut, kumisnya bergerak-gerak,


mengharapkan sesuatu. Ia seekor tikus kelabu kecil, tidak lebih besar dari bayi tikus, dengan mata besar yang ekspresif dan ekor yang sangat panjang dan


anggun.


“Ayahmu ingin mengatakan sesuatu padamu, sayangku.”


Juliet menatap ayahnya dengan penuh harap.


“Juliet,” Leonard memulai, “aku dan ibumu telah


memutuskan tidak mengizinkanmu ikut kursus menari dengan Monsieur Bonaventure.”


“Oh,” kata Juliet dengan suara pelan.


“Kau masih sangat muda,” lanjut ayahnya, “dan ada Kucing di bangunan itu. Aku dan ibumu tumbuh bersama Kucing, tapi kau belum pernah berhadapan dengan seekor kucing pun. Untunglah tidak ada kucing di percetakan ini. Menurut kami tidak bijaksana membiarkan tikus semuda kau menempuh bahaya hanya untuk menari di atas ujung jari kakimu. Jangan kecewa. Pasti akan ada


kesempatan lain. Dan tahukah kau, masa depanmu terbentang lebar? Aku mungkin mengizinkanmu memeriksa naskah Henry VI Bagian Tiga, kalau kau berjanji akan hati-hati memeriksanya.”


Tapi, takkan ada kesempatan lain untuk belajar balet, dan Juliet tahu itu. Ia menghapus air mata yang jatuh ke bulunya, dan menggumam, “Ya, Papa,” dan masuk kembali ke lubang di sudut ruang yang


merupakan kamar tidurnya.


Di situ ia menyimpan selembar poster Bonaventure yang dipasangnya di dinding di belakang ranjangnya, yang terbuat dari potongan-potongan kain


yang hangat dan lembut, bulu-bulu burung, robekan surat kabar, dan kapas.

__ADS_1


Sekarang ia menatap poster itu melalui matanya yang berairm dan huruf-huruf tegas yang digunakan Bonaventure, yang tadinya menjanjikan hidup baru baginya, kini tampak buram.


Juliet ingin sekali bisa menari! Kabar tentang sekolah tari Bonaventure terasa bagaikan sesuatu yang begitu menjanjikan, sesuatu yang belum pernah dialaminya.


Dan sekarang ia lebih kecewa daripada yang pernah


dialaminya.


Ia tidak pernah merasa benar-benar tertarik pada


bisnis percetakan, sekalipun pekerjaan itu cukup terhormat. Juliet suka akan keindahan dan hal-hal yang berbau romantis, tapi orangtuanya, sekalipun baik, hanya mementingkan kecerdasan. Mereka ingin tikus-tikus memiliki pengetahuan luas, berwawasan, dan banyak membaca, dan mereka mendedikasikan hidup mereka demi tujuan ini. Bersambung…


Juliet, sekalipun masih kanak-kanak, tidak begitu


ingin membaca Shakespeare. Ia lebih suka menari dengan Bonaventure.


Tapi ia seekor tikus yang lembut dan tabah, yang


menghormati orangtuanya. Mereka memang tikus-tikus terhormat. Jadi, ia tidak menangis—sekalipun air mata bercucuran dan kerongkongannya terasa begitu pedih dan sakit. Ia hanya duduk di ranjangnya sambil memeluk kapasnya yang paling lembut, dan mencoba memikirkan masalahnya sedemikian rupa agar terasa lebih mudah.


“Mungkin,” pikirnya, “kalau aku menjadi murid, hal itu


akan menghalangi tikus lain untuk bergabung dalam kelas itu, padahal mereka lebih membutuhkan pelajaran tari daripada aku. Mungkin, kalau aku tahu


segalanya, aku akan tahu ini bukan yang terbaik bagiku.”


Tapi, sebagai tikus-tikus intelek, Leonard dan


Virginia masih mendiskusikan keputusan mereka. Salah satu keunikan mereka sebagai orangtua adalah, mereka bisa mencari sebanyak mungkin argumentasi untuk menyetujui suatu saran, sebanyak argumentasi untuk menentangnya.


“Ia sangat kecewa, ya?” kata Leonard pada istrinya.


“Aku tidak menyadari, menari itu benar-benar penting baginya,” Virginia mengiyakan.


“Lucu ya, hal-hal yang disukainya? Oh, tapi kupikir,


tentunya terserah dia.”


“Tahukah kau, Leonard, Kucing adalah kenyataan hidup.”


“Kenyataan yang paling mendasar!” Leonard menyetujui istrinya.


“Dan pada akhirnya ia harus tahu cara menghadapinya.”


“Memang benar. Ia harus belajar waspada. Dan gesit bergerak dengan kakinya.”


“Dan ia bukan tikus yang lamban.”


“Memang tidak.”

__ADS_1


Mereka terdiam sejenak.


Bersambung…


__ADS_2