CLAIR DE LUNE

CLAIR DE LUNE
Part 22


__ADS_3

Misa berlanjut, tapi Clair-de-Lune tidak menyimaknya lagi. Umat berdoa dan bernyanyi, ada khotbah dan persembahan, paduan suara menyanyikan beberapa lagu, umat diberkati dan mulai beranjak ke luar ke sinar matahari lagi.


Tapi sepanjang kebaktian itu ia hanya berpikir: tak ada yang lebih penting daripada kasih. Tidak ada. Maka…


Kasih lebih penting daripada Tari.


Benarkah?


Clair-de-Lune berdiri di barisannya, tanpa ingat ia berada di mana. Samar-samar, dilihatnya Mr Kirk yang sangat jangkung itu melewatinya ketika berjalan ke luar gereja; tanpa sadar Clair-de-Lune tersenyum padanya—agak canggung karena ia tidak terbiasa tersenyum—dan, sambil mengangkat alisnya, Mr Kirk balas tersenyum dan seluruh wajahnya seketika berubah.


Clair-de-Lune belum pernah mendengar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada Tari. Tadinya ia mengira Tari adalah hal yang terpenting. Ia pikir dirinya bersalah karena menginginkan sesuatu lebih dari menari. Mungkinkah ia benar?


Miss Blossom lewat, dan Clair-de-Lune tersenyum canggung. Miss Blossom membuka mulutnya dengan terkejut, lalu mengedipkan sebelah mata padanya dengan mimik gembira.


Tapi itu berarti neneknya keliru! Paling tidak, kelihatannya Gereja tidak sependapat dengan neneknya. Ini suatu kemungkinan yang tak pernah dipikirkan Clair-de-Lune sebelumnya. Ia selalu menganggap neneknya dan Gereja sepenuhnya sepakat.


Tapi lebih buruk lagi, hal ini bisa berarti ibunya keliru, dan Clair-de-Lune tidak kuasa memikirkannya. Karena tentu saja, menari bagi ibunya adalah sesuatu yang paling penting di dunia.


Clair-de-Lune berjalan terseok-seok ke luar gereja—berjabatan tangan dengan Pastor—hampir bertabrakan dengan Mrs Costello—tersenyum minta maaf—menerima balasan senyum yang gugup—berjalan menuruni tangga dan bergegas pulang dengan hati bingung.


Tentu saja artinya kasih lebih penting, bahkan daripada berbicara, karena, pikir Clair-de-Lune, kalau aku berbicara dengan lidah manusia dan malaikat, tapi tidak memiliki kasih, aku hanyalah gong yang berdentang atau canang yang bergemerincing.


Ah, tapi itu benar!


Untuk pertama kalinya Clair-de-Lune memahami bahwa berbicara hanyalah sarana agar ia bisa menunjukkan kasih.

__ADS_1


Akhirnya, Clair-de-Lune mendengar hal yang subversif di gereja yang selama ini ditakutkan neneknya.


Tapi hari masih pagi.


# # #


“Tentu saja, mungkin tak ada satu pun yang muncul. Tak ada satu pun!” Bonaventure tertawa, suaranya kecil seperti dering bel. Ia berbicara dengan sangat cepat, seperti biasanya kalau sedang gugup.


“Sudah ada yang bertanya-tanya, bahkan mendaftar, tapi… Mungkin aku salah karena memulai kursus pada hari Minggu. Bukankah menari adalah kerja keras—dan sangat serius. Tapi rasanya baik kalau berkumpul untuk pertama kalinya pada hari ketika sekolah sepi, tidak ada manusia. Dan Bruder Inchmahome sudah setuju. Katanya, hari Sabat diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat—dan sama sekali bukan untuk tikus. Kau akan datang kan, untuk meninjau hari pertama kelas pertama ini? Itu pun kalau ada kelas pertama. Karier mengajarku mungkin akan berakhir bahkan sebelum dimulai…”


Ia tertawa lagi, agak histeris, lalu berubah jadi serius.


“Oh, Mademoiselle Clair-de-Lune, apakah menurutmu ini suatu kesalahan? Apakah menurutmu aku akan sanggup?”


Kasih! Pikirnya.


Kasih!


Tentu saja kau sanggup, katanya dengan suara anak burung.


Tapi tentu saja, sekalipun Bonaventure dapat mendengarnya, ia tidak mengerti apa yang dikatakannya.


Namun, Bonaventure sudah mulai mengumpulkan cukup keberanian dari dalam dirinya sendiri.


“Mademoiselle,” katanya memulai, sambil mengangkat sedikit dagunya. “Aku keliru telah mencemaskan semua ini. Sebab kalaupun hanya ada satu murid saja—sekalipun hanya satu—aku akan menganggapnya sebagai pertanda bahwa aku harus melanjutkan kursus ini. Agar bisa mengajar, aku hanya membutuhkan satu murid. Dan kalau aku mengajar satu murid, seluruh karierku akan cukup berharga!

__ADS_1


“Ambil saja contohnya, Bruder Inchmahome. Ia sendiri hanya mengajar satu murid untuk berbicara. Dan itu, Mademoiselle, bagiku adalah hal yang paling berharga yang pernah kusaksikan.”


Clair-de-Lune tidak tahan untuk tidak menciumnya karena telah berkata begitu. Lalu, tepat di dalam ruangan kosong kelas Monsieur Dupoint setelah memeluknya lebih erat lagi, ia meletakkan Bonaventure dengan lembut di lantai. Tikus itu melambai hangat padanya, bangkit lalu berjalan dengan tegap dan penuh percaya diri ke dalam lubang tikusnya.


Lalu Clair-de-Lune mendengar sesuatu yang jenaka, sesuatu yang semula tidak dikenalinya.


Ia mencoba membayangkan apa itu. Lalu ia menyadarinya. Itu adalah bunyi tepukan tangan dari sekian banyak tikus-tikus.


Bonaventure segera muncul kembali di ambang pintu kelasnya. Matanya bersinar penuh perasaan. Ia memberi isyarat, dan kembali ke dalam. Clair-de-Lune menelungkup di lantai kayu, berharap tidak merusak gaunnya. Ketika ia melongok ke dalam lubang tikus itu, dilihatnya pemandangan yang sangat menakjubkan.


Di barre sepanjang dinding kelas Bonaventure berdirilah, bukan satu, tapi dua puluh empat tikus penari. Dua puluh empat pasang mata cemerlang menatap Clair-de-Lune. Lalu dua puluh empat pasang tangan tikus bertepuk tangan lagi.


Ada Margot, putih bak salju dan mengenakan pita merah muda di lehernya. Ada Rudolph, yang sedang membetulkan letak kacamata di hidungnya. Ada Juliet, yang (syukurlah) telah tiba dengan selamat (sekalipun orangtuanya menghitung menit-menit sampai ia kembali pulang) dan yang kelihatan lebih kecil, lebih kelabu, dan lebih pemalu dari siapa pun. Dan di sana, di setiap tempat di barre, ada tikus dari bengkel tukang sepatu dan tikus dari bangunan Duke of Wellington, tikus sedih, tikus ceria, dan tikus dari rumah tukang jahit (yang merasa frustasi karena telah mengenakan kostum yang salah).


Tapi, tikus berbulu sutra hitam dan berjiwa indah masih berada di jalan, berjalan dengan mantap menuju tempat tujuannya, agak lapar tapi penuh harapan.


“Ini,” Bonaventure mengumumkan, “adalah Pelindung kita, penari andal Mademoiselle Clair-de-Lune, yang dengan baik hati telah menunjukkan minat dan memberi dukungannya kepada kita. Ia berada di sini sekarang untuk meninjau kelas kita yang pertama. Sekarang, Mesdames, Messieurs, attention, s’il vous plaît—mohon perhatikan.


Kita akan memulai, tentu saja dengan gerakan plié. Posisi pertama—seperti ini! Tegakkan tubuh—seperti ini! Ekor dimasukkan! Perut dikempiskan. Kepala tegak! And…”


Dan begitulah, Bonaventure memulai kariernya mengajar.


Clair-de-Lune sudah menyaksikan kelas tikus itu sekitar dua puluh menit ketika Monsieur Dupoint masuk. Ia begitu terpesona (karena memang boleh dikatakan tidak ada yang lebih menarik daripada menonton satu kelas tari yang terdiri atas tikus-tikus) sehingga tidak menyadari kehadiran pelatihnya sampai ia hampir memasuki ruangan. Pintu berderik di belakangnya. Tikus-tikus berhenti menari.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2