
Ia tidak mengerti; tapi ia tahu benda itu penting dan
harus dikembalikan pada Clair-de-Lune. Tapi baru saja ia akan memungutnya…
Sebuah cakar yang besar dan empuk turun pelan-pelan dan memaku bandul itu di lantai panggung.
Bulan telah menghilang, dan langit gelap. Tapi, penglihatan Bonaventure di malam hari cukup bagus; oleh sebab itu, ketika menengadah, ia mengenali Minette, kucing Mrs Costello.
Minette meringkuk dengan tenang dan sabar di atas panggung; ekornya bergoyang mundur-maju. Sejenak, tanpa sengaja, Bonaventure menatap matanya; bahkan dalam sekejap pula merasa tertarik pada mata itu, seperti makhluk yang akan tenggelam terseret ke dasar laut. Tapi lalu ia sadar kembali, dan menatap bandul itu.
Ada waktu-waktu dalam hidup ini, ketika pilihan terasa sangat jelas. Tikus selalu menghadapi maut, karena tikus selalu hidup dalam bahaya. Tapi Bonaventure ingin hidup! Ia memiliki perusahaan tari, ia ingin mengembangkan tarian baletnya. Barangkali, pikirnya dalam sekejap itu, aku tak perlu mengkhawatirkan bandul itu. Bandul itu akan menghambatku—dan siapa tahu, tanpa membawanya, aku masih bisa melarikan diri.
Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa melarikan diri, dan bagaimana kalau bandul itu hilang selamanya? Clair-de-Lune mungkin takkan melihatnya. Ia takkan tahu…
Kasih lebih penting daripada Tari, pikir Bonaventure, dan ia melesat ke satu sisi; sisi di mana cakar kucing itu menutupi bandul.
Kucing itu mengangkat cakarnya untuk mencegahnya kabur; dalam sekejap mata,
Bonaventure mengubah arah, menyambar bandul itu, dan berlari bergegas menyeberangi panggung, menuruni tangga, dan keluar dari kolong pintu.
Tapi Minette, yang mengetahui kegiatan Bonaventure sehari-hari, sudah tahu ke mana tujuannya. Lagi pula, ia punya jalan pintas.
__ADS_1
Tanpa terburu-buru, ia berbalik, dan berjalan kembali ke arah tadi ia datang. Sebuah tangga bersandar di dinding, ia naik, dan melompat dari jendela tinggi, jendela yang memancarkan sinar bulan. Tapi sekarang langit sudah mulai cerah oleh fajar.
Minette berjalan cepat bagaikan bayangan di atas atap teater. Lalu—karena jalanan itu sempit dan atap-atap berdekatan—dalam satu lompatan ia sudah hinggap di atap bangunan Clair-de-Lune. Ia melakukannya tanpa berpikir karena setiap malam melakukannya. Ia masuk melalui jendela di bordes di luar pintu Clair-de-Lune, melompat turun ke tangga, dan duduk menjilati tubuhnya sambil menunggu kehadiran Bonaventure.
Tikus tidak berpikir seperti kucing. Kucing penuh strategi, tikus hanya bertindak sesuai kata hati, Bonaventure hanya punya satu pikiran di kepalanya: memberikan bandul itu kepada Clair-de-Lune. Ia bergegas menuruni tangga, masuk ke kolong pintu, menyeberangi jalan, masuk ke bangunan, naik tangga (melalui pegangan tangga). Gerak-geriknya canggung dan tidak segesit biasanya karena ia membawa bandul yang diangkutnya di antara giginya.
Tentu saja ia tidak melupakan si kucing, tapi, karena berpikir layaknya tikus, dipikirnya kucing itu akan mengejarnya. Sama sekali tidak terbayangkan bahwa ia sendiri justru sedang mendekatinya.
Ketika, terengah-engah, ia memutari sudut dan tiba di anak tangga terakhir, sebelum mencapai pintu ke ruang bawah atap, ia bahkan tidak melihat Minette menunggu di tangga di atasnya. Fajar! Pikirnya ketika melihat kilas kelabu di atasnya.
Tapi ketika ia menjejakkan kaki di anak tangga terakhir—sebagaimana biasa dilakukannya bila menjemput Clair-de-Lune menjumpai Bruder Inchmahome—sekali lagi, sebuah cakar turun persis di depannya.
Ketika Clair-de-Lune keluar dari kediamannya setengah jam kemudian, ia melihat sesuatu yang aneh.
Clair-de-Lune membeku. Tadinya ia tidak heran
Bonaventure tidak menjemputnya. Pikirnya, tikus itu pasti sedang sibuk merampungkan baletnya. Ketika bangun tidur tadi, ia memikirkan peristiwa semalam; apa yang didengarnya ketika pada akhirnya ia benar-benar mendengarkan.
Ia berusaha memahaminya, kerena segala sesuatunya masih belum jelas benar baginya. Dan ia juga berpikir, betapa aneh rasanya pagi ini: aku merasa kepalaku ringan, lemah, dan hangat. Tapi, ketika dilihatnya kucing itu, ia bergidik dan merasa dingin dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.
Minette menatapnya dengan ekspresi wajah yang aneh, seperti bersalah. Clair-de-Lune mengentakkan kaki tiba-tiba, dan berdesis.
__ADS_1
Kucing itu menjatuhkan bebannya, berbalik dan berlari. Dan di sana, di atas anak tangga, dalam keadaan luka parah, dilihatnya Bonaventure.
Clair-de-Lune menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tidak, ingin rasanya ia berkata begitu. Tidak, ini tidak benar. Ini bukan kenyataan.
Tapi, ketika ia melihat lagi, dilihatnya ekor tikus itu berkedut. Ia berlari menuruni tangga dan menjatuhkan diri di dekatnya, menatap tubuh kecilnya dan berharap… berharap… Dan, merasa ada orang di dekatnya, Bonaventure membuka matanya dengan lemah dan berkata lirih, suaranya penuh kasih.
“Ah… Mademoiselle Clair-de-Lune! Untunglah… kau sudah datang. Aku jadi bisa mengatakan padamu, selamat tinggal!—Tuhan memberkatimu!—dan minta tolong padamu untuk mengatakan hal yang sama pada Bruder Inchmahome. Dan mungkin kau bisa mengatakan padanya…ah, sudahlah, ia pasti mengerti!”
Clair-de-Lune menangis begitu kerasnya—tapi tanpa suara!—sehingga ia hampir tidak bisa melihat tikus itu melalui air matanya.
Jadi, ia juga tidak melihat benda perak yang sampai sekarang masih dipegang tikus itu di cakarnya, dan yang diulurkannya padanya dengan susah payah.
Bonaventure sayang, temanku terkasih, katanya terpatah-patah, dan suaranya tidak mirip anak burung, melainkan anak anjing laut di tepi pantai yang sedang merengek pada ibunya.
Kau tidak boleh mati! Kau harus sembuh kembali! Aku akan merawatmu! Aku dan Bruder Inchmahome akan merawatmu sampai sembuh! Lalu kami akan melindungimu—kami akan menjagamu dengan sangat hati-hati-agar tidak ada kucing—tak ada kucing yang—dan air matanya jatuh ke bulu tikus itu dan ia mengangkatnya dengan lembut ke telapak tangannya dan memeluknya di dada, mengayun-ayunnya.
“Ah!” ujar Bonaventure. “Tapi—aku bertanya pada diriku sendiri—apakah itu hidup? Hidup yang sejati, Mademoiselle, harus ada kucingnya!” lalu ia berhenti bicara, dan menatap gadis itu dengan ekspresi baru di wajahnya. “Dan tahukah kau, apa yang terjadi?” tanyanya lembut. “Aku bisa memahami ucapanmu! Seperti kata Bruder Inchmahome—asalkan kita benar-benar mendengarkan!”
“Tapi kau bersedih hati!” lanjutnya lirih, setelah sekian lama terdiam, dan setelah sekian lama Clair-de-Lune memeluknya dan meratap.
“Jangan sedih. Sebab takkan ada yang sungguh-sungguh buruk terjadi di rumah ini. Tidak. Tidak selamanya. Betapa pun buruk kelihatannya…”
__ADS_1
Bersambung...