
Dan bila tidak sedang memikirkan hal itu, ia cemas
soal meminta izin.
Mula-mula kebahagiaan membuatnya tidak cemas. Tapi, sekarang kecemasan merayap kembali, seperti tangan kecil yang dingin.
“Perhatikan baik-baik, Clair-de-Lune!” tegur Monsieur
Dupoint, ketika Clair-de-Lune salah melangkah. Monsieur Dupoint bicara dengan nada agak kaget, karena ia berharap banyak padanya. Dua atau tiga gadis terkekeh, merasa senang karena si anak emas, setidaknya untuk sementara waktu, tidak disukai pelatihnya.
Terkejut, Clair-de-Lune tersipu malu dan memperbaiki gerakannya.
Tapi, alangkah terkejutnya Monsieur Dupoint seandainya ia pun dapat melihat apa yang terjadi di lubang tikus Bonaventure. Sebab, tentu saja, setiap pagi bersama-sama Clair-de-Lune, Bonaventure mengikuti latihan tari yang diajarkan Monsieur Dupoint. Tetapi—sekalipun Bonaventure menghormati Monsieur Dupoint sebagai guru dan mantan penari kenamaan—ia merasa kesal
mendengar pria itu menegur temannya. Segera ia meninggalkan latihannya dan bergegas ke pintu lubang tikusnya untuk meyaksikan apa yang terjadi.
Dan—sekalipun tentu saja ia tidak tampak oleh semua murid tari—ia menggeleng menatap
guru balet yang malang itu dab menegur Clair-de-Lune. “Anak itu sedang belajar bicara!” cicitnya marah. “Apa sih bedanya kalau ia menjulurkan kaki yang salah? Kaki mana pun yang dipilihnya, ia melakukannya dengan indah!” Namun, belakangan ia menjadi tenang dan memaafkan Monsieur Dupoint karena bagaimanapun ia guru
balet dan berhak menegur muridnya.
Bila Clair-de-Lune benar-benar ingin mengatakan
sesuatum tentu saja ia dapat menulis surat. Kalau saja neneknya lebih mendorongnya berkomunikasi, tentunya Clair-de-Lune sangat sering menulis surat.
Tapi, tentu saja neneknya tidak mendorongnya, karena menurutnya, surat berpeluang mendatangkan teman-teman—belum lagi kekasih—sama efektifnya seperti ucapan. (Dan memang, ada banyak sekali surat berisi keputusasaan antara La Lune dan anak muda yang tidak layak itu.) Jadi, Clair-de-Lune hanya menulis surat bilamana sangat perlu saja.
Memang begitulah perjalanan takdir, di akhir jam
pelajaran, setelah kelas dibubarkan, Monsieur Dupoint berkata, “Permisi, Mr Sparrow—aku perlu bicara denganmu tentang tempo penggalan lagu Giselle yang kita gunakan untuk tarian enchaînement kecil yang kita kerjakan itu…” dan dalam perundingan dengan Mr Sparrow di piano, ia membubuhkan beberapa catatan di atas kertas musik. Clair-de-Lune tahu ia bisa saja meminjam pensil dan kertas dan
menulis surat pendek padanya, meminta izin mengunjungi biara.
Ia ragu-ragu.
“Clair-de-Lune!” ujar Monsieur Dupoint sambil
__ADS_1
menatapnya. “Masih di sini? Jangan kecil hati, anakku—kita para penari juga mengalami hari-hari naas. Makanlah yang banyak—kau kelihatan kurus—dan tidurlah cepat. Kuharap besok kau menari dengan baik lagi!”
Clair-de-Lune membungkuk dan menjauh. Sudahlah, minta izin pada Nenek saja. Tapi ia tahu, akan lebih mudah menghadapi Monsieur Dupoint.
Pada saat makan siang (yah… hanya roti, teh hitam
encer, dan sepotong tipis sosis), Clair-de-Lune mencoba meminta izin pada neneknya untuk mengunjungi biara. Ia mencoba lagi pada awal pelajaran, lalu pada akhir pelajaran, dan ketika ia pulang dari pasar. Tapi, setiap kali, keberaniannya hilang.
“Selamat malam, Nak,” kata neneknya pada akhirnya
setelah mereka makan malam berupa roti, susu, dan sepotong ikan lady (lebih kecil dari milik Minette) yang direbus di ketel khusus ikan.
Dan mengenai pertanyaan Bruder Inchmahome…
Mengapa ia tidak bisa bicara?
Clair-de-Lune tidak bisa menemukan jawaban apa pun.
Ia tidak bahagia lagi. Sekarang ia sedih, karena
titik.
Tapi tidak semua makhluk merasa putus asa malam itu. Karena di dalam lubang tikus tiga lantai di bawah kediaman Clair-de-Lune, di bawah cahaya lilin ulang tahun kecil yang telah dibuang pemilik aslinya,
Bonaventure sedang bekerja.
Dalam tempo singkat sejak berteman dengan
Clair-de-Lune, ia menganggap tugas mengantar gadis itu ke Bruder Inchmahome sebagai Tugas Suci.
Tetapi, ia tidak mengizinkan tugas tersebut mengganggu jadwalnya sehari-hari. Karena impian itu—mendirikan Sekolah Balet khusus untuk tikus—adalah Tugas Suci juga.
Tepat pada saat itu, ia sedang menyiapkan pelajaran
pertamanya.
Itu suatu pekerjaan berat, dan membutuhkan banyak
__ADS_1
imajinasi.
Pertama-tama ia harus berpura-pura menjadi dirinya
sendiri, sebagai guru, berdiri di depan kelas, menjelaskan dan mencontohkan latihan untuk kelas pura-puranya. Ia berusaha berbicara dengan jelas dan menjaga kontak mata dengan para muridnya.
Lalu ia pindah ke posisi di tengah kelas, berbalik
arah dan berpura-pura menjadi murid yang mencoba melakukan apa yang baru saja diinstruksikannya. Ia mencoba membayangkan berbagai kesulitan yang dihadapi kelas pura-pura ini; dan mengingat-ingat apa yang menurutnya sangat menantang, ketika pertama kali memerhatikan kelas Monsieur Dupoint.
Lalu ia kembali ke depan kelas, berbalik lagi,
mendemonstrasikan secara lebih jelas dan menerangkan secara lebih lengkap. Dengan hati-hati ia memberi semangat pada para murid, dan berusaha tidak kehilangan kesabaran pada dirinya sendiri.
Kemudian ia bergegas menuju buku catatan kecil yang dibiarkannya terbuka di lantai, dan, sambil menelungkup, membuat catatan-catatan kecil.
Ia berterima kasih pada Monsieur Dupoint, yang tanpa diketahuinya telah mengajarinya cara mengajar yang baik. Guru balet itu takkan bisa mengajar lebih baik lagi, sekalipun seandainya ia tahu tikus itu memerhatikannya. Tapi, Bonaventure juga sadar, beberapa adaptasi perlu dilakukan agar gaya mengajar Monsieur Dupoint bisa benar-benar bermanfaat bagi sekelas tikus.
Untunglah, kreativitas adalah salah satu kelebihan
Bonaventure.
Belum lagi murid-muridnya—termasuk ia sebagai
guru—kesemuanya adalah pemula, tidak memiliki pendahulu. Sebab tak seorang pun dalam sejarah dunia seni, sepengetahuan Bonaventure, pernah mengajar tari balet klasik pada sekelompok tikus.
Tapi toh Bonaventure merasa cukup mampu—sekalipun merasa malu juga. Rasa percaya diri—ditingkahi rasa hormat—juga berperan dalam
hal ini.
Lubang tikus itu makin lama makin tidak mirip dengan kediaman seekor tikus yang mengagumi balet, tapi makin menyerupai sekolah tari khusus tikus. Selama ini Bonaventure telah mengoleksi brosur-brosur teater yang tidak dipakai lagi. (Ini mudah bagi seekor tikus yang tinggal di bangunan di
seberang teater). Selama beberapa hari belakangan ini dengan susah payah ia menggunting gambar-gambar penari cantik, dan menempelkannya di atas cermin-cermin di dinding di sekitar lubang tikus itu. Ia juga telah meletakkan
dua saputangan saku (milik orang yang tidak mencarinya lagi).
Bersambung…
__ADS_1