
Tapi kegelapan itu serasa terangkat oleh kehadiran Bruder Inchmahome.
“Arahnya ke mana?” katanya, dan Clair-de-Lune membimbingnya ke anak tangga menuju ruang bawah atap—dan kali ini perhatiannya begitu teralih oleh kehadiran Bruder Inchmahome sehingga ia tidak sadar berapa deret anak tangga yang telah didakinya.
Tapi ketika ia sampai di depan ruang bawah atap dan melihat jendela yang ada di situ, ia menyadari bahwa waktu belum berlalu sedikitpun—jadi neneknya tentu masih tertidur. Bagaimana mungkin Bruder minta izin padanya? Ia berpaling dan menatapnya penuh tanda tanya, dan dilihatnya wajah Bruder seperti menerawang.
“Berapa mudahnya melupakan,” katanya lembut, “dunia di luar sini…”
Lalu ia sadar anak itu mencemaskan neneknya. “Ia belum bangun?” katanya separuh linglung.
“Tentu… Tidak apa… Aku akan menunggu di sini sampai ia siap bertemu denganku.”
Bruder terdiam, dan melihat berkeliling.
“Sekarang kemampuanku mendengarkan akan diuji,” gumamnya tak lama kemudian. “Ya, memang sulit mendengarkan segalanya, dan membiarkan segalanya, sekalipun yang menyakitkan, sebagaimana apa adanya…
Kau tidur saja lagi, Clair-de-Lune,” tambahnya dengan ramah. “Pagi ini kau telah bekerja keras, dan perlu beristirahat.”
Clair-de-Lune ragu-ragu. Benarkah ia harus membiarkan Bruder menunggu di sini selama satu jam, bahkan mungkin lebih? Tapi ia tahu, sekarang pun Bruder mulai mendengarkan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa didengarnya. Ia mendesah. Bruder telah melupakannya. Ia membuka pintu—lalu
menutupnya lagi pelan-pelan. Ia menarik lengan baju Bruder untuk menarik perhatiannya. Ia menatap matanya lekat-lekat lalu melakukan gerakan révérence yang jauh lebih indah lagi daripada kemarin (karena salam dari penari bisa saja
sangat rumit). Terima kasih, Bruder Inchmahome.
Bruder tersenyum, dan balas memberi salam dengan menganggukkan kepala. Terima kasih kembali, Clair-de-Lune.
Lalu, seakan dadanya pecah karena bahagia, gadis ini masuk ke ruang bawah atap.
Clair-de-Lune tidak percaya ia bisa terlelap dalam
keadaan seperti itu. Tapi ia begitu lelah; dan ia merasa begitu aman karena tahu Bruder Inchmahome menunggunya di luar pintu—dan entah mengapa, begitu yakin kehadirannya diterima—sehingga tak lama kemudian, dalam fajar kelabu yang dingin, Clair-de-Lune jatuh tertidur lagi. Lelap dan bahagia.
# # #
Ketika Clair-de-Lune bangun, ia telah lupa semua
peristiwa yang terjadi pagi-pagi buta tadi.
__ADS_1
“Bangun, Nak! Cepat berpakaian! Kita bangun kesiangan dan kau tidak boleh terlambat. Seorang penari tidak boleh terlambat.”
Biasanya, Clair-de-Lune kesal bila dibangunkan seperti itu. Tapi, pagi ini ia begitu gembira sehingga segera melompat dari ranjang, berganti pakaian dan sarapan secepat mungkin, dengan tawa geli bergejolak di dalam dirinya yang hampir saja—tapi tidak sampai—keluar menjadi suara. Rasanya
geli bisa bangun kesiangan. Rasanya lucu melihat neneknya merasa kesal hanya karena ketiduran.
“Luruskan punggungmu, Nak—kakimu ada di mana?—dan (astaga, anakku, apa sih yang kaupikirkan?) sudah, jangan nyengir terus! Kenapa sih kau pagi ini? Penari tidak boleh nyengir!”
Dan, tentu saja keadaan jadi semakin menggelikan.
Balerina yang nyengir! Tapi, Clair-de-Lune menunduk.
“Sekarang berangkatlah. Kau harus tepat waktu.”
Clair-de-Lune keluar dari pintu; dan di sana, di kursi
dekat jendela, didapatinya Bruder Inchmahome masih menunggu dengan ekspresi wajah yang sangat tenang dan bahagia.
Segera Clair-de-Lune teringat.
Dan segera hatinya digugah rasa bahagia yang hampir serasa menyakitkan.
masih di sini! Dan membuat suatu suara yang mirip dengkuran di tenggorokannya.
“Tentu saja aku masih di sini,” jawabnya. Lalu ia
mengangguk mengucapkan selamat jalan padanya, mengibaskan jubahnya seolah-olah baru saja melakukan perjalanan jauh dan rumit, bangkir, dan mengetuk pintu.
“Siapa?” terdengar jawaban nenek Clair-de-Lune, tegas dan terkejut.
Dan Clair-de-Lune bergegas menuruni anak tangga.
# # #
Clair-de-Lune tidak pernah tahu apa yang dikatakan
Bruder Inchmahome pada neneknya. Yang diketahuinya hanyalah, tengah hari itu ketika ia pulang untuk santap siang (setelah sepagian cemas dan ditegur lagi oleh Monsieur Dupoint—belum lagi Bonaventure ikut memperingatkannya dengan
__ADS_1
menggoyang-goyangkan tangan) neneknya kelihatan sangat bingung. Apalagi ketika Clair-de-Lune baru makan separuh potong roti, neneknya berkata, seakan-akan berharap Clair-de-Lune tidak akan suka mendengarnya:
“Seorang biarawan bernama Bruder Inchmahome datang dari biara. Ia menawarkan akan memberimu pelajaran Ekspresi Jiwa, suatu disiplin ilmu yang katanya penting bagi seniman. Aku sudah menyetujuinya—dengan syarat pelajaran ini tidak akan mengganggu kegiatan rutinmu sehari-hari—karena pikirku, kunjungan ke biara akan memberimu Pengaruh yang Menenangkan. Kau harus ke sana setiap pagi pada pukul enam, pada saat bruder tersebut punya sedikit waktu luang. Sebagai imbalannya, kau akan disuruh belanja ke pasar bagi para biarawan.”
Begitulah, Clair-de-Lune mendapat izin neneknya untuk belajar bicara, sekalipun ia tidak yakin benar apakah neneknya memahami apa yang dimaksud Bruder Inchmahome dengan Ekspresi Jiwa.
Tapi, ada suatu hal yang tidak diketahui Clair-de-Lune. Neneknya sudah bertahun-tahun mengetahui ada biara di bangunan itu. Tapi selama ini dikiranya itu hanya dongeng semata.
# # #
Pelajaran pagi itu tidak mudah bagi Clair-de-Lune.
Pertama-tama, ia melakukan kesalahan-kesalahan
karena melamun, ditegur lagi oleh Monsieur Dupointm dan ia merasa seisi kelasnya senang ia dimarahi.
Lalu, setelah kelas usai, ada masalah dengan Milly
Twinkenham.
Clair-de-Lune begitu sibuk memikirkan ini-itu—dan itu tidak mengherankan!—sehingga ia tidak menyadari gadis-gadis itu berkerumun di belakang kelas, sampai ia berada di hadapan mereka. Mereka sedang berkumpul memerhatikan sesuatu: apa?
Mungkinkah…?
Clair-de-Lune berhenti melangkah, ketakutan, sebab
gadis-gadis itu berada di dekat lubang tikus Bonaventure.
Tapi, mereka tidak menatap ke bawah. Mereka melihat sesuatu di dinding. Mereka terdiam sejenak sementara Milly mendekat ke arah dinding; lalu tiba-tiba, ketika ia menjauh lagi, gadis-gadis itu meledak tertawa.
Clair-de-Lune merasa canggung; tapi sekarang ia sudah tahu Bonaventure tidak berada dalam bahaya, dan bilamana mungkin, ia tidak mau terlibat. Namun, sebelum ia berhasil melewati pintu, Milly melihatnya.
“Oh, Clair-de-Lune,” panggilnya, suaranya gemetar
karena menahan tawa, dan ia memegang sesuatu yang mirip pensil. Tiba-tiba teman-temannya terdiam dan menonton. “Ke sinilah.”
Sikapnya ramah. Clair-de-Lune ragu-ragu, maju beberapa langkah; lalu berhenti, berdiri canggung di hadapan mereka.
__ADS_1
Ada sesuatu pada sikapnya yang mungkin menggelikan mereka. Mendadak saja, sambil menatapnya, mereka mulai terbahak.
Bersambung…