
Bruder Inchmahome duduk berlutut, bertumpu pada
telapak kakinya. Ia baru saja mengamati kepiting-kepiting kecil berwarna batu
karang yang tinggal di salah satu kolam di dasar jurang di bawah biara. Sekarang ia mengamati Clair-de-Lune.
“Clair-de-Lune,” katanya lembut. “Tapi mengapa?”
Pagi itu Bruder membawa mereka keluar melalui kebun belakang dan menunjukkan pada mereka sesuatu yang luar biasa. Di kebun di atas jurang itu, yang menukik ke laut, ada semacam sumur yang dikelilingi bunga-bunga liar. Tapi itu bukan sumur, melainkan awal anak tangga melingkar yang menuju ke dalam batu karang!
“Melalui jalan inilah pada Bruder pergi ke pantai,”
katanya; ia lalu menggendong Bonaventure dan mulai turun.
Tapi Clair-de-Lune ragu-ragu.
Bruder Inchmahome tahu Clair-de-Lune sedih pagi ini. Sekarang dilihatnya gadis itu takut.
Clair-de-Lune bukan gadis pengecut. Penari haruslah
berani, keberanian adalah bagian dari disiplin mereka. Clair-de-Lune telah melakukan latihan-latihan tari; dan saat latihan, Monsieur Dupoint mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara dengan satu tangan, lalu mengayunnya ke bawah lagi sehingga ia menukik ke bawah seperti burung layang-layang yang sedang mencari makan. Monsieur Dupoint mengempaskannya ke lantai dengan gerakan memutar.
Tapi, Clair-de-Lune sangat jarang keluar ruangan.
Jadi, semua keberaniannya adalah keberanian di dalam ruangan. Ia tahu keberanian yang dibutuhkan oleh penari; dan keberanian yang dibutuhkan seeorang ketika ia berbaring terjaga, sendirian, di malam hari, di dalam gelap, dengan imajinasi dan ketakutannya. Ia mengenal keberanian yang diperlukannya untuk berada di dalam ruangan, terkurung, dan terkubur di antara atap-atap rumah,
anak-anak tangga, dan langit-langit, tanpa jalan keluar; dan keberanian yang dibutuhkannya untuk menghadapi kemarahan neneknya. Dan, tentu saja, ia tahu persis seberapa banyak keberanian yang dibutuhkannya untuk memasuki sebuah ruangan, di mana semua orang membencinya.
Meskipun sangat suka, ia tidak tahu apa-apa tentang jurang, memanjat, dan pantai. Ia tidak tahu apakah semua ini aman atau tidak.
“Kau tidak perlu ikut bila tidak ingin, Clair-de-Lune,” kata Bruder Inchmahome. Ia berhenti di anak tangga, dan menatap ke atas ke arah gadis itu dengan kepala meneleng. “Tapi tangga ini sangat aman. Bahkan Bruder Juniper, yang biasa memasak untuk kami, sering turun ke sini—dan kakinya tidak cekatan. Kalau orang yang mirip beruang seperti dia bisa menuruni tangga ini, aku yakin kau—penari—tidak akan menemui kesulitan apa-apa. Dan
pantai itu sangat cantik.” Ia menatap ke atas lagi—sekilas tertarik, dan merasa geli—seakan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dilakukan Clair-de-Lune.
__ADS_1
Clair-de-Lune masih ragu-ragu.
Lau, dengan memegangi tanah di seputar lubang itu
dengan hati-hati, ia mulai menuruni anak-anak tangga pertama. Sekarang tangannya, yang berpegangan pada rumput, berada setinggi pinggangnya. Kemudian tangannya berada setinggi matanya. Anak tangga itu besar-besar dan kokoh.
Disekelilingnya ada dinding dari batu. Clair-de-Lune menjadi lebih tenang, dan terus berjalan pelan-pelan menuruni tangga. Ia tidak yakin apakah merasa senang atau tidak. Ia tidak merasa akan jatuh, tapi toh berjalan menuruni lubang batu yang begitu curam menimbulkan rasa takut juga. Ia menatap ke atas.
Langit tampak dengan jelas, berupa bulatan biru di atas. Selagi ia terus turun, berjalan melingkar-lingkar, cahaya di atas semakin buram dan langit pun
menghilang. Tapi, ketika ia merasa keadaan disekitanya akan menjad gelap, ia melihat cahaya, cahaya kelabu seperti fajar yang bukan berasal dari atas, melainkan dari bawah. Beberapa langkah lagi, cahaya itu pun bertambah terang.
Ia dapat mendengar bunyi gumam dan debur ombak, dan teriakan burung camar. Lalu tiba-tiba tangga itu membuka ke tempat terbuka, dan ia sedang berada di anak-anak tangga terbawah, di dasar jurang dan dikelilingi laut, mendekat ke
pantai yang sebagian terdiri atas pasir dan sebagian lagi batu karang.
Tiba-tiba saja anak tangga menghilang di dalam pasir.
Bruder Inchmahome tengah menantinya di pantai,
“Laut! Laut!” cicit Bonaventure dari bahu biarawan itu (dan Bruder Inchmahome segera mengangkat tangannya untuk menjaga jangan sampai tikus itu terjatuh saking kegirangan). “Ah, aku jadi terkenang akan masa laluku! Masa kecilku yang bahagia dengan kesembilan saudaraku! Alangkah damainya tidur dalam kerang, mendengarkan lagu-lagu nina bobo yang dinyanyikan ibuku! Dan betapa serunya kami bermain di pantai di luar pondok nelayan itu!
Marmaduke, Bartholomew, Demetrius, Oscar, Lavinia, Francesca, Anastasia, Miriam, dan Joan—ah, Joan kecil tersayang… di mana mereka semua sekarang? Tentunya menempuh karier masing-masing. Dan Ibu—Ibu sayang! Aku harus pulang menemuinya kalau aku sudah memulai perusahaan tari itu. Ia tentunya akan gembira sekali. ‘Lihat saja, Mama,’ aku akan berkata, ‘dalam hidup ini kita tidak selalu terbatas pada Pembatasan!’”
Tapi Clair-de-Lune tidak mendengarkan.
Ia terlalu terpesona.
Tiba-tiba ia bisa begitu dekat…
…pada sesuatu yang benar-benar berada di luar…
Karena tak ada yang lebih terbuka, lebih berada di
__ADS_1
luar daripada laut. Kebebasannya! Keluasannya! Kepalanya serasa berputar. Ia segera duduk di batu karang terdekat, dan memandang. Hanya memandang.
Namun, aku masih berada di dalam bangunan. Betapa menakjubkannya hidup ini.
# # #
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” desak Bruder Inchmahome lembut.
Clair-de-Lune menatap dalam-dalam ke kolam batu itu. Kepiting-kepiting berwarna pasit itu sulit dilihat. Bilamana rasanya terlihat seekor, kelihatannya bukan seperti ada kepiting bergerak di dalan air,
melainkan seakan-akan sebagian dari pasir itu bangkit dan berjalan.
Sekarang aku tahu bahwa bicara itu berbahaya, katanya, dengan suara
anak burung yang hanya dapat dipahami oleh Bruder Inchmahome.
Kalau aku tidak bicara, tak ada yang akan sungguh-sungguh membenciku, karena tidak
ada yang akan sungguh-sungguh mengenalku.
Kalau aku bicara, mungkin saja orang membenci, bukan hanya pada orang yang mereka kira adalah aku, tapi diriku yang sesungguhnya.
Bruder Inchmahome, aku tidak mau dibenci. Lebih
baik aku sendiri dan kesepian daripada dibenci orang.
Bruder Inchmahome menatapnya melalui matanya yang sekelabu langit fajar dan sejernih air.
“Oh, begitu,” ujarnya.
Lalu ia berpikir lama sekali.
Ombak beriak-riak bergerak menuju pantai, lalu surut kembali ke laut seperti gelombang-gelombang tikus; langit pagi yang biru tampak semakin biru; matahari semakin hangat di punggung mereka; dan burung-burung camar beterbangan di embusan angin mirip layang-layang dari kertas dan kayu, mengeluarkan teriakan-teriakan kesepian.
__ADS_1
Bersambung…