
Sebuah cangkir porselen berisi teh beraroma mawar mengepul di sikunya, tapi ia telah melupakannya.
Sore tadi, setelah selesai melatih penari dari Perusahaan Tari itu, ia menyebrangi jalan, dan mendaki tangga sempit menuju ke ruang belakang teater. Di sinilah tempat penyimpanan musik dan notasi yang merekam semua tarian balet yang pernah dipentaskan oleh Perusahaan. Makan waktu
satu jam baginya untuk menemukan apa yang dicarinya; tapi ia menemukannya.
Sekarang, sementara membaca naskah itu, ia tersenyum lembut—dan mengapus air mata. Ia seperti mendengar musik itu lagi. Ia seperti bisa melihatnya menari.
Tapi, ia lalu teringat lagi akan malam itu, ketika sang penari tidak bangkit lagi setelah memberi hormat, dan wajah Monsieur Dupoint berubah menjadi cemas.
Lalu ia teringat lagi akan Clair-de-Lune.
Monsieur Dupoint menutup naskah itu, meletakkan tangan di atasnya, telapak tangan di bawah, seakan-akan ingin menenangkan atau menghentikan ulah makhluk liar yang tidak bisa diduga.
“Menggugah?—ya,” gumamnya. “Layak?—ya. Tapi—berbahaya?” ia mendesah. “Kurasa memang begitu. Dan pada akhirnya, nyawa seorang gadis lebih penting dari tari mana pun.”
Kalaupun Monsieur Dupoint kebetulan bersandar sejenak untuk menghirup udara segar di jendela, dan menatap ke seberang ke kelas baletnya, ia takkan melihat Bonaventure menatap bintang di sana, karena Bonaventure terlalu kecil dan berwarna kelabu. Tapi ia mungkin bisa melihat sosok anggun Minette bergerak-gerak di luar bangunan, melompat dari satu naungan atap ke naungan atap lain dan memilih jalannya menyeberangi lereng jalan, matanya yang hijau merefleksikan kembali setiap cahaya lampu.
Ia memang melakukan kebiasaan ini setiap malam.
Bagi Minette, Tari dan kreasi tidak mendatangkan kebahagiaan apa-apa. Ia pemburu, dan karena itu ia mempraktikkan seni yang merusak.
__ADS_1
Ia telah mengecek jendela-jendela sekolah tari itu, sebagaimana biasa, dan ternyata semuanya terlalu rapat baginya untuk menyelinap masuk. Ia tahu, ada tikus yang tinggal di sana, dan ia tahu, tikus-tikus lain mulai mengunjunginya. Inilah, dan bukan ketertarikan pada balet, yang membuatnya mencoba dan mencoba lagi untuk masuk ke sekolah balet itu.
Mrs Costello memberinya makan lebih banyak daripada dirinya sendiri, karena nyonya ini tidak punya siapa-siapa lagi untuk dicintai.
Jadi, Minette jarang merasa lapar.
Tidak, Minette berburu tikus hanya untuk bersenang-senang saja. Sebagaimana kata Leonard dari percetakan: masing-masing punya kesenangan sendiri-sendiri.
# # #
Sepanjang malam itu Bonaventure merancang tarian baletnya sementara Monsieur Dupoint mencemaskan naskahnya. Sementara Minette berjalan di atas atap-atap bangunan, Clair-de-Lune berbaring di ranjangnya berpikir.
Mula-mula, ketika matanya yang lelah menewarang pada cahaya lilin yang memantul di langit-langit—karena neneknya masih terjaga satu jam lebih setelah menyuruh Clair-de-Lune tidur—ia memikirkan La Lune, yang kelihatannya sangat berbeda dengan apa yang selalu digambarkan neneknya. Bukan Balerina Sempurna, tanpa cinta atau kepedulian terhadap apa pun kecuali Tari, melainkan gadis yang liar, penuh ceria dan cahaya, ingin bebas tapi dipaksa membuat pilihan yang mengerikan, yang menghancurkan hatinya.
Setelah neneknya tidur, ia menatap ke dalam kegelapan pada bintang-bintang di sepotong langit yang tampak melalui jendela di atas ranjangnya—ketika dirasanya ia tak tahan memikirkan ibunya lebih lanjut—terpikir olehnya akan Sergei Superblatov, Lisette L’Oiseau, Eleanor Wood, dan lain-lain, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasakan kekaguman, melainkan rasa iba.
Ketika malam semakin larut dan bintang-bintang menghilang satu per satu dan langit menjadi pucat kelabu, Clair-de-Lune berpikir, aku pun bisa memilih, aku pun punya pilihan. Dan segera ia duduk di ranjangnya dan berkata pada langit kelabu yang gelap dengan suara anak burungnya:
Aku memilih kasih.
Dan tampaknya langit mendengarnya, dan menatapnya dengan ramah.
__ADS_1
Tapi, ketika ia berbaring lagi di bantalnya ia berpikir, mungkin, siapa tahu, aku sebenarnya tak harus memilih.
Lalu langit mulai terang dan Clair-de-Lune ingin sekali berjumpa dengan Bruder Inchmahome, karena ada banyak sekali yang ingin disampaikannya, dan ia tahu di dalam dunia ini hanya Bruder yang dapat mengerti. Alangkah beruntungnya aku, pikirnya, betapa sangat beruntung, karena sekalipun aku tidak bisa bicara, ada seseorang yang bisa kuajak bicara!
Dan tepat pada saat itu, merasa bahagia dan aman, ia terlelap.
“Bangunlah, Mademoiselle Clair-de-Lune! Aku terlalu bahagia untuk menyanyikan lagu nina bobo! Lagi pula, kurasa kau pun tidak bersedih hati lagi Bangunlah dan mari berangkat ke biara! Karena aku harus memberitahu Bruder Inchmahome tentang keberhasilanku yang terbaru! Tentang kelasku! Tentang murid-muridku tersayang! Tentang bakat, dedikasi, dan kecerdasan mereka! Tentang perusahaan tari! Tentang kebangkitanku sebagai seorang koreografer! Tentang tari balet ciptaanku! Tentang pentingnya mengabaikan Pembatasan!”
Bonaventure melompat-lompat di bantal di sisi kepalanya, sangat tidak sabar saking kegirangan.
Clair-de-Lune berganti pakaian dengan cepatnya dan mengikuti Bonaventure keluar dari ruang bawah atap dan menuruni tangga.
“Menurutmu kelasku bagus?” tanya Bonaventure cemas. “Profesional? Maksudku, bagian yang sempat kaulihat?—ah, sayang sekali ya, kau terpaksa meninggalkan kami?—tapi sebagaimana kucoba katakan pada murid-muridku, mereka harus membiasakan diri menghadapi hambatan-hambatan semacam itu—sebab jangan bayangkan sekejap pun, Mademoiselle Clair-de-Lune, bahwa hidup kami sebagai tikus penari akan mulus. Tidak,” katanya sementara mereka tiba di pintu batu dan melewatinya. “Aku sadar sepenuhnya bahwa hidup kami akan penuh dengan kesulitan. Ah, tapi aku percaya sepenuh hatiku bahwa kesulitan-kesulitan itu cukup berharga untuk ditempuh! Alangkah serunya—dan terhormatnya—melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan tikus-tikus lain, dan memiliki serombongan tikus yang berbaris mengikutiku!
Kalau kupikirkan, Mademoiselle, tentan sempitnya ekspresi artistik mereka! Nah, semua itu akan berubah! Namun, sebagai pelopor, tentu ada halangan-halangan yang harus kuhadapi. Tak ada orang yang bisa membimbingku! Aku harus selamanya mencipta dan mencipta. Haruskah tikus berusaha menari seperti manusia? Atau haruskan kami mengembangkan bentuk tarian sendiri, langkah-langkah kaki sendiri? Misalnya saja, aku tak suka langkah kaki yang dikenal sebagai pas de chat, langkah kucing. Kucing bukan sesuatu yang bisa ditertawakan—eh, Bruder Inchmahome!”
Bruder Inchmahome, yang sedang menulis penuh konsentrasi di meja batunya, menengadah dengan agak terkejut.
“Bonaventure, tikusku yang baik!” serunya pelan. “Dan Clair-de-Lune! Bonaventure, kelihatannya kau punya kabar gembira untuk diceritakan padaku!”
“Bruder Inchmahome,” ujar Bonaventure, dan ia melompat ke atas meja, dan di situ, sambil melompat-lompat dengan anggun, naik ke bahu biarawan itu.
__ADS_1
Bersambung...