
Kalau cuaca dingin ia akan memakai pelisse wol milik ibunya untuk pergi dan pulang dari kelas. Untunglah, karena sekolah balet itu berada di bangunan yang sama, ia tidak perlu pergi ke luar.
Sarapan pagi sama saja: roti, seoles cokelat, dan kopi susu yang dihangatkan di panci penggorengan di atas kompor kecil bulat. Makanan mereka tak pernah mencukupi, tak heran kalau Clair-de-Lune dan neneknya begitu kurus.
“Duduk tegak, Nak,” kata nenek Clair-de-Lune. “Ingat,
punggung jangan pernah menempel di kursi.”
Lalu tibalah waktu untuk berangkat.
Setiap pagi, Clair-de-Lune menuruni enam deret anak tangga—dua deret setiap lantai—dan bertanya-tanya dalam hati sementara melewati setiap pintu, ada apa di balik pintu itu. Di lantai empat tinggal seorang penyanyi opera—penyanyi bariton—dan sering kali, sekalipun tidak pagi-pagi sekali, Clair-de-Lune mendengarnya berlatih bernyanyi. Memang banyak di antara penghuni bangunan itu berprofesi sebagai aktor, penari, dan penyanyi; tapi bangunan itu
besar dan rumit, dan sepak terjang kebanyakan penghuni di situ merupakan misteri bagi Clair-de-Lune.
Seberapa misteriusnya, ia masih perlu mencari tahu.
Sepanjang jalan di keempat deretan anak tangga,
semakin dekat semakin jelas, Clair-de-Lune mendengar permainan sang pemain piano di kelas baletnya. (Pianis itu memakai sarung tangan kelabu dari wol dengan ujung jari digunting, karena tangannya selalu kedinginan). Tergantung musimnya, dan kalau hari cerah, tampak bercak-bercak cahaya matahari di jendela
yang berdebu di antara deretan anak tangga. Di salah satu jendela ini, seakan-akan sengaja agar bisa dikagumi pelukis potret (atau kelihatannya
begitu), duduklah Minette, kucing milik Mrs Costello tua, yang segera mendengkur girang bila di belai, sambil memejamkan matanya yang hijau dengan
penuh terima kasih. Lalu, ketika Clair-de-Lune memutari sudut dan mulai turun ke anak tangga terakhir, tibalah ia di pintu ganda besar dengan tulisan di dinding sebelahnya:
...AKADEMI...
...TARI MONSIEUR DUPOINT...
...UNTUK...
__ADS_1
...ANAK-ANAK PARA ARTIS...
...YANG...
...INGIN MENGIKUTI...
...PROFESI...
...ORANGTUA MEREKA...
Anak-anak perempuan dan laki-laki berkumpul di situ menjelang latihan pagi—gadis-gadis memakai stoking merah jambu dan gaun latihan putih, anak laki-laki memakai celana hitam sebetis, ikat pinggang hitam, dan rompi pendek-putih terbuat dari bahan muslin—dan selalu, pada saat-saat seperti
ini hati Clair-de-Lune tercekat. Ia menguatkan tekad untuk meneruskan langkahnya ke arah sekolah, sebab sesungguhnya, besar sekali keinginannya untuk berbalik dan kembali menaiki anak tangga. Tapi, ia berjalan terus. Mula-mula agak pelan, lalu cepat, menundukkan kepala, dan menyelinap di antara anak-anak itu, lalu masuk ke ambang pintu.
“Sombong,” salah satu gadis—biasanya Milly Twinkenham yang berambut merah cerah dan bermata cokelat kacang—menggumam. “Tidak mau
bicara mentang-mentang ibunya La Lune…”
Di kelas tari itu, Clair-de-Lune tidak memiliki
Tapi, setelah masuk ke kelas, segalanya terasa lebih
mudah.
Clair-de-Lune tidak suka datang ke kelas pagi-pagi,
sementara semua orang masih mengobrol, karena, tentu saja, ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia tidak bisa ikut mengobrol. Ia selalu berusaha mencapai
pintu tepat pada saat Monsiuer Dupoint menyuruh murid-muridnya berkumpul—sejak saat itu suasana akan berubah menjadi sunyi. Lalu, berdiam diri seperti juga yang lainnya, ia akan beranjak ke barre—pegangan tangan—dan menunggu, dalam
posisi pertama, Monsiuer Dupoint memulai latihan.
__ADS_1
“Tolong perhatikan, Mesdames, Messiuers,” katanya.
“Kita akan memulai, tentunya dengan plié! Posisi pertama. Berdiri tegak. Pinggul ke belakang. Perut dikempiskan. Kepala tegak. And…”
Monsieur Dupoint bertubuh kurus dan kecil,
kelihatannya ia hanya hidup dari teh obat, yang mengepul dari cangkirnya sepanjang waktu latihan dan mengisi udara dengan harum dedaunan yang
samar-samar. Ia sering berkelakuan seolah-olah kepalanya sakit; seakan-akan segalanya begitu memusingkan dirinya, dan dunia ini sungguh-sungguh menyebalkan. Tapi, begitu anak-anak mulai menari, suasana hatinya mulai
membaik. Mula-mula ia bersungut-sungut, tapi makin lama makin ceria, seperti sudah lupa akan apa yang sedang memusingkannya. Sekalipun ia mencoba tidak memperlihatkannya, sesungguhnya ia sangat bersimpati pada Clair-de-Lune, karena
ia pernah menari bersama La Lune, dan setiap hari ia melihat sedikit gerakan atau sikap kepala dan lengan yang mengingatkannya pada La Lune. Diam-diam ia sering mencuri pandang penuh kebanggaan ke arah Clair-de-Lune; karena ia yakin
suatu hari Clair-de-Lune akan menjadi penari besar seperti ibu dan neneknya, dan dirinya akan dikenal orang sebagai gurunya.
Dan memang, Clair-de-Lune suka menari. Ia menyukai ruangan berlantai kayu yang panjang dan berdebu itu, yang dindingnya dilapisi cermin; ia suka melihat barre yang memanjang di kedua sisi, yang terasa nyaman dalam genggamannya. Ia suka suara Monsieur Dupoint yang tegas sementara menghitung waktu atau menghentikan musik untuk menegur mereka, lalu mendemonstrasikan, dengan indahnya, bagaimana suatu gerakan harus dilakukan. Ia suka bergerak, menari, sampai anggota tubuhnya yang kecil terasa hangat dan lentur dan wajahnya bersinar. Tapi di atas segala-galanya, Clair-de-Lune suka menari karena itulah cara lain untuk berbicara, sekalipun ia bisu. Benar, ia tidak bisa bicara dengan bibir, lidah, dan mulutnya. Tapi ketika sedang menari, lengan dan kakinya, juga tubuh dan kepalanya yang tegak, mampu berbicara. Ia merasa sedikit beban di hatinya, beban berupa hal-hal yang tidak terucapkan,terangkat.
Ah, tapi apalah artinya menari tanpa musik? Kalau memang diperbolehkan, Clair-de-Lune lebih mencintai musik daripada tari—karena ia tahu
tanpa musik, yang lain-lainnya itu tidak akan terjadi.
Pianis sekolah itu adalah murid sekolah musik yang
miskin, wajahnya kurus dan lesu, dan matanya kelam. Ia bermain dengan sabar sepanjang waktu latihan, berusaha menjaga waktu dengan tepat, berhenti dan memulai sesuai instruksi Monsieur Dupoint. Tapi setelah pelajaran usai, ia biasa memainkan musik indah semata-mata karena rasa sukanya, sementara setiap anak mengumpulkan barang bawaan masing-masing, berpamitan, dan pergi, dan Clair-de-Lune berlambat-lambat berkemas tanpa diketahui orang, hanya untuk mendengarkan musik indah itu sampai selesai.
Pada suatu pagi, seusai kelas, ketika setiap anak
perempuan melakukan gerakan révérence dan setiap anak laki-laki melakukan gerakan salut, dan Monsieur Dupoint mengizinkan mereka pulang, Mr Sparrow yang muda, si pianis, mulai memainkan lagu paling indah yang pernah didengar Clair-de-Lune.
Dan karena itu, sesuatu terjadi.
__ADS_1
Bahkan karena itu pula, banyak hal terjadi.
Bersambung…